Paṇḍaka, Ubhatobyañjanaka, dan Vinaya: Mengapa Istilah Kuno Tidak Boleh Serta Merta dimaknai LGBT?
Ketika pembahasan kembali kepada kehidupan monastik
Persoalan menjadi berbeda ketika seseorang tidak lagi hanya berbicara tentang umat awam, tetapi juga tentang aturan pentahbisan dan kehidupan Saṅgha. Vinaya memiliki berbagai klasifikasi manusia yang berkaitan dengan tubuh, seksualitas, serta kelayakan untuk menerima upasampadā atau pentahbisan penuh.
Di antaranya terdapat istilah: ubhatobyañjanaka dan paṇḍaka.
Kedua istilah ini membutuhkan perhatian khusus karena sering
diterjemahkan terlalu cepat dengan menggunakan kategori seksualitas modern.
Hal tersebut dapat menghasilkan kesalahpahaman.
Ubhatobyañjanaka
Ubhatobyañjanaka merujuk kepada individu yang mempunyai
karakteristik seksual laki-laki dan perempuan.
Dalam terminologi modern, konsep tersebut kadang didekatkan dengan
kondisi interseks, meskipun kategori Vinaya kuno tidak dapat disamakan secara
sempurna dengan terminologi medis atau identitas modern.
Menurut Vinaya (Vin. I. 89), seorang ubhatobyañjanaka tidak diperkenankan menerima upasampadā. Jika pentahbisan telah terjadi tanpa diketahui sebelumnya bahwa keadaan tersebut ada, Vinaya mengatur agar status tersebut dilepaskan.
Aturan ini merupakan bagian dari sistem institusional Saṅgha.
Karena itu, ia harus dibaca dalam konteks disiplin komunitas
monastik, bukan secara otomatis diubah menjadi pernyataan universal mengenai
nilai kemanusiaan seseorang.
Paṇḍaka: kategori yang jauh lebih kompleks daripada “banci”
Istilah paṇḍaka jauh lebih sulit. Dalam sejumlah terjemahan populer, kata ini kadang diterjemahkan secara sederhana sebagai “banci” atau istilah sejenisnya.
Terjemahan semacam itu tidak memadai.
Penjelasan komentarial bahkan menguraikan beberapa jenis paṇḍaka
dengan karakteristik yang sangat berbeda satu sama lain.
Lima kategori yang disebut antara lain:
- Āsittapaṇḍaka. Seseorang yang memperoleh kepuasan seksual melalui tindakan oral tertentu.
- Usūyapaṇḍaka. Seseorang yang memperoleh rangsangan atau kepuasan dengan melihat aktivitas seksual orang lain.
- Opakkamikapaṇḍaka. Seseorang yang organ seksualnya telah mengalami pengguniruan atau perubahan tertentu, tetapi masih dapat memperoleh respons seksual dengan cara tertentu.
- Pakkhapaṇḍaka. Seseorang yang kondisi seksualnya dikaitkan dengan fase-fase tertentu dalam siklus bulan.
- Napuṃsakapaṇḍaka. Seseorang yang karakteristik seksualnya tidak jelas sebagaimana kategori laki-laki atau perempuan umum.
Klasifikasi ini
dijelaskan dalam komentar Vinaya, antara lain Vin.A. IV. 1015.
Keberagaman definisi tersebut menunjukkan satu hal penting: paṇḍaka bukan sinonim sederhana untuk “gay”, “homoseksual”, “transgender”, ataupun kategori LGBT secara keseluruhan.
Menyamakan semuanya
merupakan bentuk simplifikasi yang rentan mengarah pada mispersepsi.
Aturan pentahbisan bagi paṇḍaka
Vinaya (Vin. I. 86) menyatakan bahwa paṇḍaka tidak diperkenankan menerima upasampadā. Apabila telah menerima pentahbisan tanpa mengetahui kondisi tersebut, aturan Vinaya mengatur pelepasan status tersebut.
Seperti banyak peraturan Vinaya lainnya, aturan tersebut berkaitan
dengan pengaturan kehidupan dalam komunitas monastik.
Pembentukan aturan Vinaya pada umumnya sangat berkaitan dengan stabilitas Saṅgha, disiplin, kemungkinan munculnya perilaku seksual, serta persepsi masyarakat terhadap komunitas monastik.
Dalam masyarakat India kuno, reputasi Saṅgha mempunyai arti sangat besar. Saṅgha hidup bergantung pada dukungan umat awam. Karena itu, berbagai tindakan atau keadaan yang dianggap dapat menimbulkan skandal publik, konflik, atau kecurigaan juga menjadi perhatian Vinaya.
Tidak boleh menarik kesimpulan terlalu jauh
Dari aturan pentahbisan tersebut,
setidaknya terdapat dua kesalahan interpretasi yang harus dihindari.
Kesalahan pertama adalah mengatakan: “Karena paṇḍaka tidak boleh ditahbiskan, berarti Buddha menolak seluruh LGBT.” Kesimpulan tersebut terlalu jauh karena paṇḍaka sendiri bukan padanan untuk LGBT.
Kesalahan kedua adalah mengatakan: “Karena Tipiṭaka tidak secara eksplisit mengecam homoseksualitas umat awam, berarti semua bentuk aktivitas seksual otomatis dibenarkan.” Kesimpulan ini juga tidak tepat. Etika Buddhis tetap mensyaratkan penilaian terhadap tindakan.
Persoalan mengenai perilaku seksual yang salah tetap berlaku. Karena itu, pembacaan yang lebih hati-hati harus membedakan sedikitnya empat hal: orientasi seksual, identitas sosial, perilaku seksual, dan aturan pentahbisan monastik. Keempatnya tidak identik.
Seri: Seksualitas dalam Perspektif Buddhisme
- Pembahasan sebelumnya: Orientasi Seksual dan LGBTQIA+ dalam Perspektif Buddhisme
- Kembali ke awal: Seksualitas dalam Perspektif Buddhisme





Follow My Journey
"If you find a wise companion to journey with, walk together." — Buddha
Connect and let’s grow together: