Kekuatan dan Bahaya Ucapan
4. Mengapa Kejujuran Saja Belum Cukup?
Latihan moral keempat adalah: Musāvādā veramaṇī, yaitu berlatih menghindari ucapan bohong.
Sekilas sila ini terlihat sederhana. Jangan berbohong.
Namun, sesungguhnya Buddhisme memberikan
perhatian yang lebih luas terhadap cara manusia menggunakan ucapan.
Mengapa kebohongan merusak?
Hampir tidak ada orang yang senang dibohongi. Manusia ingin mengetahui kenyataan.
Ketika seseorang menyampaikan sesuatu yang tidak benar dengan tujuan membuat orang lain mempercayainya, ia sedang merusak hubungan antara ucapan dan kenyataan. Akibatnya tidak hanya dialami oleh orang yang dibohongi. Pembohong juga merusak dirinya sendiri.
Kebohongan mungkin dapat disembunyikan untuk beberapa waktu. Namun, ketika kebohongan itu diketahui, sesuatu yang jauh lebih sulit dipulihkan dapat hilang: kepercayaan.
Orang yang diketahui memiliki kebiasaan berbohong akhirnya menghadapi persoalan serius. Bahkan ketika suatu hari ia mengatakan sesuatu yang benar, orang lain mungkin tidak lagi mempercayainya.
Karena itu, kerugian akibat kebohongan tidak hanya terletak pada satu informasi yang salah. Akan tetapi, kebohongan juga merusak kredibilitas seseorang.
Berbicara benar bukan berarti mengatakan apa saja sesuka hati
Menghindari kebohongan baru merupakan langkah awal. Ucapan yang baik tidak cukup hanya dengan fakta yang benar.
Dalam Majjhima Nikāya (M. I. 127), terdapat sejumlah karakteristik
ucapan yang patut diperhatikan.
Ucapan yang baik disampaikan:
kālena, pada waktu yang tepat,
bhūtena, sesuai dengan kenyataan,
saṇhena, secara lembut,
atthasaṃhitena, membawa manfaat,
dan dengan mettacittā, batin yang diliputi cinta kasih.
Kelima unsur tersebut menunjukkan kedalaman etika komunikasi dalam Buddhisme.
1. Benar belum tentu tepat waktunya
Sebuah pernyataan mungkin benar, tetapi waktunya bisa salah: Ada situasi ketika informasi perlu disampaikan sekarang. Ada pula keadaan ketika cara atau waktu penyampaiannya perlu dipertimbangkan dengan lebih hati-hati. Karena itu ucapan yang benar juga harus kālena.
2. Ucapan harus berpijak pada kenyataan
Ucapan yang baik harus bhūtena, sesuai dengan apa yang benar-benar terjadi. Menyampaikan dugaan seolah-olah fakta, mengarang cerita, atau memutarbalikkan kenyataan dapat merusak kualitas ucapan.
3. Kebenaran tidak harus disampaikan dengan kekasaran
Ucapan dapat benar tetapi kasar. Karena itu, diperlukan saṇhena, kelembutan. Kelembutan bukan berarti menyembunyikan kenyataan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kenyataan tersebut disampaikan.
4. Ucapan seharusnya mempunyai manfaat
Tidak setiap hal yang dapat dikatakan perlu dikatakan. Ucapan yang baik mempunyai unsur atthasaṃhita, berkaitan dengan manfaat. Dengan demikian, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya: “Apakah ini benar?” tetapi juga “Apa manfaat saya mengatakan ini?”
5. Keadaan batin pembicara juga penting
Ucapan seharusnya muncul dengan mettacittā, batin yang dilandasi cinta kasih. Dua orang dapat mengatakan kalimat yang hampir sama, tetapi dengan niat batin yang sama sekali berbeda. Seseorang mungkin bertujuan untuk membantu. Yang lain ingin melukai. Dalam latihan Buddhis, perbedaan tersebut sangat penting.
Kebalikan dari ucapan benar
Sebaliknya, ucapan yang patut
dihindari dapat mempunyai karakter:
akālena, disampaikan pada waktu yang tidak tepat,
abhūtena, tidak sesuai dengan kenyataan,
pharusena, kasar,
anatthasaṃhitena, tidak bermanfaat,
dan dilandasi dosa, kebencian.
Karena itu, latihan ucapan jauh melampaui sekadar tidak berbohong. Seseorang juga perlu menghindari ucapan yang memecah-belah, ucapan kasar, serta bentuk komunikasi yang merusak.
Dalam kehidupan sehari-hari, sila keempat mungkin justru menjadi salah satu latihan yang paling sering diuji. Manusia berbicara setiap hari. Kita berbicara di rumah, di tempat kerja, di lingkungan sosial, dan melalui media komunikasi. Satu ucapan dapat membangun kepercayaan. Satu ucapan juga dapat menghancurkannya.
Oleh karenanya, mengendalikan ucapan sesungguhnya adalah bentuk pengendalian diri yang sangat nyata.
Seri: Pañcasīla - Fondasi Moral Kehidupan Umat Buddha
- Pembahasan sebelumnya: Menghargai Kehidupan, Kepemilikan, dan Hubungan
- Pembahasan berikutnya: Menjaga Kesadaran

0 comments: