Namo Buddhaya

Buddha Gautama

"Aku tidak mengajar untuk menjadikanmu sebagai murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk membuatmu menjadi murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk memutuskan hubunganmu dengan gurumu yang lama. Aku bahkan tidak tertarik untuk mengubah tujuanmu,karena setiap orang ingin lepas dari penderitaan.
Cobalah apa yang telah Kutemukan ini,dan nilailah oleh dirimu sendiri. Jika itu baik bagimu,terimalah. Jika tidak, janganlah engkau terima."


(Digha Nikaya 25; Patika Vagga;Udumbarika-Sīhanāda Sutta)

Dhamma Event

https://www.instagram.com/p/DbMqpeeJrl_/

Buddhisme: Jalan untuk Memahami dan Mengakhiri Penderitaan

Ketika mendengar kata Buddhisme, mungkin yang pertama kali terlintas dalam pikiran kita adalah vihara, rupang Buddha, para bhikkhu, meditasi, kitab suci, upacara, atau berbagai tradisi yang berkembang di negara-negara Asia.

Semua itu memang merupakan bagian dari perjalanan panjang Buddhisme dalam sejarah. Namun, ada baiknya sesekali kita menyingkirkan seluruh lapisan budaya, simbol, dan tradisi tersebut, lalu bertanya dengan lebih sederhana: Apa sebenarnya inti dari ajaran Buddha?

Kita dapat mendekati jawabannya melalui satu orientasi yang sangat mendasar: memahami penderitaan (Dukkha) dan menemukan jalan menuju berakhirnya penderitaan.

Kalimat ini mungkin terdengar sederhana. Namun, jika direnungkan dengan sungguh-sungguh, hampir seluruh persoalan hidup manusia dapat ditemukan di dalamnya.

Kita ingin bahagia, tetapi kebahagiaan yang kita miliki terus berubah.
Kita memperoleh sesuatu yang telah lama kita inginkan, tetapi tak lama kemudian muncul keinginan yang lain.
Kita mencintai seseorang, tetapi pada saat yang sama kita tahu bahwa tidak ada hubungan yang dapat dipertahankan selamanya dalam keadaan yang sama.
Kita ingin hidup berjalan sesuai rencana, tetapi kenyataan berulang kali menunjukkan bahwa banyak hal berada di luar kendali kita.

Kadang-kadang persoalannya bahkan tidak datang dari luar. Pikiran kita sendiri dapat menjadi tempat munculnya kegelisahan, ketakutan, kemarahan, kebencian, kecemburuan, kekecewaan, dan keterikatan. Karena itu, memahami Buddhisme sebenarnya berarti mulai berani melihat kehidupan sebagaimana adanya.

Buddha Memulai dari Persoalan Kehidupan Manusia

Setelah mencapai pencerahan, Buddha Gotama mengajarkan Dhamma selama kurang lebih 45 tahun kepada masyarakat dengan latar belakang yang sangat beragam di India Utara. Di antara mereka terdapat anggota kerajaan, kaum brahmana, petani, pedagang, pertapa, laki-laki dan perempuan, anggota Saṅgha maupun umat awam.

Karena orang-orang yang ditemui Buddha memiliki kondisi kehidupan, kemampuan memahami, serta persoalan yang berbeda-beda, cara dan tema pengajaran beliau pun sangat beragam. Namun, di balik keragaman itu terdapat arah yang sama.

Bhikkhu Bodhicitto merangkumnya sebagai penderitaan dan jalan menuju berakhirnya penderitaan. Ini adalah titik yang sangat penting untuk memahami Buddhisme.

Buddha tidak mengajarkan Dhamma semata-mata untuk membangun sebuah sistem pemikiran yang dapat menjawab setiap spekulasi tentang alam semesta. Ajarannya berangkat dari sesuatu yang jauh lebih dekat: pengalaman manusia itu sendiri.

Mengapa kita menderita?
Mengapa sesuatu yang menyenangkan tidak pernah dapat memberikan kepuasan yang benar-benar abadi?
Mengapa keinginan yang berhasil dipenuhi justru sering diikuti oleh keinginan berikutnya?
Mengapa kita begitu ingin mempertahankan orang, keadaan, pengalaman, dan benda yang kita cintai, padahal semuanya terus berubah?
Mengapa kemarahan dapat menguasai kita?
Mengapa ketakutan dapat membuat pikiran kehilangan kejernihannya?
Mengapa kita sering memahami bahwa keterikatan tertentu membuat kita menderita, tetapi tetap sulit melepaskannya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang membawa kita lebih dekat ke jantung ajaran Buddha.

Mulailah dengan Melihat Hidup Kita Sendiri

Kita tidak perlu memulai dengan persoalan metafisik yang rumit untuk memahami Dhamma. Kita dapat memulainya dari kehidupan kita sendiri. Perhatikan apa yang terjadi ketika sebuah keinginan muncul. Kita mungkin berpikir: "Kalau aku mendapatkan ini, aku akan puas."

Kemudian sesuatu itu benar-benar kita peroleh. Untuk sementara waktu, mungkin kita merasa senang. Namun, perlahan-lahan rasa senang itu menjadi biasa. Setelah itu, pikiran mulai mencari sesuatu yang lain. Target berikutnya muncul. Keinginan berikutnya muncul. Ketidakpuasan berikutnya pun muncul.

Masalahnya bukan berarti setiap keinginan harus dianggap buruk. Yang perlu kita lihat adalah mekanisme yang terjadi di dalam pikiran.

Jika kebahagiaan kita sepenuhnya bergantung pada kondisi tertentu, orang tertentu harus tetap bersama kita, pekerjaan harus berjalan sesuai harapan, tubuh harus tetap sehat, penghargaan harus terus datang, dan keadaan harus selalu menyenangkan, maka hidup akan menjadi sangat rapuh. Sebab tidak satu pun dari kondisi tersebut dapat dijamin akan selalu tetap sama.

Di sinilah Buddhisme mengajak kita melakukan sesuatu yang mungkin tidak nyaman, tetapi sangat penting: melihat kenyataan tanpa terus-menerus menuntut agar kenyataan mengikuti keinginan kita.

Persoalannya Bukan Hanya Apa yang Terjadi, tetapi Bagaimana Pikiran Bereaksi

Dalam kehidupan, kita tentu akan mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan. Ada kehilangan. Ada perpisahan. Ada kegagalan. Ada penyakit. Ada perubahan yang tidak kita inginkan. Ada orang yang tidak bertindak seperti yang kita harapkan.

Namun, penderitaan manusia tidak hanya berkaitan dengan apa yang terjadi. Kita juga perlu melihat apa yang dilakukan pikiran terhadap pengalaman tersebut.

Ketika sesuatu yang menyenangkan datang, kita ingin mempertahankannya.
Ketika sesuatu yang tidak menyenangkan datang, kita ingin segera menyingkirkannya.
Ketika kehidupan tidak berjalan seperti yang kita harapkan, kita menolak kenyataan itu.
Ketika sesuatu yang kita cintai berubah, pikiran berusaha keras mempertahankan apa yang sebenarnya sedang berubah.

Maka perlahan kita dapat mulai melihat bahwa penderitaan bukan semata-mata persoalan dunia di luar diri kita. Ada mekanisme batin yang ikut membentuknya. Dan apabila mekanisme itu dapat dipahami, maka muncul sebuah kemungkinan yang sangat penting: mungkin cara kita mengalami kehidupan juga dapat berubah.

Pertanyaan Terpenting: Apakah Kita Bisa Bebas?

Pada akhirnya, Buddhisme membawa kita pada pertanyaan yang jauh lebih mendalam daripada sekadar bagaimana memperoleh kehidupan yang lebih nyaman.

Pertanyaannya adalah:

Apakah manusia dapat terbebas dari mekanisme penderitaan itu sendiri?
Apakah mungkin menjalani kehidupan tanpa terus-menerus diperbudak oleh keinginan?
Apakah mungkin mengalami perubahan tanpa selalu runtuh karenanya?
Apakah mungkin menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan tanpa langsung dikuasai oleh kebencian?
Apakah mungkin kehilangan sesuatu tanpa kehilangan seluruh kejernihan batin?
Apakah mungkin pikiran bisa benar-benar bebas?

Ajaran Buddha menyatakan bahwa pembebasan itu mungkin.

Namun, ada bagian yang sangat penting di sini. Pembebasan tersebut tidak diperoleh hanya karena kita mempercayainya.

Tidak cukup hanya percaya kepada Buddha.
Tidak cukup hanya membaca ajaran.
Tidak cukup hanya memahami istilah-istilah Buddhis.
Tidak cukup pula hanya dengan melakukan ritual atau mengidentifikasi diri sebagai seorang Buddhis.

Dhamma menuntut sesuatu yang lebih dalam: pemahaman, latihan, dan realisasi secara langsung. Artinya, ajaran perlu diperiksa melalui kehidupan kita sendiri.

Apakah keterikatan benar-benar membawa kegelisahan? Perhatikan!
Apakah kemarahan membuat pikiran kehilangan kejernihannya? Perhatikan!
Apakah kepuasan atas sesuatu yang kita inginkan memang tidak berlangsung selamanya? Perhatikan!
Apakah pikiran terus bergerak mencari sesuatu yang lain untuk membuatnya merasa lengkap? Perhatikan!

Dengan cara seperti inilah Dhamma perlahan berubah dari sekadar pengetahuan menjadi sesuatu yang hidup.

Jangan Hanya Percaya. Belajarlah Melihat.

Mungkin inilah salah satu sikap terpenting saat mulai mendalami Buddhisme. Jangan terlalu cepat merasa bahwa kita sudah memahami sesuatu hanya karena kita telah membacanya atau mendengarnya. Lihatlah bagaimana ajaran itu bekerja dalam pengalaman kita sendiri.

Ketika marah, jangan hanya mengatakan “Kemarahan itu tidak baik.” Perhatikan apa yang terjadi pada tubuh dan pikiran saat kemarahan muncul.

Ketika melekat pada seseorang atau sesuatu, jangan terburu-buru mengatakan bahwa kita harus melepaskannya. Lihat terlebih dahulu bagaimana keterikatan bekerja. Apa yang kita takutkan? Apa yang ingin kita pertahankan? Apa yang terjadi ketika kenyataan tidak sesuai dengan keinginan kita?

Demikian pula, ketika memperoleh sesuatu yang menyenangkan. Nikmatilah pengalaman itu, tetapi pada saat yang sama perhatikan sifatnya. Apakah rasa senang tersebut akan senantiasa tetap sama? Apakah ia berubah? Apakah setelah beberapa waktu pikiran mulai mencari hal lain?

Pengamatan semacam ini mungkin terlihat sederhana. Namun, justru dari sinilah pemahaman dapat mulai tumbuh. Kita tidak lagi hanya mempelajari Buddhisme sebagai kumpulan gagasan. Kita mulai menggunakan Dhamma untuk membaca kehidupan.

Dalam ajaran Buddha, konsep ehipassiko bermakna bahwa ajaran Dhamma tidak menuntut keyakinan buta, melainkan mengajak setiap orang untuk menyelidiki, berpikir kritis, mempraktikkan, dan membuktikan kebenarannya melalui pengalaman langsung.

Dari Memahami Penderitaan Menuju Kebebasan

Karena itu, jalan Buddhis tidak dimulai dengan upaya untuk menjadi seseorang yang tampak lebih religius, melainkan dimulai ketika kita berani bertanya dengan sungguh-sungguh: 

Apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam hidup dan pikiran saya?
Apa yang membuat saya terus merasa kurang?
Apa yang begitu saya takut kehilangan?
Apa yang membuat saya marah?
Apa yang terus saya kejar dengan harapan bahwa setelah mendapatkannya saya akhirnya akan merasa lengkap?

Dan ketika semua itu berubah, sebagaimana segala sesuatu memang berubah, mengapa saya begitu menderita?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk membuat hidup menjadi suram. Sebaliknya, pertanyaan tersebut membuka kemungkinan untuk menjalani hidup dengan pemahaman yang lebih mendalam. Sebab apabila kita tidak memahami bagaimana penderitaan muncul, kita hanya akan terus bereaksi terhadap kehidupan dengan pola yang sama.

Mengejar. Mempertahankan. Menolak. Takut kehilangan. Kecewa. Kemudian mengejar kembali sesuatu yang lain.

Dhamma mengajak kita keluar dari lingkaran tersebut dengan terlebih dahulu melihatnya dengan lebih jernih. Dan mungkin di sinilah perjalanan Buddhis yang sesungguhnya dimulai.

Bukan ketika kita mampu menghafal banyak istilah.
Bukan ketika kita mengetahui banyak teori.
Bukan pula ketika kita terlihat religius di mata orang lain.

Perjalanan itu dimulai ketika kita mulai memahami pengalaman kita sendiri, ketika muncul keinginan, ketika sesuatu berubah, ketika kehilangan terjadi, ketika kemarahan muncul, ketika keterikatan mulai mencengkeram, dan kita belajar melihat seluruh proses itu tanpa langsung terseret olehnya. 

Karena pada akhirnya, inti ajaran Buddha bukan sekadar pengetahuan tentang penderitaan, melainkan jalan untuk memahami penderitaan sedemikian dalam hingga kita perlahan mengetahui bagaimana tidak lagi diperbudak olehnya.

0 comments: