Setelah memahami bahwa pengulangan membentuk kebiasaan pada catatan Mengapa Kita Perlu Belajar Berhenti? Pertanyaan berikutnya menjadi sangat praktis: Apa yang harus dilakukan?
Dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan terdapat unsur keenam yang disebut sammā-vāyāma, yaitu Usaha Benar. Ini bukan “usaha” dalam arti membuka bisnis, mengejar karier, atau mencari uang. Yang dimaksud adalah usaha batin.
Secara klasik, Usaha Benar mencakup empat latihan: (1) mencegah kondisi tidak bajik yang belum muncul, (2) meninggalkan kondisi tidak bajik yang sudah muncul, (3) membangkitkan kondisi bajik yang belum muncul, dan (4) mempertahankan serta mengembangkan kondisi bajik yang sudah muncul.
Bhikkhu Sri Paññāvaro menjelaskannya dengan urutan praktis yang sangat mudah diingat: berhentikan yang buruk yang sudah dilakukan; jangan mulai yang buruk yang belum dilakukan; teruskan yang baik yang sudah dilakukan; dan mulai lakukan kebaikan yang belum dilakukan.
Empat gerakan ini dapat menjadi peta
sederhana untuk seluruh latihan sehari-hari.
Pertama: keburukan yang sudah dilakukan, berhentilah
Ini bagian yang paling sulit karena kebiasaannya sudah ada.
Kita mungkin sudah terbiasa: berbohong kecil, membicarakan orang lain, marah dengan kata-kata kasar, mengambil sesuatu yang bukan hak, berbelanja tanpa kendali, atau selalu mencari keuntungan pribadi. Ketika kebiasaan itu sudah memberi kenikmatan, berhenti terasa seperti kehilangan.
Namun, justru karena itulah, berhenti harus dilakukan.
Setiap pengulangan merupakan latihan tambahan bagi pola tersebut. Jika hari ini dilakukan lagi, besok dorongannya akan sedikit lebih kuat. Jika besok dilakukan lagi, lusa akan semakin mudah. Berhenti berarti tidak lagi memberi makanan kepada pola lama.
Pada awalnya tidak nyaman. Itu wajar.
Orang yang sudah bertahun-tahun melihat jam ke arah kanan akan berkali-kali salah menoleh ketika jam dipindah ke arah kiri. Namun, jika lokasi barunya digunakan secara terus-menerus, orientasinya akan berubah.
Batin pun demikian.
Kedua: keburukan yang belum pernah dilakukan, jangan dicoba
Kondisi seperti ini mungkin sering dianggap berlebihan.
“Sekali saja.”
“Hanya ingin tahu.”
“Saya bisa mengendalikan.”
Masalahnya, kita tidak pernah sepenuhnya mengetahui bagaimana sebuah pengalaman akan tertanam dalam batin.
Jika pengalaman pertama memberikan kenikmatan yang kuat, maka akan muncul memori. Memori dapat memanggil kembali pengalaman tersebut. Pengulangan memperkuatnya.
Maka, pencegahan jauh lebih mudah daripada penghentian setelah kebiasaan terbentuk.
Ini berlaku tidak hanya untuk kecanduan zat. Juga pada: penipuan, perselingkuhan, judi, kekerasan, korupsi, kebiasaan menghina, dan pola-pola lain yang menawarkan kenikmatan cepat dengan konsekuensi panjang.
Tidak melakukan hal-hal yang buruk sejak awal bukan tanda kelemahan. Justru itu kecerdasan.
Ketiga: kebaikan yang sudah dilakukan, lanjutkan dan kuatkan
Batin tidak hanya dibentuk melalui kebiasaan buruk. Kebaikan juga dapat menjadi kebiasaan.
Jika sudah terbiasa menolong, teruskan.
Jika sudah terbiasa menjaga ucapan, pertahankan.
Jika sudah mempunyai jadwal meditasi, rawat.
Jika sudah mampu meminta maaf ketika salah, jangan tinggalkan.
Jika kemurahan hati sudah tumbuh, kembangkan.
Kita sering terlalu sibuk membongkar kelemahan sampai lupa bahwa
latihan juga berarti menjaga kualitas yang baik agar tidak hilang.
Batin yang terbiasa dengan kebaikan akan semakin mudah bergerak ke
arah kebaikan.
Keempat: kebaikan yang belum dilakukan, mulailah
Ada bentuk kebaikan yang mungkin selama ini belum pernah kita
lakukan.
Memaafkan seseorang.
Bermeditasi.
Membantu tanpa diketahui orang lain.
Belajar mendengarkan tanpa memotong pembicaraan.
Mengakui kesalahan.
Memberikan waktu kepada seseorang yang sedang kesulitan.
Mulailah.
Tidak perlu menunggu untuk menjadi orang baik yang sempurna.
Sama seperti kebiasaan buruk yang dibangun melalui pengulangan, kebiasaan baik pun dibangun melalui latihan. Kebaikan pertama mungkin canggung. Yang kesepuluh lebih mudah. Yang keseratus mulai menjadi karakter.
Mengapa guru tidak dapat melakukan latihan untuk kita?
Di sinilah Buddhisme memberikan tanggung jawab yang sangat besar kepada
individu.
Guru dapat menunjukkan jalan. Menjelaskan bahaya. Mengingatkan. Mendorong. Memberikan metode. Tetapi tidak dapat berlatih menggantikan muridnya.
Bhikkhu Sri Paññāvaro menggunakan perumpamaan pemain sirkus yang
belajar berjalan di atas kawat.
Seorang pelatih dapat mengatakan:
“Jangan terlalu tegang.”
“Pusatkan perhatian.”
“Cari keseimbangan.”
“Rileks.”
Pada awal latihan, kawat dapat dibuat lebih rendah. Di bawahnya dipasang matras. Pelatih mengawasi. Tetapi siapakah yang harus benar-benar menemukan keseimbangan tubuhnya?
Pemain itu sendiri.
Pelatih tidak dapat memindahkan kemampuan keseimbangan dari tubuhnya
kepada murid.
Demikian pula pengendalian diri.
Buddha dapat memberikan Dhamma.
Bhikkhu dapat mengajarkan.
Kitab dapat menjelaskan.
Namun, ketika kemarahan muncul dalam pikiran kita, siapa yang harus
mengetahuinya?
Kita sendiri.
Ketika kesempatan untuk menipu datang, siapa yang harus berhenti?
Kita sendiri.
Belajar naik sepeda: kegagalan adalah bagian dari latihan
Perumpamaan lain yang mudah dipahami adalah belajar naik sepeda. Pada awalnya seseorang jatuh. Naik lagi. Jatuh lagi. Mungkin lutut terluka. Orang lain membantu memegang bagian belakang sepeda. Kemudian perlahan-lahan dilepas. Akhirnya tubuh menemukan keseimbangannya sendiri. Setelah mahir, seseorang bahkan dapat melakukan hal-hal yang dahulu terasa mustahil.
Tidak ada keajaiban. Ada latihan berulang.
Pengendalian batin juga demikian.
Hari ini gagal menahan marah. Besok coba lagi. Hari ini masih bergosip. Sadari, hentikan, lalu mulai lagi. Hari ini meditasi hanya bertahan beberapa menit. Besok latihan lagi. Kegagalan bukan alasan untuk menyerah.
Namun, kegagalan juga tidak boleh dijadikan pembenaran untuk terus mengulang pola yang sama tanpa berusaha memperbaikinya.
Tekad perlu kuat karena kebiasaan tidak menyerah begitu saja
Bhikkhu Sri Paññāvaro menekankan bahwa kebiasaan lama sulit dihentikan tanpa tekad yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan. Sebab kebiasaan bukan sekadar gagasan. Ia telah diulang. Dinikmati. Dikenali tubuh. Dikenali pikiran. Menjadi respons cepat.
Karena itu, perubahan membutuhkan kekuatan yang sebanding: perhatian, tekad, pengulangan, dan kesediaan untuk menghadapi ketidaknyamanan sementara.
Orang yang berhenti dari kebiasaan buruk tidak hanya kehilangan tindakan, melainkan juga kehilangan kenikmatan yang selama ini melekat pada tindakan tersebut.
Maka latihan perlu didukung oleh pemahaman: mengapa saya berhenti?
Tanpa alasan yang jernih, keinginan lama mudah menang.
Inilah salah satu fungsi sīla
Di sinilah peran sīla, disiplin moral, menjadi sangat
penting.
Sīla kadang dipandang hanya sebagai kumpulan larangan:
jangan membunuh,
jangan mencuri,
jangan melakukan perilaku seksual yang salah,
jangan berbohong,
jangan mengonsumsi sesuatu yang melemahkan kesadaran.
Tetapi lihat fungsi psikologis dan spiritualnya.
Ketika kita tidak membunuh, kita tidak melatih kekerasan.
Ketika tidak mengambil yang bukan hak, kita tidak melatih pencurian.
Ketika menjaga hubungan seksual secara bertanggung jawab, kita tidak
melatih eksploitasi.
Ketika menjaga ucapan, kita tidak melatih kebohongan.
Ketika menjaga kejernihan kesadaran, kita melindungi kemampuan untuk
mengendalikan diri.
Sīla karena itu bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan dari luar. Sīla adalah perlindungan terhadap pembentukan kebiasaan buruk di dalam batin.
Batas sosial tidak cukup untuk membersihkan pikiran
Ada persoalan berikutnya. Ucapan dan tindakan kita biasanya memiliki rem sosial.
Seseorang mungkin sangat marah, tetapi tidak berani berteriak karena berada di kantor. Ingin memukul, tetapi menahan diri karena takut terkena hukuman. Ingin mengatakan sesuatu yang kasar, tetapi malu karena anak-anak berada di dekatnya.
Lingkungan menyeleksi banyak ucapan dan tindakan. Tetapi pikiran?
Di dalam pikiran, seseorang dapat melakukan hampir apa saja. Membayangkan kekerasan. Membenci. Mencuri dalam fantasi. Membanggakan diri. Membayangkan balas dendam. Atau sebaliknya, membayangkan sesuatu yang luhur.
Orang di sebelah kita biasanya tidak tahu. Karena tidak ada tekanan sosial secara langsung, dunia batin jauh lebih bebas.
Inilah sebabnya pengendalian perilaku
melalui sīla sangat penting, tetapi belum cukup.
Kita masih perlu melatih pikiran itu sendiri. Dan di sinilah meditasi masuk.





Follow My Journey
"If you find a wise companion to journey with, walk together." — Buddha
Connect and let’s grow together: