Pembahasan mengenai ketuhanan dalam Buddhisme tidak dapat dilakukan hanya dengan mengambil konsep dari agama lain kemudian mencari istilah yang identik di dalam Tipitaka.
Bahasa berbeda.
Kerangka konseptual berbeda.
Orientasinya juga berbeda.
Dalam penjelasan Bhikkhu Uttamo yang
menjadi dasar tulisan ini, Nibbana ditempatkan sebagai tujuan tertinggi dalam
pembicaraan mengenai Ketuhanan dalam konteks Buddhisme: tidak terlahirkan,
tidak berkondisi, tidak identik dengan dewa, tidak identik dengan surga, dan
tidak dapat direduksi menjadi gambaran tentang pribadi supranatural.
Namun, memahami definisi tersebut saja belum
cukup.
Buddhisme selalu membawa pembicaraan
kembali ke praktik.
Empat Kesunyataan Mulia menunjukkan
masalah.
Jalan Mulia Berunsur Delapan memberikan
arah penyelesaian.
Sila membentuk perilaku.
Puja bakti mengingatkan kepada Buddha dan
Dhamma.
Paritta seharusnya diterjemahkan menjadi
tindakan.
Kamma menempatkan manusia dalam
tanggung jawab.
Kemurahan hati mengurangi kemelekatan.
Cinta kasih melemahkan kebencian.
Meditasi melatih kestabilan dan
kesadaran.
Pemahaman terhadap perubahan mengikis
keterikatan.
Semua unsur tersebut bergerak menuju satu arah: berkurangnya ketamakan, kebencian, dan ketidaktahuan.
Karena itu, kualitas seorang praktisi
Buddhis tidak cukup diukur dari:
berapa banyak istilah Pali yang
diketahui,
berapa sering ritual dilakukan,
berapa banyak paritta yang dihafal,
berapa lama bermeditasi,
atau berapa tahun menjadi Buddhis.
Ukuran yang lebih konkret adalah:
Apakah ia semakin sedikit merugikan?
Apakah semakin mudah berbagi?
Apakah lebih mampu menghadapi kehilangan?
Apakah lebih cepat mengenali kemarahan?
Apakah lebih sedikit diperbudak
keinginan?
Apakah tindakannya semakin bertanggung
jawab?
Apakah kebijaksanaan berkembang?
Apakah cinta kasih semakin luas?
Sebab Dhamma bukan sekadar pengetahuan yang disimpan di dalam kepala. Dhamma adalah jalan yang dijalani. Dan tujuan akhirnya bukan untuk mendapatkan satu objek baru untuk dilekati. Tujuannya justru terbebas dari kemelekatan itu sendiri.
Itulah arah menuju Nibbana.
Sumber: Ketuhanan dalam Agama Buddha - Bhikkhu Uttamo
- Apakah Agama Buddha Mengenal Tuhan?
- Tiga Tingkat Kebahagiaan: Hidup Layak, Berbuat Baik, dan Bergerak menuju Nibbana
- Empat Kesunyataan Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan
- Memahami Ritual Buddhis dan Maknanya
- Kamma Bukan Takdir
- Mengapa Kehidupan Manusia Sangat Berharga?
- Meditasi bagi Umat Awam
- Nibbana Tidak Menunggu Kematian