Namo Buddhaya

Buddha Gautama

"Aku tidak mengajar untuk menjadikanmu sebagai murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk membuatmu menjadi murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk memutuskan hubunganmu dengan gurumu yang lama. Aku bahkan tidak tertarik untuk mengubah tujuanmu,karena setiap orang ingin lepas dari penderitaan.
Cobalah apa yang telah Kutemukan ini,dan nilailah oleh dirimu sendiri. Jika itu baik bagimu,terimalah. Jika tidak, janganlah engkau terima."


(Digha Nikaya 25; Patika Vagga;Udumbarika-Sīhanāda Sutta)

Dhamma Event

https://www.instagram.com/p/DbMqpeeJrl_/

Jadilah Pulau bagi Diri Sendiri


Salah satu pesan terakhir yang digunakan Bhikkhu Narada untuk merangkum Buddhisme adalah ajaran agar seseorang menjadi pulau atau perlindungan bagi dirinya sendiri.

Prinsip ini mudah disalahpahami. Ia bukan ajaran egoisme. Ia juga bukan pernyataan bahwa manusia tidak membutuhkan guru, Sangha, sahabat spiritual, kitab, atau bimbingan.

Maksudnya, tanggung jawab pembebasan tidak dapat dialihkan.

Guru dapat mengajarkan meditasi.
Namun, guru tidak dapat menggantikan kita dalam bermeditasi.

Buddha dapat menunjukkan bahwa keserakahan sebagai sumber penderitaan.
Namun, Buddha tidak dapat menghilangkan keserakahan dari batin kita tanpa latihan kita sendiri.

Kitab dapat menjelaskan ketidakkekalan.
Namun, buku tidak dapat merealisasikan ketidakkekalan dengan menggantikan pembacanya.

Sangha dapat menjadi lingkungan yang mendukung.
Namun, setiap pikiran tetap harus dilihat oleh pemiliknya sendiri.

Karena itu, Buddhisme menurut kerangka Bhikkhu Narada tidak meminta manusia untuk menjadi pengikut yang pasif.

Ia meminta manusia menjadi praktisi. Belajar, tetapi jangan berhenti pada pengetahuan.

Hormati Buddha, tetapi jangan mengganti praktik dengan penghormatan.
Gunakan ritual, tetapi pahami fungsinya.
Percaya, tetapi jangan percaya secara buta.
Ragukan ketika memang ada alasan untuk ragu, tetapi jangan menjadikan keraguan sebagai tempat tinggal yang permanen.
Periksa ajaran sebagaimana tukang emas menguji emas.
Bangun moralitas sebagai fondasi.

Latih pikiran.
Kembangkan kebijaksanaan.
Gunakan tindakan sebagai medan praktik.
Perhatikan apakah tindakan membawa penderitaan atau kesejahteraan.

Kurangi lobha.
Kurangi dosa.
Hancurkan moha.

Kembangkan alobha.
Kembangkan adosa.
Kembangkan paññā.

Dan pahami bahwa tujuan seluruh proses bukan untuk menjadi “lebih religius” dalam pengertian eksternal. Tujuannya jauh lebih radikal, yaitu menjadi bebas.

Dari sudut pandang ini, pertanyaan “Apakah Buddhisme agama atau filsafat?” menjadi tidak relevan lagi. Buddhisme dapat mempunyai unsur keduanya. Namun, keduanya hanyalah kategori.

Pertanyaan yang lebih fundamental adalah "Apakah Dhamma dipahami dan dijalankan sehingga penderitaan benar-benar berkurang?"

Jika jawabannya belum, pekerjaan belum selesai.
Jika keserakahan masih kuat, latihan perlu dilanjutkan.
Jika kebencian masih mudah menguasai batin, latihan perlu dilanjutkan.
Jika identitas dan pandangan masih menjadi alasan untuk merendahkan orang lain, latihan perlu dilanjutkan.
Jika moralitas baru menjadi teori, latihan perlu dilanjutkan.
Jika meditasi hanya menjadi aktivitas untuk mencari pengalaman yang menyenangkan, latihan perlu dilanjutkan.

Dhamma tidak meminta kita berhenti pada definisi.
Dhamma meminta realisasi.

Karena itu, Buddhisme pada tingkat terdalam adalah jalan memahami kenyataan, jalan memurnikan perilaku, jalan melatih pikiran, jalan mengembangkan kebijaksanaan, dan akhirnya, jalan pembebasan dari penderitaan.

0 comments: