Namo Buddhaya

Buddha Gautama

"Aku tidak mengajar untuk menjadikanmu sebagai murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk membuatmu menjadi murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk memutuskan hubunganmu dengan gurumu yang lama. Aku bahkan tidak tertarik untuk mengubah tujuanmu,karena setiap orang ingin lepas dari penderitaan.
Cobalah apa yang telah Kutemukan ini,dan nilailah oleh dirimu sendiri. Jika itu baik bagimu,terimalah. Jika tidak, janganlah engkau terima."


(Digha Nikaya 25; Patika Vagga;Udumbarika-Sīhanāda Sutta)

Dhamma Event

https://www.instagram.com/p/DbMqpeeJrl_/
Showing posts with label Bhikkhu Uttamo. Show all posts

Nibbana Tidak Menunggu Kematian


Salah satu kesalahpahaman terbesar mengenai Nibbana adalah membayangkannya sebagai suatu tempat yang dimasuki setelah seseorang meninggal.

Berdasarkan penjelasan Bhikkhu Uttamo, Nibbana bukan tempat. Nibbana bukan surga.

Ia berkaitan dengan berakhirnya ketamakan, kebencian, dan kegelapan batin.

Karena semua itu merupakan persoalan batin, proses pembebasan berlangsung dalam kehidupan. Nibbana dengan demikian tidak harus dipahami sebagai sesuatu yang hanya relevan setelah kematian.

Bagaimana jika belum mencapai Nibbana?

Seseorang tidak harus mencapai pembebasan sempurna dalam satu kehidupan agar praktik Dhamma mempunyai manfaat. Jalan Mulia bukan sistem: “berhasil total atau sia-sia.”

Setiap pengurangan penyebab penderitaan membawa perubahan.
Sedikit berkurangnya keserakahan mengurangi masalah.
Berkurangnya kebencian memperbaiki hubungan.
Berkurangnya delusi menghasilkan keputusan yang lebih jernih.
Ucapan yang benar mengurangi konflik.
Perbuatan etis mengurangi penyesalan.
Konsentrasi memperkuat kestabilan.
Perhatian mengurangi reaktivitas.

Karena itu, belum mencapai Nibbana bukan alasan untuk tidak berlatih. Jalan itu sendiri sudah menghasilkan perubahan. Namun, arah akhirnya tetap pembebasan penuh.

Dhamma bukan sekadar sesuatu yang dipercayai

Salah satu benang merah terkuat dalam seluruh penjelasan Bhikkhu Uttamo adalah bahwa Dhamma harus diuji melalui kehidupan.

Jika seseorang mempelajari cinta kasih tetapi justru semakin mudah membenci, itu ada masalah.
Jika mempelajari pelepasan tetapi semakin terobsesi dengan status, itu ada masalah.
Jika membaca paritta tetapi setiap hari terus berbohong, ritual tersebut belum berfungsi.
Jika bermeditasi tetapi justru merasa lebih suci daripada semua orang, keakuan hanya berganti pakaian.

Karena itu, pembuktian Dhamma tidak harus dimulai dari pengalaman mistik.

Ia dapat dimulai dari kehidupan sehari-hari.
Apakah batin lebih stabil?
Apakah hubungan lebih baik?
Apakah perubahan lebih mudah diterima?
Apakah kebutuhan semakin dapat dibedakan dari ketamakan?
Apakah kebencian semakin cepat dikenali?
Apakah tindakan semakin bertanggung jawab?
Apakah seseorang lebih sedikit menyalahkan dunia atas semua penderitaannya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih serius daripada sekadar identitas agama.

Dari kehidupan duniawi menuju kebebasan

Keseluruhan jalan dapat dibaca sebagai perkembangan yang bertahap.

Pertama, manusia belajar hidup dengan benar.
Ia bekerja.
Memenuhi kebutuhan.
Membangun keluarga.
Belajar merasa cukup.

Kemudian ia belajar bahwa hidup tidak hanya untuk dirinya sendiri.
Ia berbagi.
Mengembangkan kebajikan.
Membangun cinta kasih.
Memahami kamma sebagai tanggung jawab.

Setelah itu, ia mulai menyadari bahwa bahkan pengalaman yang menyenangkan pun tidak kekal.
Kekayaan tidak kekal.
Kesehatan tidak kekal.
Hubungan tidak kekal.
Bahkan alam surgawi tidak kekal.

Pencarian lalu bergerak lebih dalam.

Pertanyaannya bukan lagi “Bagaimana saya memperoleh sebanyak mungkin hal yang saya sukai?” tetapi “Dapatkah saya terbebas dari keharusan bahwa dunia harus selalu mengikuti apa yang saya sukai dan tidak sukai?”

Pada titik itulah Nibbana berhenti menjadi istilah yang abstrak. Ia menjadi arah hidup.

Meditasi bagi Umat Awam


Meditasi bukan praktik eksklusif bagi bhikkhu.

Dalam kerangka Bhikkhu Uttamo, umat awam justru dianjurkan melatih meditasi secara rutin.

Latihan sederhana dapat dilakukan:
setelah bangun pada pagi hari,
dan menjelang tidur pada malam hari.

Durasi yang disarankan Bhikkhu Uttamo adalah sekitar 15 sampai 30 menit setiap kali.

Angka tersebut bukan ukuran kesucian. Nilainya terletak pada konsistensi. Meditasi singkat yang dilakukan teratur lebih berguna daripada semangat besar yang hanya muncul sesekali.

Samatha Bhavana

Latihan dasar yang dibahas adalah Samatha Bhavana, yaitu pengembangan ketenangan dan konsentrasi. Salah satu objek yang digunakan adalah napas.

Prinsipnya sangat sederhana.
Tidak perlu mengatur napas.
Tidak perlu memaksa panjang.
Tidak perlu memaksa pendek.
Tidak perlu menciptakan ritme tertentu.
Biarkan pernapasan berlangsung secara alami.

Tugas meditator adalah mengetahui napas masuk dan napas keluar.

Pikiran mengembara bukan berarti meditasi gagal

Ketika perhatian mengikuti napas, pikiran mungkin berpindah. Ke pekerjaan. Masalah keluarga. Rencana. Kenangan. Ketakutan. Khayalan. Keinginan.

Ketika itu terjadi, tugas praktisi bukan untuk marah kepada pikirannya, melainkan mengenali bahwa perhatian telah berpindah. Kemudian kembali kepada napas.

Pikiran pergi lagi. Kembali lagi.

Proses inilah latihan.

Tujuannya adalah membangun kestabilan.

Menuju Vipassana Bhavana

Ketika kemampuan memperhatikan semakin berkembang, objek latihan dapat diperluas kepada pengalaman badan dan batin.

Sensasi tubuh diketahui.
Perasaan diketahui.
Gerakan pikiran diketahui.
Keinginan diketahui.
Kemarahan diketahui.
Perubahan diketahui.

Bhikkhu Uttamo menyebutkan bahwa pengembangan kesadaran terhadap seluruh gerak badan dan batin tersebut disebut Vipassana Bhavana.

Tujuannya bukan untuk mengejar sensasi meditasi yang menyenangkan. Tujuannya adalah untuk melihat fenomena secara lebih jelas sehingga kemelekatan berkurang.

Dengan demikian, meditasi bukan pelarian dari kenyataan. Justru meditasi merupakan latihan untuk melihat kenyataan dengan lebih sedikit distorsi.

Bagaimana jika muncul “penampakan”?

Sebagian praktisi mungkin mengalami gambaran, suara, sensasi, atau pengalaman yang ditafsirkan sebagai kehadiran makhluk halus.

Bhikkhu Uttamo memberikan prinsip yang praktis: jangan menjadikannya sebagai pusat perhatian.

Jika sedang melatih konsentrasi pada napas, kembalilah pada napas. Jangan mengejar. Jangan tertarik secara berlebihan. Jangan pula langsung takut.

Dalam latihan yang lebih matang, apa pun yang muncul sudah cukup diketahui.

Ada gambaran, ketahui.
Ada rasa takut, ketahui.
Ada sensasi, ketahui.

Tidak perlu membangun cerita panjang dari pengalaman itu.

Cinta kasih sebagai respons

Bhikkhu Uttamo juga menyarankan kalimat: “Semoga semua makhluk berbahagia.” Ini merupakan pengembangan cinta kasih.

Jika pengalaman tersebut memang berkaitan dengan makhluk lain, responsnya tidak perlu disertai kebencian. Jika ia merupakan fenomena pikiran, cinta kasih tetap membantu mengurangi ketakutan dan konflik batin.

Prinsipnya sama:

jangan memperbesar gangguan.
Kembalilah kepada perhatian.
Kembangkan keseimbangan.
Dan teruskan latihan.

Mengapa Kehidupan Manusia Sangat Berharga?


Jika surga menyenangkan, mengapa kelahiran sebagai manusia justru dianggap sangat berharga dalam perkembangan spiritual?

Jawabannya terdapat pada karakter kehidupan manusia. Manusia mengalami campuran antara kenyamanan dan ketidaknyamanan yang sangat nyata.

Kita dapat:
sehat lalu sakit,
berhasil lalu gagal,
mendapat lalu kehilangan,
berkumpul lalu berpisah,
dicintai lalu kehilangan orang yang dicintai,
merasakan nyaman lalu tidak nyaman.

Karena perubahan tersebut sangat terlihat, manusia memiliki peluang besar untuk memahami ketidakkekalan. Dan ketika ketidakkekalan diperhatikan, Empat Kesunyataan Mulia tidak lagi sekadar teori.

Alam manusia dan kesempatan memahami Dhamma

Manusia dapat melihat “Ada ketidakpuasan.”

Kemudian “Ketidakpuasan ini mempunyai sebab.”

Kemudian “Cara saya melekat berperan di dalamnya.”

Dan akhirnya, “Saya perlu melatih pikiran.”

Dalam uraian Bhikkhu Uttamo, makhluk di alam bahagia mungkin mengalami kebahagiaan yang berlangsung sangat lama sehingga sulit menyadari perubahan.

Sebaliknya, makhluk dalam alam penderitaan yang sangat berat mungkin mengalami keadaan yang juga tidak kondusif bagi pengembangan kebijaksanaan.

Kehidupan manusia menyediakan kombinasi pengalaman yang memungkinkan seseorang melihat perubahan sekaligus masih memiliki ruang untuk berlatih.

Karena itu, menjadi manusia dianggap sebagai peluang spiritual. Namun peluang hanya berharga jika digunakan.

Apakah Buddhisme mengenal manusia pertama?

Pertanyaan mengenai manusia pertama juga dibahas dalam pembahasan Bhikkhu Uttamo. Namun Bhikkhu Uttamo terlebih dahulu memberikan pembatas penting: mengetahui manusia pertama bukan syarat untuk mencapai pembebasan.

Orang tidak perlu mengetahui asal-usul manusia untuk berhenti berbohong.
Tidak perlu mengetahui umur alam semesta untuk mengendalikan kebencian.
Tidak perlu mengetahui sejarah kosmos untuk mengembangkan perhatian.

Dengan demikian, Dhamma memprioritaskan persoalan yang berhubungan langsung dengan pembebasan.

Gambaran kosmologis

Meskipun demikian, Bhikkhu Uttamo memuat gambaran kosmologis.

Dunia dipandang mengalami siklus pembentukan dan kehancuran. Ketika suatu dunia terbentuk kembali, makhluk dari sistem kehidupan lain dapat muncul dalam proses tersebut.

Dalam gambaran yang diberikan, makhluk-makhluk itu pada awalnya digambarkan bercahaya. Melalui keterlibatan bertahap dengan materi, tubuh menjadi lebih kasar. Perbedaan fisik berkembang. Kemudian muncul perbedaan jenis kelamin, reproduksi, dan keturunan.

Karena itu, dalam kerangka cerita tersebut tidak terdapat satu pasangan “manusia pertama” yang tiba-tiba diciptakan. Yang muncul adalah suatu proses.

Bagaimana dengan teori ilmiah tentang asal-usul manusia?

Bhikkhu Uttamo tidak menjadikan perdebatan mengenai apakah manusia “berasal dari monyet” sebagai pusat Dhamma. Pokoknya bukan menolak atau membenarkan suatu teori biologi. Pokoknya adalah bahwa jawaban terhadap persoalan evolusi biologis tidak dengan sendirinya mengakhiri ketamakan, kebencian, dan ketidaktahuan.

Dengan demikian, terdapat pembedaan fungsi. Sains dapat meneliti sejarah biologis. Dhamma memusatkan perhatian kepada penderitaan dan pembebasan. Keduanya tidak harus dipaksa menjadi satu pertanyaan.

Kamma Bukan Takdir


Salah satu kesalahpahaman paling serius mengenai kamma adalah mengubahnya menjadi fatalisme. Ketika mengalami kesulitan, seseorang dapat berkata: “Ini karma saya. Tidak ada yang dapat dilakukan.”

Dalam penjelasan Bhikkhu Uttamo, gagasan seperti itu tidak tepat. Kamma justru menunjukkan pentingnya tindakan.

Masa lalu membentuk kondisi, bukan keputusan final

Manusia memang menerima kondisi tertentu. Seseorang lahir dalam keluarga tertentu. Mempunyai keadaan ekonomi tertentu. Tubuh tertentu. Lingkungan tertentu.

Tetapi saat ini ia tetap bertindak. Tindakan sekarang menjadi sebab baru. Karena itu, kehidupan bukan sekadar menerima akibat dari masa lalu, melainkan juga merupakan proses untuk menciptakan kondisi baru.

Contoh perubahan hidup

Seseorang dapat lahir dalam kemiskinan. Itu kondisi awal. Namun, jika ia jujur, belajar, bekerja, membangun kepercayaan, dan mengembangkan relasi yang baik, tindakannya dapat menghasilkan perubahan besar dalam kehidupannya.

Sebaliknya, seseorang dapat lahir dalam keluarga kaya. Jika hidupnya kemudian dipenuhi kebohongan, perilaku merusak, penyalahgunaan zat, dan ketidakbertanggungjawaban, maka kehidupannya dapat memburuk.

Karena itu, Buddhisme dalam kerangka ini tidak menempatkan “nasib” sebagai keputusan yang sudah final. Pertanyaan penting selalu kembali kepada “Apa yang saya lakukan sekarang?” dan “Kondisi apa yang sedang saya bangun melalui tindakan ini?”

Apakah kamma dapat diketahui dari tanda-tanda tubuh?

Dalam penjelasannya, Bhikkhu Uttamo juga membahas tradisi masyarakat yang mencoba membaca kamma seseorang melalui ciri-ciri tertentu, misalnya garis tangan.

Namun, pembatasnya sangat penting. Bhikkhu Uttamo sendiri membedakan praktik semacam itu dari ajaran Buddha. Membaca garis tangan disebut sebagai bagian dari tradisi masyarakat, bukan Buddha Dhamma.

Pembedaan ini harus dipertahankan. Tidak semua yang dilakukan masyarakat Buddhis otomatis merupakan ajaran Buddha. Buddhisme hidup dalam berbagai kebudayaan. Di dalamnya dapat bercampur Dhamma, tradisi, adat, ritual lokal, dan kepercayaan masyarakat.

Karena itu, praktisi perlu bertanya “Apakah ini Dhamma atau budaya Buddhis?”

Surga dan neraka

Dalam kosmologi yang dijelaskan Bhikkhu Uttamo, kehidupan tidak hanya terdiri atas alam manusia. Terdapat alam bahagia dan alam penderitaan.

Surga berkaitan dengan buah kebajikan.
Neraka berkaitan dengan kondisi penderitaan yang didukung oleh kamma buruk.
Namun keduanya mempunyai satu persamaan: keduanya tidak kekal.

Surga bukan Nibbana

Kelahiran di alam surgawi merupakan kondisi menyenangkan. Karena kualitas dan kekuatan kebajikan berbeda, Bhikkhu Uttamo menggambarkan adanya berbagai tingkat alam bahagia. Namun, surga bukan tujuan final.

Ketika kondisi kamma yang menopang kehidupan di sana berakhir, makhluk tersebut kembali mengalami kematian dan kelahiran sesuai dengan kondisi berikutnya.

Demikian pula neraka. Ia bukan hukuman kekal tanpa akhir. Ia merupakan kondisi penderitaan yang juga tunduk pada perubahan. Karena itu:

surga menyenangkan tetapi tidak final;
neraka menyakitkan tetapi tidak abadi;
Nibbana berada di luar proses kelahiran kembali tersebut.

Dewa dan dewi

Buddhisme, menurut Bhikkhu Uttamo mengakui keberadaan dewa dan dewi sebagai makhluk yang hidup di alam surgawi. Namun mereka tetap makhluk. Mereka mengalami kelahiran. Mereka berada dalam siklus perubahan. Mereka bukan Nibbana dan mereka bukan pencipta pembebasan.

Karena itu, keberadaan dewa tidak secara otomatis menjadikan Buddhisme sebagai praktik pemujaan dewa. Pembebasan tetap harus dijalankan melalui Dhamma.

Makhluk halus

Bhikkhu Uttamo juga menjelaskan berbagai jenis makhluk yang tidak kasatmata, yang dalam bahasa umum mungkin disebut hantu atau makhluk halus.

Namun, prinsipnya sama. Mereka adalah makhluk dalam bentuk kehidupan tertentu. Bukan pusat ajaran. Bukan tujuan pemujaan.

Pengetahuan tentang dunia non-manusia tidak boleh membuat seorang praktisi lupa pada pekerjaan yang jauh lebih dekat, yaitu melihat pikirannya sendiri.

Memahami Ritual Buddhis dan Maknanya


Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa umat Buddha menyembah patung dan meminta sesuatu kepada rupang Buddha.

Dalam kerangka penjelasan Bhikkhu Uttamo, istilah yang lebih tepat untuk praktik ritual Buddhis adalah puja bakti. Puja berarti penghormatan. Bakti diarahkan kepada pelaksanaan ajaran.

Dengan demikian, puja bakti bukan transaksi antara manusia dan rupang. Ia merupakan penghormatan kepada Buddha dan kesempatan mengingat Dhamma agar Dhamma dilaksanakan.

Mengapa bersujud?

Seorang Buddhis dapat melakukan namakara, yaitu bersujud sebagai bentuk penghormatan. Rupang Buddha menjadi lambang yang mengingatkan kepada Buddha.

Ia bukan makhluk yang hidup di dalam patung. 
Ia tidak memerlukan sujud.
Ia tidak tersinggung jika seseorang tidak bersujud.

Karena itu, nilai sujud tidak terdapat pada kebutuhan rupang.

Nilainya ada pada batin praktisi.
Sujud dapat melatih kerendahan hati.

Tubuh yang secara sengaja direndahkan dapat menjadi simbol upaya mengurangi keakuan. Namun, karena bentuk itu merupakan tradisi penghormatan, fokus tetap harus pada kualitas batin.

Paritta bukan sekadar bunyi

Setelah memberikan penghormatan, umat dapat membaca paritta.

Dalam uraian Bhikkhu Uttamo, paritta berfungsi sebagai pengulangan ajaran Buddha agar umat mengingat, merenungkan, dan melaksanakan Dhamma. Karena itu, banyaknya pembacaan tidak otomatis menunjukkan keberhasilan.

Jika seseorang membaca ajaran cinta kasih setiap minggu tetapi terus mengharapkan orang lain celaka, makna ajaran belum masuk ke dalam kehidupan.

Salah satu contoh penting adalah Karaniyametta Sutta. Ajaran tersebut mengarahkan pengembangan cinta kasih kepada seluruh makhluk. Salah satu kualitas yang ditekankan adalah tidak mengharapkan orang lain celaka hanya karena marah atau membenci mereka.

Ini bukan berarti seseorang tidak boleh menolak tindakan yang buruk.
Ia boleh melindungi diri.
Boleh menolak ketidakadilan.
Boleh membuat batas.

Tetapi penolakan terhadap tindakan tidak harus berubah menjadi keinginan agar pelakunya menderita. Itulah perbedaan antara menghadapi masalah dan memelihara kebencian.

Apa ukuran keberhasilan puja bakti?

Bukan jumlah sujud.
Bukan lamanya ritual.
Bukan banyaknya teks yang dibaca.

Ukurannya adalah:
Apa yang terjadi setelah seseorang meninggalkan tempat ibadah?
Apakah ia lebih sabar?
Lebih jujur?
Lebih sadar?
Lebih terkendali?
Lebih penuh niat baik?

Jika tidak, ritual berhenti pada tubuh dan suara.

Persembahan di altar

Makanan, buah, minuman, bunga, atau persembahan lain dalam ritual Buddhis dijelaskan sebagai tradisi dan simbol penghormatan. Makanan tidak dipersembahkan karena Buddha memerlukannya. Rupang tidak makan. Makna persembahan dikembalikan kepada orang yang melakukan.

Jika seseorang mampu memilih buah terbaik untuk altar, ia juga perlu bertanya: “Apakah saya memberikan yang terbaik melalui tindakan, ucapan, dan pikiran kepada makhluk di sekitar saya?”

Persembahan eksternal seharusnya mengingatkan pada persembahan yang lebih sulit, yaitu kualitas diri yang baik.

Apakah umat Buddha berdoa?

Manusia tentu memiliki harapan. Seorang Buddhis dapat menginginkan kesehatan, umur panjang, keberhasilan, kecukupan ekonomi, pekerjaan, atau kesejahteraan keluarga. Namun, dalam kerangka Bhikkhu Uttamo, orientasinya bukan “Saya meminta kekuatan eksternal untuk memenuhi permintaan saya.” Orientasinya adalah “Jika saya menginginkan kebahagiaan, sebab apa yang perlu saya kembangkan?”

Di sinilah kamma dan kebajikan menjadi penting.

Tiga tahap mengarahkan harapan

Bhikkhu Uttamo menjelaskan suatu pola tiga bagian.

  • Pertama, mengingat prinsip sebab-akibat sesuai dengan benih yang ditabur, demikian pula buah yang akan diperoleh.
  • Kedua, kebajikan yang telah dilakukan diarahkan pada suatu harapan tertentu, antara lain kesehatan, umur panjang, keberhasilan, atau bentuk kebahagiaan lainnya.
  • Ketiga, batin diperluas “Semoga semua makhluk berbahagia.”

Struktur ini mengandung pendidikan batin.

Harapan tidak dimulai dengan tuntutan. Ia dimulai dengan tanggung jawab. Dan ia tidak berakhir dengan ego pribadi. Ia diperluas kepada semua makhluk. Keluarga. Orang asing. Bahkan mereka yang tidak disukai.

Bagaimana dengan kebajikan yang berpamrih?

Tidak semua manusia melakukan kebaikan dengan motivasi yang sepenuhnya bebas dari kepentingan. 

Orang dapat berdana karena berharap memperoleh kamma baik.
Menolong karena berharap keberhasilan.
Berbuat baik karena ingin kelahiran yang lebih baik.

Menurut kerangka penjelasan Bhikkhu Uttamo, kebaikan semacam itu tidak secara otomatis kehilangan seluruh kualitas baiknya. Jika tindakannya benar-benar membawa manfaat, ia tetap merupakan kebajikan. 

Namun, latihan tidak berhenti di situ.

Pada tahap awal, harapan terhadap buah dapat mendorong seseorang untuk berbuat baik. Dengan semakin berkembangnya Dhamma, ketergantungan pada hasil harus berkurang. Kebajikan kemudian dilakukan karena memang itulah yang benar untuk dilakukan.

Bhikkhu Uttamo menggunakan gambaran bunga.

Bunga mekar bukan untuk meminta ditempatkan di tempat yang terhormat. Ia mekar karena prosesnya adalah mekar.

Demikian pula kebajikan yang matang. Ia semakin sedikit bergantung pada hadiah.

Empat Kesunyataan Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan


Jika Nibbana adalah tujuan tertinggi, mengapa manusia membutuhkan pembebasan?

Jawabannya terletak pada Empat Kesunyataan Mulia. Keempatnya membentuk struktur dasar untuk membaca kehidupan:

  1. adanya ketidakpuasan;
  2. sebab ketidakpuasan;
  3. berakhirnya ketidakpuasan;
  4. jalan menuju berakhirnya ketidakpuasan.

Kesunyataan pertama: hidup mengandung ketidakpuasan

Ketidakpuasan dapat dilihat melalui dua pola sederhana, berpisah dengan yang disukai, dan bertemu dengan yang tidak disukai.

“Yang disukai” tidak hanya berarti manusia.
Kesehatan.
Kenyamanan.
Reputasi.
Pekerjaan.
Uang.
Suasana.
Keadaan tubuh.
Hubungan.
Perasaan tertentu.

Demikian pula halnya dengan yang tidak disukai.
Seseorang duduk dengan nyaman. Tidak lama kemudian, kaki kesemutan. Ia telah berpisah dari kenyamanan dan bertemu dengan ketidaknyamanan.
Seseorang kenyang. Beberapa jam kemudian, merasa lapar. Ia berpisah dari kondisi yang diinginkannya dan bertemu dengan kondisi yang tidak disukainya.

Proses ini terus berlangsung.

Masalahnya bukan bahwa manusia tidak boleh menyukai kenyamanan. Masalahnya adalah tuntutan “Yang saya sukai harus tetap seperti ini.” Padahal seluruh kondisi berubah.

Kesunyataan kedua: keinginan dan kemelekatan

Ketika kenyataan tidak sesuai dengan keinginan, tekanan batin muncul.

Semakin keras pikiran berkata “Ini tidak boleh berubah,” semakin besar penderitaan ketika perubahan terjadi.

Demikian pula “Hal ini sama sekali tidak boleh menimpa saya.” Ketika hal itu tetap terjadi, penderitaan objektif ditambah dengan penolakan mental.

Rasa sakit tubuh adalah satu pengalaman.
Pikiran yang terus menolak rasa sakit dapat menjadi lapisan penderitaan yang kedua.

Kelaparan adalah satu kondisi.
Kemarahan karena sedang lapar dapat menambah beban lain.

Karena itu, dalam uraian Bhikkhu Uttamo, kekuatan keinginan dan kemelekatan berkaitan erat dengan kekuatan ketidakpuasan.

Kesunyataan ketiga: penderitaan dapat berakhir

Jika penderitaan memiliki sebab, maka lenyapnya sebab memungkinkan lenyapnya penderitaan. Jalan keluarnya bukan memaksa dunia agar berhenti berubah. Tidak mungkin.

Pertemuan akan diikuti oleh perpisahan.
Tubuh menua.
Kesehatan berubah.
Perasaan muncul dan lenyap.
Pikiran berubah.
Kondisi ekonomi berubah.
Hubungan berubah.
Kebijaksanaan tumbuh ketika manusia berhenti menuntut agar yang berubah menjadi tidak berubah.
Ketika ketidaktahuan dan kemelekatan sepenuhnya lenyap, pembebasan disebut Nibbana.

Kesunyataan keempat: jalan harus dijalankan

Buddhisme tidak berhenti pada diagnosis. Jika hanya mengatakan bahwa hidup mengandung penderitaan, ajaran itu akan menjadi ajaran yang pesimistis. Namun, sesungguhnya terdapat jalan.

Jalan tersebut adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan:

  1. Pandangan Benar;
  2. Pikiran atau Niat Benar;
  3. Ucapan Benar;
  4. Perbuatan Benar;
  5. Penghidupan Benar;
  6. Daya Upaya Benar;
  7. Perhatian Benar;
  8. Konsentrasi Benar.

Delapan unsur tersebut bukan delapan jalan terpisah. Semuanya merupakan satu cara hidup.

Bagaimana kita melihat.
Bagaimana berpikir.
Bagaimana berbicara.
Bagaimana bertindak.
Bagaimana mencari nafkah.
Bagaimana mengarahkan usaha.
Bagaimana memperhatikan.
Dan bagaimana memusatkan pikiran.

Karena itu, pembebasan bukan hanya soal meditasi, melainkan mencakup seluruh kehidupan.

Lima sila sebagai fondasi umat awam

Dalam pelaksanaan sehari-hari, latihan moral dimulai, antara lain, melalui Lima Sila (Pancasila). Seseorang berlatih menghindari:

  1. pembunuhan atau penghancuran kehidupan,
  2. mengambil apa yang tidak diberikan,
  3. perilaku seksual yang salah,
  4. ucapan tidak benar,
  5. serta konsumsi zat yang melemahkan kewaspadaan dan pengendalian diri.

Kata yang penting adalah latihan.

Sila bukan sekadar larangan dari luar. Ia mengembangkan kesadaran tentang hubungan antara niat, tindakan, dan akibat.

Sebelum bertindak, seseorang belajar melihat:
“Apa yang sedang saya lakukan?”
“Apa akibatnya?”

Ketika berbicara:
“Apakah ini benar?”
“Apakah ucapan ini membawa manfaat?”
“Apakah ia justru menciptakan penderitaan?”

Dengan semakin sadar terhadap badan dan ucapan, manusia perlahan mulai melihat sumber keduanya: pikiran.

Hidup terjadi sekarang

Pikiran manusia sering terperangkap dalam masa lalu dan masa depan. Masa lalu muncul sebagai penyesalan, nostalgia, luka, rasa bersalah, atau kebanggaan. Masa depan muncul sebagai kekhawatiran, fantasi, ketakutan, rencana, dan harapan.

Keduanya mempunyai fungsi. Masa lalu dapat menjadi bahan pembelajaran. Masa depan perlu dipersiapkan. Namun, satu-satunya waktu tindakan dapat dilakukan adalah sekarang.

Kesalahan masa lalu hanya dapat diperbaiki sekarang.
Masa depan hanya dapat dibangun sekarang.

Karena itu, perhatian pada saat ini bukan berarti melupakan masa lalu atau menolak perencanaan, melainkan memahami tempat masing-masing secara tepat.

Tiga akar penderitaan

Pembebasan dalam penjelasan Bhikkhu Uttamo berkaitan dengan lenyapnya tiga kualitas utama: ketamakan, kebencian, dan kegelapan batin atau ketidaktahuan.

Ketamakan berkata, “Lebih banyak.”
Kebencian berkata, “Singkirkan.”
Ketidaktahuan membuat seseorang gagal melihat kenyataan sebagaimana adanya.

Selama ketiga akar itu kuat, tindakan terus menimbulkan konflik dan ketidakpuasan. Karena itu, ukuran perkembangan spiritual tidak cukup dilihat dari:

berapa lama menjadi Buddhis,
berapa sering datang ke vihara,
berapa banyak paritta yang dihafal,
atau berapa lama seseorang duduk bermeditasi.

Ukuran yang lebih tajam adalah:

Apakah keserakahan berkurang?
Apakah kebencian berkurang?
Apakah ketidaktahuan berkurang?
Apakah ucapan lebih terkendali?
Apakah tindakan lebih sedikit merugikan?
Apakah seseorang lebih cepat sadar ketika batinnya mulai bereaksi?

Dhamma seharusnya terlihat melalui transformasi.

Tiga Tingkat Kebahagiaan: Hidup Layak, Berbuat Baik, dan Bergerak menuju Nibbana


Buddhisme tidak meminta umat awam meninggalkan seluruh kehidupan duniawi untuk mengejar pembebasan.

Dalam kerangka Bhikkhu Uttamo, kehidupan Buddhis mempunyai tiga arah kebahagiaan yang dapat dipahami secara bertahap:

kebahagiaan dalam kehidupan sekarang,
kebahagiaan setelah kehidupan sekarang melalui kelahiran di alam bahagia,
dan kebahagiaan tertinggi, yaitu Nibbana.

Ketiganya bukan tujuan yang tidak berhubungan. Ia membentuk suatu perkembangan.

Manusia terlebih dahulu belajar hidup dengan benar. Kemudian belajar menciptakan kebahagiaan melalui kebajikan. Akhirnya belajar melampaui keterikatan bahkan kepada kebahagiaan yang masih berkondisi.

Kebahagiaan dalam kehidupan sekarang

Tahap pertama sangat konkret. Dhamma harus mempunyai arti bagi kehidupan yang sedang dijalani. Manusia perlu bekerja, makan, berpakaian, memiliki tempat tinggal, menjaga kesehatan, mengelola ekonomi, membangun hubungan, dan menjalankan tanggung jawab keluarga.

Karena itu, kebahagiaan duniawi tidak dipandang sebagai sesuatu yang harus ditolak.

Kecukupan duniawi dikaitkan dengan empat kebutuhan dasar: pakaian, makanan, tempat tinggal, dan sarana kesehatan.

Namun, intinya bukan jumlah barang. Intinya adalah rasa cukup.

Apa yang disebut cukup?

“Cukup” memiliki makna yang sangat relatif. Seseorang dapat memiliki sedikit tetapi merasa puas. Orang lain dapat memiliki kekayaan yang sangat besar, tetapi setiap hari tetap merasa kekurangan.

Karena itu, problem sebenarnya bukan hanya “Berapa banyak yang saya miliki?” Pertanyaan yang lebih dalam adalah “Kapan kebutuhan berubah menjadi ketamakan?”

Bhikkhu Uttamo menggunakan kehidupan bhikkhu sebagai ukuran minimal untuk menunjukkan bahwa kebutuhan dasar manusia yang sederhana sebenarnya dapat dipenuhi.

Bhikkhu menggunakan jubah.
Menerima makanan.
Memerlukan tempat tinggal.
Memerlukan sarana kesehatan.

Kehidupan monastik tersebut tidak dimaksudkan sebagai standar literal yang harus ditiru oleh seluruh umat awam. Umat perumah tangga mempunyai tanggung jawab yang berbeda.

Ia mungkin memiliki pasangan.
Anak.
Orang tua.
Pekerjaan.
Usaha.
Pendidikan.
Kebutuhan darurat.
Tabungan masa depan.
Dan berbagai kewajiban sosial.

Karena itu, rasa cukup bukan larangan untuk menabung, memiliki rumah, mengembangkan usaha, atau membangun keamanan ekonomi.

Masalah muncul ketika tidak ada lagi titik yang dapat disebut sebagai cukup.

Kekayaan tidak identik dengan ketamakan

Seseorang yang kaya tidak otomatis tamak.
Seseorang yang miskin juga tidak otomatis suci.

Yang lebih penting adalah:
bagaimana kekayaan diperoleh,
bagaimana kekayaan digunakan,
dan bagaimana batin berhubungan dengannya.

Pertanyaan yang relevan antara lain:
Apakah kekayaan diperoleh dengan cara yang benar?
Apakah ia membuat seseorang semakin egois?
Apakah keluarga tetap harmonis?
Apakah seseorang masih mampu berbagi?
Apakah seluruh harga dirinya bergantung pada harta?
Apakah ia dapat menerima perubahan ekonomi tanpa kehilangan keseimbangan batin sepenuhnya?

Seseorang boleh memiliki tabungan untuk menghadapi kegagalan usaha atau keadaan darurat.

Dalam naskah, hal itu dapat ditempatkan sebagai kebijaksanaan.

Namun jika akumulasi tidak pernah mempunyai batas karena pikiran terus berkata “belum cukup”, problemnya tidak lagi sekadar ekonomi.

Problemnya adalah ketamakan.

Bhikkhu Uttamo juga menggunakan contoh kebutuhan pengobatan yang sangat sederhana dalam kehidupan asketik bhikkhu untuk menunjukkan betapa minimalnya kebutuhan seorang pertapa. Contoh tersebut merupakan bagian dari konteks kehidupan monastik dalam naskah, bukan pengganti pertimbangan kesehatan dalam kehidupan modern.

Kebahagiaan kedua: kelahiran di alam bahagia

Setelah seseorang membuktikan bahwa Dhamma memberikan manfaat bagi kehidupannya saat ini, ia dapat memahami hubungan kebajikan dengan kehidupan yang lebih luas.

Dalam penjelasan Bhikkhu Uttamo, kebajikan menjadi kondisi menuju kelahiran ke alam yang bahagia. Prinsip dasarnya adalah kebahagiaan tidak hanya diminta; kebahagiaan dikondisikan.

Seseorang yang ingin bahagia perlu menciptakan sebab-sebab kebahagiaan. Salah satu bentuk terpentingnya adalah membuat makhluk lain bahagia.

Jika memiliki kelebihan makanan, seseorang dapat berbagi.
Jika memiliki pakaian, dapat memberikan kepada yang membutuhkan.
Jika memiliki sumber daya, tenaga, keahlian, tempat tinggal, atau kemampuan lain, semuanya dapat dimanfaatkan untuk membawa manfaat.

Di sinilah rasa cukup dan kemurahan hati bertemu. Orang yang tidak pernah merasa cukup akan selalu menemukan alasan untuk menunda berbagi.

“Saya belum mempunyai cukup.”
“Saya perlu lebih banyak.”
“Nanti saja ketika saya lebih kaya.”

Sebaliknya, seseorang yang mengerti kecukupan mempunyai ruang batin untuk memberi.

Kebajikan bukan hanya materi

Kebajikan dilakukan melalui tiga ranah: badan, ucapan, dan pikiran.

Membantu adalah kebajikan.
Berbicara dengan benar dan membawa manfaat adalah kebajikan.
Mengembangkan niat baik adalah kebajikan.

Karena itu, orang miskin sekalipun tidak berarti tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan kebajikan.

Mengapa surga belum menjadi tujuan tertinggi?

Kelahiran di alam bahagia tetap merupakan kelahiran. Artinya, ia masih termasuk kondisi yang muncul karena sebab tertentu. Dan apa pun yang muncul karena kondisi tersebut tidak berlangsung selamanya.

Surga, dalam kerangka ini, menyenangkan. Tetapi tidak final. Di sinilah tujuan ketiga menjadi penting.

Kebahagiaan tertinggi: Nibbana

Kekayaan dapat hilang.
Tubuh berubah.
Kesehatan menurun.
Hubungan berakhir.
Kehidupan manusia berakhir.
Kehidupan surgawi pun tidak kekal.

Karena itu, kebahagiaan tertinggi tidak dapat bergantung pada sesuatu yang masih dapat berubah.

Nibbana bukan “surga yang paling tinggi”.

Ia bukan versi sempurna dari kehidupan duniawi.
Ia adalah pembebasan dari mekanisme kemelekatan dan dari kelahiran kembali itu sendiri.

Maka tiga tingkat kebahagiaan tersebut membentuk satu proses belajar hidup layak, belajar hidup baik, dan akhirnya belajar terbebas.

Apakah Agama Buddha Mengenal Tuhan?


Pertanyaan mengenai “Tuhan dalam agama Buddha” merupakan salah satu sumber kesalahpahaman terbesar ketika Buddhisme dibicarakan dalam masyarakat yang terbiasa memahami agama melalui kategori teistik.

Kesalahpahaman sering bermula bukan dari ajaran itu sendiri, melainkan dari bahasa.

Ketika suatu tradisi keagamaan tidak menggunakan kata yang sama seperti tradisi lain, orang dapat tergoda untuk menyimpulkan bahwa konsep yang dimaksud sama sekali tidak dikenal. Padahal sebuah istilah selalu berada di dalam konteks bahasa tertentu.

Tipitaka menggunakan bahasa Pali. Karena itu, kata Indonesia “Tuhan” tentu bukan istilah asli yang digunakan di dalamnya.

Bhikkhu Uttamo menggunakan analogi sederhana untuk menjelaskan masalah ini.

Kata “telunjuk” adalah kata dalam bahasa Indonesia. Jika seseorang membuka kamus bahasa Inggris, ia tidak akan menemukan kata “telunjuk” dalam bentuk yang sama. Namun, tidak seorang pun yang masuk akal akan menyimpulkan bahwa orang Inggris tidak memiliki jari telunjuk.

Yang berbeda adalah istilahnya, bukan realitas yang dibicarakan secara otomatis.

Karena itu, pertanyaan yang lebih produktif bukan “Apakah kata Tuhan terdapat di dalam Tipitaka?” melainkan “Bagaimana Buddhisme berbicara tentang tujuan tertinggi yang melampaui seluruh kondisi duniawi?”

Dalam kerangka penjelasan Bhikkhu Uttamo, pemaknaan tentang Tuhan atau Ketuhanan diarahkan kepada Nibbana atau Nirvana dalam bahasa Sanskerta.

Nibbana bukan sosok pencipta

Nibbana tidak dipahami sebagai pribadi adikodrati yang:
menciptakan alam semesta,
mengatur nasib manusia,
mendengar permohonan,
menerima persembahan,
marah,
cemburu,
atau memberikan hadiah serta hukuman berdasarkan permintaan seseorang.

Nibbana juga bukan dewa tertinggi.
Ia bukan suatu makhluk.
Ia bukan pula sebuah alam surgawi.

Nibbana merupakan tujuan tertinggi dalam jalan Buddhis: berakhirnya kemelekatan, ketamakan, kebencian, ketidaktahuan, dan pada akhirnya berakhirnya kelahiran kembali.

Dalam penjelasan Bhikkhu Uttamo, Nibbana dibahas dalam konteks “Ketuhanan Yang Maha Esa” di Indonesia. Formulasi tersebut harus dibaca sebagai bagian dari kerangka penjelasannya. Yang hendak ditunjukkan bukan bahwa Nibbana merupakan Tuhan personal dalam pengertian agama teistik, melainkan bahwa pembicaraan Buddhis tentang realitas tertinggi menggunakan kerangka yang sangat berbeda.

Karena itu, memaksakan semua sifat Tuhan yang personal pada Nibbana akan mengubah arti Nibbana itu sendiri.

Mengapa Nibbana dijelaskan melalui kata “tidak”?

Manusia biasanya memahami sesuatu melalui karakteristik yang dapat dipikirkan.

Kita mengatakan  bahwa orang ini melihat, orang itu mendengar, seseorang mencintai, seseorang marah, atau seseorang menghendaki sesuatu.

Dalam pembicaraan keagamaan, pola serupa sering digunakan terhadap Tuhan: melihat, mendengar, mengasihi, murka, berkehendak, dan sebagainya.

Pendekatan terhadap Nibbana dalam uraian Bhikkhu Uttamo berbeda.

Ia menggunakan pendekatan nafi, yaitu menunjukkan apa yang tidak dapat dilekatkan kepada Nibbana:
tidak terlahirkan,
tidak menjelma,
tidak berkondisi,
tidak bergantung pada kondisi,
dan tidak dapat sepenuhnya ditangkap melalui konsep manusia.

Pernyataan bahwa Nibbana “tidak terpikirkan” bukan berarti Nibbana “tidak ada”. Masalahnya adalah keterbatasan bahasa dan pengalaman.

Perumpamaan durian

Bayangkan seseorang yang belum pernah melihat durian. Ia belum pernah mencium aromanya. Ia belum pernah menyentuh kulitnya. Ia juga belum pernah merasakannya.

Orang lain dapat menjelaskan bahwa durian berduri memiliki aroma yang sangat khas, tekstur tertentu, dan rasa tertentu. Namun, sepandai apa pun penjelasannya, pengalaman memakan durian tidak dapat dipindahkan secara sempurna kepada orang yang belum pernah mengalaminya.

Pada akhirnya, orang itu harus berhadapan langsung dengan durian. Ia perlu melihat. Mencium. Menyentuh. Dan mencicipinya.

Demikian pula Nibbana.
Kata-kata dapat memberikan arah.
Konsep dapat membantu.
Penjelasan dapat mengurangi kesalahpahaman.
Tetapi konsep bukan realisasi.

Karena itu, Buddhisme tidak berhenti pada pembicaraan tentang Nibbana, melainkan menunjukkan jalan menuju realisasi.

Ehipassiko: datang dan buktikan

Dalam konteks inilah prinsip ehipassiko menjadi penting. Dhamma tidak hanya dimaksudkan untuk dipercaya karena dikatakan oleh seorang guru tertentu.

Ia perlu dipraktikkan.
Diperiksa.
Dan direalisasikan.

Jalan yang membawa kepada pembebasan tersebut adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Dengan demikian, pertanyaan terdalam Buddhisme bukan “Apakah saya percaya kepada Nibbana?” melainkan “Apakah kehidupan saya bergerak menuju berkurangnya ketamakan, kebencian, dan ketidaktahuan?”

Jika tidak, konsep Nibbana masih berhenti sebagai wacana.
Jika iya, Dhamma mulai masuk ke dalam kehidupan.