Namo Buddhaya

Buddha Gautama

"Aku tidak mengajar untuk menjadikanmu sebagai murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk membuatmu menjadi murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk memutuskan hubunganmu dengan gurumu yang lama. Aku bahkan tidak tertarik untuk mengubah tujuanmu,karena setiap orang ingin lepas dari penderitaan.
Cobalah apa yang telah Kutemukan ini,dan nilailah oleh dirimu sendiri. Jika itu baik bagimu,terimalah. Jika tidak, janganlah engkau terima."


(Digha Nikaya 25; Patika Vagga;Udumbarika-Sīhanāda Sutta)

Dhamma Event

https://www.instagram.com/p/DbMqpeeJrl_/
Showing posts with label Jalan Tengah. Show all posts

Empat Usaha Benar: Menghentikan yang Buruk, Menumbuhkan yang Baik


Setelah memahami bahwa pengulangan membentuk kebiasaan pada catatan 
Mengapa Kita Perlu Belajar Berhenti? Pertanyaan berikutnya menjadi sangat praktis: Apa yang harus dilakukan?

Dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan terdapat unsur keenam yang disebut sammā-vāyāma, yaitu Usaha Benar. Ini bukan “usaha” dalam arti membuka bisnis, mengejar karier, atau mencari uang. Yang dimaksud adalah usaha batin.

Secara klasik, Usaha Benar mencakup empat latihan: (1) mencegah kondisi tidak bajik yang belum muncul, (2) meninggalkan kondisi tidak bajik yang sudah muncul, (3) membangkitkan kondisi bajik yang belum muncul, dan (4) mempertahankan serta mengembangkan kondisi bajik yang sudah muncul.

Bhikkhu Sri Paññāvaro menjelaskannya dengan urutan praktis yang sangat mudah diingat: berhentikan yang buruk yang sudah dilakukan; jangan mulai yang buruk yang belum dilakukan; teruskan yang baik yang sudah dilakukan; dan mulai lakukan kebaikan yang belum dilakukan.

Empat gerakan ini dapat menjadi peta sederhana untuk seluruh latihan sehari-hari.

Pertama: keburukan yang sudah dilakukan, berhentilah

Ini bagian yang paling sulit karena kebiasaannya sudah ada.

Kita mungkin sudah terbiasa: berbohong kecil, membicarakan orang lain, marah dengan kata-kata kasar, mengambil sesuatu yang bukan hak, berbelanja tanpa kendali, atau selalu mencari keuntungan pribadi. Ketika kebiasaan itu sudah memberi kenikmatan, berhenti terasa seperti kehilangan.

Namun, justru karena itulah, berhenti harus dilakukan.

Setiap pengulangan merupakan latihan tambahan bagi pola tersebut. Jika hari ini dilakukan lagi, besok dorongannya akan sedikit lebih kuat. Jika besok dilakukan lagi, lusa akan semakin mudah. Berhenti berarti tidak lagi memberi makanan kepada pola lama.

Pada awalnya tidak nyaman. Itu wajar.

Orang yang sudah bertahun-tahun melihat jam ke arah kanan akan berkali-kali salah menoleh ketika jam dipindah ke arah kiri. Namun, jika lokasi barunya digunakan secara terus-menerus, orientasinya akan berubah.

Batin pun demikian.

Kedua: keburukan yang belum pernah dilakukan, jangan dicoba

Kondisi seperti ini mungkin sering dianggap berlebihan.

“Sekali saja.”
“Hanya ingin tahu.”
“Saya bisa mengendalikan.”

Masalahnya, kita tidak pernah sepenuhnya mengetahui bagaimana sebuah pengalaman akan tertanam dalam batin. 

Jika pengalaman pertama memberikan kenikmatan yang kuat, maka akan muncul memori. Memori dapat memanggil kembali pengalaman tersebut. Pengulangan memperkuatnya. 

Maka, pencegahan jauh lebih mudah daripada penghentian setelah kebiasaan terbentuk.

Ini berlaku tidak hanya untuk kecanduan zat. Juga pada: penipuan, perselingkuhan, judi, kekerasan, korupsi, kebiasaan menghina, dan pola-pola lain yang menawarkan kenikmatan cepat dengan konsekuensi panjang.

Tidak melakukan hal-hal yang buruk sejak awal bukan tanda kelemahan. Justru itu kecerdasan.

Ketiga: kebaikan yang sudah dilakukan, lanjutkan dan kuatkan

Batin tidak hanya dibentuk melalui kebiasaan buruk. Kebaikan juga dapat menjadi kebiasaan.

Jika sudah terbiasa menolong, teruskan.
Jika sudah terbiasa menjaga ucapan, pertahankan.
Jika sudah mempunyai jadwal meditasi, rawat.
Jika sudah mampu meminta maaf ketika salah, jangan tinggalkan.
Jika kemurahan hati sudah tumbuh, kembangkan.

Kita sering terlalu sibuk membongkar kelemahan sampai lupa bahwa latihan juga berarti menjaga kualitas yang baik agar tidak hilang.

Batin yang terbiasa dengan kebaikan akan semakin mudah bergerak ke arah kebaikan.

Keempat: kebaikan yang belum dilakukan, mulailah

Ada bentuk kebaikan yang mungkin selama ini belum pernah kita lakukan.

Memaafkan seseorang.
Bermeditasi.
Membantu tanpa diketahui orang lain.
Belajar mendengarkan tanpa memotong pembicaraan.
Mengakui kesalahan.
Memberikan waktu kepada seseorang yang sedang kesulitan.

Mulailah.

Tidak perlu menunggu untuk menjadi orang baik yang sempurna.

Sama seperti kebiasaan buruk yang dibangun melalui pengulangan, kebiasaan baik pun dibangun melalui latihan. Kebaikan pertama mungkin canggung. Yang kesepuluh lebih mudah. Yang keseratus mulai menjadi karakter.

Mengapa guru tidak dapat melakukan latihan untuk kita?

Di sinilah Buddhisme memberikan tanggung jawab yang sangat besar kepada individu.

Guru dapat menunjukkan jalan. Menjelaskan bahaya. Mengingatkan. Mendorong. Memberikan metode. Tetapi tidak dapat berlatih menggantikan muridnya.

Bhikkhu Sri Paññāvaro menggunakan perumpamaan pemain sirkus yang belajar berjalan di atas kawat.

Seorang pelatih dapat mengatakan:

“Jangan terlalu tegang.”
“Pusatkan perhatian.”
“Cari keseimbangan.”
“Rileks.”

Pada awal latihan, kawat dapat dibuat lebih rendah. Di bawahnya dipasang matras. Pelatih mengawasi. Tetapi siapakah yang harus benar-benar menemukan keseimbangan tubuhnya?

Pemain itu sendiri.

Pelatih tidak dapat memindahkan kemampuan keseimbangan dari tubuhnya kepada murid.

Demikian pula pengendalian diri.

Buddha dapat memberikan Dhamma.
Bhikkhu dapat mengajarkan.
Kitab dapat menjelaskan.

Namun, ketika kemarahan muncul dalam pikiran kita, siapa yang harus mengetahuinya?

Kita sendiri.

Ketika kesempatan untuk menipu datang, siapa yang harus berhenti?

Kita sendiri.

Belajar naik sepeda: kegagalan adalah bagian dari latihan

Perumpamaan lain yang mudah dipahami adalah belajar naik sepeda. Pada awalnya seseorang jatuh. Naik lagi. Jatuh lagi. Mungkin lutut terluka. Orang lain membantu memegang bagian belakang sepeda. Kemudian perlahan-lahan dilepas. Akhirnya tubuh menemukan keseimbangannya sendiri. Setelah mahir, seseorang bahkan dapat melakukan hal-hal yang dahulu terasa mustahil.

Tidak ada keajaiban. Ada latihan berulang.

Pengendalian batin juga demikian.

Hari ini gagal menahan marah. Besok coba lagi. Hari ini masih bergosip. Sadari, hentikan, lalu mulai lagi. Hari ini meditasi hanya bertahan beberapa menit. Besok latihan lagi. Kegagalan bukan alasan untuk menyerah.

Namun, kegagalan juga tidak boleh dijadikan pembenaran untuk terus mengulang pola yang sama tanpa berusaha memperbaikinya.

Tekad perlu kuat karena kebiasaan tidak menyerah begitu saja

Bhikkhu Sri Paññāvaro menekankan bahwa kebiasaan lama sulit dihentikan tanpa tekad yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan. Sebab kebiasaan bukan sekadar gagasan. Ia telah diulang. Dinikmati. Dikenali tubuh. Dikenali pikiran. Menjadi respons cepat.

Karena itu, perubahan membutuhkan kekuatan yang sebanding: perhatian, tekad, pengulangan, dan kesediaan untuk menghadapi ketidaknyamanan sementara.

Orang yang berhenti dari kebiasaan buruk tidak hanya kehilangan tindakan, melainkan juga kehilangan kenikmatan yang selama ini melekat pada tindakan tersebut.

Maka latihan perlu didukung oleh pemahaman: mengapa saya berhenti?

Tanpa alasan yang jernih, keinginan lama mudah menang.

Inilah salah satu fungsi sīla

Di sinilah peran sīla, disiplin moral, menjadi sangat penting.

Sīla kadang dipandang hanya sebagai kumpulan larangan:

jangan membunuh,
jangan mencuri,
jangan melakukan perilaku seksual yang salah,
jangan berbohong,
jangan mengonsumsi sesuatu yang melemahkan kesadaran.

Tetapi lihat fungsi psikologis dan spiritualnya.

Ketika kita tidak membunuh, kita tidak melatih kekerasan.
Ketika tidak mengambil yang bukan hak, kita tidak melatih pencurian.
Ketika menjaga hubungan seksual secara bertanggung jawab, kita tidak melatih eksploitasi.
Ketika menjaga ucapan, kita tidak melatih kebohongan.
Ketika menjaga kejernihan kesadaran, kita melindungi kemampuan untuk mengendalikan diri.

Sīla karena itu bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan dari luar. Sīla adalah perlindungan terhadap pembentukan kebiasaan buruk di dalam batin.

Batas sosial tidak cukup untuk membersihkan pikiran

Ada persoalan berikutnya. Ucapan dan tindakan kita biasanya memiliki rem sosial.

Seseorang mungkin sangat marah, tetapi tidak berani berteriak karena berada di kantor. Ingin memukul, tetapi menahan diri karena takut terkena hukuman. Ingin mengatakan sesuatu yang kasar, tetapi malu karena anak-anak berada di dekatnya.

Lingkungan menyeleksi banyak ucapan dan tindakan. Tetapi pikiran?

Di dalam pikiran, seseorang dapat melakukan hampir apa saja. Membayangkan kekerasan. Membenci. Mencuri dalam fantasi. Membanggakan diri. Membayangkan balas dendam. Atau sebaliknya, membayangkan sesuatu yang luhur.

Orang di sebelah kita biasanya tidak tahu. Karena tidak ada tekanan sosial secara langsung, dunia batin jauh lebih bebas.

Inilah sebabnya pengendalian perilaku melalui sīla sangat penting, tetapi belum cukup.

Kita masih perlu melatih pikiran itu sendiri. Dan di sinilah meditasi masuk.

[Buddhisme dalam Ringkasan] Dari Penderitaan, Kamma, hingga Jalan Pembebasan


Buddhisme sering kali diperkenalkan sebagai sebuah agama. Namun, memahami Buddhisme hanya sebagai agama sebenarnya belum cukup untuk menangkap keseluruhan sifatnya. Buddhisme juga dapat dipahami sebagai filsafat kehidupan, metode pengembangan batin, sekaligus jalan praktik yang bertujuan membawa manusia menuju pemahaman yang lebih jernih tentang dirinya sendiri, kehidupannya, penderitaan, serta kemungkinan untuk terbebas darinya.

Baca juga: Apa itu Buddhisme? dan Dasar-Dasar Buddhisme

Dalam penjelasan Bhikkhu Dhammika, istilah Buddhisme berkaitan dengan makna “terbangun” atau “tercerahkan”. Tradisi ini berawal lebih dari 2.500 tahun lalu, ketika Siddhattha Gotama mencapai pencerahan pada usia sekitar 35 tahun dan kemudian dikenal sebagai Buddha, “Yang Telah Terbangun”.

Namun, inti Buddhisme bukanlah sekadar mengetahui siapa Buddha atau menerima seperangkat kepercayaan tertentu. Jalan Buddhis pada dasarnya menuntut manusia untuk menjalani kehidupan secara etis, menyadari dengan jelas pikiran serta tindakannya, lalu mengembangkan pemahaman dan kebijaksanaan.

Dengan kata lain, Buddhisme tidak berhenti pada apa yang harus dipercayai. Pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana seseorang hidup, memahami pengalaman, mengelola pikirannya, dan membebaskan dirinya dari sebab-sebab penderitaan?

Buddha: Guru yang Menemukan Jalan, Bukan Tuhan Pencipta

Bhikkhu Dhammika merangkum kehidupan Siddhattha Gotama sebagai perjalanan seorang manusia yang secara mendalam mempertanyakan makna kebahagiaan.

Siddhattha lahir di Lumbini, wilayah yang kini berada di Nepal, dalam lingkungan keluarga kerajaan. Sekitar usia 29 tahun, ia menyadari bahwa kenyamanan material dan keamanan duniawi tidak dengan sendirinya dapat memberikan kebahagiaan yang kokoh.

Kesadaran tersebut mendorongnya untuk meninggalkan kehidupan lamanya demi mencari jawaban. Ia mempelajari berbagai ajaran, agama, filsafat, dan metode meditasi yang berkembang pada zamannya. Setelah sekitar enam tahun pencarian dan latihan, ia menemukan Jalan Tengah dan mencapai pencerahan.

Sejak itu ia dikenal sebagai Buddha.

Buddha tidak mengaku sebagai Tuhan. Ia juga tidak mengajarkan bahwa dirinya adalah pencipta alam semesta yang harus disembah agar manusia memperoleh keselamatan. Ia tampil sebagai seorang guru yang menunjukkan jalan menuju pencerahan berdasarkan apa yang telah ia realisasikan sendiri.

Selama sisa kehidupannya hingga meninggal pada usia sekitar 80 tahun, Buddha mengajarkan Dhamma, kebenaran dan jalan latihan yang ia temukan, agar manusia dapat memahaminya dan membuktikannya melalui pengalaman mereka sendiri.

Pemahaman ini juga menjelaskan posisi rupang atau patung Buddha dalam tradisi Buddhisme.

Umat Buddha menghormati citra Buddha, tetapi penghormatan tersebut bukan berarti meminta Buddha memenuhi berbagai keinginan duniawi. Rupang Buddha dapat menjadi pengingat terhadap kualitas batin yang hendak dikembangkan: ketenangan, kasih sayang, kebijaksanaan, dan kedamaian.

Sikap menghormat atau bersujud di hadapan rupang Buddha terutama merupakan ungkapan penghargaan dan rasa terima kasih terhadap Buddha dan ajaran yang ditunjukkannya.

Buddhisme sebagai Cara Hidup

Jika Buddhisme dipandang sebagai filsafat, hal itu berkaitan dengan pencarian terhadap kebijaksanaan. Akan tetapi, Buddhisme bukan filsafat yang berhenti pada diskusi intelektual.

Jalan Buddhis menuntut praktik nyata. Secara sederhana, jalan tersebut dapat diringkas ke dalam tiga orientasi besar.

Pertama, menjalani kehidupan yang bermoral.
Kedua, membangun kesadaran yang jelas terhadap pikiran, ucapan, dan tindakan.
Ketiga, mengembangkan pemahaman dan kebijaksanaan.

Karena itulah Buddhisme juga dapat disebut sebagai suatu cara hidup.

Buddhisme berusaha membantu manusia memahami tujuan hidupnya, menghadapi kenyataan ketidakadilan dan ketimpangan dalam kehidupan, serta menyediakan metode praktis untuk mencari kebahagiaan yang tidak sepenuhnya bergantung pada keadaan eksternal.

Bhikkhu Dhammika juga melihat salah satu alasan berkembangnya minat terhadap Buddhisme di masyarakat modern, termasuk di negara-negara Barat, pada kemampuannya menawarkan perspektif terhadap persoalan yang muncul dalam masyarakat materialistis. Buddhisme memberikan perhatian yang sangat besar pada pemahaman mengenai pikiran manusia dan cara mengolahnya.

Karena itu, kekuatan Buddhisme bukan terutama terletak pada janji untuk mengubah dunia agar selalu sesuai dengan keinginan kita. Justru sebaliknya: Buddhisme meminta manusia untuk terlebih dahulu memahami bagaimana pikirannya bereaksi terhadap dunia.

Apakah Kemakmuran Material menjadi Ukuran Keberhasilan Buddhisme?

Ada anggapan bahwa jika Buddhisme mengajarkan jalan menuju kebahagiaan, negara-negara dengan masyarakat Buddhis seharusnya semuanya makmur.

Bhikkhu Dhammika menolak logika sederhana tersebut.

Ia menunjuk contoh seperti Jepang, yang memiliki tradisi Buddhisme yang kuat sekaligus berkembang secara ekonomi, serta Thailand yang juga mengalami perkembangan ekonomi. Namun, persoalan yang lebih mendasar adalah bahwa Buddhisme memang tidak pernah mengajarkan bahwa kekayaan merupakan jaminan kebahagiaan.

Kekayaan bersifat tidak kekal. Orang kaya maupun miskin tetap dapat mengalami penderitaan.

Karena itu, ukuran kebahagiaan dalam Buddhisme tidak dapat direduksi menjadi pendapatan, harta benda, atau tingkat kemakmuran ekonomi. Kebahagiaan yang dimaksud berhubungan dengan pemahaman dan pembebasan batin.

Banyak Tradisi, Satu Fondasi Dhamma

Buddhisme berkembang selama ribuan tahun di berbagai wilayah dan kebudayaan. Karena itu, tidak mengherankan jika muncul beragam mazhab, tradisi, kebiasaan, dan bentuk praktik. Perbedaan-perbedaan tersebut sebagian berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan tempat Buddhisme berkembang.

Namun, menurut Bhikkhu Dhammika, perbedaan tradisi tidak mengubah fondasi dasarnya: Dhamma atau kebenaran yang menjadi inti ajaran Buddha.

Keragaman bentuk tidak harus berarti perpecahan pada inti ajaran.

Sikap serupa juga terlihat dalam hubungan Buddhisme dengan agama-agama lain. Buddhisme digambarkan sebagai tradisi yang relatif terbuka terhadap ajaran moral yang terdapat dalam kepercayaan lain. Identitas keagamaan seseorang tidak menjadi pusat penilaian.

Yang dianggap lebih penting adalah pemahaman, kebijaksanaan, moralitas, dan kualitas kehidupan seseorang.

Karena orientasi ini, Buddhisme tidak menempatkan konversi orang lain sebagai tujuan utama. Dhamma dapat dijelaskan kepada mereka yang ingin memahami dan mempelajarinya, bukan dipaksakan kepada mereka yang tidak menginginkannya.

Menguji, Bukan Sekadar Mempercayai

Salah satu karakter penting dalam Buddhisme adalah penekanannya pada pemeriksaan dan pengalaman langsung.

Buddha tidak meminta para pengikutnya menerima ajarannya semata-mata karena ajaran tersebut berasal darinya. Mereka justru didorong untuk menyelidiki dan memahami ajaran tersebut melalui pengalaman.

Bhikkhu Dhammika menghubungkan pendekatan ini dengan sikap ilmiah: suatu pengetahuan diuji melalui pengamatan dan pengalaman, bukan hanya diterima berdasarkan otoritas.

Karena itu, dalam kerangka ini Buddhisme memberikan tempat yang sangat besar kepada kebijaksanaan dibandingkan dengan kepercayaan yang tidak diperiksa.

Salah satu bagian utama ajaran yang harus dipahami dan dialami tersebut adalah Empat Kebenaran Mulia.

Empat Kebenaran Mulia: Diagnosis terhadap Persoalan Kehidupan

Ajaran Buddha sangat luas, tetapi Bhikkhu Dhammika merangkum fondasinya terutama melalui Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Empat Kebenaran Mulia dapat dibaca sebagai rangkaian yang sangat logis: mengenali persoalan, memahami penyebabnya, mengetahui bahwa persoalan tersebut dapat diakhiri, kemudian menjalani jalan yang mengarah pada berakhirnya persoalan tersebut.

1. Kenyataan tentang Penderitaan

Kebenaran pertama adalah kenyataan adanya penderitaan dalam kehidupan.

Manusia mengalami sakit jasmani, penuaan, penyakit, dan kematian. Namun, penderitaan tidak hanya bersifat fisik. Kita juga mengalami kesepian, kemarahan, ketakutan, kebingungan, frustrasi, kekecewaan, kegelisahan, dan berbagai bentuk tekanan mental lainnya.

Mengakui kenyataan ini bukan berarti Buddhisme bersifat pesimistis. Pesimisme berarti mengharapkan segala sesuatu menjadi buruk. 

Buddhisme justru memulai dari pengamatan terhadap kondisi kehidupan sebagaimana adanya, kemudian menanyakan apakah penderitaan tersebut dapat dipahami dan diatasi.

Pengakuan terhadap penderitaan bukanlah akhir ajaran Buddha. Itu justru titik awal pencarian jalan keluar.

2. Penyebab Penderitaan

Kebenaran kedua menunjukkan bahwa penderitaan berhubungan erat dengan keinginan, nafsu keinginan, dan kemelekatan.

Kita dapat menderita ketika mengharapkan orang lain bersikap sesuai dengan keinginan kita.
Kita menderita ketika tidak memperoleh apa yang kita inginkan.

Namun, persoalannya bahkan tidak selesai setelah keinginan terpenuhi. Memperoleh sesuatu yang kita inginkan tidak selalu memberikan kebahagiaan yang bertahan lama, karena pikiran dapat segera menciptakan keinginan berikutnya. Karena itu, masalahnya bukan sekadar apakah keinginan kita berhasil dipenuhi.

Bhikkhu Dhammika mengarahkan perhatian pada sesuatu yang lebih mendasar: sifat pikiran yang terus-menerus menginginkan sesuatu dapat merampas kemampuan kita untuk merasa cukup.

Jika seluruh kehidupan dihabiskan untuk memaksa dunia memenuhi setiap keinginan, penderitaan tidak akan pernah benar-benar berakhir.

Transformasi yang lebih mendalam membutuhkan perubahan terhadap keinginan itu sendiri.

3. Penderitaan Dapat Diakhiri

Kebenaran ketiga merupakan aspek yang menentukan: penderitaan bukan keadaan yang tidak dapat diubah.

Ada kemungkinan untuk mengakhirinya.

Ketika kemelekatan dan keinginan yang terus menuntut mulai dilepaskan, manusia dapat belajar menjalani hidup dari hari ke hari dengan kebebasan dan kedamaian yang lebih besar.

Energi yang sebelumnya dihabiskan untuk mengejar, mempertahankan, menolak, atau mengkhawatirkan berbagai hal dapat digunakan untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna, termasuk membantu orang lain.

Keadaan terbebas dari akar penderitaan inilah yang disebut Nibbāna.

Dengan demikian, Nibbāna bukan sekadar konsep abstrak yang muncul terpisah dari persoalan kehidupan. Ia berada dalam kerangka yang sangat jelas: penderitaan ada, penderitaan mempunyai sebab, dan sebab tersebut dapat dihentikan.

4. Ada Jalan Menuju Berakhirnya Penderitaan

Mengetahui bahwa pembebasan mungkin tidak memadai. Dibutuhkan metode.

Kebenaran keempat, karena itu menunjukkan jalan menuju berakhirnya penderitaan, yaitu Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Jalan Mulia Berunsur Delapan: Mengubah Seluruh Cara Hidup

Jalan Mulia Berunsur Delapan terdiri atas:

  1. Pandangan Benar,
  2. Pikiran Benar,
  3. Ucapan Benar,
  4. Perbuatan Benar,
  5. Penghidupan Benar,
  6. Usaha Benar,
  7. Perhatian atau Kesadaran Benar,
  8. Konsentrasi Benar.

Delapan unsur ini menunjukkan bahwa praktik Buddhisme tidak dibatasi pada meditasi.

Bagaimana seseorang memandang kehidupan merupakan sesuatu yang penting.
Bagaimana ia berpikir, penting.
Bagaimana ia berbicara, penting.
Bagaimana ia bertindak dan mencari nafkah, juga penting.
Demikian pula dengan bagaimana ia mengarahkan usaha, menjaga kesadaran, dan melatih konsentrasi.
Seluruh kehidupan menjadi bagian dari jalan.

Karena itu, Jalan Mulia Berunsur Delapan merupakan jalan pengembangan moralitas, kesadaran, dan kebijaksanaan. Praktik tersebut menghubungkan pikiran, ucapan, tindakan, pemahaman terhadap Empat Kebenaran Mulia, dan perkembangan kasih sayang terhadap makhluk lain.

Lima Sila: Fondasi Etis Kehidupan Buddhis

Salah satu bentuk paling konkret dari latihan moral dalam Buddhisme adalah Lima Sila.

Lima prinsip tersebut adalah:

  1. tidak membunuh atau menghilangkan kehidupan;
  2. tidak mengambil sesuatu yang tidak diberikan;
  3. tidak melakukan perilaku seksual yang salah;
  4. tidak berdusta;
  5. tidak menggunakan zat memabukkan yang mengaburkan kesadaran.

Lima Sila memperlihatkan bahwa moralitas Buddhis berkaitan erat dengan konsekuensi tindakan terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Etika bukan hanya persoalan menaati aturan. Etika merupakan bagian dari latihan batin.

Seseorang tidak mungkin berharap memperoleh kejernihan pikiran jika kehidupannya terus dipenuhi tindakan yang menimbulkan kerugian, kebohongan, ketidakbertanggungjawaban, atau hilangnya kewaspadaan.

Kamma: Tanggung Jawab terhadap Tindakan

Konsep lain yang sangat penting dalam Buddhisme adalah kamma.

Bhikkhu Dhammika menjelaskannya melalui prinsip bahwa tindakan memiliki akibat. Setiap sebab membawa konsekuensi tertentu, sehingga manusia tidak dapat sepenuhnya memisahkan kondisi kehidupannya dari tindakan yang dilakukan.

Dalam kerangka penjelasan ini, kamma digunakan untuk memahami mengapa kondisi kehidupan manusia dapat berbeda-beda, termasuk kondisi saat dilahirkan, kemampuan yang dimiliki, maupun panjang-pendeknya kehidupan.

Namun, pesan praktis yang paling kuat dalam pembahasan kamma adalah tanggung jawab pribadi. Apa yang kita lakukan mempunyai konsekuensi.

Untuk menilai suatu tindakan, Bhikkhu Dhammika mengusulkan tiga hal yang perlu diperhatikan:

  • apa niat yang mendasari tindakan tersebut;
  • apa akibat tindakan tersebut bagi diri sendiri;
  • apa akibatnya bagi orang lain.

Dengan demikian, pembicaraan tentang kamma seharusnya tidak hanya diarahkan pada spekulasi mengenai masa lalu.

Pertanyaan yang jauh lebih praktis adalah: apa yang sedang saya lakukan sekarang, dengan niat apa saya melakukannya, dan apa akibatnya?

Kebijaksanaan Tanpa Welas Asih Tidaklah Lengkap

Buddhisme memberikan tempat yang sangat penting kepada kebijaksanaan. Tetapi kebijaksanaan tidak boleh berkembang sendirian. Kebijaksanaan harus berjalan bersama welas asih.

Bhikkhu Dhammika menggambarkan dua ekstrem yang sama-sama tidak memadai.

Seseorang dapat berhati baik tetapi tidak memiliki kebijaksanaan yang cukup. Sebaliknya, seseorang dapat memiliki banyak pengetahuan tetapi miskin kepedulian terhadap orang lain.

Jalan Buddhis menolak keduanya.

Manusia perlu mengembangkan pemahaman yang jernih sekaligus kualitas hati.

Dalam pengertian tertingginya, kebijaksanaan berarti melihat kenyataan dengan lebih jelas bahwa setiap fenomena merupakan kondisi yang tidak sempurna, tidak kekal, dan tidak memiliki suatu inti tetap yang tidak berubah.

Kebijaksanaan semacam ini tidak muncul hanya karena seseorang mempercayai sebuah ajaran, melainkan harus dipahami dan dialami.

Karena itu, kebijaksanaan membutuhkan pikiran terbuka, objektivitas, keberanian untuk memeriksa keyakinan sendiri, kesabaran, keluwesan, dan kecerdasan.

Welas Asih Dimulai dari Pemahaman

Welas asih mencakup kesediaan untuk berbagi, menghibur, memahami, memperhatikan, dan peduli terhadap orang lain. Buddhisme menghubungkan welas asih dengan kebijaksanaan.

Menurut Bhikkhu Dhammika, manusia dapat memahami orang lain dengan lebih mendalam ketika ia juga memahami dirinya sendiri.

Pernyataan ini penting.

Tanpa pemahaman terhadap pikiran sendiri, apa yang disebut “kepedulian” mudah bercampur dengan kebutuhan pribadi, keinginan untuk mengendalikan, penilaian, atau harapan agar orang lain menjadi seperti yang kita inginkan.

Kebijaksanaan membantu welas asih menjadi lebih jernih. Sebaliknya, welas asih mencegah kebijaksanaan berubah menjadi kecerdasan yang dingin dan tidak manusiawi.

Keduanya harus tumbuh bersama.

Jadi, Bagaimana Seseorang Menjadi Buddhis?

Jawabannya tidak diawali dengan tuntutan untuk menerima seluruh ajaran tanpa pertanyaan.

Siapa pun dapat mempelajari ajaran Buddha, mencobanya, dan melihat bagaimana ajaran tersebut bekerja dalam kehidupannya.

Buddha mengarahkan manusia untuk mencari pemahaman melalui dirinya sendiri. Jawaban terhadap persoalan mendasar kehidupan tidak ditemukan hanya dengan bergantung pada sesuatu di luar diri.

Manusia perlu mengamati pikirannya, memahami tindakannya, dan mengambil tanggung jawab atas kehidupannya.

Karena itulah, Buddha tidak mengajarkan para muridnya untuk langsung menerima setiap perkataannya hanya atas dasar kepercayaan. Ajaran tersebut harus diselidiki dan diuji.

Pada akhirnya, setiap orang harus membuat keputusan sendiri. Setiap orang juga menanggung tanggung jawab atas tindakan dan pemahamannya sendiri.

Dalam pengertian tersebut, Buddhisme bukan sekadar kumpulan dogma yang harus diterima sekaligus tanpa pemeriksaan. Ia merupakan jalan pembelajaran dan praktik yang harus dipahami, diterapkan, dan dialami secara nyata.

Inti Buddhisme: Berhenti Menuntut Dunia, Mulai Memahami Pikiran

Jika seluruh pengantar Buddhisme ini hendak dipadatkan menjadi satu gagasan besar, intinya bukanlah bahwa manusia harus melarikan diri dari kehidupan.

Buddhisme justru meminta manusia melihat kehidupan secara lebih jernih.
Penderitaan ada.
Penderitaan memiliki sebab.
Sebabnya dapat dihentikan.
Dan ada jalan yang dapat dilatih untuk menghentikannya.
Jalan tersebut membutuhkan etika, kesadaran, konsentrasi, kebijaksanaan, dan welas asih.

Buddhisme tidak menjanjikan bahwa dunia akan selalu mengikuti keinginan kita. Ia mengajarkan sesuatu yang lebih mendasar: kebebasan tidak lahir dari keberhasilan mengendalikan seluruh keadaan, melainkan dari pemahaman terhadap pikiran yang terus menciptakan kemelekatan pada keadaan tersebut.

Karena itu, pertanyaan penting dalam Buddhisme bukan semata-mata: “Apa yang harus saya percayai?” melainkan “Apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam pikiran saya, apa akibat dari cara saya hidup, dan apakah saya sedang bergerak menuju semakin banyak kemelekatan atau semakin besar kebebasan?”

Di titik inilah Buddhisme berubah dari sekadar pengetahuan tentang sebuah agama menjadi sebuah jalan yang benar-benar harus dijalani.


Sumber: A summary of the fundamentals of Buddhism – Bhikkhu Shravasti Dhammika

Jalan Tengah Bukan Kompromi


Jika beberapa pandangan budaya hanya menimbulkan ketakutan ringan, ada pandangan lain yang memiliki konsekuensi yang jauh lebih serius. Pandangan tentang hakikat manusia, jiwa, tubuh, kehidupan setelah kematian, dan hukum sebab-akibat dapat mengubah seluruh orientasi moral seseorang.

Dalam berbagai teks Buddhis awal terdapat dua rumusan terkenal:

taṃ jīvaṃ taṃ sarīraṃ, prinsip kehidupan atau “jiwa” itu sama dengan jasmani;
dan aññaṃ jīvaṃ aññaṃ sarīraṃ, prinsip kehidupan adalah satu hal, sedangkan jasmani adalah hal lain.

Buddha tidak mengadopsi salah satu rumusan tersebut sebagai dogma metafisik. Sejumlah sutta bahkan menunjukkan bahwa Beliau menolak terperangkap dalam dikotomi itu dan mengalihkan perhatian kepada proses yang dapat dipahami melalui sebab dan kondisi.

Mengapa kedua pandangan tersebut begitu penting?

Karena masing-masing dapat melahirkan cara hidup yang ekstrem.

Ekstrem pertama: manusia hanyalah tubuh ini

Pandangan pertama dapat dipahami secara sederhana sebagai keyakinan bahwa tubuh dan prinsip kehidupan sepenuhnya identik.

Jika tubuh berakhir saat kematian, semuanya selesai.
Tidak ada kelanjutan.
Tidak ada akibat setelah kehidupan ini.
Tidak ada lagi sesuatu yang perlu dipertanggungjawabkan.

Dalam bentuk ekstremnya, cara berpikir demikian dapat menghasilkan kesimpulan: selama tubuh masih hidup, nikmatilah sebanyak-banyaknya. Berikan tubuh sebanyak mungkin kenyamanan. Penuhi seluruh keinginan indria.

Moralitas kemudian dapat dianggap sekunder selama seseorang mampu menghindari konsekuensi hukum atau sosial.

Tentu tidak setiap orang yang mempunyai pandangan materialistis otomatis menjadi tidak bermoral. Yang sedang ditunjukkan di sini adalah konsekuensi yang dapat muncul jika pandangan tersebut digabungkan dengan penolakan terhadap akibat etis dari suatu perbuatan.

Bagi Buddhisme, anggapan bahwa tidak terdapat buah dari perbuatan baik dan buruk merupakan bentuk pandangan keliru. Dalam Mahācattārīsaka Sutta, salah satu bentuk Pandangan Benar duniawi justru mencakup pengakuan bahwa perbuatan baik dan buruk memiliki buah dan akibat.

Ekstrem kedua: tubuh hanyalah penjara bagi jiwa

Pandangan yang berlawanan menganggap tubuh dan jiwa sebagai dua substansi yang benar-benar berbeda.

Tubuh dipandang rendah: kotor, buruk, penghambat, penjara, atau belenggu bagi roh.

Jika jiwa terlalu menikmati tubuh, ia dianggap akan terus melekat pada kehidupan jasmani. Karena itu, tubuh harus ditolak, disiksa, atau bahkan dihancurkan agar jiwa dapat bebas.

Dalam sejarah kehidupan religius, pandangan seperti ini dapat menghasilkan bentuk asketisme yang ekstrem. Seseorang mungkin menahan lapar secara berlebihan, menyakiti tubuh, atau menganggap penderitaan fisik sebagai sesuatu yang, pada dirinya sendiri, dapat menyucikan.

Dari luar, perilaku semacam itu mungkin terlihat tidak masuk akal.

Namun, seseorang yang benar-benar memegang pandangan bahwa tubuh adalah penjara jiwa justru dapat menganggap penyiksaan tubuh sebagai tindakan yang logis.

Ini kembali memperlihatkan kekuatan diṭṭhi.

Manusia dapat melakukan sesuatu yang sangat menyakitkan apabila kerangka keyakinannya membuat tindakan tersebut terlihat benar.

Buddha tidak memilih salah satu ekstrem tersebut

Jalan Buddha bukan:
memanjakan tubuh tanpa batas,
tetapi juga bukan menghancurkan tubuh agar sesuatu yang disebut jiwa dapat dibebaskan.

Hal yang perlu dipahami adalah bahwa pengalaman manusia muncul melalui berbagai kondisi yang saling bergantung.

Bhikkhu Sri Paññāvaro menggunakan proses penglihatan sebagai contoh sederhana. Agar proses melihat dapat  terjadi, setidaknya terdapat mata sebagai landasan indra, objek visual, dan kesadaran mata.

Apakah kesadaran saja cukup?

Tidak.

Jika mata rusak, seseorang tidak dapat melihat hanya dengan mengatakan bahwa “jiwa” atau “kesadaran” masih ada.

Apakah mata saja cukup?

Juga tidak.

Mata seseorang yang baru meninggal mungkin secara fisik masih terlihat utuh, tetapi penglihatan tidak berlangsung.

Apakah mata dan kesadaran cukup tanpa objek?

Tidak. Penglihatan selalu berlangsung terhadap sesuatu yang dapat dilihat.

Dengan demikian, pengalaman bukan tindakan seorang “penguasa” tunggal yang menggunakan indra seperti seseorang menggunakan peralatan miliknya. Pengalaman muncul karena kondisi-kondisi bertemu.

Pendekatan seperti inilah yang membawa pembahasan menuju prinsip sentral Buddhisme: ketergantungan pada sebab dan kondisi.

Jalan Tengah bukan mengambil separuh dari dua ekstrem

Istilah “Jalan Tengah” sering disalahpahami. Orang mengira jalan tengah berarti kompromi. Jika satu pihak berada di kiri dan satu pihak di kanan, ambil posisi di antara keduanya. Jika yang satu berkata sepuluh dan yang lain berkata nol, pilih lima. Bukan itu maksudnya.

Bhikkhu Sri Paññāvaro menekankan bahwa majjhimā paṭipadā bukan jalan hibrida dan tidak mengambil sedikit dari kedua ekstrem.

Jika terdapat jurang di sebelah kiri dan jurang di sebelah kanan, jalan tengah tidak bisa ditempuh dengan satu kaki sedikit di jurang kiri dan kaki lainnya sedikit di jurang kanan. Ia adalah jalan yang sama sekali tidak jatuh ke kedua-dua jurang tersebut.

Dalam khotbah pertama Buddha, Jalan Tengah dijelaskan dengan meninggalkan dua ekstrem praktik: pengejaran kenikmatan indria dan penyiksaan diri. Jalan yang ditemukan Buddha bukan campuran keduanya, melainkan Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Begitu pula pada tingkat pandangan. Buddha tidak harus memilih antara “ada jiwa kekal yang sepenuhnya terpisah dari tubuh” dan “manusia hanyalah tubuh yang lenyap total ketika mati”.

Sebaliknya, Dhamma menyelidiki proses pengalaman melalui kemunculan yang bergantung pada kondisi.

Dalam SN 12.35 (Avijjāpaccayasutta), ketika pertanyaan mengenai “siapa pemilik” berbagai proses pengalaman terus diajukan, Buddha mengarahkan perhatian kembali pada struktur sebab-akibat: dengan adanya kondisi tertentu, muncul fenomena tertentu; dengan lenyapnya kondisi itu, fenomena tersebut lenyap.

Jalan Tengah, dengan demikian, bukan kompromi metafisik, melainkan perubahan cara bertanya.

Pandangan Benar harus mendahului tindakan

Mengapa Pandangan Benar ditempatkan pertama dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan?

Karena cara seseorang memandang kenyataan akan memengaruhi niatnya, ucapannya, tindakannya, mata pencahariannya, usahanya, perhatiannya, dan cara ia mengembangkan batin.

Jika seseorang yakin bahwa tindakan tidak mempunyai akibat, ia akan lebih mudah membenarkan perilaku yang merugikan orang lain selama dirinya memperoleh keuntungan. Sebaliknya, apabila seseorang memahami bahwa tindakan mempunyai konsekuensi, ia tidak hanya bertanya “Apakah saya bisa lolos?” melainkan mulai bertanya “Perbuatan macam apa yang sedang saya tanam?”

Di sinilah pembahasan mengenai kamma menjadi relevan.

Kamma bukan hukuman

Dalam percakapan sehari-hari, kata “karma” sering digunakan dengan cara yang keliru. 

Seseorang mengalami kecelakaan lalu dikatakan: “Dia kena karma.”
Seseorang jatuh sakit: “Itu karmanya.”

Kamma kemudian terdengar seperti kutukan atau hukuman kosmis.

Dalam ajaran Buddha, kamma bukan sosok hakim yang menjatuhkan hukuman.

Kamma secara mendasar berkaitan dengan perbuatan yang didorong oleh kehendak. Dalam AN 6.63 (Nibbedhika Sutta), Buddha menyatakan bahwa kehendak atau intensi (cetanā) adalah kamma; dengan berkehendak, seseorang bertindak melalui tubuh, ucapan, atau pikiran.

Membantu orang adalah kamma.
Memberikan obat adalah kamma.
Berdana adalah kamma.
Menipu adalah kamma.
Memfitnah adalah kamma.
Menyakiti adalah kamma.

Karena itu, tidak tepat menggunakan kata kamma hanya ketika sesuatu yang buruk terjadi. Yang perlu diperhatikan ialah kualitas kehendak dan tindakan serta akibat yang ditimbulkannya.

Kamma juga bukan fatalisme

Ada satu koreksi penting yang harus diberikan agar ajaran kamma tidak berubah menjadi fatalisme.

Dalam konteks menghadapi fitnah atau pengkhianatan, Bhikkhu Sri Paññāvaro mengajarkan satu latihan batin yang sangat praktis: daripada langsung membenci pelaku, seseorang dapat merenungkan kemungkinan bahwa pengalaman pahit ini berhubungan dengan buah perbuatannya sendiri. Refleksi seperti itu dapat mengurangi dorongan untuk membalas dendam.

Namun, hal itu tidak berarti bahwa kita mempunyai pengetahuan pasti: “Setiap orang yang menyakitiku pasti sedang menjadi alat kamma buruk masa laluku.”

Buddha secara eksplisit menolak pandangan bahwa setiap pengalaman, baik menyenangkan maupun menyakitkan, semata-mata disebabkan oleh perbuatan masa lalu. Dalam Sīvaka Sutta disebutkan berbagai kondisi lain, termasuk penyakit, perubahan lingkungan, kecerobohan, cedera, serta akibat kamma.

Jadi ada perbedaan besar antara: “Peristiwa ini pasti hukuman kamma masa laluku,” dan “Saya akan menggunakan prinsip kamma untuk memeriksa tanggung jawab diri sendiri daripada langsung memelihara kebencian.”

Yang pertama dapat menjadi spekulasi.
Yang kedua dapat menjadi latihan batin.

Jangan menggunakan kamma sebagai senjata

Kesalahan lain bahkan lebih berbahaya.

Seseorang disakiti, kemudian berkata, “Tidak apa-apa. Nanti karmamu akan menghajarmu.”

Secara lahiriah, kalimat itu menggunakan istilah-istilah Buddhis.
Secara batiniah, ia dapat mengandung kebencian.

Hukum kamma telah berubah menjadi alat kutukan.

Orang itu sebenarnya sedang berkata: “Saya ingin melihat engkau menderita, tetapi saya akan membungkus keinginan itu dengan istilah keagamaan.”

Inilah sebabnya Bhikkhu Sri Paññāvaro menekankan bahwa hukum kamma sebaiknya pertama-tama digunakan sebagai cermin bagi diri sendiri, bukan sebagai pentungan bagi orang lain.

Ketika dirugikan, pertanyaan utamanya bukan “Kapan dia akan menerima karmanya?” akan tetapi, “Apa yang sedang saya lakukan sekarang, melalui pikiran, ucapan, dan tindakan saya sendiri?”

Sebab ketika seseorang membalas kejahatan dengan kebencian, ia mungkin sedang menciptakan masalah baru justru saat menghadapi akibat dari masalah lama.

Dhamma mengalihkan pusat perhatian dari obsesi terhadap kesalahan orang lain menuju tanggung jawab atas kualitas batin sendiri. Dan dari titik inilah kita sampai pada tiga kekuatan yang berulang kali merusak kualitas tersebut: rāga atau lobha, dosa, dan moha.

Pandangan yang Kita Pegang Menjadi Kehidupan yang Kita Jalani


Manusia tidak hidup hanya berdasarkan apa yang dilihatnya. Manusia hidup berdasarkan bagaimana ia menafsirkan apa yang dilihatnya.

Dua orang dapat berhadapan dengan peristiwa yang sama, tetapi memberikan makna yang sama sekali berbeda. Perbedaan itu kemudian menghasilkan perasaan, keputusan, ucapan, dan tindakan yang berbeda pula. Karena itu, dalam Buddhisme, persoalan pandangan bukan persoalan abstrak yang hanya layak dibahas dalam diskusi filsafat. Pandangan adalah salah satu kekuatan yang secara langsung membentuk kehidupan.

Istilah Pāli yang sering digunakan untuk pandangan adalah diṭṭhi. Ketika suatu pandangan diterima berulang kali, diyakini, lalu melekat kuat dalam batin, pandangan tersebut dapat menjadi kerangka dasar yang menentukan bagaimana seseorang memahami dunia. Ia kemudian memengaruhi cara berpikir, berbicara, dan bertindak, bahkan menentukan apa yang dianggap benar, salah, menguntungkan, berbahaya, suci, atau tercela.

Karena itulah Jalan Mulia Berunsur Delapan dimulai dengan sammā-diṭṭhi, Pandangan Benar. Bukan karena Buddhisme menganggap pemikiran intelektual lebih penting daripada perilaku, melainkan karena perilaku manusia hampir selalu bergerak mengikuti cara pandangnya.

Ketika sebuah angka dapat menimbulkan ketakutan

Contoh yang sangat sederhana dapat dilihat dari sikap manusia terhadap angka.

Bhikkhu Sri Paññāvaro Mahāthera mencontohkan bahwa dalam konteks kebudayaan tertentu di Thailand, angka empat dapat dipandang tidak menguntungkan karena asosiasi bunyinya dengan kematian. Akibatnya, sebagian orang merasa tidak nyaman dengan kamar, tempat duduk, atau situasi tertentu yang berkaitan dengan angka 4.

Bahkan kunjungan empat orang bhikkhu kepada orang yang sedang sakit dapat menimbulkan kecemasan pada orang yang memegang kepercayaan tertentu, meskipun dari sudut pandang Buddhis tidak ada sifat metafisik pada angka empat yang membuatnya membawa kematian.

Di tempat lain, angka yang ditakuti justru adalah angka 13. Hotel atau pesawat tertentu dapat melewati penomoran tersebut karena kebiasaan budaya masyarakat yang menggunakannya.

Orang Indonesia yang tidak dibesarkan dalam kepercayaan itu mungkin sama sekali tidak merasakan apa-apa saat berhadapan dengan angka 4 atau 13. Angkanya sama. Yang berubah adalah pandangan yang dilekatkan padanya.

Contoh sederhana ini memperlihatkan mekanisme yang jauh lebih besar: manusia sering kali tidak bereaksi terhadap suatu benda atau peristiwa sebagaimana adanya, melainkan bereaksi terhadap makna yang telah dibangun oleh batinnya sendiri.

Jika angka empat memang secara intrinsik membawa kemalangan, ketakutan terhadapnya seharusnya bersifat universal. Kenyataannya tidak demikian. Dalam Buddhisme sendiri terdapat Empat Kebenaran Mulia. Maka jelas bahwa persoalannya bukan pada angka tersebut, melainkan pada pandangan yang dibangun manusia terhadap angka itu.

Bulan yang buruk di satu tempat dapat menjadi bulan yang baik di tempat lain

Hal yang sama terjadi pada kalender dan tradisi.

Di sebagian masyarakat Jawa, bulan Suro secara tradisional dianggap bukan waktu yang ideal untuk melangsungkan pernikahan, pindah rumah, atau mengadakan kegiatan besar. Namun, pada komunitas lain, termasuk dalam tradisi Bali, periode yang berdekatan justru dapat dipenuhi dengan berbagai upacara keagamaan yang dianggap baik.

Bahkan di Jawa sendiri, keyakinan mengenai bulan Suro tidak diikuti secara seragam. Di kota besar atau pada generasi tertentu, pembatasan itu semakin jarang dipertahankan.

Dari sini muncul fakta penting: tradisi bukan hukum alam.

Tradisi dibangun oleh masyarakat, diwariskan, dipelihara, mengalami perubahan, dan terkadang kehilangan pengaruhnya. Sesuatu yang dianggap sangat penting oleh satu kelompok dapat sama sekali tidak relevan bagi kelompok lain.

Buddhisme tidak harus memusuhi kenyataan tersebut. Tetapi umat Buddha perlu mampu membedakan antara:

tradisi yang merupakan kebiasaan sosial,
keyakinan yang diwariskan,
dan prinsip Dhamma yang berhubungan dengan kebajikan, penderitaan, sebab-akibat, serta pembebasan batin.

Ketiga hal itu tidak selalu sama.

Tradisi kematian dan ketakutan yang diwariskan

Kepercayaan yang berkaitan dengan kematian sering kali jauh lebih kuat.

Dalam beberapa komunitas pernah berkembang pandangan bahwa jenazah tidak seharusnya dibawa melewati tempat ibadah tertentu. Ada pula anggapan bahwa upacara bagi orang meninggal sebaiknya tidak dilakukan terlalu dekat dengan altar atau ruang utama karena makhluk-makhluk surgawi dianggap tidak menyukai kematian.

Pandangan seperti ini dapat diwariskan sedemikian kuat sehingga ketika abu jenazah seorang umat Buddha ditempatkan sementara di ruang utama vihara karena tidak tersedia ruangan lain, sebagian orang merasa takut. Timbul kekhawatiran bahwa hal itu tidak pantas atau dapat mengganggu makhluk-makhluk tertentu.

Persoalan yang perlu diajukan bukan hanya, “Apakah ini tradisi?”

Pertanyaan yang lebih Buddhis adalah:

Apa akibat dari pandangan ini terhadap batin dan tindakan manusia?
Apakah ia menghasilkan kebijaksanaan atau ketakutan?
Apakah ia menumbuhkan welas asih atau diskriminasi?
Apakah ia mendorong kebajikan atau justru tindakan yang merugikan makhluk lain?

Di sinilah Buddhisme menempatkan tradisi dalam pemeriksaan etis.

Buddhisme tidak harus menghancurkan tradisi

Salah satu kesalahan yang mudah terjadi adalah menganggap bahwa menjadi Buddhis berarti menolak seluruh tradisi yang tidak secara eksplisit berasal dari Tipiṭaka.

Itu terlalu sederhana.

Bhikkhu Sri Paññāvaro menggunakan Udumbarikā-Sīhanāda Sutta sebagai salah satu dasar untuk menunjukkan sikap Buddha yang tidak berorientasi pada penaklukan identitas orang lain. Dalam percakapan dengan pengembara Nigrodha, Buddha menegaskan bahwa Beliau tidak mengajar untuk memperoleh murid, tidak bermaksud membuat orang meninggalkan gurunya, dan tidak bertujuan merusak tata kehidupan yang mereka jalani. Yang menjadi persoalan adalah kualitas perbuatan: apa yang membawa kerugian dan apa yang membawa manfaat. DN 25 memang menunjukkan dengan jelas bahwa tujuan pengajaran Buddha bukan untuk perekrutan sektarian.

Prinsip yang sama terlihat dalam kisah perumah tangga Upāli.

Upāli sebelumnya merupakan pendukung utama kaum Nigaṇṭha. Setelah berdialog dengan Buddha, ia menyatakan keinginannya untuk menjadi pengikut Buddha. Menariknya, Buddha justru menyuruh Upāli mempertimbangkan keputusannya dengan saksama. Setelah Upāli tetap teguh, Buddha bahkan mengingatkan bahwa keluarganya telah lama mendukung para Nigaṇṭha dan bahwa pemberian dana kepada mereka patut diteruskan ketika mereka datang membutuhkan.

Sikap tersebut sangat berbeda dari logika kemenangan kelompok: “Sekarang engkau menjadi pengikutku; tinggalkan semuanya yang lama.”

Yang ditampilkan justru kehati-hatian, rasa tanggung jawab sosial, dan ketidakmelekatan terhadap identitas kelompok. Karena itu, penerimaan terhadap Dhamma tidak harus menimbulkan permusuhan terhadap budaya, keluarga, atau tradisi seseorang.

Tetapi toleransi bukan berarti menerima semua hal

Di titik ini diperlukan batas yang tegas.

Tidak menolak tradisi secara membabi buta bukan berarti semua tradisi harus dipertahankan.

Bhikkhu Sri Paññāvaro memberikan contoh suatu kebiasaan pemakaman di daerah tertentu: ketika seseorang meninggal, seekor ayam hidup dimasukkan ke dalam tempat pembakaran bersama jenazah, atau dimasukkan hidup-hidup ke dalam liang kubur. Maksud tradisionalnya adalah agar orang yang meninggal memiliki “teman”.

Di sinilah persoalan berubah.

Jika mengikuti tradisi berarti membunuh makhluk hidup secara sengaja, maka masalahnya bukan lagi sekadar selera budaya. Ia telah memasuki wilayah sīla, yaitu moralitas.

Salah satu latihan moral mendasar umat Buddha adalah berusaha menghindari pembunuhan makhluk hidup. Kehidupan tetap memiliki nilai meskipun makhluk itu dianggap kecil atau tidak penting.

Karena itu, jalan keluarnya bukan menghina keluarga yang memegang tradisi tersebut, melainkan mencari cara agar unsur sosialnya tetap dihormati tanpa menimbulkan tindak pembunuhan. Ayam itu, misalnya, dapat dibawa sebagai bagian simbolis dari prosesi, tetapi tidak dibakar atau dikuburkan hidup-hidup.

Inilah kebijaksanaan praktis. Bukan “Semua tradisi salah.” Bukan pula “Karena tradisi, semuanya boleh.”

Pertanyaannya adalah: Apakah pelaksanaannya menghasilkan kusala atau akusala? Apakah ada makhluk yang dirugikan?

Tradisi yang tidak merugikan tidak perlu dijadikan medan perang

Sebaliknya, tidak semua tradisi perlu dilawan.

Jika sebuah keluarga memilih tidak menyelenggarakan pernikahan pada bulan tertentu dan pilihan itu tidak menghasilkan pelanggaran moral, umat Buddha tidak memperoleh manfaat apa pun dengan memaksakan perdebatan.

Demikian juga, dalam budaya tertentu kehadiran empat bhikkhu justru membuat keluarga yang sedang sakit sangat cemas. Selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip penting, penyesuaian sosial dapat dilakukan. Lima bhikkhu dapat datang, misalnya.

Tujuannya bukan untuk mengakui bahwa angka empat memang berbahaya.
Tujuannya adalah untuk menghindari gejolak sosial yang tidak perlu.

Kebijaksanaan Buddhis bukan hanya kemampuan mengetahui mana yang benar secara teoretis, tetapi juga kemampuan mengetahui bagaimana menerapkan yang benar tanpa menciptakan penderitaan yang sebenarnya dapat dihindari.

Karena itu, seseorang dapat menghormati sensitivitas budaya tanpa harus mempercayai seluruh metafisika di balik sensitivitas tersebut.

Tiga kemungkinan sikap terhadap tradisi

Dari seluruh pembahasan ini, terdapat tiga sikap yang perlu dibedakan.

Pertama, mengikuti tradisi secara buta. Seseorang melakukannya hanya karena “dari dulu begitu”, tanpa mempertanyakan akibatnya.

Kedua, menolak tradisi secara buta. Seseorang menganggap semua yang tradisional sebagai kebodohan dan merasa harus menghancurkannya.

Ketiga, memeriksa tradisi dengan kebijaksanaan. Inilah pendekatan yang lebih sesuai dengan Dhamma.

Jika tidak merugikan, tradisi dapat dihormati.
Jika dapat disesuaikan, sesuaikan.
Jika jelas menghasilkan pembunuhan, kekejaman, penipuan, kebencian, atau tindakan tidak bajik lainnya, unsur itulah yang perlu dihentikan.

Dengan demikian, Buddhisme bukan proyek untuk menyeragamkan kebudayaan manusia. Dhamma berfungsi lebih dalam: membantu manusia melihat apakah suatu pandangan menghasilkan pembebasan atau justru memperbesar ketidaktahuan.

Persoalan utama akhirnya bukan “tradisi atau tidak tradisi”. Persoalannya adalah pandangan. Sebab tradisi hanya menjadi kuat ketika sebuah pandangan dipercaya.

Dan begitu pandangan itu dipercaya, ia mulai mengarahkan kehidupan.