Namo Buddhaya

Buddha Gautama

"Aku tidak mengajar untuk menjadikanmu sebagai murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk membuatmu menjadi murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk memutuskan hubunganmu dengan gurumu yang lama. Aku bahkan tidak tertarik untuk mengubah tujuanmu,karena setiap orang ingin lepas dari penderitaan.
Cobalah apa yang telah Kutemukan ini,dan nilailah oleh dirimu sendiri. Jika itu baik bagimu,terimalah. Jika tidak, janganlah engkau terima."


(Digha Nikaya 25; Patika Vagga;Udumbarika-Sīhanāda Sutta)

Dhamma Event

https://www.instagram.com/p/DbMqpeeJrl_/
Showing posts with label Pancasila. Show all posts

Empat Usaha Benar: Menghentikan yang Buruk, Menumbuhkan yang Baik


Setelah memahami bahwa pengulangan membentuk kebiasaan pada catatan 
Mengapa Kita Perlu Belajar Berhenti? Pertanyaan berikutnya menjadi sangat praktis: Apa yang harus dilakukan?

Dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan terdapat unsur keenam yang disebut sammā-vāyāma, yaitu Usaha Benar. Ini bukan “usaha” dalam arti membuka bisnis, mengejar karier, atau mencari uang. Yang dimaksud adalah usaha batin.

Secara klasik, Usaha Benar mencakup empat latihan: (1) mencegah kondisi tidak bajik yang belum muncul, (2) meninggalkan kondisi tidak bajik yang sudah muncul, (3) membangkitkan kondisi bajik yang belum muncul, dan (4) mempertahankan serta mengembangkan kondisi bajik yang sudah muncul.

Bhikkhu Sri Paññāvaro menjelaskannya dengan urutan praktis yang sangat mudah diingat: berhentikan yang buruk yang sudah dilakukan; jangan mulai yang buruk yang belum dilakukan; teruskan yang baik yang sudah dilakukan; dan mulai lakukan kebaikan yang belum dilakukan.

Empat gerakan ini dapat menjadi peta sederhana untuk seluruh latihan sehari-hari.

Pertama: keburukan yang sudah dilakukan, berhentilah

Ini bagian yang paling sulit karena kebiasaannya sudah ada.

Kita mungkin sudah terbiasa: berbohong kecil, membicarakan orang lain, marah dengan kata-kata kasar, mengambil sesuatu yang bukan hak, berbelanja tanpa kendali, atau selalu mencari keuntungan pribadi. Ketika kebiasaan itu sudah memberi kenikmatan, berhenti terasa seperti kehilangan.

Namun, justru karena itulah, berhenti harus dilakukan.

Setiap pengulangan merupakan latihan tambahan bagi pola tersebut. Jika hari ini dilakukan lagi, besok dorongannya akan sedikit lebih kuat. Jika besok dilakukan lagi, lusa akan semakin mudah. Berhenti berarti tidak lagi memberi makanan kepada pola lama.

Pada awalnya tidak nyaman. Itu wajar.

Orang yang sudah bertahun-tahun melihat jam ke arah kanan akan berkali-kali salah menoleh ketika jam dipindah ke arah kiri. Namun, jika lokasi barunya digunakan secara terus-menerus, orientasinya akan berubah.

Batin pun demikian.

Kedua: keburukan yang belum pernah dilakukan, jangan dicoba

Kondisi seperti ini mungkin sering dianggap berlebihan.

“Sekali saja.”
“Hanya ingin tahu.”
“Saya bisa mengendalikan.”

Masalahnya, kita tidak pernah sepenuhnya mengetahui bagaimana sebuah pengalaman akan tertanam dalam batin. 

Jika pengalaman pertama memberikan kenikmatan yang kuat, maka akan muncul memori. Memori dapat memanggil kembali pengalaman tersebut. Pengulangan memperkuatnya. 

Maka, pencegahan jauh lebih mudah daripada penghentian setelah kebiasaan terbentuk.

Ini berlaku tidak hanya untuk kecanduan zat. Juga pada: penipuan, perselingkuhan, judi, kekerasan, korupsi, kebiasaan menghina, dan pola-pola lain yang menawarkan kenikmatan cepat dengan konsekuensi panjang.

Tidak melakukan hal-hal yang buruk sejak awal bukan tanda kelemahan. Justru itu kecerdasan.

Ketiga: kebaikan yang sudah dilakukan, lanjutkan dan kuatkan

Batin tidak hanya dibentuk melalui kebiasaan buruk. Kebaikan juga dapat menjadi kebiasaan.

Jika sudah terbiasa menolong, teruskan.
Jika sudah terbiasa menjaga ucapan, pertahankan.
Jika sudah mempunyai jadwal meditasi, rawat.
Jika sudah mampu meminta maaf ketika salah, jangan tinggalkan.
Jika kemurahan hati sudah tumbuh, kembangkan.

Kita sering terlalu sibuk membongkar kelemahan sampai lupa bahwa latihan juga berarti menjaga kualitas yang baik agar tidak hilang.

Batin yang terbiasa dengan kebaikan akan semakin mudah bergerak ke arah kebaikan.

Keempat: kebaikan yang belum dilakukan, mulailah

Ada bentuk kebaikan yang mungkin selama ini belum pernah kita lakukan.

Memaafkan seseorang.
Bermeditasi.
Membantu tanpa diketahui orang lain.
Belajar mendengarkan tanpa memotong pembicaraan.
Mengakui kesalahan.
Memberikan waktu kepada seseorang yang sedang kesulitan.

Mulailah.

Tidak perlu menunggu untuk menjadi orang baik yang sempurna.

Sama seperti kebiasaan buruk yang dibangun melalui pengulangan, kebiasaan baik pun dibangun melalui latihan. Kebaikan pertama mungkin canggung. Yang kesepuluh lebih mudah. Yang keseratus mulai menjadi karakter.

Mengapa guru tidak dapat melakukan latihan untuk kita?

Di sinilah Buddhisme memberikan tanggung jawab yang sangat besar kepada individu.

Guru dapat menunjukkan jalan. Menjelaskan bahaya. Mengingatkan. Mendorong. Memberikan metode. Tetapi tidak dapat berlatih menggantikan muridnya.

Bhikkhu Sri Paññāvaro menggunakan perumpamaan pemain sirkus yang belajar berjalan di atas kawat.

Seorang pelatih dapat mengatakan:

“Jangan terlalu tegang.”
“Pusatkan perhatian.”
“Cari keseimbangan.”
“Rileks.”

Pada awal latihan, kawat dapat dibuat lebih rendah. Di bawahnya dipasang matras. Pelatih mengawasi. Tetapi siapakah yang harus benar-benar menemukan keseimbangan tubuhnya?

Pemain itu sendiri.

Pelatih tidak dapat memindahkan kemampuan keseimbangan dari tubuhnya kepada murid.

Demikian pula pengendalian diri.

Buddha dapat memberikan Dhamma.
Bhikkhu dapat mengajarkan.
Kitab dapat menjelaskan.

Namun, ketika kemarahan muncul dalam pikiran kita, siapa yang harus mengetahuinya?

Kita sendiri.

Ketika kesempatan untuk menipu datang, siapa yang harus berhenti?

Kita sendiri.

Belajar naik sepeda: kegagalan adalah bagian dari latihan

Perumpamaan lain yang mudah dipahami adalah belajar naik sepeda. Pada awalnya seseorang jatuh. Naik lagi. Jatuh lagi. Mungkin lutut terluka. Orang lain membantu memegang bagian belakang sepeda. Kemudian perlahan-lahan dilepas. Akhirnya tubuh menemukan keseimbangannya sendiri. Setelah mahir, seseorang bahkan dapat melakukan hal-hal yang dahulu terasa mustahil.

Tidak ada keajaiban. Ada latihan berulang.

Pengendalian batin juga demikian.

Hari ini gagal menahan marah. Besok coba lagi. Hari ini masih bergosip. Sadari, hentikan, lalu mulai lagi. Hari ini meditasi hanya bertahan beberapa menit. Besok latihan lagi. Kegagalan bukan alasan untuk menyerah.

Namun, kegagalan juga tidak boleh dijadikan pembenaran untuk terus mengulang pola yang sama tanpa berusaha memperbaikinya.

Tekad perlu kuat karena kebiasaan tidak menyerah begitu saja

Bhikkhu Sri Paññāvaro menekankan bahwa kebiasaan lama sulit dihentikan tanpa tekad yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan. Sebab kebiasaan bukan sekadar gagasan. Ia telah diulang. Dinikmati. Dikenali tubuh. Dikenali pikiran. Menjadi respons cepat.

Karena itu, perubahan membutuhkan kekuatan yang sebanding: perhatian, tekad, pengulangan, dan kesediaan untuk menghadapi ketidaknyamanan sementara.

Orang yang berhenti dari kebiasaan buruk tidak hanya kehilangan tindakan, melainkan juga kehilangan kenikmatan yang selama ini melekat pada tindakan tersebut.

Maka latihan perlu didukung oleh pemahaman: mengapa saya berhenti?

Tanpa alasan yang jernih, keinginan lama mudah menang.

Inilah salah satu fungsi sīla

Di sinilah peran sīla, disiplin moral, menjadi sangat penting.

Sīla kadang dipandang hanya sebagai kumpulan larangan:

jangan membunuh,
jangan mencuri,
jangan melakukan perilaku seksual yang salah,
jangan berbohong,
jangan mengonsumsi sesuatu yang melemahkan kesadaran.

Tetapi lihat fungsi psikologis dan spiritualnya.

Ketika kita tidak membunuh, kita tidak melatih kekerasan.
Ketika tidak mengambil yang bukan hak, kita tidak melatih pencurian.
Ketika menjaga hubungan seksual secara bertanggung jawab, kita tidak melatih eksploitasi.
Ketika menjaga ucapan, kita tidak melatih kebohongan.
Ketika menjaga kejernihan kesadaran, kita melindungi kemampuan untuk mengendalikan diri.

Sīla karena itu bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan dari luar. Sīla adalah perlindungan terhadap pembentukan kebiasaan buruk di dalam batin.

Batas sosial tidak cukup untuk membersihkan pikiran

Ada persoalan berikutnya. Ucapan dan tindakan kita biasanya memiliki rem sosial.

Seseorang mungkin sangat marah, tetapi tidak berani berteriak karena berada di kantor. Ingin memukul, tetapi menahan diri karena takut terkena hukuman. Ingin mengatakan sesuatu yang kasar, tetapi malu karena anak-anak berada di dekatnya.

Lingkungan menyeleksi banyak ucapan dan tindakan. Tetapi pikiran?

Di dalam pikiran, seseorang dapat melakukan hampir apa saja. Membayangkan kekerasan. Membenci. Mencuri dalam fantasi. Membanggakan diri. Membayangkan balas dendam. Atau sebaliknya, membayangkan sesuatu yang luhur.

Orang di sebelah kita biasanya tidak tahu. Karena tidak ada tekanan sosial secara langsung, dunia batin jauh lebih bebas.

Inilah sebabnya pengendalian perilaku melalui sīla sangat penting, tetapi belum cukup.

Kita masih perlu melatih pikiran itu sendiri. Dan di sinilah meditasi masuk.

[Buddhisme dalam Ringkasan] Dari Penderitaan, Kamma, hingga Jalan Pembebasan


Buddhisme sering kali diperkenalkan sebagai sebuah agama. Namun, memahami Buddhisme hanya sebagai agama sebenarnya belum cukup untuk menangkap keseluruhan sifatnya. Buddhisme juga dapat dipahami sebagai filsafat kehidupan, metode pengembangan batin, sekaligus jalan praktik yang bertujuan membawa manusia menuju pemahaman yang lebih jernih tentang dirinya sendiri, kehidupannya, penderitaan, serta kemungkinan untuk terbebas darinya.

Baca juga: Apa itu Buddhisme? dan Dasar-Dasar Buddhisme

Dalam penjelasan Bhikkhu Dhammika, istilah Buddhisme berkaitan dengan makna “terbangun” atau “tercerahkan”. Tradisi ini berawal lebih dari 2.500 tahun lalu, ketika Siddhattha Gotama mencapai pencerahan pada usia sekitar 35 tahun dan kemudian dikenal sebagai Buddha, “Yang Telah Terbangun”.

Namun, inti Buddhisme bukanlah sekadar mengetahui siapa Buddha atau menerima seperangkat kepercayaan tertentu. Jalan Buddhis pada dasarnya menuntut manusia untuk menjalani kehidupan secara etis, menyadari dengan jelas pikiran serta tindakannya, lalu mengembangkan pemahaman dan kebijaksanaan.

Dengan kata lain, Buddhisme tidak berhenti pada apa yang harus dipercayai. Pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana seseorang hidup, memahami pengalaman, mengelola pikirannya, dan membebaskan dirinya dari sebab-sebab penderitaan?

Buddha: Guru yang Menemukan Jalan, Bukan Tuhan Pencipta

Bhikkhu Dhammika merangkum kehidupan Siddhattha Gotama sebagai perjalanan seorang manusia yang secara mendalam mempertanyakan makna kebahagiaan.

Siddhattha lahir di Lumbini, wilayah yang kini berada di Nepal, dalam lingkungan keluarga kerajaan. Sekitar usia 29 tahun, ia menyadari bahwa kenyamanan material dan keamanan duniawi tidak dengan sendirinya dapat memberikan kebahagiaan yang kokoh.

Kesadaran tersebut mendorongnya untuk meninggalkan kehidupan lamanya demi mencari jawaban. Ia mempelajari berbagai ajaran, agama, filsafat, dan metode meditasi yang berkembang pada zamannya. Setelah sekitar enam tahun pencarian dan latihan, ia menemukan Jalan Tengah dan mencapai pencerahan.

Sejak itu ia dikenal sebagai Buddha.

Buddha tidak mengaku sebagai Tuhan. Ia juga tidak mengajarkan bahwa dirinya adalah pencipta alam semesta yang harus disembah agar manusia memperoleh keselamatan. Ia tampil sebagai seorang guru yang menunjukkan jalan menuju pencerahan berdasarkan apa yang telah ia realisasikan sendiri.

Selama sisa kehidupannya hingga meninggal pada usia sekitar 80 tahun, Buddha mengajarkan Dhamma, kebenaran dan jalan latihan yang ia temukan, agar manusia dapat memahaminya dan membuktikannya melalui pengalaman mereka sendiri.

Pemahaman ini juga menjelaskan posisi rupang atau patung Buddha dalam tradisi Buddhisme.

Umat Buddha menghormati citra Buddha, tetapi penghormatan tersebut bukan berarti meminta Buddha memenuhi berbagai keinginan duniawi. Rupang Buddha dapat menjadi pengingat terhadap kualitas batin yang hendak dikembangkan: ketenangan, kasih sayang, kebijaksanaan, dan kedamaian.

Sikap menghormat atau bersujud di hadapan rupang Buddha terutama merupakan ungkapan penghargaan dan rasa terima kasih terhadap Buddha dan ajaran yang ditunjukkannya.

Buddhisme sebagai Cara Hidup

Jika Buddhisme dipandang sebagai filsafat, hal itu berkaitan dengan pencarian terhadap kebijaksanaan. Akan tetapi, Buddhisme bukan filsafat yang berhenti pada diskusi intelektual.

Jalan Buddhis menuntut praktik nyata. Secara sederhana, jalan tersebut dapat diringkas ke dalam tiga orientasi besar.

Pertama, menjalani kehidupan yang bermoral.
Kedua, membangun kesadaran yang jelas terhadap pikiran, ucapan, dan tindakan.
Ketiga, mengembangkan pemahaman dan kebijaksanaan.

Karena itulah Buddhisme juga dapat disebut sebagai suatu cara hidup.

Buddhisme berusaha membantu manusia memahami tujuan hidupnya, menghadapi kenyataan ketidakadilan dan ketimpangan dalam kehidupan, serta menyediakan metode praktis untuk mencari kebahagiaan yang tidak sepenuhnya bergantung pada keadaan eksternal.

Bhikkhu Dhammika juga melihat salah satu alasan berkembangnya minat terhadap Buddhisme di masyarakat modern, termasuk di negara-negara Barat, pada kemampuannya menawarkan perspektif terhadap persoalan yang muncul dalam masyarakat materialistis. Buddhisme memberikan perhatian yang sangat besar pada pemahaman mengenai pikiran manusia dan cara mengolahnya.

Karena itu, kekuatan Buddhisme bukan terutama terletak pada janji untuk mengubah dunia agar selalu sesuai dengan keinginan kita. Justru sebaliknya: Buddhisme meminta manusia untuk terlebih dahulu memahami bagaimana pikirannya bereaksi terhadap dunia.

Apakah Kemakmuran Material menjadi Ukuran Keberhasilan Buddhisme?

Ada anggapan bahwa jika Buddhisme mengajarkan jalan menuju kebahagiaan, negara-negara dengan masyarakat Buddhis seharusnya semuanya makmur.

Bhikkhu Dhammika menolak logika sederhana tersebut.

Ia menunjuk contoh seperti Jepang, yang memiliki tradisi Buddhisme yang kuat sekaligus berkembang secara ekonomi, serta Thailand yang juga mengalami perkembangan ekonomi. Namun, persoalan yang lebih mendasar adalah bahwa Buddhisme memang tidak pernah mengajarkan bahwa kekayaan merupakan jaminan kebahagiaan.

Kekayaan bersifat tidak kekal. Orang kaya maupun miskin tetap dapat mengalami penderitaan.

Karena itu, ukuran kebahagiaan dalam Buddhisme tidak dapat direduksi menjadi pendapatan, harta benda, atau tingkat kemakmuran ekonomi. Kebahagiaan yang dimaksud berhubungan dengan pemahaman dan pembebasan batin.

Banyak Tradisi, Satu Fondasi Dhamma

Buddhisme berkembang selama ribuan tahun di berbagai wilayah dan kebudayaan. Karena itu, tidak mengherankan jika muncul beragam mazhab, tradisi, kebiasaan, dan bentuk praktik. Perbedaan-perbedaan tersebut sebagian berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan tempat Buddhisme berkembang.

Namun, menurut Bhikkhu Dhammika, perbedaan tradisi tidak mengubah fondasi dasarnya: Dhamma atau kebenaran yang menjadi inti ajaran Buddha.

Keragaman bentuk tidak harus berarti perpecahan pada inti ajaran.

Sikap serupa juga terlihat dalam hubungan Buddhisme dengan agama-agama lain. Buddhisme digambarkan sebagai tradisi yang relatif terbuka terhadap ajaran moral yang terdapat dalam kepercayaan lain. Identitas keagamaan seseorang tidak menjadi pusat penilaian.

Yang dianggap lebih penting adalah pemahaman, kebijaksanaan, moralitas, dan kualitas kehidupan seseorang.

Karena orientasi ini, Buddhisme tidak menempatkan konversi orang lain sebagai tujuan utama. Dhamma dapat dijelaskan kepada mereka yang ingin memahami dan mempelajarinya, bukan dipaksakan kepada mereka yang tidak menginginkannya.

Menguji, Bukan Sekadar Mempercayai

Salah satu karakter penting dalam Buddhisme adalah penekanannya pada pemeriksaan dan pengalaman langsung.

Buddha tidak meminta para pengikutnya menerima ajarannya semata-mata karena ajaran tersebut berasal darinya. Mereka justru didorong untuk menyelidiki dan memahami ajaran tersebut melalui pengalaman.

Bhikkhu Dhammika menghubungkan pendekatan ini dengan sikap ilmiah: suatu pengetahuan diuji melalui pengamatan dan pengalaman, bukan hanya diterima berdasarkan otoritas.

Karena itu, dalam kerangka ini Buddhisme memberikan tempat yang sangat besar kepada kebijaksanaan dibandingkan dengan kepercayaan yang tidak diperiksa.

Salah satu bagian utama ajaran yang harus dipahami dan dialami tersebut adalah Empat Kebenaran Mulia.

Empat Kebenaran Mulia: Diagnosis terhadap Persoalan Kehidupan

Ajaran Buddha sangat luas, tetapi Bhikkhu Dhammika merangkum fondasinya terutama melalui Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Empat Kebenaran Mulia dapat dibaca sebagai rangkaian yang sangat logis: mengenali persoalan, memahami penyebabnya, mengetahui bahwa persoalan tersebut dapat diakhiri, kemudian menjalani jalan yang mengarah pada berakhirnya persoalan tersebut.

1. Kenyataan tentang Penderitaan

Kebenaran pertama adalah kenyataan adanya penderitaan dalam kehidupan.

Manusia mengalami sakit jasmani, penuaan, penyakit, dan kematian. Namun, penderitaan tidak hanya bersifat fisik. Kita juga mengalami kesepian, kemarahan, ketakutan, kebingungan, frustrasi, kekecewaan, kegelisahan, dan berbagai bentuk tekanan mental lainnya.

Mengakui kenyataan ini bukan berarti Buddhisme bersifat pesimistis. Pesimisme berarti mengharapkan segala sesuatu menjadi buruk. 

Buddhisme justru memulai dari pengamatan terhadap kondisi kehidupan sebagaimana adanya, kemudian menanyakan apakah penderitaan tersebut dapat dipahami dan diatasi.

Pengakuan terhadap penderitaan bukanlah akhir ajaran Buddha. Itu justru titik awal pencarian jalan keluar.

2. Penyebab Penderitaan

Kebenaran kedua menunjukkan bahwa penderitaan berhubungan erat dengan keinginan, nafsu keinginan, dan kemelekatan.

Kita dapat menderita ketika mengharapkan orang lain bersikap sesuai dengan keinginan kita.
Kita menderita ketika tidak memperoleh apa yang kita inginkan.

Namun, persoalannya bahkan tidak selesai setelah keinginan terpenuhi. Memperoleh sesuatu yang kita inginkan tidak selalu memberikan kebahagiaan yang bertahan lama, karena pikiran dapat segera menciptakan keinginan berikutnya. Karena itu, masalahnya bukan sekadar apakah keinginan kita berhasil dipenuhi.

Bhikkhu Dhammika mengarahkan perhatian pada sesuatu yang lebih mendasar: sifat pikiran yang terus-menerus menginginkan sesuatu dapat merampas kemampuan kita untuk merasa cukup.

Jika seluruh kehidupan dihabiskan untuk memaksa dunia memenuhi setiap keinginan, penderitaan tidak akan pernah benar-benar berakhir.

Transformasi yang lebih mendalam membutuhkan perubahan terhadap keinginan itu sendiri.

3. Penderitaan Dapat Diakhiri

Kebenaran ketiga merupakan aspek yang menentukan: penderitaan bukan keadaan yang tidak dapat diubah.

Ada kemungkinan untuk mengakhirinya.

Ketika kemelekatan dan keinginan yang terus menuntut mulai dilepaskan, manusia dapat belajar menjalani hidup dari hari ke hari dengan kebebasan dan kedamaian yang lebih besar.

Energi yang sebelumnya dihabiskan untuk mengejar, mempertahankan, menolak, atau mengkhawatirkan berbagai hal dapat digunakan untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna, termasuk membantu orang lain.

Keadaan terbebas dari akar penderitaan inilah yang disebut Nibbāna.

Dengan demikian, Nibbāna bukan sekadar konsep abstrak yang muncul terpisah dari persoalan kehidupan. Ia berada dalam kerangka yang sangat jelas: penderitaan ada, penderitaan mempunyai sebab, dan sebab tersebut dapat dihentikan.

4. Ada Jalan Menuju Berakhirnya Penderitaan

Mengetahui bahwa pembebasan mungkin tidak memadai. Dibutuhkan metode.

Kebenaran keempat, karena itu menunjukkan jalan menuju berakhirnya penderitaan, yaitu Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Jalan Mulia Berunsur Delapan: Mengubah Seluruh Cara Hidup

Jalan Mulia Berunsur Delapan terdiri atas:

  1. Pandangan Benar,
  2. Pikiran Benar,
  3. Ucapan Benar,
  4. Perbuatan Benar,
  5. Penghidupan Benar,
  6. Usaha Benar,
  7. Perhatian atau Kesadaran Benar,
  8. Konsentrasi Benar.

Delapan unsur ini menunjukkan bahwa praktik Buddhisme tidak dibatasi pada meditasi.

Bagaimana seseorang memandang kehidupan merupakan sesuatu yang penting.
Bagaimana ia berpikir, penting.
Bagaimana ia berbicara, penting.
Bagaimana ia bertindak dan mencari nafkah, juga penting.
Demikian pula dengan bagaimana ia mengarahkan usaha, menjaga kesadaran, dan melatih konsentrasi.
Seluruh kehidupan menjadi bagian dari jalan.

Karena itu, Jalan Mulia Berunsur Delapan merupakan jalan pengembangan moralitas, kesadaran, dan kebijaksanaan. Praktik tersebut menghubungkan pikiran, ucapan, tindakan, pemahaman terhadap Empat Kebenaran Mulia, dan perkembangan kasih sayang terhadap makhluk lain.

Lima Sila: Fondasi Etis Kehidupan Buddhis

Salah satu bentuk paling konkret dari latihan moral dalam Buddhisme adalah Lima Sila.

Lima prinsip tersebut adalah:

  1. tidak membunuh atau menghilangkan kehidupan;
  2. tidak mengambil sesuatu yang tidak diberikan;
  3. tidak melakukan perilaku seksual yang salah;
  4. tidak berdusta;
  5. tidak menggunakan zat memabukkan yang mengaburkan kesadaran.

Lima Sila memperlihatkan bahwa moralitas Buddhis berkaitan erat dengan konsekuensi tindakan terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Etika bukan hanya persoalan menaati aturan. Etika merupakan bagian dari latihan batin.

Seseorang tidak mungkin berharap memperoleh kejernihan pikiran jika kehidupannya terus dipenuhi tindakan yang menimbulkan kerugian, kebohongan, ketidakbertanggungjawaban, atau hilangnya kewaspadaan.

Kamma: Tanggung Jawab terhadap Tindakan

Konsep lain yang sangat penting dalam Buddhisme adalah kamma.

Bhikkhu Dhammika menjelaskannya melalui prinsip bahwa tindakan memiliki akibat. Setiap sebab membawa konsekuensi tertentu, sehingga manusia tidak dapat sepenuhnya memisahkan kondisi kehidupannya dari tindakan yang dilakukan.

Dalam kerangka penjelasan ini, kamma digunakan untuk memahami mengapa kondisi kehidupan manusia dapat berbeda-beda, termasuk kondisi saat dilahirkan, kemampuan yang dimiliki, maupun panjang-pendeknya kehidupan.

Namun, pesan praktis yang paling kuat dalam pembahasan kamma adalah tanggung jawab pribadi. Apa yang kita lakukan mempunyai konsekuensi.

Untuk menilai suatu tindakan, Bhikkhu Dhammika mengusulkan tiga hal yang perlu diperhatikan:

  • apa niat yang mendasari tindakan tersebut;
  • apa akibat tindakan tersebut bagi diri sendiri;
  • apa akibatnya bagi orang lain.

Dengan demikian, pembicaraan tentang kamma seharusnya tidak hanya diarahkan pada spekulasi mengenai masa lalu.

Pertanyaan yang jauh lebih praktis adalah: apa yang sedang saya lakukan sekarang, dengan niat apa saya melakukannya, dan apa akibatnya?

Kebijaksanaan Tanpa Welas Asih Tidaklah Lengkap

Buddhisme memberikan tempat yang sangat penting kepada kebijaksanaan. Tetapi kebijaksanaan tidak boleh berkembang sendirian. Kebijaksanaan harus berjalan bersama welas asih.

Bhikkhu Dhammika menggambarkan dua ekstrem yang sama-sama tidak memadai.

Seseorang dapat berhati baik tetapi tidak memiliki kebijaksanaan yang cukup. Sebaliknya, seseorang dapat memiliki banyak pengetahuan tetapi miskin kepedulian terhadap orang lain.

Jalan Buddhis menolak keduanya.

Manusia perlu mengembangkan pemahaman yang jernih sekaligus kualitas hati.

Dalam pengertian tertingginya, kebijaksanaan berarti melihat kenyataan dengan lebih jelas bahwa setiap fenomena merupakan kondisi yang tidak sempurna, tidak kekal, dan tidak memiliki suatu inti tetap yang tidak berubah.

Kebijaksanaan semacam ini tidak muncul hanya karena seseorang mempercayai sebuah ajaran, melainkan harus dipahami dan dialami.

Karena itu, kebijaksanaan membutuhkan pikiran terbuka, objektivitas, keberanian untuk memeriksa keyakinan sendiri, kesabaran, keluwesan, dan kecerdasan.

Welas Asih Dimulai dari Pemahaman

Welas asih mencakup kesediaan untuk berbagi, menghibur, memahami, memperhatikan, dan peduli terhadap orang lain. Buddhisme menghubungkan welas asih dengan kebijaksanaan.

Menurut Bhikkhu Dhammika, manusia dapat memahami orang lain dengan lebih mendalam ketika ia juga memahami dirinya sendiri.

Pernyataan ini penting.

Tanpa pemahaman terhadap pikiran sendiri, apa yang disebut “kepedulian” mudah bercampur dengan kebutuhan pribadi, keinginan untuk mengendalikan, penilaian, atau harapan agar orang lain menjadi seperti yang kita inginkan.

Kebijaksanaan membantu welas asih menjadi lebih jernih. Sebaliknya, welas asih mencegah kebijaksanaan berubah menjadi kecerdasan yang dingin dan tidak manusiawi.

Keduanya harus tumbuh bersama.

Jadi, Bagaimana Seseorang Menjadi Buddhis?

Jawabannya tidak diawali dengan tuntutan untuk menerima seluruh ajaran tanpa pertanyaan.

Siapa pun dapat mempelajari ajaran Buddha, mencobanya, dan melihat bagaimana ajaran tersebut bekerja dalam kehidupannya.

Buddha mengarahkan manusia untuk mencari pemahaman melalui dirinya sendiri. Jawaban terhadap persoalan mendasar kehidupan tidak ditemukan hanya dengan bergantung pada sesuatu di luar diri.

Manusia perlu mengamati pikirannya, memahami tindakannya, dan mengambil tanggung jawab atas kehidupannya.

Karena itulah, Buddha tidak mengajarkan para muridnya untuk langsung menerima setiap perkataannya hanya atas dasar kepercayaan. Ajaran tersebut harus diselidiki dan diuji.

Pada akhirnya, setiap orang harus membuat keputusan sendiri. Setiap orang juga menanggung tanggung jawab atas tindakan dan pemahamannya sendiri.

Dalam pengertian tersebut, Buddhisme bukan sekadar kumpulan dogma yang harus diterima sekaligus tanpa pemeriksaan. Ia merupakan jalan pembelajaran dan praktik yang harus dipahami, diterapkan, dan dialami secara nyata.

Inti Buddhisme: Berhenti Menuntut Dunia, Mulai Memahami Pikiran

Jika seluruh pengantar Buddhisme ini hendak dipadatkan menjadi satu gagasan besar, intinya bukanlah bahwa manusia harus melarikan diri dari kehidupan.

Buddhisme justru meminta manusia melihat kehidupan secara lebih jernih.
Penderitaan ada.
Penderitaan memiliki sebab.
Sebabnya dapat dihentikan.
Dan ada jalan yang dapat dilatih untuk menghentikannya.
Jalan tersebut membutuhkan etika, kesadaran, konsentrasi, kebijaksanaan, dan welas asih.

Buddhisme tidak menjanjikan bahwa dunia akan selalu mengikuti keinginan kita. Ia mengajarkan sesuatu yang lebih mendasar: kebebasan tidak lahir dari keberhasilan mengendalikan seluruh keadaan, melainkan dari pemahaman terhadap pikiran yang terus menciptakan kemelekatan pada keadaan tersebut.

Karena itu, pertanyaan penting dalam Buddhisme bukan semata-mata: “Apa yang harus saya percayai?” melainkan “Apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam pikiran saya, apa akibat dari cara saya hidup, dan apakah saya sedang bergerak menuju semakin banyak kemelekatan atau semakin besar kebebasan?”

Di titik inilah Buddhisme berubah dari sekadar pengetahuan tentang sebuah agama menjadi sebuah jalan yang benar-benar harus dijalani.


Sumber: A summary of the fundamentals of Buddhism – Bhikkhu Shravasti Dhammika

Pañcasīla: Fondasi Moral Kehidupan Umat Buddha (4)

Pañcasīla Bukan Sekadar Daftar Larangan

Jika Pañcasīla hanya dibaca sebagai lima larangan, kedalaman ajarannya mudah terlewatkan. Kelima latihan tersebut sesungguhnya menggambarkan lima bidang fundamental dalam kehidupan manusia: kehidupan, kepemilikan, seksualitas dan hubungan, kepercayaan melalui ucapan, dan kejernihan kesadaran.

Sila pertama melatih kita menghormati kehidupan.
Sila kedua melatih kita menghormati milik dan hak orang lain.
Sila ketiga melatih tanggung jawab dalam kehidupan seksual dan relasi.
Sila keempat melatih kejujuran serta penggunaan ucapan secara bijaksana.
Sila kelima melatih kita untuk menjaga kewaspadaan dan pengendalian diri.

Karena itu, manfaat sīla tidak hanya dirasakan oleh orang yang menjalankannya. Orang-orang di sekitarnya juga mendapatkan perlindungan.

Orang yang menjalankan sila pertama membuat makhluk lain lebih aman dari kekerasannya.
Orang yang menjalankan sila kedua membuat harta orang lain lebih aman.
Orang yang menjalankan sila ketiga membuat hubungan dan komitmen orang lain lebih aman.
Orang yang menjalankan sila keempat membuat orang lain lebih aman dari kebohongan dan ucapan yang merusak.
Orang yang menjalankan sila kelima menjaga dirinya agar tidak mudah kehilangan kewaspadaan dan tidak melakukan tindakan yang kemudian merugikan orang lain.

Inilah mengapa sīla dapat menjadi dasar kehidupan yang kokoh.

Menggali akar kehidupan sendiri

Dhammapada 246–247 memberikan gambaran yang sangat tajam mengenai akibat dari meninggalkan lima prinsip moral ini.

Seseorang yang: membunuh makhluk hidup, berbicara bohong, mengambil sesuatu yang tidak diberikan, melakukan hubungan dengan pasangan orang lain, dan tenggelam dalam kebiasaan minum minuman memabukkan, digambarkan sebagai orang yang menggali akar dirinya sendiri dalam kehidupan ini.

Syair tersebut berbunyi:

Yo pāṇamatipāteti,
musāvādañca bhāsati;
loke adinnamādiyati,
paradārañca gacchati.

Surāmerayapānañca,
yo naro anuyuñjati;
idhevameso lokasmiṃ,
mūlaṃ khaṇati attano.

(Dhp. 246–247)

Perumpamaan “menggali akar sendiri” menjelaskan mekanisme moral dengan sangat konkret.

Bayangkan sebuah pohon yang tampak besar dan kuat. Selama akarnya tetap sehat, pohon tersebut dapat berdiri. Tetapi jika tanah di sekitar akarnya terus digali dan akar itu satu demi satu dirusak, pohon yang sebelumnya kokoh akan kehilangan penyangganya. Pada akhirnya ia mudah tumbang.

Demikian pula kehidupan manusia.

Seseorang dapat memiliki kekayaan, kedudukan, kecerdasan, atau reputasi. Namun, jika ia terus-menerus membunuh, merampas, mengkhianati, berbohong, dan kehilangan kendali karena kemabukan, ia sebenarnya sedang menghancurkan fondasi kehidupannya sendiri. Kepercayaan menghilang. Hubungan rusak. Nama baik runtuh. Kekayaan dapat habis. Konflik meningkat. Dan kemampuan mengendalikan diri semakin melemah.

Karena itu, Pañcasīla tidak perlu dipahami sebagai aturan yang membatasi kebebasan manusia. Justru melalui Pañcasīla, seseorang belajar menggunakan kebebasannya tanpa menghancurkan dirinya sendiri dan tanpa menjadikan makhluk lain sebagai korban dari keinginannya.

Inilah fungsi sīla dalam kehidupan Buddhis: membangun kehidupan yang tidak berlandaskan pada merugikan, merampas, mengkhianati, menipu, dan kehilangan kesadaran.

Pañcasīla dengan demikian bukan sekadar identitas seorang Buddhis, melainkan adalah latihan untuk membentuk manusia yang tindakannya semakin dapat dipercaya, semakin tidak membahayakan makhluk lain, dan semakin mampu menjaga dirinya sendiri.

Dan karena latihan ini disebut Niccasīla, pekerjaan tersebut tidak selesai hanya dengan mengucapkan lima sila pada suatu upacara.

Latihan sesungguhnya dimulai setelah pengucapan itu selesai, ketika seseorang kembali menghadapi kehidupan sehari-hari dan harus menentukan, berulang kali, bagaimana ia akan bertindak.

Seri: Pañcasīla - Fondasi Moral Kehidupan Umat Buddha

Pañcasīla: Fondasi Moral Kehidupan Umat Buddha (3)

Menjaga Kesadaran

5. Mengapa Minuman Memabukkan Dipandang Berbahaya?

Latihan kelima adalah: Surāmerayamajjappamādaṭṭhānā veramaṇī, yaitu berlatih menghindari minuman memabukkan yang menjadi dasar bagi munculnya kelengahan.

Jika empat sila sebelumnya berkaitan langsung dengan pembunuhan, pencurian, perilaku seksual, dan kebohongan, sila kelima memiliki karakter yang sedikit berbeda. Persoalan utamanya adalah melemahnya kesadaran dan pengendalian diri.

Kemabukan membuka pintu bagi pelanggaran lain

Ketika seseorang mabuk, kemampuan untuk menilai keadaan dapat menurun. Pengendalian diri menjadi lemah. Keputusan yang dalam keadaan sadar tidak akan diambil dapat dilakukan ketika kesadaran telah terganggu. Inilah yang membuat minuman memabukkan dipandang berbahaya.

Orang yang kehilangan pengendalian diri menjadi lebih rentan melakukan tindakan yang merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Karena itu, latihan sila kelima tidak hanya berkaitan dengan kesehatan pribadi. Ada konsekuensi sosial.

Lingkungan yang dipenuhi kemabukan dapat menjadi lebih rentan terhadap konflik, kekerasan, dan tindakan kriminal.

Kegemaran terhadap minuman keras sebagai jalan menuju kemunduran

Dalam Parābhava Sutta (Sn. 106), kegemaran terhadap minuman memabukkan, surādhutta, disebut sebagai salah satu sebab kemerosotan atau keruntuhan.

Dīgha Nikāya juga menjelaskan bahwa kebiasaan mengonsumsi minuman memabukkan merupakan salah satu jalan keluarnya kekayaan: Surāmerayamajjappamādaṭṭhānānuyogo kho, gahapatiputta, bhogānaṃ apāyamukhaṃ (D. III. 182).

Dengan kata lain, kebiasaan tersebut tidak hanya memengaruhi kondisi batin, tetapi juga dapat memiliki konsekuensi ekonomi yang nyata.

Enam bahaya kebiasaan minum minuman memabukkan

Dalam Dīgha Nikāya (D. III. 183), enam bahaya dikaitkan dengan kebiasaan mengonsumsi minuman keras.

  1. Sandiṭṭhikā dhanajāni, kehilangan kekayaan secara langsung. Kebiasaan minum membutuhkan biaya. Ketika menjadi kebiasaan yang terus-menerus, kekayaan dapat terkuras untuk sesuatu yang tidak memperbaiki kehidupan seseorang.
  2. Kalahappavaḍḍhanī, meningkatnya pertikaian. Kemabukan melemahkan kemampuan untuk mengendalikan ucapan dan perilaku. Akibatnya, perselisihan dapat meningkat.
  3. Rogānaṃ āyatanaṃ, menjadi landasan munculnya penyakit. Kebiasaan mengonsumsi minuman keras dapat membawa dampak buruk terhadap kesehatan.
  4. Akittisañjananī, merusak nama baik. Perilaku dalam keadaan mabuk dapat menciptakan reputasi buruk. Seseorang mungkin melakukan sesuatu yang, setelah sadar, justru disesalinya. Namun, masyarakat telah melihat tindakannya.
  5. Kopīnanidaṃsanī, membuka hal-hal yang memalukan. Ketika pengendalian diri melemah, seseorang dapat menunjukkan atau melakukan sesuatu yang, dalam keadaan sadar, seharusnya dapat ia hindari.
  6. Paññāya dubbalikaraṇī, melemahkan kebijaksanaan atau kecerdasan. Ini merupakan konsekuensi yang sangat penting dalam kerangka Buddhisme. Jalan latihan membutuhkan kejernihan. Seseorang perlu mampu melihat keadaan dengan tepat, mempertimbangkan konsekuensinya, dan mengendalikan tindakannya. Jika kesadaran sengaja dibuat tumpul, kemampuan tersebut justru melemah.

Dengan demikian, sila kelima mempunyai hubungan erat dengan seluruh Pañcasīla. 

Ketika seseorang kehilangan kesadaran akibat kemabukan, empat latihan lainnya juga menjadi lebih mudah dilanggar.

Seri: Pañcasīla - Fondasi Moral Kehidupan Umat Buddha

Pañcasīla: Fondasi Moral Kehidupan Umat Buddha (2)

Kekuatan dan Bahaya Ucapan

4. Mengapa Kejujuran Saja Belum Cukup?

Latihan moral keempat adalah: Musāvādā veramaṇī, yaitu berlatih menghindari ucapan bohong.

Sekilas sila ini terlihat sederhana. Jangan berbohong.

Namun, sesungguhnya Buddhisme memberikan perhatian yang lebih luas terhadap cara manusia menggunakan ucapan.

Mengapa kebohongan merusak?

Hampir tidak ada orang yang senang dibohongi. Manusia ingin mengetahui kenyataan.

Ketika seseorang menyampaikan sesuatu yang tidak benar dengan tujuan membuat orang lain mempercayainya, ia sedang merusak hubungan antara ucapan dan kenyataan. Akibatnya tidak hanya dialami oleh orang yang dibohongi. Pembohong juga merusak dirinya sendiri.

Kebohongan mungkin dapat disembunyikan untuk beberapa waktu. Namun, ketika kebohongan itu diketahui, sesuatu yang jauh lebih sulit dipulihkan dapat hilang: kepercayaan.

Orang yang diketahui memiliki kebiasaan berbohong akhirnya menghadapi persoalan serius. Bahkan ketika suatu hari ia mengatakan sesuatu yang benar, orang lain mungkin tidak lagi mempercayainya.

Karena itu, kerugian akibat kebohongan tidak hanya terletak pada satu informasi yang salah. Akan tetapi, kebohongan juga merusak kredibilitas seseorang.

Berbicara benar bukan berarti mengatakan apa saja sesuka hati

Menghindari kebohongan baru merupakan langkah awal. Ucapan yang baik tidak cukup hanya dengan fakta yang benar.

Dalam Majjhima Nikāya (M. I. 127), terdapat sejumlah karakteristik ucapan yang patut diperhatikan.

Ucapan yang baik disampaikan:
kālena, pada waktu yang tepat,
bhūtena, sesuai dengan kenyataan,
saṇhena, secara lembut,
atthasaṃhitena, membawa manfaat,
dan dengan mettacittā, batin yang diliputi cinta kasih.

Kelima unsur tersebut menunjukkan kedalaman etika komunikasi dalam Buddhisme.

1. Benar belum tentu tepat waktunya

Sebuah pernyataan mungkin benar, tetapi waktunya bisa salah: Ada situasi ketika informasi perlu disampaikan sekarang. Ada pula keadaan ketika cara atau waktu penyampaiannya perlu dipertimbangkan dengan lebih hati-hati. Karena itu ucapan yang benar juga harus kālena.

2. Ucapan harus berpijak pada kenyataan

Ucapan yang baik harus bhūtena, sesuai dengan apa yang benar-benar terjadi. Menyampaikan dugaan seolah-olah fakta, mengarang cerita, atau memutarbalikkan kenyataan dapat merusak kualitas ucapan.

3. Kebenaran tidak harus disampaikan dengan kekasaran

Ucapan dapat benar tetapi kasar. Karena itu, diperlukan saṇhena, kelembutan. Kelembutan bukan berarti menyembunyikan kenyataan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kenyataan tersebut disampaikan.

4. Ucapan seharusnya mempunyai manfaat

Tidak setiap hal yang dapat dikatakan perlu dikatakan. Ucapan yang baik mempunyai unsur atthasaṃhita, berkaitan dengan manfaat. Dengan demikian, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya: “Apakah ini benar?” tetapi juga “Apa manfaat saya mengatakan ini?”

5. Keadaan batin pembicara juga penting

Ucapan seharusnya muncul dengan mettacittā, batin yang dilandasi cinta kasih. Dua orang dapat mengatakan kalimat yang hampir sama, tetapi dengan niat batin yang sama sekali berbeda. Seseorang mungkin bertujuan untuk membantu. Yang lain ingin melukai. Dalam latihan Buddhis, perbedaan tersebut sangat penting.

Kebalikan dari ucapan benar

Sebaliknya, ucapan yang patut dihindari dapat mempunyai karakter:

akālena, disampaikan pada waktu yang tidak tepat,
abhūtena, tidak sesuai dengan kenyataan,
pharusena, kasar,
anatthasaṃhitena, tidak bermanfaat,
dan dilandasi dosa, kebencian.

Karena itu, latihan ucapan jauh melampaui sekadar tidak berbohong. Seseorang juga perlu menghindari ucapan yang memecah-belah, ucapan kasar, serta bentuk komunikasi yang merusak.

Dalam kehidupan sehari-hari, sila keempat mungkin justru menjadi salah satu latihan yang paling sering diuji. Manusia berbicara setiap hari. Kita berbicara di rumah, di tempat kerja, di lingkungan sosial, dan melalui media komunikasi. Satu ucapan dapat membangun kepercayaan. Satu ucapan juga dapat menghancurkannya.

Oleh karenanya, mengendalikan ucapan sesungguhnya adalah bentuk pengendalian diri yang sangat nyata.

Seri: Pañcasīla - Fondasi Moral Kehidupan Umat Buddha