Salah satu kesalahpahaman terbesar mengenai Nibbana adalah membayangkannya sebagai suatu tempat yang dimasuki setelah seseorang meninggal.
Berdasarkan penjelasan Bhikkhu Uttamo, Nibbana bukan tempat. Nibbana bukan surga.
Ia berkaitan dengan berakhirnya ketamakan, kebencian, dan kegelapan batin.
Karena semua itu merupakan persoalan batin, proses pembebasan berlangsung dalam kehidupan. Nibbana dengan demikian tidak harus dipahami sebagai sesuatu yang hanya relevan setelah kematian.
Bagaimana jika belum mencapai Nibbana?
Seseorang tidak harus mencapai pembebasan sempurna dalam satu kehidupan agar praktik Dhamma mempunyai manfaat. Jalan Mulia bukan sistem: “berhasil total atau sia-sia.”
Setiap pengurangan penyebab penderitaan membawa perubahan.
Sedikit berkurangnya keserakahan mengurangi masalah.
Berkurangnya kebencian memperbaiki hubungan.
Berkurangnya delusi menghasilkan keputusan yang lebih jernih.
Ucapan yang benar mengurangi konflik.
Perbuatan etis mengurangi penyesalan.
Konsentrasi memperkuat kestabilan.
Perhatian mengurangi reaktivitas.
Karena itu, belum mencapai Nibbana bukan alasan untuk tidak berlatih. Jalan itu sendiri sudah menghasilkan perubahan. Namun, arah akhirnya tetap pembebasan penuh.
Dhamma bukan sekadar sesuatu yang dipercayai
Salah satu benang merah terkuat dalam seluruh penjelasan Bhikkhu
Uttamo adalah bahwa Dhamma harus diuji melalui kehidupan.
Jika seseorang mempelajari cinta kasih tetapi justru semakin mudah
membenci, itu ada masalah.
Jika mempelajari pelepasan tetapi semakin terobsesi dengan status, itu ada
masalah.
Jika membaca paritta tetapi setiap hari terus berbohong, ritual tersebut belum berfungsi.
Jika bermeditasi tetapi justru merasa lebih suci daripada semua
orang, keakuan hanya berganti pakaian.
Karena itu, pembuktian Dhamma tidak harus dimulai dari pengalaman
mistik.
Ia dapat dimulai dari kehidupan sehari-hari.
Apakah batin lebih stabil?
Apakah hubungan lebih baik?
Apakah perubahan lebih mudah diterima?
Apakah kebutuhan semakin dapat dibedakan dari ketamakan?
Apakah kebencian semakin cepat dikenali?
Apakah tindakan semakin bertanggung jawab?
Apakah seseorang lebih sedikit menyalahkan dunia atas semua penderitaannya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih serius daripada sekadar
identitas agama.
Dari kehidupan duniawi menuju kebebasan
Keseluruhan jalan dapat dibaca sebagai
perkembangan yang bertahap.
Pertama, manusia belajar hidup dengan
benar.
Ia bekerja.
Memenuhi kebutuhan.
Membangun keluarga.
Belajar merasa cukup.
Kemudian ia belajar bahwa hidup tidak
hanya untuk dirinya sendiri.
Ia berbagi.
Mengembangkan kebajikan.
Membangun cinta kasih.
Memahami kamma sebagai tanggung jawab.
Setelah itu, ia mulai menyadari bahwa bahkan pengalaman yang menyenangkan pun tidak kekal.
Kekayaan tidak kekal.
Kesehatan tidak kekal.
Hubungan tidak kekal.
Bahkan alam surgawi tidak kekal.
Pencarian lalu bergerak lebih dalam.
Pertanyaannya bukan lagi “Bagaimana saya memperoleh sebanyak mungkin hal yang saya sukai?” tetapi “Dapatkah saya terbebas dari keharusan bahwa dunia harus selalu mengikuti apa yang saya sukai dan tidak sukai?”
Pada titik itulah Nibbana berhenti menjadi istilah yang abstrak. Ia menjadi arah hidup.







_(38686595785)%5B1%5D.jpg)
Follow My Journey
"If you find a wise companion to journey with, walk together." — Buddha
Connect and let’s grow together: