Namo Buddhaya

Buddha Gautama

"Aku tidak mengajar untuk menjadikanmu sebagai murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk membuatmu menjadi murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk memutuskan hubunganmu dengan gurumu yang lama. Aku bahkan tidak tertarik untuk mengubah tujuanmu,karena setiap orang ingin lepas dari penderitaan.
Cobalah apa yang telah Kutemukan ini,dan nilailah oleh dirimu sendiri. Jika itu baik bagimu,terimalah. Jika tidak, janganlah engkau terima."


(Digha Nikaya 25; Patika Vagga;Udumbarika-Sīhanāda Sutta)

Dhamma Event

https://www.instagram.com/p/DbMqpeeJrl_/
Showing posts with label Bhikkhu Narada. Show all posts

Jadilah Pulau bagi Diri Sendiri


Salah satu pesan terakhir yang digunakan Bhikkhu Narada untuk merangkum Buddhisme adalah ajaran agar seseorang menjadi pulau atau perlindungan bagi dirinya sendiri.

Prinsip ini mudah disalahpahami. Ia bukan ajaran egoisme. Ia juga bukan pernyataan bahwa manusia tidak membutuhkan guru, Sangha, sahabat spiritual, kitab, atau bimbingan.

Maksudnya, tanggung jawab pembebasan tidak dapat dialihkan.

Guru dapat mengajarkan meditasi.
Namun, guru tidak dapat menggantikan kita dalam bermeditasi.

Buddha dapat menunjukkan bahwa keserakahan sebagai sumber penderitaan.
Namun, Buddha tidak dapat menghilangkan keserakahan dari batin kita tanpa latihan kita sendiri.

Kitab dapat menjelaskan ketidakkekalan.
Namun, buku tidak dapat merealisasikan ketidakkekalan dengan menggantikan pembacanya.

Sangha dapat menjadi lingkungan yang mendukung.
Namun, setiap pikiran tetap harus dilihat oleh pemiliknya sendiri.

Karena itu, Buddhisme menurut kerangka Bhikkhu Narada tidak meminta manusia untuk menjadi pengikut yang pasif.

Ia meminta manusia menjadi praktisi. Belajar, tetapi jangan berhenti pada pengetahuan.

Hormati Buddha, tetapi jangan mengganti praktik dengan penghormatan.
Gunakan ritual, tetapi pahami fungsinya.
Percaya, tetapi jangan percaya secara buta.
Ragukan ketika memang ada alasan untuk ragu, tetapi jangan menjadikan keraguan sebagai tempat tinggal yang permanen.
Periksa ajaran sebagaimana tukang emas menguji emas.
Bangun moralitas sebagai fondasi.

Latih pikiran.
Kembangkan kebijaksanaan.
Gunakan tindakan sebagai medan praktik.
Perhatikan apakah tindakan membawa penderitaan atau kesejahteraan.

Kurangi lobha.
Kurangi dosa.
Hancurkan moha.

Kembangkan alobha.
Kembangkan adosa.
Kembangkan paññā.

Dan pahami bahwa tujuan seluruh proses bukan untuk menjadi “lebih religius” dalam pengertian eksternal. Tujuannya jauh lebih radikal, yaitu menjadi bebas.

Dari sudut pandang ini, pertanyaan “Apakah Buddhisme agama atau filsafat?” menjadi tidak relevan lagi. Buddhisme dapat mempunyai unsur keduanya. Namun, keduanya hanyalah kategori.

Pertanyaan yang lebih fundamental adalah "Apakah Dhamma dipahami dan dijalankan sehingga penderitaan benar-benar berkurang?"

Jika jawabannya belum, pekerjaan belum selesai.
Jika keserakahan masih kuat, latihan perlu dilanjutkan.
Jika kebencian masih mudah menguasai batin, latihan perlu dilanjutkan.
Jika identitas dan pandangan masih menjadi alasan untuk merendahkan orang lain, latihan perlu dilanjutkan.
Jika moralitas baru menjadi teori, latihan perlu dilanjutkan.
Jika meditasi hanya menjadi aktivitas untuk mencari pengalaman yang menyenangkan, latihan perlu dilanjutkan.

Dhamma tidak meminta kita berhenti pada definisi.
Dhamma meminta realisasi.

Karena itu, Buddhisme pada tingkat terdalam adalah jalan memahami kenyataan, jalan memurnikan perilaku, jalan melatih pikiran, jalan mengembangkan kebijaksanaan, dan akhirnya, jalan pembebasan dari penderitaan.

Apa Itu Dhamma?

 


Pada akhirnya, istilah yang paling penting bukan “filsafat” atau “agama”. Istilah sentralnya adalah Dhamma.

Bhikkhu Narada menjelaskan Dhamma sebagai sesuatu yang “menopang” atau “menahan”.

Dalam pemaknaan doktrinalnya, Dhamma mencakup kenyataan sebagaimana adanya, hukum yang bekerja, ajaran yang menjelaskan hukum tersebut, serta jalan menuju pembebasan. Dengan demikian, Dhamma bukan sekadar kumpulan kata-kata Buddha. Dhamma tidak mulai ada ketika Buddha Gotama mengajarkannya.

Dhamma tidak diciptakan Buddha

Dalam kerangka penjelasan Bhikkhu Narada, apakah seorang Buddha muncul di dunia atau tidak, hukum realitas tetap berlaku.

Fenomena berkondisi tetap berubah.
Ketidakpuasan tetap berhubungan dengan sifat fenomena yang berkondisi dan bersifat kemelekatan.
Fenomena tidak mempunyai diri kekal yang berdiri sendiri.

Dengan kata lain, anicca, dukkha, dan anatta bukan peraturan yang diciptakan oleh Buddha.

Buddha menemukannya.
Merealisasikannya.
Kemudian menjelaskannya.

Analogi sederhananya seperti ilmuwan yang menemukan suatu hukum alam. Hukum itu tidak mulai bekerja setelah ditemukan. Penemuannya hanya membuat manusia mampu mengenal hukum yang sebelumnya tidak dipahami.

Mengapa Dhamma sulit dilihat?

Masalahnya bukan bahwa kenyataan disembunyikan oleh suatu sosok. Masalahnya adalah avijjā, ketidaktahuan. Manusia melihat melalui keinginan, ketakutan, prasangka, kebiasaan, identifikasi, dan kemelekatan.

Karena itu, sesuatu yang berada tepat di depan mata tetap dapat tidak dipahami.

Satu rasa Dhamma: pembebasan

Bhikkhu Narada menggunakan analogi lautan. Sebesar apa pun samudra, airnya mempunyai satu karakter utama: rasa asin.

Demikian pula Dhamma mempunyai satu “rasa”: vimutti, pembebasan.

Berbagai ajaran mungkin membahas topik yang berbeda. Ada pembahasan tentang moralitas, meditasi, pikiran, kamma, kehidupan sosial, pandangan, dan kebijaksanaan.

Namun, semuanya harus memiliki arah akhir yang sama. Pembebasan.

Jika pengetahuan Buddhis membuat manusia semakin terikat, fanatik, sombong, dan membenci orang lain, maka ada sesuatu yang telah melenceng dari rasa Dhamma.

“Aku mengajarkan penderitaan dan berakhirnya penderitaan”

Bhikkhu Narada kembali kepada pernyataan sentral Buddha, inti ajaran berkaitan dengan penderitaan dan berakhirnya penderitaan. 

Mengapa mempelajari ketidakkekalan?
Ketidaktahuan terhadap perubahan berkaitan dengan kemelekatan dan penderitaan.

Mengapa mempelajari anatta?
Karena identifikasi yang keliru terkait dengan keterikatan.

Mengapa menjaga moralitas?
Karena tindakan buruk menciptakan penderitaan.

Mengapa bermeditasi?
Karena batin yang tidak terlatih, sulit untuk melihat realitas.

Mengapa mengembangkan kebijaksanaan?
Karena ketidaktahuan harus dihancurkan.

Mengapa mempraktikkan cinta kasih?
Karena kebencian adalah kekotoran batin.

Mengapa janganbergantung kepada doa?
Karena pembebasan membutuhkan transformasi yang harus terjadi dalam diri sendiri.

Seluruh jalan menyatu.

Jalan Tengah antara Ekstrem Pandangan dan Ekstrem Kehidupan


Setelah membahas filsafat, agama, ritual, moralitas, dan kebijaksanaan, Bhikkhu Narada memberikan sejumlah rumusan dalam konteks negatif untuk menjelaskan apa yang bukan Buddhisme. Cara ini penting karena Buddhisme sering disalahpahami ketika dipaksakan ke dalam kategori yang terlalu sederhana.

Buddhisme bukan sekadar metafisika

Tujuannya bukan untuk menghasilkan spekulasi yang tidak berkaitan dengan penderitaan dan pembebasan.

Buddhisme bukan sekadar ritual. 

Upacara dapat mempunyai fungsi. Namun, upacara tidak menggantikan praktik.

Buddhisme bukan skeptisisme total

Buddhisme menghargai penyelidikan. Tetapi tujuan penyelidikan adalah Pandangan Benar, bukan keraguan tanpa akhir.

Buddhisme bukan dogmatisme

Kebenaran tidak diterima hanya karena otoritas berkata demikian.

Buddhisme tidak berdiri pada eternalisme

Buddhisme tidak mengajarkan bahwa ada suatu diri pribadi yang kekal dan tidak berubah yang berlangsung selamanya.

Buddhisme juga tidak berdiri pada nihilisme atau annihilationism

Penolakan terhadap diri kekal tidak berarti memiliki pandangan bahwa “setelah mati, semuanya tidak mempunyai konsekuensi dan tidak ada apa-apa.” Oleh karenanya, Buddhisme menghindari dua ekstrem:
sassatavāda, pandangan kekekalan,
dan ucchedavāda, pandangan pemusnahan total.

Buddhisme bukan penyiksaan diri

Penderitaan fisik bukan kesucian.

Buddhisme juga bukan pemuasan kenikmatan

Kesenangan indrawi tidak dijadikan tujuan tertinggi. Jalan Buddha berada di antara kedua ekstrem tersebut.

Buddhisme bukan optimisme naif

Buddhisme tidak harus selalu mengatakan: “Semua baik-baik saja.” Kelahiran, penyakit, penuaan, kematian, kehilangan, perubahan, dan keterikatan adalah kenyataan.

Buddhisme juga bukan pesimisme

Ia tidak berhenti pada penderitaan. Ia menunjukkan jalan keluar. Karena itu, kata yang lebih tepat dalam kerangka Bhikkhu Narada adalah realistis dan praktis.

Buddhisme melihat persoalan tanpa menyangkalnya. Lalu menanyakan:
“Apa sebabnya?”
“Dapatkah sebab itu dihentikan?”
“Bagaimana caranya?”

Inilah logika pembebasan.

Bagaimana Menentukan Baik dan Buruk?


Jika moralitas Buddhis tidak berasal dari perintah pencipta, lalu apa kriterianya?

Bhikkhu Narada menjawab dengan mengutip nasihat Buddha kepada Rahula.

Sebelum melakukan suatu tindakan, seseorang perlu mempertimbangkan:
Apakah tindakan ini merugikan diri saya?
Apakah merugikan orang lain?
Apakah merugikan keduanya?

Jika jawabannya ya, tindakan itu membawa karakter tidak baik dan berpotensi menghasilkan penderitaan.

Sebaliknya:

Apakah tindakan ini tidak merugikan diri?
Tidak merugikan orang lain?
Tidak merugikan keduanya?
Apakah ia mendukung kebahagiaan dan kesejahteraan?

Jika demikian, tindakan tersebut layak untuk dilakukan dan dikembangkan.

Etika memerlukan refleksi sebelum, selama, dan setelah bertindak

Prinsip ini menuntut kesadaran. Moralitas bukan hanya hafalan larangan. Praktisi harus belajar memeriksa konsekuensi. Pertanyaan moral tidak berhenti pada, “Apakah saya diizinkan melakukan ini?”

Pertanyaan yang lebih matang adalah, “Apa yang dilakukan tindakan ini terhadap batin saya dan kehidupan makhluk lain?”

Diri sendiri dan orang lain sama-sama diperhitungkan

Etika Buddhis tidak mengajarkan bahwa seseorang harus menghancurkan dirinya demi orang lain. Ia juga tidak membenarkan egoisme yang mengabaikan makhluk lain. Kesejahteraan diri dan kesejahteraan orang lain perlu diperhatikan bersama. Dan “orang lain” tidak terbatas pada manusia. Buddhisme secara eksplisit memperluas perhatian moral kepada hewan dan makhluk hidup.

Metta: cinta kasih yang tidak terbatas

Bhikkhu Narada mengutip Karanīya Mettā Sutta. Cinta kasih ideal dibandingkan dengan perhatian seorang ibu kepada anak tunggalnya. Seorang ibu bahkan dapat mempertaruhkan hidup demi melindungi anaknya.

Dengan kualitas hati seperti itu, seorang praktisi diarahkan untuk mengembangkan cinta kasih tanpa batas bagi semua makhluk.

Ini bukan sentimentalisme.

Metta merupakan latihan sistematis melawan kebencian. Kebencian berkata, “Semoga orang itu menderita.” Metta berkata, “Semoga makhluk terbebas dari penderitaan.”

Mengambil diri sendiri sebagai ukuran

Dhammapada memberikan prinsip lain:
semua takut pada kekerasan;
semua mencintai kehidupan.

Karena kita memahami rasa takut terhadap rasa sakit melalui pengalaman sendiri, kita dapat menggunakannya sebagai dasar untuk berempati.

Jika saya tidak ingin disakiti, saya memiliki dasar untuk memahami mengapa makhluk lain juga tidak ingin disakiti.

Ini memberikan landasan etika yang sangat konkret, lihat makhluk lain sebagai makhluk yang juga mengalami kehidupan dari sudut pandangnya sendiri.

Teks-teks etika yang dianjurkan

Bhikkhu Narada menyebut sejumlah khotbah dan kumpulan ajaran yang dianggap sangat penting untuk memahami kehidupan moral Buddhis, antara lain:

Dhammapada,
Sigālovāda Sutta,
Vyagghapajja Sutta,
Maṅgala Sutta,
Mettā Sutta,
Parābhava Sutta,
Vasala Sutta,
dan Dhammika Sutta.

Sutta-sutta yang disebutkan ini menegaskan luasnya etika Buddhis. Ia membahas hubungan sosial, kehidupan rumah tangga, kemakmuran, kebajikan, cinta kasih, sebab kemerosotan, martabat manusia, serta kewajiban praktisi.

Namun sekali lagi, Bhikkhu Narada menekankan  bahwa moralitas adalah permulaan, bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah pembebasan.

Moralitas Buddhis: Mengapa Sīla Sangat Penting tetapi Belum Cukup?


Buddhisme mempunyai tradisi etika yang sangat kuat. Namun, menurut Bhikkhu Narada, menyebut Buddhisme sekadar sebagai sistem moral saja juga tidak cukup.

Mengapa?

Karena sīla atau moralitas, adalah fondasi. Bukan puncak. Puncaknya adalah paññā atau kebijaksanaan.

Moralitas sebagai fondasi

Tanpa moralitas, batin sulit stabil.

Orang yang terus:
berbohong,
menyakiti,
menipu,
mengeksploitasi,
atau bertindak berdasarkan keserakahan,
akan terus menciptakan kekacauan bagi dirinya dan lingkungannya.

Karena itu, sīla mempunyai kedudukan yang tidak dapat digantikan.

Namun, perilaku baik saja belum otomatis menghancurkan ketidaktahuan. Seseorang dapat hidup sangat tertib tetapi tetap melekat kepada konsep diri, tetap tidak memahami sifat fenomena, dan tetap berada dalam lingkaran penderitaan.

Karena itu, moralitas harus berkembang bersama kebijaksanaan.

Bhikkhu Narada menggunakan analogi, moralitas dan kebijaksanaan seperti dua sayap seekor burung.

Bagi manusia:
kebijaksanaan seperti mata,
moralitas seperti kaki.

Mata tanpa kaki tidak dapat membawa kita maju.
Kaki tanpa mata dapat membawa kita ke arah yang salah.

Vijjācaraṇa-sampanno

Salah satu gelar Buddha adalah Vijjācaraṇa-sampanno. Gelar tersebut merujuk kepada kesempurnaan dalam pengetahuan dan perilaku. Kedua dimensi yang tidak dapat dipisahkan.

Buddhisme tidak mengagungkan intelektualitas tanpa karakter.
Sebaliknya, Buddhisme juga tidak menganggap karakter baik cukup tanpa kebijaksanaan.

Empat Kebenaran Mulia dan hubungan filsafat-etika

Bhikkhu Narada menggunakan Empat Kebenaran Mulia untuk menunjukkan hubungan ini.

Tiga kebenaran pertama menjelaskan:
penderitaan,
sebab penderitaan,
dan berakhirnya penderitaan.

Kebenaran keempat memberikan jalan praktik. Dengan kata lain, pemahaman terhadap kenyataan memiliki konsekuensi etis dan praktis.

Filsafat tanpa jalan praktik tidak cukup.
Etika tanpa pemahaman terhadap kenyataan juga tidak lengkap.

Baik, buruk, dan tindakan yang tidak lagi menghasilkan kamma

Bhikkhu Narada kemudian memasuki pembahasan yang lebih teknis. Menurut kerangka Buddhis yang dijelaskan Bhikkhu Narada, tindakan dapat dipahami sebagai:

baik,
buruk,
tidak secara moral dikategorikan sebagai baik atau buruk dalam pengertian tertentu,
dan tindakan yang mempunyai fungsi khusus dalam konteks batin yang telah terbebas.

Akar tindakan tidak baik adalah:

lobha, keserakahan,
dosa, kebencian,
dan moha, ketidaktahuan.

Sebaliknya, tindakan baik berhubungan dengan:

alobha, tidak serakah atau kemurahan hati,
adosa, tidak membenci atau niat baik,
dan paññā, kebijaksanaan.

Ini menunjukkan bahwa moralitas Buddhis tidak hanya menilai bentuk luar tindakan.

Kondisi batin sangat penting.

Dua orang dapat melakukan tindakan yang secara eksternal tampak sama, tetapi berasal dari motivasi yang berbeda.

Motivasi itu memengaruhi kualitas kamma.

Bagaimana dengan seorang Arahant?

Pembahasan menjadi lebih subtil ketika menyangkut Arahant.

Arahant telah menghancurkan kekotoran batin yang menjadi akar dari penciptaan kamma baru. Karena itu, tindakan Arahant tidak bekerja dengan cara yang sama seperti tindakan makhluk biasa.

Ini tidak berarti Arahant pasif.

Ia masih dapat:
berjalan,
berbicara,
mengajar,
membantu,
dan bertindak.

Tetapi tindakannya tidak digerakkan oleh keserakahan, kebencian, atau kebodohan.

Dalam terminologi yang digunakan oleh Bhikkhu Narada, tindakan seperti itu disebut kiriya, yaitu tindakan fungsional. Ia berlangsung, tetapi tidak menghasilkan rangkaian kamma baru sebagaimana tindakan yang dilandasi kemelekatan.

Empat tingkat kesucian

Bhikkhu Narada juga menyebut empat tingkat pencapaian luhur:
Sotāpanna, Pemasuk Arus,
Sakadāgāmi, Yang Kembali Sekali,
Anāgāmi, Yang Tidak Kembali,
dan Arahant.

Dalam proses ini, kebijaksanaan memainkan peran yang semakin menentukan dalam memutus akar kamma. Sementara dalam kehidupan duniawi biasa, cetanā, kehendak atau intensi, mempunyai peran utama dalam pembentukan kamma.

Ini menegaskan satu prinsip dasar, bahwa kamma bukan sekadar “apa yang terjadi”, melainkan sangat terkait dengan kehendak dalam tindakan.

Buddhisme, Tuhan, Dogma, dan Toleransi


Untuk memahami bagian ini, dibutuhkan pembacaan yang sangat hati-hati.

Bhikkhu Narada menempatkan Buddhisme di luar sistem teistik yang mengajarkan adanya satu kekuasaan supranatural mahakuasa yang menciptakan, mengendalikan, memberi wahyu, dan menentukan nasib manusia.

Dalam kerangka penjelasannya, Buddhisme tidak bergantung pada:

wahyu ilahi,
seorang utusan Tuhan,
perintah pencipta,
atau ketundukan kepada sosok supranatural yang menentukan pahala dan hukuman.

Karena itu, jalan Buddhis berpusat pada:

Dhamma,
kamma,
usaha,
pemurnian batin,
dan kebijaksanaan.

Formulasi ini merupakan posisi yang dijelaskan oleh Bhikkhu Narada dan harus dibaca dalam kerangka Buddhisme Theravada yang ia presentasikan, bukan dipaksakan sebagai terminologi yang harus digunakan oleh setiap tradisi atau setiap penulis Buddhis.

Tidak mengklaim monopoli kebenaran melalui wahyu

Karena Buddhisme tidak membangun otoritasnya atas klaim wahyu dari Tuhan, Bhikkhu Narada menghubungkannya dengan sikap tidak memonopoli kebenaran berdasarkan wahyu tersebut.

Buddha juga tidak mendorong pengikutnya untuk menjadi fanatik.

Bhikkhu Narada mengutip suatu prinsip penting, jika orang lain menghina Buddha, Dhamma, atau Sangha, seorang Buddhis tidak seharusnya langsung dikuasai kemarahan.

Mengapa?

Karena ketika marah, kemampuan untuk menilai kritik secara objektif justru menurun.

Pertanyaannya harus tetap pada "Apakah kritik itu benar atau salah?" bukan "Apakah saya merasa tersinggung?"

Ini adalah standar intelektual yang jauh lebih tinggi. Identitas tidak boleh menggantikan analisis.

Menghadapi penghinaan tanpa memperbesar kebencian

Bhikkhu Narada menggunakan gambaran seseorang yang meludah ke arah langit.

Ludah tidak mengotori langit.
Ia kembali kepada orang yang meludah.

Analogi itu tidak berarti seseorang dilarang menjawab kritik. Maksudnya adalah bahwa kebencian tidak diperlukan untuk menanggapi kesalahan. Respons dapat tetap tegas tanpa kehilangan keseimbangan batin.

Buddhisme dan dogma

Bhikkhu Narada menekankan bahwa Buddhisme tidak dibangun atas kredo yang harus dipercaya tanpa pemeriksaan. Ia juga menolak gagasan bahwa ritual eksternal yang tidak dipahami, pengorbanan, atau penyiksaan diri secara otomatis dapat membersihkan batin.

Pernyataan ini menghubungkan kembali Buddhisme kepada prinsip awal:

Pemurnian membutuhkan perubahan aktual pada batin dan perilaku.
Tidak ada jalan pintas melalui identitas.
Tidak ada jalan pintas melalui deklarasi iman.
Tidak ada jalan pintas melalui ritual.
Tidak ada jalan pintas melalui orang lain.

Kritik terhadap definisi agama

Bhikkhu Narada bahkan mengutip kritik Karl Marx terhadap agama sebagai “opium bagi rakyat”. Bhikkhu Narada menolak penerapan definisi tersebut terhadap Buddhisme sebagaimana ia memahaminya.

Argumennya bukan bahwa Buddhisme sekadar memberikan penghiburan pasif kepada manusia. Ia justru menuntut kesadaran, tanggung jawab, usaha, pendidikan batin, dan transformasi.

Dengan demikian, bila agama berarti sistem yang membuat manusia menyerahkan daya kritis kepada suatu otoritas supranatural, Bhikkhu Narada tidak menempatkan Buddhisme dalam kategori tersebut.

Namun, jika agama berarti sistem yang memberikan orientasi terdalam terhadap kehidupan dan kematian serta membebaskan manusia dari penderitaan, Buddhisme justru dapat dipandang sebagai agama dalam makna yang sangat luhur.

Menghormati Buddha Tanpa Menyembah Berhala


Jika Buddhisme tidak bertumpu pada permohonan kepada Tuhan Pencipta, mengapa umat Buddha bersujud di depan rupang Buddha?

Apakah itu pemujaan berhala?

Menurut Bhikkhu Narada, pertanyaan ini hanya dapat dijawab jika dibedakan antara simbol dan objek permohonan supranatural.

Rupang Buddha bukan pemberi anugerah

Seorang Buddhis yang memahami praktik tidak bersujud kepada batu, kayu, logam, atau gambar. Rupang Buddha merupakan representasi dari Buddha dan kualitas-kualitas luhur yang diasosiasikan dengannya.

Ketika seseorang mempersembahkan bunga atau dupa, tindakan itu merupakan ekspresi penghormatan, rasa terima kasih, dan pengingatan terhadap teladan Buddha.

Tidak ada kebutuhan untuk menganggap benda tersebut memiliki kekuatan pribadi yang dapat mengabulkan permintaan.

Bunga sebagai pelajaran tentang ketidakkekalan

Simbol bahkan dapat menjadi objek perenungan Dhamma.

Bunga yang segar akan layu.
Keindahan berubah.
Kondisi yang menyenangkan tidak menetap.

Dengan demikian, sebuah persembahan bunga dapat mengingatkan pada anicca, yaitu ketidakkekalan.

Ritual yang dilakukan dengan pemahaman tidak berhenti pada bentuk luarnya, melainkan mengarahkan pikiran kepada Dhamma.

Mengapa menghormati pohon Bodhi?

Prinsip serupa berlaku pada pohon Bodhi. Pohon tersebut dihormati bukan karena pohon itu dipandang sebagai Tuhan, melainkan karena merupakan simbol pencerahan.

Simbol mempunyai fungsi psikologis dan pedagogis. Ia membantu sebagian orang untuk memusatkan perhatian pada suatu kualitas yang luhur.

Bhikkhu Narada bahkan menjelaskan bahwa orang dengan kemampuan konsentrasi dan pemahaman yang sudah matang mungkin tidak selalu memerlukan sarana simbolik seperti itu.

Dengan demikian, simbol dapat berguna tanpa harus dianggap mutlak.

Penghormatan tertinggi adalah praktik

Salah satu kisah yang disampaikan oleh Bhikkhu Narada bahkan menetapkan standar yang jauh lebih tinggi.

Menjelang Parinibbana Buddha, banyak murid datang untuk memberikan penghormatan. Namun, seorang bhikkhu tidak ikut berkumpul. Ia justru terus bermeditasi.

Ketika ditanya, ia menjelaskan bahwa karena Buddha akan segera mencapai Parinibbana, ia ingin memberikan penghormatan tertinggi dengan berusaha mencapai Arahatta sebelum saat tersebut.

Buddha memuji sikapnya.

Pesannya tegas: orang yang paling menghormati Buddha adalah orang yang menjalankan ajarannya dengan sungguh-sungguh.

Karena itu, praktik Buddhis tidak dapat diukur hanya dari kesalehan ritual. Seorang manusia dapat bersujud berkali-kali tetapi tetap berbohong, membenci, menipu, menyakiti, dan diperbudak keserakahan.

Dalam kondisi demikian, bentuk penghormatan belum menyentuh substansi.

Sebaliknya, seseorang yang benar-benar menjalankan Dhamma sedang melakukan penghormatan yang jauh lebih mendalam.

Prinsip ini juga dapat dipahami melalui gagasan bahwa melihat Dhamma berarti melihat Buddha.

Bagaimana dengan doa?

Bhikkhu Narada mengambil posisi yang sangat kuat mengenai doa permohonan.

Dalam kerangka penjelasannya, pembacaan Buddhis bukan permintaan agar Buddha memberikan kekayaan, keselamatan, kemurnian, atau pembebasan.

Buddha tidak berfungsi sebagai sosok pemberi anugerah berdasarkan permintaan.

Karena itu, menghabiskan waktu hanya untuk meminta tanpa membangun sebab yang sesuai dianggap tidak menghasilkan pembebasan.

Buddha dapat menunjukkan jalan.
Namun, praktisi harus berusaha.

Prinsip yang dikutip Bhikkhu Narada adalah “Kalian sendiri harus berusaha; para Tathāgata hanyalah penunjuk jalan.”

Di sinilah meditasi memperoleh kedudukan yang sangat penting.

Daripada menggantungkan pemurnian kepada permohonan eksternal, praktisi diarahkan kepada disiplin, pengendalian diri, pemurnian batin, meditasi, dan kebijaksanaan.

Maka, perbedaan antara ritual Buddhis yang matang dan takhayul memiliki batasan yang jelas. 

Ritual matang: mengingatkan.
Takhayul: menggantikan tanggung jawab.

Dhamma memilih yang pertama.

Apakah Buddhisme Sebuah Agama?


Pertanyaan kedua bahkan lebih sulit, "Apakah Buddhisme sebuah agama?"

Jawabannya bergantung pada definisi “agama” yang digunakan.

Bhikkhu Narada menunjukkan bahwa kata religion sendiri memiliki sejarah dan etimologi yang tidak sepenuhnya sederhana. Dalam penggunaan umum, agama sering didefinisikan sebagai sistem kepercayaan dan pemujaan terhadap kekuatan ilahi atau kekuatan supranatural.

Jika definisi itu dijadikan satu-satunya ukuran, Bhikkhu Narada berpendapat bahwa Buddhisme tidak tepat dimasukkan ke dalam kategori tersebut.

Mengapa?

Karena struktur utama Buddhisme tidak dibangun atas:

kepercayaan terhadap pencipta yang mahakuasa,
penyerahan diri kepada kuasa ilahi,
wahyu Tuhan,
atau keyakinan bahwa keselamatan diberikan oleh sosok eksternal.

Keyakinan bukan kepercayaan buta

Ini tidak berarti Buddhisme tidak mempunyai saddhā, yaitu keyakinan atau kepercayaan. Namun, kualitas keyakinannya berbeda.

Bhikkhu Narada membandingkannya dengan kepercayaan seorang pasien kepada dokter yang kompeten atau seorang murid kepada gurunya. Pasien percaya kepada dokter bukan semata-mata karena dokter menuntut kepatuhan. Kepercayaan berkembang karena ada dasar untuk mempercayainya.

Demikian pula, seorang Buddhis dapat berlindung kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha, tetapi tindakan berlindung tidak secara otomatis membuat batinnya murni.

Buddha tidak membersihkan seseorang dari luar.

Guru dapat menunjukkan jalan.
Namun orang itu sendiri harus berjalan.

Dalam Dhammapada terdapat prinsip yang sangat tegas:

manusia sendiri melakukan tindakan yang mencemari dirinya;
manusia sendiri menghindari tindakan buruk;
kemurnian dan ketidakmurnian bergantung pada diri sendiri;
orang lain tidak dapat memurnikan kita dengan menggantikan diri kita.

Karena itu, berlindung kepada Tiga Permata bukan berarti menyerahkan tanggung jawab. Justru sebaliknya,  melainkan merupakan penerimaan tanggung jawab.

Kebebasan berpikir merupakan bagian dari jalan

Bhikkhu Narada menekankan bahwa seorang Buddhis tidak seharusnya menjadi budak buku maupun individu. Mengikuti Buddha tidak berarti menyerahkan kemampuan berpikir.

Praktisi tetap mempunyai tanggung jawab untuk menyelidiki, merenungkan, mengembangkan pengetahuan, dan mengembangkan kebijaksanaan.

Kemungkinan pencerahan tidak hanya ditempatkan pada Buddha sebagai figur historis. Potensi untuk berkembang menuju pencerahan terdapat dalam kehidupan makhluk yang mampu menempuh jalan tersebut.

Namun, kebebasan berpikir juga tidak berarti bahwa semua pendapat sama benarnya.

Bhikkhu Narada menekankan pentingnya Sammā Diṭṭhi, yaitu pandangan benar.

Keraguan berguna apabila menjadi alat penyelidikan.
Keraguan yang berubah menjadi relativisme total juga bukan tujuan.

Pelajaran dari orang-orang Kalama

Salah satu bagian terpenting dalam penjelasan Bhikkhu Narada adalah penjelasan tentang orang-orang Kalama di Kesaputta.

Mereka menghadapi masalah yang sangat modern.
Berbagai guru datang.
Setiap guru menyatakan ajarannya benar.
Setiap guru merendahkan ajaran kelompok lain.
Akhirnya masyarakat bingung.
Siapa yang harus dipercaya?

Buddha tidak memarahi keraguan mereka. Sebaliknya, keraguan dalam situasi yang memang meragukan dianggap wajar. Kemudian Buddha memberikan kriteria penyelidikan.

JANGAN langsung menerima sesuatu semata-mata karena:

telah lama didengar;
diturunkan melalui tradisi;
menjadi kabar yang beredar;
terdapat di dalam kitab;
sesuai dengan dugaan sendiri;
diperoleh melalui kesimpulan tertentu;
tampak masuk akal secara sepintas;
sesuai dengan pandangan yang sudah kita sukai;
terlihat meyakinkan;
atau dikatakan oleh seorang guru yang kita hormati.

Ini salah satu bagian Buddhisme yang paling sering dikutip dan paling sering disederhanakan.

Buddha tidak mengatakan: “Percayalah hanya pada apa pun yang Anda sukai.”

Ukuran selanjutnya tetap diperlukan.

Ketika suatu kualitas tidak baik, tercela, ditolak oleh orang bijaksana, dan ketika dijalankan membawa kerugian serta penderitaan, maka kualitas tersebut layak ditinggalkan.

Sebaliknya, ketika sesuatu baik, tidak tercela, dipuji oleh orang bijaksana, dan ketika dijalankan menghasilkan kesejahteraan dan kebahagiaan, maka ia layak dikembangkan.

Jadi, penyelidikan Buddhis bukan subjektivisme. Ada unsur pengalaman, penalaran, moralitas, konsekuensi, dan pertimbangan para bijaksana.

Uji emas, bukan kepatuhan buta

Bhikkhu Narada juga memberikan gambaran lain. Seperti seorang tukang emas menguji emas dengan membakar, memotong, dan menggosoknya pada batu uji, demikian pula ajaran hendaknya diperiksa sebelum diterima.

Bahkan perkataan Buddha tidak wajib diterima hanya karena penghormatan terhadap Buddha.

Pernyataan ini menunjukkan prinsip yang sangat menuntut, bahwa "otoritas tidak bisa menggantikan pemeriksaan".

Seorang guru dihormati.
Tetapi penghormatan bukan alasan untuk mematikan kebijaksanaan.

Jadi, apakah Buddhisme agama?

Bhikkhu Narada memberikan jawaban dalam dua arah.

Jika agama didefinisikan sebagai sistem pemujaan terhadap suatu Tuhan yang mengatur nasib manusia, maka Buddhisme bukan agama dalam pengertian tersebut.

Tetapi jika agama dipahami sebagai jalan yang menembus permukaan kehidupan, memberikan orientasi eksistensial, membantu manusia menghadapi kehidupan dan kematian, serta menyediakan jalan keluar dari penderitaan, maka Buddhisme dapat disebut sebagai agama dalam pengertian yang sangat mendalam.

Dengan kata lain:

Buddhisme tidak mudah dimasukkan ke dalam definisi agama yang terlalu sempit.

Apakah Buddhisme Sebuah Filsafat?


Salah satu cara modern untuk memahami Buddhisme adalah dengan menyebutnya sebagai filsafat.

Sekilas, penyebutan ini masuk akal.

Buddhisme membahas sifat kehidupan, perubahan, penderitaan, pikiran, identitas, sebab-akibat, moralitas, pengetahuan, dan pembebasan. Semua tema tersebut juga merupakan wilayah yang secara tradisional dibahas dalam filsafat.

Namun, menurut Bhikkhu Narada, menyebut Buddhisme hanya sebagai filsafat terlalu menyederhanakan persoalan.

Dhamma bukan spekulasi intelektual

Berdasarkan penjelasan Bhikkhu Narada, Dhamma digambarkan sebagai sesuatu yang mendalam, sulit dipahami, damai, luhur, halus, dan tidak dapat direduksi semata-mata pada penalaran logis.

Ini bukan berarti Buddhisme menolak logika. Yang ditolak adalah anggapan bahwa realitas tertinggi dapat sepenuhnya dikuasai hanya melalui argumentasi intelektual.

Buddha tidak mendirikan sebuah sistem metafisika untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia tentang segala sesuatu. Ia juga tidak bermaksud mendirikan ilmu fisika baru.

Orientasinya jauh lebih spesifik:

Apa yang perlu diketahui agar manusia dapat terbebas dari penderitaan?

Pertanyaan ini menentukan batas-batas pengajaran Buddha.

Perumpamaan segenggam daun

Bhikkhu Narada mengutip sebuah perumpamaan terkenal.

Dalam sebuah hutan, Buddha mengambil segenggam daun dan membandingkan daun di tangannya dengan seluruh daun yang ada di hutan.

Apa yang beliau ajarkan seperti segenggam daun.
Apa yang beliau ketahui tetapi tidak diajarkan seperti seluruh daun di hutan.

Makna perumpamaan ini sangat penting.

Buddha tidak menyatakan bahwa seorang guru harus mengajarkan semua yang ia ketahui. Ia memilih apa pun yang relevan secara langsung dengan pemurnian batin dan pembebasan. 

Dengan demikian, keheningan Buddha terhadap suatu pertanyaan tidak otomatis berarti beliau tidak mempunyai pengetahuan tentang pertanyaan itu. Sebaliknya, dapat berarti bahwa pertanyaan tersebut tidak dianggap berguna untuk tujuan pembebasan.

Inilah salah satu karakter pragmatis dalam Dhamma.

Pertanyaan utama bukan: “Apakah hal ini menarik untuk diperdebatkan?”, melainkan “Apakah pengetahuan ini membantu mengurangi ketidaktahuan, keserakahan, kebencian, dan penderitaan?”

Buddhisme dan beberapa gagasan dalam filsafat Barat

Bhikkhu Narada kemudian menunjukkan bahwa sejumlah pemikir Barat, pada masa yang jauh lebih kemudian, mengembangkan gagasan yang dalam beberapa aspek memiliki kemiripan dengan pokok-pokok tertentu dalam Buddhisme.

Heraclitus menekankan bahwa segala sesuatu terus mengalir dan berubah. Ungkapan terkenal yang menyatakan bahwa seseorang tidak dapat memasuki sungai yang sama dua kali.

Pythagoras berbicara tentang perpindahan atau kelahiran kembali jiwa dalam kerangka pemikirannya sendiri.

Descartes menekankan perlunya keraguan metodologis dalam mengamati fenomena.

Spinoza membicarakan perbedaan antara sesuatu yang kekal dan bentuk-bentuk eksistensi sementara, serta menghubungkan pembebasan dari penderitaan dengan pencarian pengetahuan yang tidak berubah.

Berkeley mempertanyakan status metafisis atom.

David Hume menganalisis kehidupan mental dan tidak menemukan jiwa permanen di balik arus keadaan mental yang terus berubah.

Hegel memandang fenomena dalam kerangka proses “menjadi”.

Schopenhauer membahas penderitaan dan sumbernya dalam kerangka filsafat Barat.

Henri Bergson menekankan perubahan dan memberi tempat penting kepada intuisi.

William James berbicara mengenai stream of consciousness, arus kesadaran, serta menolak gagasan tentang jiwa yang statis dan tidak berubah.

Bhikkhu Narada menggunakan perbandingan ini untuk menunjukkan bahwa lebih dari dua milenium sebelumnya, Buddhisme telah menempatkan tiga karakteristik penting kehidupan sebagai pokok penyelidikan:

anicca, ketidakkekalan
dukkha, ketidakpuasan atau penderitaan
dan anatta, ketiadaan suatu diri kekal yang independen

Namun, poinnya bukan bahwa Buddha hanyalah “filsuf yang lebih dahulu”. Perbedaannya terletak pada tujuan. Seorang filsuf dapat berhenti setelah memahami suatu teori.

Dhamma menuntut sesuatu yang lebih jauh: realisasi.

Dhamma sebagai rakit

Ajaran Buddha dianalogikan dengan sebuah rakit. Rakit mempunyai fungsi membawa seseorang menyeberangi sungai. Ia bukan sesuatu yang harus dipikul terus setelah seseorang mencapai seberang.

Demikian pula konsep, teori, istilah, dan bahkan ajaran mempunyai fungsi praktis membawa manusia menuju pembebasan.

Karena itu, seseorang tidak mempelajari Dhamma hanya untuk mampu memenangkan perdebatan tentang Dhamma.

Dhamma harus dipelajari, dipraktikkan, dan pada akhirnya direalisasikan melalui kebijaksanaan.

Jika filsafat didefinisikan sebagai kecintaan terhadap kebijaksanaan dan pencarian terhadap hakikat kehidupan, Buddhisme tentu mempunyai karakter filosofis. Namun, jika filsafat hanya berarti konstruksi teoritis untuk menjelaskan realitas, Buddhisme lebih luas daripada itu.

Bhikkhu Narada karena itu mengambil posisi yang bernuansa:

Buddhisme dapat disebut dekat dengan filsafat, tetapi tidak dapat direduksi menjadi filsafat.

Sebab perhatian utama Buddhisme bukan hanya pada “Bagaimana dunia harus dipahami?”, melainkan pada “Bagaimana pemahaman itu mengakhiri penderitaan?”