Namo Buddhaya

Buddha Gautama

"Aku tidak mengajar untuk menjadikanmu sebagai murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk membuatmu menjadi murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk memutuskan hubunganmu dengan gurumu yang lama. Aku bahkan tidak tertarik untuk mengubah tujuanmu,karena setiap orang ingin lepas dari penderitaan.
Cobalah apa yang telah Kutemukan ini,dan nilailah oleh dirimu sendiri. Jika itu baik bagimu,terimalah. Jika tidak, janganlah engkau terima."


(Digha Nikaya 25; Patika Vagga;Udumbarika-Sīhanāda Sutta)

Dhamma Event

https://www.instagram.com/p/DbMqpeeJrl_/
Showing posts with label Pengantar Buddhisme. Show all posts

[Buddhisme dalam Ringkasan] Dari Penderitaan, Kamma, hingga Jalan Pembebasan


Buddhisme sering kali diperkenalkan sebagai sebuah agama. Namun, memahami Buddhisme hanya sebagai agama sebenarnya belum cukup untuk menangkap keseluruhan sifatnya. Buddhisme juga dapat dipahami sebagai filsafat kehidupan, metode pengembangan batin, sekaligus jalan praktik yang bertujuan membawa manusia menuju pemahaman yang lebih jernih tentang dirinya sendiri, kehidupannya, penderitaan, serta kemungkinan untuk terbebas darinya.

Baca juga: Apa itu Buddhisme? dan Dasar-Dasar Buddhisme

Dalam penjelasan Bhikkhu Dhammika, istilah Buddhisme berkaitan dengan makna “terbangun” atau “tercerahkan”. Tradisi ini berawal lebih dari 2.500 tahun lalu, ketika Siddhattha Gotama mencapai pencerahan pada usia sekitar 35 tahun dan kemudian dikenal sebagai Buddha, “Yang Telah Terbangun”.

Namun, inti Buddhisme bukanlah sekadar mengetahui siapa Buddha atau menerima seperangkat kepercayaan tertentu. Jalan Buddhis pada dasarnya menuntut manusia untuk menjalani kehidupan secara etis, menyadari dengan jelas pikiran serta tindakannya, lalu mengembangkan pemahaman dan kebijaksanaan.

Dengan kata lain, Buddhisme tidak berhenti pada apa yang harus dipercayai. Pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana seseorang hidup, memahami pengalaman, mengelola pikirannya, dan membebaskan dirinya dari sebab-sebab penderitaan?

Buddha: Guru yang Menemukan Jalan, Bukan Tuhan Pencipta

Bhikkhu Dhammika merangkum kehidupan Siddhattha Gotama sebagai perjalanan seorang manusia yang secara mendalam mempertanyakan makna kebahagiaan.

Siddhattha lahir di Lumbini, wilayah yang kini berada di Nepal, dalam lingkungan keluarga kerajaan. Sekitar usia 29 tahun, ia menyadari bahwa kenyamanan material dan keamanan duniawi tidak dengan sendirinya dapat memberikan kebahagiaan yang kokoh.

Kesadaran tersebut mendorongnya untuk meninggalkan kehidupan lamanya demi mencari jawaban. Ia mempelajari berbagai ajaran, agama, filsafat, dan metode meditasi yang berkembang pada zamannya. Setelah sekitar enam tahun pencarian dan latihan, ia menemukan Jalan Tengah dan mencapai pencerahan.

Sejak itu ia dikenal sebagai Buddha.

Buddha tidak mengaku sebagai Tuhan. Ia juga tidak mengajarkan bahwa dirinya adalah pencipta alam semesta yang harus disembah agar manusia memperoleh keselamatan. Ia tampil sebagai seorang guru yang menunjukkan jalan menuju pencerahan berdasarkan apa yang telah ia realisasikan sendiri.

Selama sisa kehidupannya hingga meninggal pada usia sekitar 80 tahun, Buddha mengajarkan Dhamma, kebenaran dan jalan latihan yang ia temukan, agar manusia dapat memahaminya dan membuktikannya melalui pengalaman mereka sendiri.

Pemahaman ini juga menjelaskan posisi rupang atau patung Buddha dalam tradisi Buddhisme.

Umat Buddha menghormati citra Buddha, tetapi penghormatan tersebut bukan berarti meminta Buddha memenuhi berbagai keinginan duniawi. Rupang Buddha dapat menjadi pengingat terhadap kualitas batin yang hendak dikembangkan: ketenangan, kasih sayang, kebijaksanaan, dan kedamaian.

Sikap menghormat atau bersujud di hadapan rupang Buddha terutama merupakan ungkapan penghargaan dan rasa terima kasih terhadap Buddha dan ajaran yang ditunjukkannya.

Buddhisme sebagai Cara Hidup

Jika Buddhisme dipandang sebagai filsafat, hal itu berkaitan dengan pencarian terhadap kebijaksanaan. Akan tetapi, Buddhisme bukan filsafat yang berhenti pada diskusi intelektual.

Jalan Buddhis menuntut praktik nyata. Secara sederhana, jalan tersebut dapat diringkas ke dalam tiga orientasi besar.

Pertama, menjalani kehidupan yang bermoral.
Kedua, membangun kesadaran yang jelas terhadap pikiran, ucapan, dan tindakan.
Ketiga, mengembangkan pemahaman dan kebijaksanaan.

Karena itulah Buddhisme juga dapat disebut sebagai suatu cara hidup.

Buddhisme berusaha membantu manusia memahami tujuan hidupnya, menghadapi kenyataan ketidakadilan dan ketimpangan dalam kehidupan, serta menyediakan metode praktis untuk mencari kebahagiaan yang tidak sepenuhnya bergantung pada keadaan eksternal.

Bhikkhu Dhammika juga melihat salah satu alasan berkembangnya minat terhadap Buddhisme di masyarakat modern, termasuk di negara-negara Barat, pada kemampuannya menawarkan perspektif terhadap persoalan yang muncul dalam masyarakat materialistis. Buddhisme memberikan perhatian yang sangat besar pada pemahaman mengenai pikiran manusia dan cara mengolahnya.

Karena itu, kekuatan Buddhisme bukan terutama terletak pada janji untuk mengubah dunia agar selalu sesuai dengan keinginan kita. Justru sebaliknya: Buddhisme meminta manusia untuk terlebih dahulu memahami bagaimana pikirannya bereaksi terhadap dunia.

Apakah Kemakmuran Material menjadi Ukuran Keberhasilan Buddhisme?

Ada anggapan bahwa jika Buddhisme mengajarkan jalan menuju kebahagiaan, negara-negara dengan masyarakat Buddhis seharusnya semuanya makmur.

Bhikkhu Dhammika menolak logika sederhana tersebut.

Ia menunjuk contoh seperti Jepang, yang memiliki tradisi Buddhisme yang kuat sekaligus berkembang secara ekonomi, serta Thailand yang juga mengalami perkembangan ekonomi. Namun, persoalan yang lebih mendasar adalah bahwa Buddhisme memang tidak pernah mengajarkan bahwa kekayaan merupakan jaminan kebahagiaan.

Kekayaan bersifat tidak kekal. Orang kaya maupun miskin tetap dapat mengalami penderitaan.

Karena itu, ukuran kebahagiaan dalam Buddhisme tidak dapat direduksi menjadi pendapatan, harta benda, atau tingkat kemakmuran ekonomi. Kebahagiaan yang dimaksud berhubungan dengan pemahaman dan pembebasan batin.

Banyak Tradisi, Satu Fondasi Dhamma

Buddhisme berkembang selama ribuan tahun di berbagai wilayah dan kebudayaan. Karena itu, tidak mengherankan jika muncul beragam mazhab, tradisi, kebiasaan, dan bentuk praktik. Perbedaan-perbedaan tersebut sebagian berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan tempat Buddhisme berkembang.

Namun, menurut Bhikkhu Dhammika, perbedaan tradisi tidak mengubah fondasi dasarnya: Dhamma atau kebenaran yang menjadi inti ajaran Buddha.

Keragaman bentuk tidak harus berarti perpecahan pada inti ajaran.

Sikap serupa juga terlihat dalam hubungan Buddhisme dengan agama-agama lain. Buddhisme digambarkan sebagai tradisi yang relatif terbuka terhadap ajaran moral yang terdapat dalam kepercayaan lain. Identitas keagamaan seseorang tidak menjadi pusat penilaian.

Yang dianggap lebih penting adalah pemahaman, kebijaksanaan, moralitas, dan kualitas kehidupan seseorang.

Karena orientasi ini, Buddhisme tidak menempatkan konversi orang lain sebagai tujuan utama. Dhamma dapat dijelaskan kepada mereka yang ingin memahami dan mempelajarinya, bukan dipaksakan kepada mereka yang tidak menginginkannya.

Menguji, Bukan Sekadar Mempercayai

Salah satu karakter penting dalam Buddhisme adalah penekanannya pada pemeriksaan dan pengalaman langsung.

Buddha tidak meminta para pengikutnya menerima ajarannya semata-mata karena ajaran tersebut berasal darinya. Mereka justru didorong untuk menyelidiki dan memahami ajaran tersebut melalui pengalaman.

Bhikkhu Dhammika menghubungkan pendekatan ini dengan sikap ilmiah: suatu pengetahuan diuji melalui pengamatan dan pengalaman, bukan hanya diterima berdasarkan otoritas.

Karena itu, dalam kerangka ini Buddhisme memberikan tempat yang sangat besar kepada kebijaksanaan dibandingkan dengan kepercayaan yang tidak diperiksa.

Salah satu bagian utama ajaran yang harus dipahami dan dialami tersebut adalah Empat Kebenaran Mulia.

Empat Kebenaran Mulia: Diagnosis terhadap Persoalan Kehidupan

Ajaran Buddha sangat luas, tetapi Bhikkhu Dhammika merangkum fondasinya terutama melalui Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Empat Kebenaran Mulia dapat dibaca sebagai rangkaian yang sangat logis: mengenali persoalan, memahami penyebabnya, mengetahui bahwa persoalan tersebut dapat diakhiri, kemudian menjalani jalan yang mengarah pada berakhirnya persoalan tersebut.

1. Kenyataan tentang Penderitaan

Kebenaran pertama adalah kenyataan adanya penderitaan dalam kehidupan.

Manusia mengalami sakit jasmani, penuaan, penyakit, dan kematian. Namun, penderitaan tidak hanya bersifat fisik. Kita juga mengalami kesepian, kemarahan, ketakutan, kebingungan, frustrasi, kekecewaan, kegelisahan, dan berbagai bentuk tekanan mental lainnya.

Mengakui kenyataan ini bukan berarti Buddhisme bersifat pesimistis. Pesimisme berarti mengharapkan segala sesuatu menjadi buruk. 

Buddhisme justru memulai dari pengamatan terhadap kondisi kehidupan sebagaimana adanya, kemudian menanyakan apakah penderitaan tersebut dapat dipahami dan diatasi.

Pengakuan terhadap penderitaan bukanlah akhir ajaran Buddha. Itu justru titik awal pencarian jalan keluar.

2. Penyebab Penderitaan

Kebenaran kedua menunjukkan bahwa penderitaan berhubungan erat dengan keinginan, nafsu keinginan, dan kemelekatan.

Kita dapat menderita ketika mengharapkan orang lain bersikap sesuai dengan keinginan kita.
Kita menderita ketika tidak memperoleh apa yang kita inginkan.

Namun, persoalannya bahkan tidak selesai setelah keinginan terpenuhi. Memperoleh sesuatu yang kita inginkan tidak selalu memberikan kebahagiaan yang bertahan lama, karena pikiran dapat segera menciptakan keinginan berikutnya. Karena itu, masalahnya bukan sekadar apakah keinginan kita berhasil dipenuhi.

Bhikkhu Dhammika mengarahkan perhatian pada sesuatu yang lebih mendasar: sifat pikiran yang terus-menerus menginginkan sesuatu dapat merampas kemampuan kita untuk merasa cukup.

Jika seluruh kehidupan dihabiskan untuk memaksa dunia memenuhi setiap keinginan, penderitaan tidak akan pernah benar-benar berakhir.

Transformasi yang lebih mendalam membutuhkan perubahan terhadap keinginan itu sendiri.

3. Penderitaan Dapat Diakhiri

Kebenaran ketiga merupakan aspek yang menentukan: penderitaan bukan keadaan yang tidak dapat diubah.

Ada kemungkinan untuk mengakhirinya.

Ketika kemelekatan dan keinginan yang terus menuntut mulai dilepaskan, manusia dapat belajar menjalani hidup dari hari ke hari dengan kebebasan dan kedamaian yang lebih besar.

Energi yang sebelumnya dihabiskan untuk mengejar, mempertahankan, menolak, atau mengkhawatirkan berbagai hal dapat digunakan untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna, termasuk membantu orang lain.

Keadaan terbebas dari akar penderitaan inilah yang disebut Nibbāna.

Dengan demikian, Nibbāna bukan sekadar konsep abstrak yang muncul terpisah dari persoalan kehidupan. Ia berada dalam kerangka yang sangat jelas: penderitaan ada, penderitaan mempunyai sebab, dan sebab tersebut dapat dihentikan.

4. Ada Jalan Menuju Berakhirnya Penderitaan

Mengetahui bahwa pembebasan mungkin tidak memadai. Dibutuhkan metode.

Kebenaran keempat, karena itu menunjukkan jalan menuju berakhirnya penderitaan, yaitu Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Jalan Mulia Berunsur Delapan: Mengubah Seluruh Cara Hidup

Jalan Mulia Berunsur Delapan terdiri atas:

  1. Pandangan Benar,
  2. Pikiran Benar,
  3. Ucapan Benar,
  4. Perbuatan Benar,
  5. Penghidupan Benar,
  6. Usaha Benar,
  7. Perhatian atau Kesadaran Benar,
  8. Konsentrasi Benar.

Delapan unsur ini menunjukkan bahwa praktik Buddhisme tidak dibatasi pada meditasi.

Bagaimana seseorang memandang kehidupan merupakan sesuatu yang penting.
Bagaimana ia berpikir, penting.
Bagaimana ia berbicara, penting.
Bagaimana ia bertindak dan mencari nafkah, juga penting.
Demikian pula dengan bagaimana ia mengarahkan usaha, menjaga kesadaran, dan melatih konsentrasi.
Seluruh kehidupan menjadi bagian dari jalan.

Karena itu, Jalan Mulia Berunsur Delapan merupakan jalan pengembangan moralitas, kesadaran, dan kebijaksanaan. Praktik tersebut menghubungkan pikiran, ucapan, tindakan, pemahaman terhadap Empat Kebenaran Mulia, dan perkembangan kasih sayang terhadap makhluk lain.

Lima Sila: Fondasi Etis Kehidupan Buddhis

Salah satu bentuk paling konkret dari latihan moral dalam Buddhisme adalah Lima Sila.

Lima prinsip tersebut adalah:

  1. tidak membunuh atau menghilangkan kehidupan;
  2. tidak mengambil sesuatu yang tidak diberikan;
  3. tidak melakukan perilaku seksual yang salah;
  4. tidak berdusta;
  5. tidak menggunakan zat memabukkan yang mengaburkan kesadaran.

Lima Sila memperlihatkan bahwa moralitas Buddhis berkaitan erat dengan konsekuensi tindakan terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Etika bukan hanya persoalan menaati aturan. Etika merupakan bagian dari latihan batin.

Seseorang tidak mungkin berharap memperoleh kejernihan pikiran jika kehidupannya terus dipenuhi tindakan yang menimbulkan kerugian, kebohongan, ketidakbertanggungjawaban, atau hilangnya kewaspadaan.

Kamma: Tanggung Jawab terhadap Tindakan

Konsep lain yang sangat penting dalam Buddhisme adalah kamma.

Bhikkhu Dhammika menjelaskannya melalui prinsip bahwa tindakan memiliki akibat. Setiap sebab membawa konsekuensi tertentu, sehingga manusia tidak dapat sepenuhnya memisahkan kondisi kehidupannya dari tindakan yang dilakukan.

Dalam kerangka penjelasan ini, kamma digunakan untuk memahami mengapa kondisi kehidupan manusia dapat berbeda-beda, termasuk kondisi saat dilahirkan, kemampuan yang dimiliki, maupun panjang-pendeknya kehidupan.

Namun, pesan praktis yang paling kuat dalam pembahasan kamma adalah tanggung jawab pribadi. Apa yang kita lakukan mempunyai konsekuensi.

Untuk menilai suatu tindakan, Bhikkhu Dhammika mengusulkan tiga hal yang perlu diperhatikan:

  • apa niat yang mendasari tindakan tersebut;
  • apa akibat tindakan tersebut bagi diri sendiri;
  • apa akibatnya bagi orang lain.

Dengan demikian, pembicaraan tentang kamma seharusnya tidak hanya diarahkan pada spekulasi mengenai masa lalu.

Pertanyaan yang jauh lebih praktis adalah: apa yang sedang saya lakukan sekarang, dengan niat apa saya melakukannya, dan apa akibatnya?

Kebijaksanaan Tanpa Welas Asih Tidaklah Lengkap

Buddhisme memberikan tempat yang sangat penting kepada kebijaksanaan. Tetapi kebijaksanaan tidak boleh berkembang sendirian. Kebijaksanaan harus berjalan bersama welas asih.

Bhikkhu Dhammika menggambarkan dua ekstrem yang sama-sama tidak memadai.

Seseorang dapat berhati baik tetapi tidak memiliki kebijaksanaan yang cukup. Sebaliknya, seseorang dapat memiliki banyak pengetahuan tetapi miskin kepedulian terhadap orang lain.

Jalan Buddhis menolak keduanya.

Manusia perlu mengembangkan pemahaman yang jernih sekaligus kualitas hati.

Dalam pengertian tertingginya, kebijaksanaan berarti melihat kenyataan dengan lebih jelas bahwa setiap fenomena merupakan kondisi yang tidak sempurna, tidak kekal, dan tidak memiliki suatu inti tetap yang tidak berubah.

Kebijaksanaan semacam ini tidak muncul hanya karena seseorang mempercayai sebuah ajaran, melainkan harus dipahami dan dialami.

Karena itu, kebijaksanaan membutuhkan pikiran terbuka, objektivitas, keberanian untuk memeriksa keyakinan sendiri, kesabaran, keluwesan, dan kecerdasan.

Welas Asih Dimulai dari Pemahaman

Welas asih mencakup kesediaan untuk berbagi, menghibur, memahami, memperhatikan, dan peduli terhadap orang lain. Buddhisme menghubungkan welas asih dengan kebijaksanaan.

Menurut Bhikkhu Dhammika, manusia dapat memahami orang lain dengan lebih mendalam ketika ia juga memahami dirinya sendiri.

Pernyataan ini penting.

Tanpa pemahaman terhadap pikiran sendiri, apa yang disebut “kepedulian” mudah bercampur dengan kebutuhan pribadi, keinginan untuk mengendalikan, penilaian, atau harapan agar orang lain menjadi seperti yang kita inginkan.

Kebijaksanaan membantu welas asih menjadi lebih jernih. Sebaliknya, welas asih mencegah kebijaksanaan berubah menjadi kecerdasan yang dingin dan tidak manusiawi.

Keduanya harus tumbuh bersama.

Jadi, Bagaimana Seseorang Menjadi Buddhis?

Jawabannya tidak diawali dengan tuntutan untuk menerima seluruh ajaran tanpa pertanyaan.

Siapa pun dapat mempelajari ajaran Buddha, mencobanya, dan melihat bagaimana ajaran tersebut bekerja dalam kehidupannya.

Buddha mengarahkan manusia untuk mencari pemahaman melalui dirinya sendiri. Jawaban terhadap persoalan mendasar kehidupan tidak ditemukan hanya dengan bergantung pada sesuatu di luar diri.

Manusia perlu mengamati pikirannya, memahami tindakannya, dan mengambil tanggung jawab atas kehidupannya.

Karena itulah, Buddha tidak mengajarkan para muridnya untuk langsung menerima setiap perkataannya hanya atas dasar kepercayaan. Ajaran tersebut harus diselidiki dan diuji.

Pada akhirnya, setiap orang harus membuat keputusan sendiri. Setiap orang juga menanggung tanggung jawab atas tindakan dan pemahamannya sendiri.

Dalam pengertian tersebut, Buddhisme bukan sekadar kumpulan dogma yang harus diterima sekaligus tanpa pemeriksaan. Ia merupakan jalan pembelajaran dan praktik yang harus dipahami, diterapkan, dan dialami secara nyata.

Inti Buddhisme: Berhenti Menuntut Dunia, Mulai Memahami Pikiran

Jika seluruh pengantar Buddhisme ini hendak dipadatkan menjadi satu gagasan besar, intinya bukanlah bahwa manusia harus melarikan diri dari kehidupan.

Buddhisme justru meminta manusia melihat kehidupan secara lebih jernih.
Penderitaan ada.
Penderitaan memiliki sebab.
Sebabnya dapat dihentikan.
Dan ada jalan yang dapat dilatih untuk menghentikannya.
Jalan tersebut membutuhkan etika, kesadaran, konsentrasi, kebijaksanaan, dan welas asih.

Buddhisme tidak menjanjikan bahwa dunia akan selalu mengikuti keinginan kita. Ia mengajarkan sesuatu yang lebih mendasar: kebebasan tidak lahir dari keberhasilan mengendalikan seluruh keadaan, melainkan dari pemahaman terhadap pikiran yang terus menciptakan kemelekatan pada keadaan tersebut.

Karena itu, pertanyaan penting dalam Buddhisme bukan semata-mata: “Apa yang harus saya percayai?” melainkan “Apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam pikiran saya, apa akibat dari cara saya hidup, dan apakah saya sedang bergerak menuju semakin banyak kemelekatan atau semakin besar kebebasan?”

Di titik inilah Buddhisme berubah dari sekadar pengetahuan tentang sebuah agama menjadi sebuah jalan yang benar-benar harus dijalani.


Sumber: A summary of the fundamentals of Buddhism – Bhikkhu Shravasti Dhammika

Nibbana Tidak Menunggu Kematian


Salah satu kesalahpahaman terbesar mengenai Nibbana adalah membayangkannya sebagai suatu tempat yang dimasuki setelah seseorang meninggal.

Berdasarkan penjelasan Bhikkhu Uttamo, Nibbana bukan tempat. Nibbana bukan surga.

Ia berkaitan dengan berakhirnya ketamakan, kebencian, dan kegelapan batin.

Karena semua itu merupakan persoalan batin, proses pembebasan berlangsung dalam kehidupan. Nibbana dengan demikian tidak harus dipahami sebagai sesuatu yang hanya relevan setelah kematian.

Bagaimana jika belum mencapai Nibbana?

Seseorang tidak harus mencapai pembebasan sempurna dalam satu kehidupan agar praktik Dhamma mempunyai manfaat. Jalan Mulia bukan sistem: “berhasil total atau sia-sia.”

Setiap pengurangan penyebab penderitaan membawa perubahan.
Sedikit berkurangnya keserakahan mengurangi masalah.
Berkurangnya kebencian memperbaiki hubungan.
Berkurangnya delusi menghasilkan keputusan yang lebih jernih.
Ucapan yang benar mengurangi konflik.
Perbuatan etis mengurangi penyesalan.
Konsentrasi memperkuat kestabilan.
Perhatian mengurangi reaktivitas.

Karena itu, belum mencapai Nibbana bukan alasan untuk tidak berlatih. Jalan itu sendiri sudah menghasilkan perubahan. Namun, arah akhirnya tetap pembebasan penuh.

Dhamma bukan sekadar sesuatu yang dipercayai

Salah satu benang merah terkuat dalam seluruh penjelasan Bhikkhu Uttamo adalah bahwa Dhamma harus diuji melalui kehidupan.

Jika seseorang mempelajari cinta kasih tetapi justru semakin mudah membenci, itu ada masalah.
Jika mempelajari pelepasan tetapi semakin terobsesi dengan status, itu ada masalah.
Jika membaca paritta tetapi setiap hari terus berbohong, ritual tersebut belum berfungsi.
Jika bermeditasi tetapi justru merasa lebih suci daripada semua orang, keakuan hanya berganti pakaian.

Karena itu, pembuktian Dhamma tidak harus dimulai dari pengalaman mistik.

Ia dapat dimulai dari kehidupan sehari-hari.
Apakah batin lebih stabil?
Apakah hubungan lebih baik?
Apakah perubahan lebih mudah diterima?
Apakah kebutuhan semakin dapat dibedakan dari ketamakan?
Apakah kebencian semakin cepat dikenali?
Apakah tindakan semakin bertanggung jawab?
Apakah seseorang lebih sedikit menyalahkan dunia atas semua penderitaannya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih serius daripada sekadar identitas agama.

Dari kehidupan duniawi menuju kebebasan

Keseluruhan jalan dapat dibaca sebagai perkembangan yang bertahap.

Pertama, manusia belajar hidup dengan benar.
Ia bekerja.
Memenuhi kebutuhan.
Membangun keluarga.
Belajar merasa cukup.

Kemudian ia belajar bahwa hidup tidak hanya untuk dirinya sendiri.
Ia berbagi.
Mengembangkan kebajikan.
Membangun cinta kasih.
Memahami kamma sebagai tanggung jawab.

Setelah itu, ia mulai menyadari bahwa bahkan pengalaman yang menyenangkan pun tidak kekal.
Kekayaan tidak kekal.
Kesehatan tidak kekal.
Hubungan tidak kekal.
Bahkan alam surgawi tidak kekal.

Pencarian lalu bergerak lebih dalam.

Pertanyaannya bukan lagi “Bagaimana saya memperoleh sebanyak mungkin hal yang saya sukai?” tetapi “Dapatkah saya terbebas dari keharusan bahwa dunia harus selalu mengikuti apa yang saya sukai dan tidak sukai?”

Pada titik itulah Nibbana berhenti menjadi istilah yang abstrak. Ia menjadi arah hidup.

Meditasi bagi Umat Awam


Meditasi bukan praktik eksklusif bagi bhikkhu.

Dalam kerangka Bhikkhu Uttamo, umat awam justru dianjurkan melatih meditasi secara rutin.

Latihan sederhana dapat dilakukan:
setelah bangun pada pagi hari,
dan menjelang tidur pada malam hari.

Durasi yang disarankan Bhikkhu Uttamo adalah sekitar 15 sampai 30 menit setiap kali.

Angka tersebut bukan ukuran kesucian. Nilainya terletak pada konsistensi. Meditasi singkat yang dilakukan teratur lebih berguna daripada semangat besar yang hanya muncul sesekali.

Samatha Bhavana

Latihan dasar yang dibahas adalah Samatha Bhavana, yaitu pengembangan ketenangan dan konsentrasi. Salah satu objek yang digunakan adalah napas.

Prinsipnya sangat sederhana.
Tidak perlu mengatur napas.
Tidak perlu memaksa panjang.
Tidak perlu memaksa pendek.
Tidak perlu menciptakan ritme tertentu.
Biarkan pernapasan berlangsung secara alami.

Tugas meditator adalah mengetahui napas masuk dan napas keluar.

Pikiran mengembara bukan berarti meditasi gagal

Ketika perhatian mengikuti napas, pikiran mungkin berpindah. Ke pekerjaan. Masalah keluarga. Rencana. Kenangan. Ketakutan. Khayalan. Keinginan.

Ketika itu terjadi, tugas praktisi bukan untuk marah kepada pikirannya, melainkan mengenali bahwa perhatian telah berpindah. Kemudian kembali kepada napas.

Pikiran pergi lagi. Kembali lagi.

Proses inilah latihan.

Tujuannya adalah membangun kestabilan.

Menuju Vipassana Bhavana

Ketika kemampuan memperhatikan semakin berkembang, objek latihan dapat diperluas kepada pengalaman badan dan batin.

Sensasi tubuh diketahui.
Perasaan diketahui.
Gerakan pikiran diketahui.
Keinginan diketahui.
Kemarahan diketahui.
Perubahan diketahui.

Bhikkhu Uttamo menyebutkan bahwa pengembangan kesadaran terhadap seluruh gerak badan dan batin tersebut disebut Vipassana Bhavana.

Tujuannya bukan untuk mengejar sensasi meditasi yang menyenangkan. Tujuannya adalah untuk melihat fenomena secara lebih jelas sehingga kemelekatan berkurang.

Dengan demikian, meditasi bukan pelarian dari kenyataan. Justru meditasi merupakan latihan untuk melihat kenyataan dengan lebih sedikit distorsi.

Bagaimana jika muncul “penampakan”?

Sebagian praktisi mungkin mengalami gambaran, suara, sensasi, atau pengalaman yang ditafsirkan sebagai kehadiran makhluk halus.

Bhikkhu Uttamo memberikan prinsip yang praktis: jangan menjadikannya sebagai pusat perhatian.

Jika sedang melatih konsentrasi pada napas, kembalilah pada napas. Jangan mengejar. Jangan tertarik secara berlebihan. Jangan pula langsung takut.

Dalam latihan yang lebih matang, apa pun yang muncul sudah cukup diketahui.

Ada gambaran, ketahui.
Ada rasa takut, ketahui.
Ada sensasi, ketahui.

Tidak perlu membangun cerita panjang dari pengalaman itu.

Cinta kasih sebagai respons

Bhikkhu Uttamo juga menyarankan kalimat: “Semoga semua makhluk berbahagia.” Ini merupakan pengembangan cinta kasih.

Jika pengalaman tersebut memang berkaitan dengan makhluk lain, responsnya tidak perlu disertai kebencian. Jika ia merupakan fenomena pikiran, cinta kasih tetap membantu mengurangi ketakutan dan konflik batin.

Prinsipnya sama:

jangan memperbesar gangguan.
Kembalilah kepada perhatian.
Kembangkan keseimbangan.
Dan teruskan latihan.

Mengapa Kehidupan Manusia Sangat Berharga?


Jika surga menyenangkan, mengapa kelahiran sebagai manusia justru dianggap sangat berharga dalam perkembangan spiritual?

Jawabannya terdapat pada karakter kehidupan manusia. Manusia mengalami campuran antara kenyamanan dan ketidaknyamanan yang sangat nyata.

Kita dapat:
sehat lalu sakit,
berhasil lalu gagal,
mendapat lalu kehilangan,
berkumpul lalu berpisah,
dicintai lalu kehilangan orang yang dicintai,
merasakan nyaman lalu tidak nyaman.

Karena perubahan tersebut sangat terlihat, manusia memiliki peluang besar untuk memahami ketidakkekalan. Dan ketika ketidakkekalan diperhatikan, Empat Kesunyataan Mulia tidak lagi sekadar teori.

Alam manusia dan kesempatan memahami Dhamma

Manusia dapat melihat “Ada ketidakpuasan.”

Kemudian “Ketidakpuasan ini mempunyai sebab.”

Kemudian “Cara saya melekat berperan di dalamnya.”

Dan akhirnya, “Saya perlu melatih pikiran.”

Dalam uraian Bhikkhu Uttamo, makhluk di alam bahagia mungkin mengalami kebahagiaan yang berlangsung sangat lama sehingga sulit menyadari perubahan.

Sebaliknya, makhluk dalam alam penderitaan yang sangat berat mungkin mengalami keadaan yang juga tidak kondusif bagi pengembangan kebijaksanaan.

Kehidupan manusia menyediakan kombinasi pengalaman yang memungkinkan seseorang melihat perubahan sekaligus masih memiliki ruang untuk berlatih.

Karena itu, menjadi manusia dianggap sebagai peluang spiritual. Namun peluang hanya berharga jika digunakan.

Apakah Buddhisme mengenal manusia pertama?

Pertanyaan mengenai manusia pertama juga dibahas dalam pembahasan Bhikkhu Uttamo. Namun Bhikkhu Uttamo terlebih dahulu memberikan pembatas penting: mengetahui manusia pertama bukan syarat untuk mencapai pembebasan.

Orang tidak perlu mengetahui asal-usul manusia untuk berhenti berbohong.
Tidak perlu mengetahui umur alam semesta untuk mengendalikan kebencian.
Tidak perlu mengetahui sejarah kosmos untuk mengembangkan perhatian.

Dengan demikian, Dhamma memprioritaskan persoalan yang berhubungan langsung dengan pembebasan.

Gambaran kosmologis

Meskipun demikian, Bhikkhu Uttamo memuat gambaran kosmologis.

Dunia dipandang mengalami siklus pembentukan dan kehancuran. Ketika suatu dunia terbentuk kembali, makhluk dari sistem kehidupan lain dapat muncul dalam proses tersebut.

Dalam gambaran yang diberikan, makhluk-makhluk itu pada awalnya digambarkan bercahaya. Melalui keterlibatan bertahap dengan materi, tubuh menjadi lebih kasar. Perbedaan fisik berkembang. Kemudian muncul perbedaan jenis kelamin, reproduksi, dan keturunan.

Karena itu, dalam kerangka cerita tersebut tidak terdapat satu pasangan “manusia pertama” yang tiba-tiba diciptakan. Yang muncul adalah suatu proses.

Bagaimana dengan teori ilmiah tentang asal-usul manusia?

Bhikkhu Uttamo tidak menjadikan perdebatan mengenai apakah manusia “berasal dari monyet” sebagai pusat Dhamma. Pokoknya bukan menolak atau membenarkan suatu teori biologi. Pokoknya adalah bahwa jawaban terhadap persoalan evolusi biologis tidak dengan sendirinya mengakhiri ketamakan, kebencian, dan ketidaktahuan.

Dengan demikian, terdapat pembedaan fungsi. Sains dapat meneliti sejarah biologis. Dhamma memusatkan perhatian kepada penderitaan dan pembebasan. Keduanya tidak harus dipaksa menjadi satu pertanyaan.

Kamma Bukan Takdir


Salah satu kesalahpahaman paling serius mengenai kamma adalah mengubahnya menjadi fatalisme. Ketika mengalami kesulitan, seseorang dapat berkata: “Ini karma saya. Tidak ada yang dapat dilakukan.”

Dalam penjelasan Bhikkhu Uttamo, gagasan seperti itu tidak tepat. Kamma justru menunjukkan pentingnya tindakan.

Masa lalu membentuk kondisi, bukan keputusan final

Manusia memang menerima kondisi tertentu. Seseorang lahir dalam keluarga tertentu. Mempunyai keadaan ekonomi tertentu. Tubuh tertentu. Lingkungan tertentu.

Tetapi saat ini ia tetap bertindak. Tindakan sekarang menjadi sebab baru. Karena itu, kehidupan bukan sekadar menerima akibat dari masa lalu, melainkan juga merupakan proses untuk menciptakan kondisi baru.

Contoh perubahan hidup

Seseorang dapat lahir dalam kemiskinan. Itu kondisi awal. Namun, jika ia jujur, belajar, bekerja, membangun kepercayaan, dan mengembangkan relasi yang baik, tindakannya dapat menghasilkan perubahan besar dalam kehidupannya.

Sebaliknya, seseorang dapat lahir dalam keluarga kaya. Jika hidupnya kemudian dipenuhi kebohongan, perilaku merusak, penyalahgunaan zat, dan ketidakbertanggungjawaban, maka kehidupannya dapat memburuk.

Karena itu, Buddhisme dalam kerangka ini tidak menempatkan “nasib” sebagai keputusan yang sudah final. Pertanyaan penting selalu kembali kepada “Apa yang saya lakukan sekarang?” dan “Kondisi apa yang sedang saya bangun melalui tindakan ini?”

Apakah kamma dapat diketahui dari tanda-tanda tubuh?

Dalam penjelasannya, Bhikkhu Uttamo juga membahas tradisi masyarakat yang mencoba membaca kamma seseorang melalui ciri-ciri tertentu, misalnya garis tangan.

Namun, pembatasnya sangat penting. Bhikkhu Uttamo sendiri membedakan praktik semacam itu dari ajaran Buddha. Membaca garis tangan disebut sebagai bagian dari tradisi masyarakat, bukan Buddha Dhamma.

Pembedaan ini harus dipertahankan. Tidak semua yang dilakukan masyarakat Buddhis otomatis merupakan ajaran Buddha. Buddhisme hidup dalam berbagai kebudayaan. Di dalamnya dapat bercampur Dhamma, tradisi, adat, ritual lokal, dan kepercayaan masyarakat.

Karena itu, praktisi perlu bertanya “Apakah ini Dhamma atau budaya Buddhis?”

Surga dan neraka

Dalam kosmologi yang dijelaskan Bhikkhu Uttamo, kehidupan tidak hanya terdiri atas alam manusia. Terdapat alam bahagia dan alam penderitaan.

Surga berkaitan dengan buah kebajikan.
Neraka berkaitan dengan kondisi penderitaan yang didukung oleh kamma buruk.
Namun keduanya mempunyai satu persamaan: keduanya tidak kekal.

Surga bukan Nibbana

Kelahiran di alam surgawi merupakan kondisi menyenangkan. Karena kualitas dan kekuatan kebajikan berbeda, Bhikkhu Uttamo menggambarkan adanya berbagai tingkat alam bahagia. Namun, surga bukan tujuan final.

Ketika kondisi kamma yang menopang kehidupan di sana berakhir, makhluk tersebut kembali mengalami kematian dan kelahiran sesuai dengan kondisi berikutnya.

Demikian pula neraka. Ia bukan hukuman kekal tanpa akhir. Ia merupakan kondisi penderitaan yang juga tunduk pada perubahan. Karena itu:

surga menyenangkan tetapi tidak final;
neraka menyakitkan tetapi tidak abadi;
Nibbana berada di luar proses kelahiran kembali tersebut.

Dewa dan dewi

Buddhisme, menurut Bhikkhu Uttamo mengakui keberadaan dewa dan dewi sebagai makhluk yang hidup di alam surgawi. Namun mereka tetap makhluk. Mereka mengalami kelahiran. Mereka berada dalam siklus perubahan. Mereka bukan Nibbana dan mereka bukan pencipta pembebasan.

Karena itu, keberadaan dewa tidak secara otomatis menjadikan Buddhisme sebagai praktik pemujaan dewa. Pembebasan tetap harus dijalankan melalui Dhamma.

Makhluk halus

Bhikkhu Uttamo juga menjelaskan berbagai jenis makhluk yang tidak kasatmata, yang dalam bahasa umum mungkin disebut hantu atau makhluk halus.

Namun, prinsipnya sama. Mereka adalah makhluk dalam bentuk kehidupan tertentu. Bukan pusat ajaran. Bukan tujuan pemujaan.

Pengetahuan tentang dunia non-manusia tidak boleh membuat seorang praktisi lupa pada pekerjaan yang jauh lebih dekat, yaitu melihat pikirannya sendiri.

Memahami Ritual Buddhis dan Maknanya


Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa umat Buddha menyembah patung dan meminta sesuatu kepada rupang Buddha.

Dalam kerangka penjelasan Bhikkhu Uttamo, istilah yang lebih tepat untuk praktik ritual Buddhis adalah puja bakti. Puja berarti penghormatan. Bakti diarahkan kepada pelaksanaan ajaran.

Dengan demikian, puja bakti bukan transaksi antara manusia dan rupang. Ia merupakan penghormatan kepada Buddha dan kesempatan mengingat Dhamma agar Dhamma dilaksanakan.

Mengapa bersujud?

Seorang Buddhis dapat melakukan namakara, yaitu bersujud sebagai bentuk penghormatan. Rupang Buddha menjadi lambang yang mengingatkan kepada Buddha.

Ia bukan makhluk yang hidup di dalam patung. 
Ia tidak memerlukan sujud.
Ia tidak tersinggung jika seseorang tidak bersujud.

Karena itu, nilai sujud tidak terdapat pada kebutuhan rupang.

Nilainya ada pada batin praktisi.
Sujud dapat melatih kerendahan hati.

Tubuh yang secara sengaja direndahkan dapat menjadi simbol upaya mengurangi keakuan. Namun, karena bentuk itu merupakan tradisi penghormatan, fokus tetap harus pada kualitas batin.

Paritta bukan sekadar bunyi

Setelah memberikan penghormatan, umat dapat membaca paritta.

Dalam uraian Bhikkhu Uttamo, paritta berfungsi sebagai pengulangan ajaran Buddha agar umat mengingat, merenungkan, dan melaksanakan Dhamma. Karena itu, banyaknya pembacaan tidak otomatis menunjukkan keberhasilan.

Jika seseorang membaca ajaran cinta kasih setiap minggu tetapi terus mengharapkan orang lain celaka, makna ajaran belum masuk ke dalam kehidupan.

Salah satu contoh penting adalah Karaniyametta Sutta. Ajaran tersebut mengarahkan pengembangan cinta kasih kepada seluruh makhluk. Salah satu kualitas yang ditekankan adalah tidak mengharapkan orang lain celaka hanya karena marah atau membenci mereka.

Ini bukan berarti seseorang tidak boleh menolak tindakan yang buruk.
Ia boleh melindungi diri.
Boleh menolak ketidakadilan.
Boleh membuat batas.

Tetapi penolakan terhadap tindakan tidak harus berubah menjadi keinginan agar pelakunya menderita. Itulah perbedaan antara menghadapi masalah dan memelihara kebencian.

Apa ukuran keberhasilan puja bakti?

Bukan jumlah sujud.
Bukan lamanya ritual.
Bukan banyaknya teks yang dibaca.

Ukurannya adalah:
Apa yang terjadi setelah seseorang meninggalkan tempat ibadah?
Apakah ia lebih sabar?
Lebih jujur?
Lebih sadar?
Lebih terkendali?
Lebih penuh niat baik?

Jika tidak, ritual berhenti pada tubuh dan suara.

Persembahan di altar

Makanan, buah, minuman, bunga, atau persembahan lain dalam ritual Buddhis dijelaskan sebagai tradisi dan simbol penghormatan. Makanan tidak dipersembahkan karena Buddha memerlukannya. Rupang tidak makan. Makna persembahan dikembalikan kepada orang yang melakukan.

Jika seseorang mampu memilih buah terbaik untuk altar, ia juga perlu bertanya: “Apakah saya memberikan yang terbaik melalui tindakan, ucapan, dan pikiran kepada makhluk di sekitar saya?”

Persembahan eksternal seharusnya mengingatkan pada persembahan yang lebih sulit, yaitu kualitas diri yang baik.

Apakah umat Buddha berdoa?

Manusia tentu memiliki harapan. Seorang Buddhis dapat menginginkan kesehatan, umur panjang, keberhasilan, kecukupan ekonomi, pekerjaan, atau kesejahteraan keluarga. Namun, dalam kerangka Bhikkhu Uttamo, orientasinya bukan “Saya meminta kekuatan eksternal untuk memenuhi permintaan saya.” Orientasinya adalah “Jika saya menginginkan kebahagiaan, sebab apa yang perlu saya kembangkan?”

Di sinilah kamma dan kebajikan menjadi penting.

Tiga tahap mengarahkan harapan

Bhikkhu Uttamo menjelaskan suatu pola tiga bagian.

  • Pertama, mengingat prinsip sebab-akibat sesuai dengan benih yang ditabur, demikian pula buah yang akan diperoleh.
  • Kedua, kebajikan yang telah dilakukan diarahkan pada suatu harapan tertentu, antara lain kesehatan, umur panjang, keberhasilan, atau bentuk kebahagiaan lainnya.
  • Ketiga, batin diperluas “Semoga semua makhluk berbahagia.”

Struktur ini mengandung pendidikan batin.

Harapan tidak dimulai dengan tuntutan. Ia dimulai dengan tanggung jawab. Dan ia tidak berakhir dengan ego pribadi. Ia diperluas kepada semua makhluk. Keluarga. Orang asing. Bahkan mereka yang tidak disukai.

Bagaimana dengan kebajikan yang berpamrih?

Tidak semua manusia melakukan kebaikan dengan motivasi yang sepenuhnya bebas dari kepentingan. 

Orang dapat berdana karena berharap memperoleh kamma baik.
Menolong karena berharap keberhasilan.
Berbuat baik karena ingin kelahiran yang lebih baik.

Menurut kerangka penjelasan Bhikkhu Uttamo, kebaikan semacam itu tidak secara otomatis kehilangan seluruh kualitas baiknya. Jika tindakannya benar-benar membawa manfaat, ia tetap merupakan kebajikan. 

Namun, latihan tidak berhenti di situ.

Pada tahap awal, harapan terhadap buah dapat mendorong seseorang untuk berbuat baik. Dengan semakin berkembangnya Dhamma, ketergantungan pada hasil harus berkurang. Kebajikan kemudian dilakukan karena memang itulah yang benar untuk dilakukan.

Bhikkhu Uttamo menggunakan gambaran bunga.

Bunga mekar bukan untuk meminta ditempatkan di tempat yang terhormat. Ia mekar karena prosesnya adalah mekar.

Demikian pula kebajikan yang matang. Ia semakin sedikit bergantung pada hadiah.

Empat Kesunyataan Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan


Jika Nibbana adalah tujuan tertinggi, mengapa manusia membutuhkan pembebasan?

Jawabannya terletak pada Empat Kesunyataan Mulia. Keempatnya membentuk struktur dasar untuk membaca kehidupan:

  1. adanya ketidakpuasan;
  2. sebab ketidakpuasan;
  3. berakhirnya ketidakpuasan;
  4. jalan menuju berakhirnya ketidakpuasan.

Kesunyataan pertama: hidup mengandung ketidakpuasan

Ketidakpuasan dapat dilihat melalui dua pola sederhana, berpisah dengan yang disukai, dan bertemu dengan yang tidak disukai.

“Yang disukai” tidak hanya berarti manusia.
Kesehatan.
Kenyamanan.
Reputasi.
Pekerjaan.
Uang.
Suasana.
Keadaan tubuh.
Hubungan.
Perasaan tertentu.

Demikian pula halnya dengan yang tidak disukai.
Seseorang duduk dengan nyaman. Tidak lama kemudian, kaki kesemutan. Ia telah berpisah dari kenyamanan dan bertemu dengan ketidaknyamanan.
Seseorang kenyang. Beberapa jam kemudian, merasa lapar. Ia berpisah dari kondisi yang diinginkannya dan bertemu dengan kondisi yang tidak disukainya.

Proses ini terus berlangsung.

Masalahnya bukan bahwa manusia tidak boleh menyukai kenyamanan. Masalahnya adalah tuntutan “Yang saya sukai harus tetap seperti ini.” Padahal seluruh kondisi berubah.

Kesunyataan kedua: keinginan dan kemelekatan

Ketika kenyataan tidak sesuai dengan keinginan, tekanan batin muncul.

Semakin keras pikiran berkata “Ini tidak boleh berubah,” semakin besar penderitaan ketika perubahan terjadi.

Demikian pula “Hal ini sama sekali tidak boleh menimpa saya.” Ketika hal itu tetap terjadi, penderitaan objektif ditambah dengan penolakan mental.

Rasa sakit tubuh adalah satu pengalaman.
Pikiran yang terus menolak rasa sakit dapat menjadi lapisan penderitaan yang kedua.

Kelaparan adalah satu kondisi.
Kemarahan karena sedang lapar dapat menambah beban lain.

Karena itu, dalam uraian Bhikkhu Uttamo, kekuatan keinginan dan kemelekatan berkaitan erat dengan kekuatan ketidakpuasan.

Kesunyataan ketiga: penderitaan dapat berakhir

Jika penderitaan memiliki sebab, maka lenyapnya sebab memungkinkan lenyapnya penderitaan. Jalan keluarnya bukan memaksa dunia agar berhenti berubah. Tidak mungkin.

Pertemuan akan diikuti oleh perpisahan.
Tubuh menua.
Kesehatan berubah.
Perasaan muncul dan lenyap.
Pikiran berubah.
Kondisi ekonomi berubah.
Hubungan berubah.
Kebijaksanaan tumbuh ketika manusia berhenti menuntut agar yang berubah menjadi tidak berubah.
Ketika ketidaktahuan dan kemelekatan sepenuhnya lenyap, pembebasan disebut Nibbana.

Kesunyataan keempat: jalan harus dijalankan

Buddhisme tidak berhenti pada diagnosis. Jika hanya mengatakan bahwa hidup mengandung penderitaan, ajaran itu akan menjadi ajaran yang pesimistis. Namun, sesungguhnya terdapat jalan.

Jalan tersebut adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan:

  1. Pandangan Benar;
  2. Pikiran atau Niat Benar;
  3. Ucapan Benar;
  4. Perbuatan Benar;
  5. Penghidupan Benar;
  6. Daya Upaya Benar;
  7. Perhatian Benar;
  8. Konsentrasi Benar.

Delapan unsur tersebut bukan delapan jalan terpisah. Semuanya merupakan satu cara hidup.

Bagaimana kita melihat.
Bagaimana berpikir.
Bagaimana berbicara.
Bagaimana bertindak.
Bagaimana mencari nafkah.
Bagaimana mengarahkan usaha.
Bagaimana memperhatikan.
Dan bagaimana memusatkan pikiran.

Karena itu, pembebasan bukan hanya soal meditasi, melainkan mencakup seluruh kehidupan.

Lima sila sebagai fondasi umat awam

Dalam pelaksanaan sehari-hari, latihan moral dimulai, antara lain, melalui Lima Sila (Pancasila). Seseorang berlatih menghindari:

  1. pembunuhan atau penghancuran kehidupan,
  2. mengambil apa yang tidak diberikan,
  3. perilaku seksual yang salah,
  4. ucapan tidak benar,
  5. serta konsumsi zat yang melemahkan kewaspadaan dan pengendalian diri.

Kata yang penting adalah latihan.

Sila bukan sekadar larangan dari luar. Ia mengembangkan kesadaran tentang hubungan antara niat, tindakan, dan akibat.

Sebelum bertindak, seseorang belajar melihat:
“Apa yang sedang saya lakukan?”
“Apa akibatnya?”

Ketika berbicara:
“Apakah ini benar?”
“Apakah ucapan ini membawa manfaat?”
“Apakah ia justru menciptakan penderitaan?”

Dengan semakin sadar terhadap badan dan ucapan, manusia perlahan mulai melihat sumber keduanya: pikiran.

Hidup terjadi sekarang

Pikiran manusia sering terperangkap dalam masa lalu dan masa depan. Masa lalu muncul sebagai penyesalan, nostalgia, luka, rasa bersalah, atau kebanggaan. Masa depan muncul sebagai kekhawatiran, fantasi, ketakutan, rencana, dan harapan.

Keduanya mempunyai fungsi. Masa lalu dapat menjadi bahan pembelajaran. Masa depan perlu dipersiapkan. Namun, satu-satunya waktu tindakan dapat dilakukan adalah sekarang.

Kesalahan masa lalu hanya dapat diperbaiki sekarang.
Masa depan hanya dapat dibangun sekarang.

Karena itu, perhatian pada saat ini bukan berarti melupakan masa lalu atau menolak perencanaan, melainkan memahami tempat masing-masing secara tepat.

Tiga akar penderitaan

Pembebasan dalam penjelasan Bhikkhu Uttamo berkaitan dengan lenyapnya tiga kualitas utama: ketamakan, kebencian, dan kegelapan batin atau ketidaktahuan.

Ketamakan berkata, “Lebih banyak.”
Kebencian berkata, “Singkirkan.”
Ketidaktahuan membuat seseorang gagal melihat kenyataan sebagaimana adanya.

Selama ketiga akar itu kuat, tindakan terus menimbulkan konflik dan ketidakpuasan. Karena itu, ukuran perkembangan spiritual tidak cukup dilihat dari:

berapa lama menjadi Buddhis,
berapa sering datang ke vihara,
berapa banyak paritta yang dihafal,
atau berapa lama seseorang duduk bermeditasi.

Ukuran yang lebih tajam adalah:

Apakah keserakahan berkurang?
Apakah kebencian berkurang?
Apakah ketidaktahuan berkurang?
Apakah ucapan lebih terkendali?
Apakah tindakan lebih sedikit merugikan?
Apakah seseorang lebih cepat sadar ketika batinnya mulai bereaksi?

Dhamma seharusnya terlihat melalui transformasi.