Menghargai Kehidupan, Kepemilikan, dan Hubungan
1. Kehidupan bukan hanya milik manusia
Latihan moral pertama adalah: Pāṇātipātā veramaṇī, yaitu menghindari pembunuhan makhluk hidup.
Dasar pemikirannya sangat sederhana tetapi mendalam: setiap makhluk
mempunyai keterikatan kepada kehidupannya sendiri.
Manusia ingin hidup.
Binatang juga ingin hidup.
Manusia menghindari rasa sakit.
Binatang juga bereaksi terhadap rasa sakit dan ancaman.
Karena itu, penghargaan terhadap kehidupan dalam Buddhisme tidak dibatasi hanya pada manusia. Makhluk hidup, sekecil atau serendah apa pun penilaian manusia terhadapnya, tetap memiliki kehidupannya sendiri. Manusia tidak memperoleh hak moral untuk memperlakukan makhluk lain secara sewenang-wenang hanya karena manusia merasa lebih kuat atau lebih tinggi.
Dhammapada 130 merumuskan prinsip tersebut melalui gagasan yang sangat kuat: semua makhluk takut terhadap kekerasan dan kehidupan adalah sesuatu yang mereka sayangi. Dengan menjadikan dirinya sendiri sebagai perbandingan, seseorang hendaknya tidak membunuh maupun menyebabkan makhluk lain dibunuh.
Dalam Pāli:
Prinsip attānaṃ upamaṃ katvā, menjadikan diri sendiri sebagai
perbandingan, memberikan cara yang sangat konkret untuk memahami moralitas.
Jika kita tidak ingin disakiti, kita dapat memahami mengapa makhluk
lain juga tidak ingin disakiti.
Jika kita menghargai kehidupan kita sendiri, kita memiliki dasar
untuk memahami mengapa kehidupan makhluk lain juga berharga bagi mereka.
Tidak membunuh sebagai dasar pengembangan cinta kasih
Menghindari pembunuhan bukan hanya mempunyai akibat eksternal berupa keselamatan makhluk lain. Latihan tersebut juga membentuk batin orang yang melaksanakannya.
Ketika
seseorang membiasakan diri tidak menghancurkan kehidupan dan tidak menyakiti
makhluk lain, kualitas seperti:
mettā, cinta kasih,
karuṇā, welas asih,
dan kepedulian terhadap makhluk hidup menjadi lebih mudah dikembangkan.
Dengan demikian, sila pertama tidak berhenti pada larangan negatif: “Jangan membunuh.” Latihannya dapat berkembang menjadi arah yang positif: “Belajarlah menghargai kehidupan.”
Semakin
kuat kebiasaan menghormati kehidupan, semakin kecil kemungkinan seseorang
dengan mudah menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan persoalan.
2. Menghormati apa yang menjadi milik orang lain
Latihan moral kedua adalah: Adinnādānā veramaṇī, yaitu menghindari mengambil sesuatu yang tidak diberikan.
Dalam bahasa sehari-hari, prinsip ini terutama berkaitan dengan tindakan mencuri.
Mengapa mencuri dipandang buruk?
Karena manusia memiliki keterikatan dan kepentingan terhadap apa
yang dimilikinya.
Orang bekerja untuk memperoleh sesuatu. Ia menyimpan dan menjaga barang yang dimilikinya. Ketika barang tersebut hilang atau dirampas, ia dapat mengalami kesedihan dan kerugian.
Dengan demikian, pencurian bukan sekadar perpindahan sebuah benda dari satu tangan ke tangan lainnya. Ada penderitaan yang diciptakan di baliknya. Seseorang memperoleh keuntungan dengan menjadikan orang lain menanggung kerugiannya.
Inilah alasan moral mengapa mengambil barang orang lain tanpa hak
harus dihindari.
Jika seseorang menginginkan sesuatu, jalan yang benar adalah
memperolehnya dengan cara yang benar.
Keinginan terhadap suatu benda bukan pembenaran untuk mengambilnya.
Dalam kehidupan bermasyarakat, sila kedua membangun
sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar perlindungan terhadap benda: kepercayaan
bahwa hak kepemilikan seseorang akan dihormati oleh orang lain.
3. Seksualitas tidak boleh menjadi sarana untuk merugikan orang lain
Latihan moral ketiga adalah: Kāmesumicchācārā veramaṇī, yaitu menghindari perilaku seksual yang salah.
Pañcasīla bagi umat perumah tangga tidak menuntut seluruh umat Buddha untuk hidup tanpa hubungan seksual. Yang menjadi persoalan adalah micchācāra, yaitu perilaku yang salah. Contoh konkretnya adalah perselingkuhan dan hubungan seksual yang melanggar ikatan atau hak-hak orang lain.
Pergi dengan pasangan orang lain,
mengkhianati pasangan sendiri, atau terlibat dalam hubungan seksual yang
menimbulkan kerugian merupakan perilaku yang tidak dipuji oleh para
bijaksana.
Persoalannya bukan hanya kenikmatan seksual. Namun, di balik sebuah hubungan dapat terdapat kepercayaan, kesetiaan, janji, tanggung jawab, dan kehidupan orang lain. Ketika semua itu dilanggar demi memenuhi keinginan pribadi, penderitaan dapat muncul.
Karena itu, latihan moral ketiga mengajarkan bahwa dorongan seksual tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab etis.
Baca juga: Seksualitas dalam Perspektif Buddhisme
Jika ketiga latihan pertama dilihat
bersama-sama, terbentuk pola yang jelas:
jangan menghancurkan kehidupan orang
lain,
jangan merampas milik orang lain,
dan jangan menggunakan seksualitas dengan
cara yang merugikan atau mengkhianati orang lain.
Semua berangkat dari kesadaran bahwa manusia tidak hidup sendirian.
Seri: Pañcasīla - Fondasi Moral Kehidupan Umat Buddha
- Pembahasan sebelumnya: Pañcasīla - Fondasi Moral Kehidupan Umat Buddha (Pendahuluan)
- Pembahasan berikutnya: Kekuatan dan Bahaya Ucapan

0 comments: