Namo Buddhaya

Buddha Gautama

"Aku tidak mengajar untuk menjadikanmu sebagai murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk membuatmu menjadi murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk memutuskan hubunganmu dengan gurumu yang lama. Aku bahkan tidak tertarik untuk mengubah tujuanmu,karena setiap orang ingin lepas dari penderitaan.
Cobalah apa yang telah Kutemukan ini,dan nilailah oleh dirimu sendiri. Jika itu baik bagimu,terimalah. Jika tidak, janganlah engkau terima."


(Digha Nikaya 25; Patika Vagga;Udumbarika-Sīhanāda Sutta)

Dhamma Event

https://www.instagram.com/p/DbMqpeeJrl_/

Menghormati Buddha Tanpa Menyembah Berhala


Jika Buddhisme tidak bertumpu pada permohonan kepada Tuhan Pencipta, mengapa umat Buddha bersujud di depan rupang Buddha?

Apakah itu pemujaan berhala?

Menurut Bhikkhu Narada, pertanyaan ini hanya dapat dijawab jika dibedakan antara simbol dan objek permohonan supranatural.

Rupang Buddha bukan pemberi anugerah

Seorang Buddhis yang memahami praktik tidak bersujud kepada batu, kayu, logam, atau gambar. Rupang Buddha merupakan representasi dari Buddha dan kualitas-kualitas luhur yang diasosiasikan dengannya.

Ketika seseorang mempersembahkan bunga atau dupa, tindakan itu merupakan ekspresi penghormatan, rasa terima kasih, dan pengingatan terhadap teladan Buddha.

Tidak ada kebutuhan untuk menganggap benda tersebut memiliki kekuatan pribadi yang dapat mengabulkan permintaan.

Bunga sebagai pelajaran tentang ketidakkekalan

Simbol bahkan dapat menjadi objek perenungan Dhamma.

Bunga yang segar akan layu.
Keindahan berubah.
Kondisi yang menyenangkan tidak menetap.

Dengan demikian, sebuah persembahan bunga dapat mengingatkan pada anicca, yaitu ketidakkekalan.

Ritual yang dilakukan dengan pemahaman tidak berhenti pada bentuk luarnya, melainkan mengarahkan pikiran kepada Dhamma.

Mengapa menghormati pohon Bodhi?

Prinsip serupa berlaku pada pohon Bodhi. Pohon tersebut dihormati bukan karena pohon itu dipandang sebagai Tuhan, melainkan karena merupakan simbol pencerahan.

Simbol mempunyai fungsi psikologis dan pedagogis. Ia membantu sebagian orang untuk memusatkan perhatian pada suatu kualitas yang luhur.

Bhikkhu Narada bahkan menjelaskan bahwa orang dengan kemampuan konsentrasi dan pemahaman yang sudah matang mungkin tidak selalu memerlukan sarana simbolik seperti itu.

Dengan demikian, simbol dapat berguna tanpa harus dianggap mutlak.

Penghormatan tertinggi adalah praktik

Salah satu kisah yang disampaikan oleh Bhikkhu Narada bahkan menetapkan standar yang jauh lebih tinggi.

Menjelang Parinibbana Buddha, banyak murid datang untuk memberikan penghormatan. Namun, seorang bhikkhu tidak ikut berkumpul. Ia justru terus bermeditasi.

Ketika ditanya, ia menjelaskan bahwa karena Buddha akan segera mencapai Parinibbana, ia ingin memberikan penghormatan tertinggi dengan berusaha mencapai Arahatta sebelum saat tersebut.

Buddha memuji sikapnya.

Pesannya tegas: orang yang paling menghormati Buddha adalah orang yang menjalankan ajarannya dengan sungguh-sungguh.

Karena itu, praktik Buddhis tidak dapat diukur hanya dari kesalehan ritual. Seorang manusia dapat bersujud berkali-kali tetapi tetap berbohong, membenci, menipu, menyakiti, dan diperbudak keserakahan.

Dalam kondisi demikian, bentuk penghormatan belum menyentuh substansi.

Sebaliknya, seseorang yang benar-benar menjalankan Dhamma sedang melakukan penghormatan yang jauh lebih mendalam.

Prinsip ini juga dapat dipahami melalui gagasan bahwa melihat Dhamma berarti melihat Buddha.

Bagaimana dengan doa?

Bhikkhu Narada mengambil posisi yang sangat kuat mengenai doa permohonan.

Dalam kerangka penjelasannya, pembacaan Buddhis bukan permintaan agar Buddha memberikan kekayaan, keselamatan, kemurnian, atau pembebasan.

Buddha tidak berfungsi sebagai sosok pemberi anugerah berdasarkan permintaan.

Karena itu, menghabiskan waktu hanya untuk meminta tanpa membangun sebab yang sesuai dianggap tidak menghasilkan pembebasan.

Buddha dapat menunjukkan jalan.
Namun, praktisi harus berusaha.

Prinsip yang dikutip Bhikkhu Narada adalah “Kalian sendiri harus berusaha; para Tathāgata hanyalah penunjuk jalan.”

Di sinilah meditasi memperoleh kedudukan yang sangat penting.

Daripada menggantungkan pemurnian kepada permohonan eksternal, praktisi diarahkan kepada disiplin, pengendalian diri, pemurnian batin, meditasi, dan kebijaksanaan.

Maka, perbedaan antara ritual Buddhis yang matang dan takhayul memiliki batasan yang jelas. 

Ritual matang: mengingatkan.
Takhayul: menggantikan tanggung jawab.

Dhamma memilih yang pertama.

0 comments: