Saya datang ke kegiatan One Day Mindfulness di Vihāra Jakarta Dhammacakka Jaya dalam posisi yang mungkin berbeda dari sebagian peserta lainnya. Saya belum menjadi umat Buddha. Saya masih belajar Buddhisme secara mandiri dan berusaha memahami Dhamma sedikit demi sedikit.
Saya juga belum memiliki pengalaman mengikuti puja di vihāra.
Saya belum pernah membaca Paritta. Pelafalan bahasa Pāli masih terasa asing. Saya belum memahami kapan harus berdiri, duduk, ber-añjali, ber-namakkāra, ataupun mengikuti bacaan tertentu. Bahkan hal-hal yang mungkin sudah menjadi kebiasaan sederhana bagi umat Buddha masih merupakan sesuatu yang harus saya amati dan pelajari.
Namun, ada satu hal yang sejak awal tidak menjadi persoalan bagi saya: meskipun belum menjadi umat Buddha, saya bersedia melakukan penghormatan kepada Sang Buddha. Saya bersedia ber-añjali, melakukan namakkāra, dan bersujud di hadapan Rupang Sang Buddha.
Justru dari pengalaman sebagai pemula itulah saya mulai melihat bahwa memasuki praktik Buddhisme ternyata bukan sekadar belajar bagaimana bermeditasi. Saya sedang belajar suatu tata kehidupan yang sebelumnya hanya saya kenal melalui bacaan.
Datang sebagai Seorang yang Belum Menjadi Buddhis
Sebelum mengikuti kegiatan, saya bahkan sempat menjelaskan kepada panitia bahwa saya belum menjadi umat Buddha dan lebih tepat menyebut diri sebagai simpatisan Buddhisme yang sedang belajar secara mandiri.Jawaban yang saya terima cukup menenangkan: belajar meditasi tidak mengharuskan seseorang terlebih dahulu beragama Buddha.
Saya juga diberi tahu bahwa pada pembukaan akan dilakukan pembacaan Paritta. Karena saya bukan umat Buddha, saya sebenarnya diperbolehkan untuk diam dan tidak mengikutinya.
Namun, saya memilih sikap yang berbeda. Saya ingin ikut membaca sambil belajar.
Persoalannya, keinginan tersebut tidak serta-merta membuat saya mampu melakukannya. Saya benar-benar belum memiliki pengalaman puja. Saya masih kesulitan membaca Paritta, terutama dalam pelafalan bahasa Pāli, dan belum memahami tata urutan ritualnya. Pengalaman ini kemudian mengajarkan saya sebuah pembedaan penting: kesediaan untuk melakukan penghormatan tidak sama dengan sudah menguasai tata cara penghormatan.
Saya bersedia melakukannya. Saya hanya belum tahu caranya. Dan itu berarti saya harus belajar.
Ketika Saya Melihat Orang Bersujud Tiga Kali
Ada satu pemandangan sederhana yang menarik perhatian saya.
Saya melihat beberapa umat memasuki ruangan, kemudian bersujud tiga kali. Ada pula yang melakukan hal serupa sebelum meninggalkan ruangan. Saya belum mengetahui apa yang mereka ucapkan dalam hati atau bacakan ketika melakukan tiga kali sujud tersebut.
Di sini saya harus berhati-hati agar tidak membuat kesimpulan berdasarkan apa yang hanya saya lihat.
Dalam tradisi Buddhis Theravāda, penghormatan tiga kali lazim dipahami sebagai penghormatan kepada Tiratana: Buddha, Dhamma, dan Saṅgha. Namun, itu tidak berarti setiap orang yang saya lihat pasti sedang melafalkan teks tertentu pada setiap sujudnya. Seseorang dapat ber-namakkāra dalam keheningan, melakukan penghormatan melalui perenungan batin, atau mengiringinya dengan lafal puja tertentu. Tata cara praktis juga dapat berbeda menurut vihāra dan tradisi komunitas.
Karena itu, saya tidak dapat mengatakan bahwa saya mengetahui apa yang mereka baca. Yang dapat saya pahami adalah makna dasarnya. Sujud bukan semata-mata gerakan tubuh.
Ketika seseorang menghormati Buddha, yang dihormati bukan Buddha sebagai Tuhan pencipta, melainkan Sang Buddha sebagai Yang Tercerahkan Sempurna, guru yang menemukan dan menunjukkan jalan menuju berakhirnya penderitaan.
Dhamma dihormati sebagai ajaran dan realitas yang ditunjukkan oleh Sang Buddha.
Saṅgha dihormati sebagai komunitas para siswa mulia dalam pengertian Tiratana, sementara dalam penggunaan sehari-hari istilah Saṅgha juga digunakan untuk komunitas monastik.
Maka tiga kali sujud dapat menjadi latihan yang sangat konkret untuk menempatkan Buddha, Dhamma, dan Saṅgha sebagai objek penghormatan.
Bagi saya yang masih belajar, pemahaman ini penting. Saya tidak perlu berpura-pura sudah memahami seluruh ritual. Tetapi saya dapat melakukan namakkāra dengan mengetahui kepada siapa dan kepada apa penghormatan itu diarahkan.
Namakkāra: Apa yang Sebenarnya Saya Lakukan?
Istilah namakkāra berasal dari bahasa Pāli dan merujuk pada penghormatan atau tindakan memberi hormat.
Salah satu lafal penghormatan kepada Sang Buddha yang sangat dikenal dalam tradisi Theravāda adalah: Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa.
Lafal tersebut biasanya diulang tiga kali. Secara makna, ini merupakan penghormatan kepada Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna.
Bagi saya sebagai pemula, justru lebih baik memahami maknanya dahulu daripada sekadar meniru gerakannya. Ketika saya menyatukan kedua telapak tangan dalam añjali, saya sedang menunjukkan penghormatan. Ketika saya ber-namakkāra di hadapan Rupang Buddha, saya tidak sedang memperlakukan patung itu sebagai makhluk ilahi. Rupang menjadi representasi yang mengingatkan saya kepada Sang Buddha dan kualitas-kualitas luhur yang beliau wujudkan.
Dengan pengertian tersebut, saya tidak memiliki keberatan untuk bersujud di hadapan Rupang Sang Buddha.
Yang masih harus saya pelajari adalah bagaimana melakukannya dengan tepat sesuai tata cara puja di vihāra tempat saya berlatih.
Kesulitan Pertama Saya: Membaca Paritta
Tantangan yang jauh lebih nyata bagi saya justru Paritta.
Mendengar orang yang telah terbiasa membaca teks Pāli dapat memberi kesan bahwa pembacaannya mudah. Ketika mencoba sendiri, persoalannya segera terlihat: panjang-pendek vokal, pengucapan konsonan, ritme, pemenggalan kata, dan kecepatan pembacaan dapat membuat seorang pemula tertinggal.
Saya mengalami kesulitan itu. Tetapi saya kemudian memahami bahwa Paritta dan meditasi bukan hal yang sama.
Paritta merupakan bacaan yang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan devotional dan ritual Buddhisme Theravāda. Meditasi, sementara itu, merupakan bhāvanā, pengembangan atau pembudayaan batin.
Keduanya dapat hadir dalam satu kegiatan, tetapi kemampuan membaca Paritta bukan syarat bagi seseorang untuk dapat mulai mempelajari meditasi. Ini penting bagi saya. Saya tidak perlu menunggu sampai fasih berpuja untuk mulai melatih batin. Sebaliknya, keinginan untuk belajar meditasi juga bukan alasan untuk mengabaikan tata penghormatan yang digunakan oleh komunitas tempat saya belajar.
Keduanya dapat saya pelajari secara bertahap.
Untuk Pertama Kalinya Saya Benar-Benar Bermeditasi
Setelah pembukaan dan persiapan, saya memasuki bagian utama kegiatan: meditasi. Di sinilah istilah mindfulness yang sebelumnya mudah dibaca sebagai sebuah konsep mulai berubah menjadi pengalaman langsung.
Saya berhadapan dengan napas saya sendiri.
Tubuh saya sendiri.
Pikiran saya sendiri.
Ketidaknyamanan saya sendiri.
Dan ternyata mempertahankan perhatian terhadap sesuatu yang sesederhana napas tidak sesederhana yang kedengarannya.
Napas: pintu pertama yang saya pelajari
Perhatian terhadap napas memiliki dasar yang sangat kuat dalam khotbah Sang Buddha. Salah satu teks utamanya adalah Ānāpānasati Sutta (Majjhima Nikāya 118).
Instruksinya dimulai secara sangat konkret: seorang praktisi duduk, menegakkan tubuh, membangkitkan perhatian, lalu mengetahui napas masuk dan napas keluar. Ia mengetahui napas panjang sebagai panjang dan napas pendek sebagai pendek. Latihan kemudian berkembang jauh melampaui sekadar “memperhatikan udara keluar-masuk”: MN 118 menyusun 16 tahap latihan yang mencakup tubuh, perasaan, pikiran, dan dhamma, hingga kontemplasi ketidakkekalan, peluruhan, penghentian, dan pelepasan.
Catatan Pengetahuan:16 tahap latihan berdasarkan Ānāpānasati Sutta (Meditasi Kesadaran Bernapas) dalam ajaran Buddha, dibagi ke dalam 4 kelompok perenungan (tetrade atau catusakka), masing-masing berisi 4 tahap. Panduan lengkapnya teks sucinya dapat dibaca di Ānāpānasati Sutta.
Kelompok I: Perenungan terhadap Jasmani (Kāyānupassanā)
- Menarik dan mengembuskan napas panjang: Menyadari napas yang masuk dan keluar saat berdurasi panjang.
- Menarik dan mengembuskan napas pendek: Menyadari napas yang masuk dan keluar saat berdurasi pendek.
- Mengalami seluruh tubuh (napas): Bernapas dengan menyadari segenap proses dan alur jasmani pernapasan.
- Menenangkan bentukan jasmani: Bernapas sambil mematikan ketegangan fisik agar jasmani menjadi rileks.
- Mengalami kegirangan (pīti): Menyadari munculnya rasa sukacita dan kegembiraan di dalam batin.
- Mengalami kebahagiaan (sukha): Merasakan ketenangan dan kenyamanan batin yang mendalam.
- Mengalami bentukan batin (cittasaṅkhāra): Menyadari aktivitas perasaan atau persepsi halus yang sedang berlangsung.
- Menenangkan bentukan batin: Menstabilkan dan menenangkan gejolak perasaan yang muncul.
- Mengalami/menyadari batin (citta): Mengamati kondisi kesadaran atau pikiran secara langsung.
- Membuat batin bergembira: Mendorong dan mencerahkan pikiran yang sedang suram atau malas.
- Memusatkan batin (samādhi): Menyatukan dan menenangkan pikiran hingga mencapai konsentrasi kokoh.
- Melepaskan batin (vimutta): Melepaskan keterikatan batin dari kekotoran mental.
- Merenungkan ketidaktasan (aniccānupassī): Melihat sifat segala fenomena yang selalu berubah-ubah.
- Merenungkan peluruhan/pelenyapan (virāgānupassī): Menyadari kemelekatan dan nafsu keinginan yang telah pudar.
- Merenungkan lenyapnya kelekatan (nirodhānupassī): Menyaksikan padamnya sumber penderitaan.
- Merenungkan pelepasan akhir (paṭinissaggānupassī): Mencapai pembebasan mutlak (Nibbāna).
Jadi, saya mulai memahami bahwa memperhatikan napas bukan sekadar teknik relaksasi. Napas dapat menjadi pintu menuju latihan yang jauh lebih mendalam.
Meditasi Ternyata Tidak Hanya Duduk
Pengalaman berikutnya bahkan mengoreksi asumsi sederhana saya tentang meditasi. Saya juga melakukan meditasi berjalan.
Jenis meditasi ini ternyata memiliki landasan tekstual yang jelas. Satipaṭṭhāna Sutta (MN 10) mengajarkan bahwa ketika berjalan, praktisi mengetahui bahwa ia sedang berjalan; ketika berdiri, mengetahui bahwa ia sedang berdiri; ketika duduk, mengetahui bahwa ia sedang duduk; dan ketika berbaring, mengetahui bahwa ia sedang berbaring. Sutta yang sama memperluas kesadaran jernih hingga ke aktivitas sehari-hari seperti bergerak, melihat, makan, minum, berbicara, dan berdiam diri.
Ini mengubah pemahaman saya.
Meditasi tidak harus berakhir ketika saya membuka mata dan berdiri. Berjalan pun dapat menjadi medan latihan. Makan pun dapat menjadi medan latihan. Tubuh yang bergerak pun dapat diamati. Bahkan keinginan untuk segera menyelesaikan latihan adalah sesuatu yang dapat dikenali.
Ketika Makan Siang Menjadi Bagian dari Latihan
Makan siang didahului dengan perenungan makan. Selama proses ini, makan tidak lagi sekadar aktivitas untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Ketika distraksi dikurangi, hal-hal kecil mulai terlihat: mengambil makanan, mengunyah, merasakan, menelan, menyukai satu rasa, tidak menyukai rasa lain, ingin mengambil lagi, atau merasa sudah cukup.
Ini selaras dengan kerangka sampajañña atau pemahaman yang jernih dalam Satipaṭṭhāna Sutta: praktik perhatian tidak dibatasi pada sesi meditasi formal. MN 10 secara eksplisit memasukkan makan, minum, mengunyah, berjalan, berdiri, duduk, berbicara, dan diam sebagai aktivitas yang dilakukan dengan kesadaran yang jernih.
Di sinilah saya mulai memahami mindfulness dengan cara yang berbeda. Saya sebelumnya menganggap mindfulness sebagai “fokus pada saat ini”.
Itu belum cukup.
Dalam konteks Buddhis, perhatian dikembangkan untuk memungkinkan pengalaman dikenali dengan semakin jernih, termasuk bagaimana kesukaan, ketidaksukaan, keinginan, dan kemelekatan muncul di dalamnya.
Dan pengalaman saya baru saja dimulai.
----
Baca pengalaman selanjutnya: ODM Vihāra Jakarta Dhammacakka Jaya: Dari Napas, Mettā, Rasa Sakit, hingga Empat Landasan Perhatian






Follow My Journey
"If you find a wise companion to journey with, walk together." — Buddha
Connect and let’s grow together: