Salah satu pesan terakhir yang digunakan Bhikkhu Narada untuk merangkum Buddhisme adalah ajaran agar seseorang menjadi pulau atau perlindungan bagi dirinya sendiri.
Prinsip ini mudah disalahpahami. Ia bukan ajaran egoisme. Ia juga bukan pernyataan bahwa manusia tidak membutuhkan guru, Sangha, sahabat spiritual, kitab, atau bimbingan.
Maksudnya, tanggung jawab pembebasan tidak dapat dialihkan.
Karena itu, Buddhisme menurut kerangka Bhikkhu
Narada tidak meminta manusia untuk menjadi pengikut yang pasif.
Ia meminta manusia menjadi praktisi. Belajar, tetapi jangan berhenti pada pengetahuan.
Periksa ajaran sebagaimana tukang emas menguji emas.
Bangun moralitas sebagai fondasi.
Latih pikiran.
Kembangkan kebijaksanaan.
Gunakan tindakan sebagai medan praktik.
Perhatikan apakah tindakan membawa
penderitaan atau kesejahteraan.
Kurangi lobha.
Kurangi dosa.
Hancurkan moha.
Kembangkan alobha.
Kembangkan adosa.
Kembangkan paññā.
Dan pahami bahwa tujuan seluruh proses bukan untuk menjadi “lebih religius” dalam pengertian eksternal. Tujuannya jauh lebih radikal, yaitu menjadi bebas.
Dari sudut pandang ini, pertanyaan “Apakah Buddhisme agama atau filsafat?” menjadi tidak relevan lagi. Buddhisme dapat mempunyai unsur keduanya. Namun, keduanya hanyalah kategori.
Pertanyaan yang lebih fundamental adalah "Apakah Dhamma dipahami dan dijalankan sehingga penderitaan benar-benar berkurang?"
Jika jawabannya belum, pekerjaan belum
selesai.
Jika keserakahan masih kuat, latihan
perlu dilanjutkan.
Jika kebencian masih mudah menguasai
batin, latihan perlu dilanjutkan.
Jika identitas dan pandangan masih
menjadi alasan untuk merendahkan orang lain, latihan perlu dilanjutkan.
Jika moralitas baru menjadi teori,
latihan perlu dilanjutkan.
Jika meditasi hanya menjadi aktivitas
untuk mencari pengalaman yang menyenangkan, latihan perlu dilanjutkan.
Dhamma tidak meminta kita berhenti pada
definisi.
Dhamma meminta realisasi.
Karena itu, Buddhisme pada tingkat terdalam adalah jalan memahami kenyataan, jalan memurnikan perilaku, jalan melatih pikiran, jalan mengembangkan kebijaksanaan, dan akhirnya, jalan pembebasan dari penderitaan.

0 comments: