Jawabannya bergantung pada definisi
“agama” yang digunakan.
Bhikkhu Narada menunjukkan bahwa kata religion sendiri memiliki sejarah dan etimologi yang tidak sepenuhnya sederhana. Dalam penggunaan umum, agama sering didefinisikan sebagai sistem kepercayaan dan pemujaan terhadap kekuatan ilahi atau kekuatan supranatural.
Jika definisi itu dijadikan satu-satunya
ukuran, Bhikkhu Narada berpendapat bahwa Buddhisme tidak tepat dimasukkan ke
dalam kategori tersebut.
Mengapa?
Karena struktur utama Buddhisme tidak
dibangun atas:
kepercayaan terhadap pencipta yang
mahakuasa,
penyerahan diri kepada kuasa ilahi,
wahyu Tuhan,
atau keyakinan bahwa keselamatan
diberikan oleh sosok eksternal.
Keyakinan bukan kepercayaan buta
Ini tidak berarti Buddhisme tidak mempunyai saddhā, yaitu keyakinan atau kepercayaan. Namun, kualitas keyakinannya berbeda.
Bhikkhu Narada membandingkannya dengan kepercayaan seorang pasien kepada dokter yang kompeten atau seorang murid kepada gurunya. Pasien percaya kepada dokter bukan semata-mata karena dokter menuntut kepatuhan. Kepercayaan berkembang karena ada dasar untuk mempercayainya.
Demikian pula, seorang Buddhis dapat berlindung kepada Buddha,
Dhamma, dan Sangha, tetapi tindakan berlindung tidak secara otomatis membuat
batinnya murni.
Buddha tidak membersihkan seseorang dari luar.
Guru dapat menunjukkan jalan.
Namun orang itu sendiri harus berjalan.
Dalam Dhammapada terdapat prinsip yang sangat tegas:
manusia sendiri melakukan tindakan yang mencemari dirinya;
manusia sendiri menghindari tindakan buruk;
kemurnian dan ketidakmurnian bergantung pada diri sendiri;
orang lain tidak dapat memurnikan kita dengan menggantikan diri kita.
Karena itu, berlindung kepada Tiga Permata bukan berarti menyerahkan tanggung jawab. Justru sebaliknya, melainkan merupakan penerimaan tanggung jawab.
Kebebasan berpikir merupakan bagian dari jalan
Bhikkhu Narada menekankan bahwa seorang Buddhis tidak seharusnya menjadi budak buku maupun individu. Mengikuti Buddha tidak berarti menyerahkan kemampuan berpikir.
Praktisi tetap mempunyai tanggung jawab untuk menyelidiki, merenungkan, mengembangkan pengetahuan, dan mengembangkan kebijaksanaan.
Kemungkinan pencerahan tidak hanya ditempatkan pada Buddha sebagai
figur historis. Potensi untuk berkembang menuju pencerahan terdapat dalam
kehidupan makhluk yang mampu menempuh jalan tersebut.
Namun, kebebasan berpikir juga tidak berarti bahwa semua pendapat
sama benarnya.
Bhikkhu Narada menekankan pentingnya Sammā Diṭṭhi, yaitu pandangan benar.
Keraguan berguna apabila menjadi alat penyelidikan.
Keraguan yang berubah menjadi relativisme total juga bukan tujuan.
Pelajaran dari orang-orang Kalama
Salah satu bagian terpenting dalam penjelasan Bhikkhu Narada adalah penjelasan tentang orang-orang Kalama di Kesaputta.
Mereka menghadapi masalah yang sangat modern.
Berbagai guru datang.
Setiap guru menyatakan ajarannya benar.
Setiap guru merendahkan ajaran kelompok lain.
Akhirnya masyarakat bingung.
Siapa yang harus dipercaya?
Buddha tidak memarahi keraguan mereka. Sebaliknya, keraguan dalam situasi yang memang meragukan dianggap wajar. Kemudian Buddha memberikan kriteria penyelidikan.
JANGAN langsung menerima sesuatu semata-mata karena:
telah lama didengar;
diturunkan melalui tradisi;
menjadi kabar yang beredar;
terdapat di dalam kitab;
sesuai dengan dugaan sendiri;
diperoleh melalui kesimpulan tertentu;
tampak masuk akal secara sepintas;
sesuai dengan pandangan yang sudah kita sukai;
terlihat meyakinkan;
atau dikatakan oleh seorang guru yang kita hormati.
Ini salah satu bagian Buddhisme yang paling sering dikutip dan
paling sering disederhanakan.
Buddha tidak mengatakan: “Percayalah hanya pada apa pun yang Anda sukai.”
Ukuran selanjutnya tetap diperlukan.
Ketika suatu kualitas tidak baik, tercela, ditolak oleh orang bijaksana, dan ketika dijalankan membawa kerugian serta penderitaan, maka kualitas tersebut layak ditinggalkan.
Sebaliknya, ketika sesuatu baik, tidak tercela, dipuji oleh orang bijaksana, dan ketika dijalankan menghasilkan kesejahteraan dan kebahagiaan, maka ia layak dikembangkan.
Jadi, penyelidikan Buddhis bukan subjektivisme. Ada unsur pengalaman, penalaran, moralitas, konsekuensi, dan pertimbangan para bijaksana.
Uji emas, bukan kepatuhan buta
Bhikkhu Narada juga memberikan gambaran lain. Seperti seorang tukang emas menguji emas dengan membakar, memotong, dan menggosoknya pada batu uji, demikian pula ajaran hendaknya diperiksa sebelum diterima.
Bahkan perkataan Buddha tidak wajib diterima hanya karena penghormatan
terhadap Buddha.
Pernyataan ini menunjukkan prinsip yang sangat menuntut, bahwa "otoritas tidak bisa menggantikan pemeriksaan".
Seorang guru dihormati.
Tetapi penghormatan bukan alasan untuk mematikan kebijaksanaan.
Jadi, apakah Buddhisme agama?
Bhikkhu Narada memberikan jawaban dalam dua
arah.
Jika agama didefinisikan sebagai sistem
pemujaan terhadap suatu Tuhan yang mengatur nasib manusia, maka Buddhisme bukan
agama dalam pengertian tersebut.
Tetapi jika agama dipahami sebagai jalan
yang menembus permukaan kehidupan, memberikan orientasi eksistensial, membantu
manusia menghadapi kehidupan dan kematian, serta menyediakan jalan keluar dari
penderitaan, maka Buddhisme dapat disebut sebagai agama dalam pengertian yang sangat
mendalam.
Dengan kata lain:

0 comments: