Namo Buddhaya

Buddha Gautama

"Aku tidak mengajar untuk menjadikanmu sebagai murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk membuatmu menjadi murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk memutuskan hubunganmu dengan gurumu yang lama. Aku bahkan tidak tertarik untuk mengubah tujuanmu,karena setiap orang ingin lepas dari penderitaan.
Cobalah apa yang telah Kutemukan ini,dan nilailah oleh dirimu sendiri. Jika itu baik bagimu,terimalah. Jika tidak, janganlah engkau terima."


(Digha Nikaya 25; Patika Vagga;Udumbarika-Sīhanāda Sutta)

Dhamma Event

https://www.instagram.com/p/DbMqpeeJrl_/

Konsep Ketuhanan


Pembahasan mengenai ketuhanan dalam Buddhisme tidak dapat dilakukan hanya dengan mengambil konsep dari agama lain kemudian mencari istilah yang identik di dalam Tipitaka.

Bahasa berbeda.
Kerangka konseptual berbeda.
Orientasinya juga berbeda.

Dalam penjelasan Bhikkhu Uttamo yang menjadi dasar tulisan ini, Nibbana ditempatkan sebagai tujuan tertinggi dalam pembicaraan mengenai Ketuhanan dalam konteks Buddhisme: tidak terlahirkan, tidak berkondisi, tidak identik dengan dewa, tidak identik dengan surga, dan tidak dapat direduksi menjadi gambaran tentang pribadi supranatural.

Namun, memahami definisi tersebut saja belum cukup.

Buddhisme selalu membawa pembicaraan kembali ke praktik.

Empat Kesunyataan Mulia menunjukkan masalah.
Jalan Mulia Berunsur Delapan memberikan arah penyelesaian.
Sila membentuk perilaku.
Puja bakti mengingatkan kepada Buddha dan Dhamma.
Paritta seharusnya diterjemahkan menjadi tindakan.
Kamma menempatkan manusia dalam tanggung jawab.
Kemurahan hati mengurangi kemelekatan.
Cinta kasih melemahkan kebencian.
Meditasi melatih kestabilan dan kesadaran.
Pemahaman terhadap perubahan mengikis keterikatan.

Semua unsur tersebut bergerak menuju satu arah: berkurangnya ketamakan, kebencian, dan ketidaktahuan.

Karena itu, kualitas seorang praktisi Buddhis tidak cukup diukur dari:
berapa banyak istilah Pali yang diketahui,
berapa sering ritual dilakukan,
berapa banyak paritta yang dihafal,
berapa lama bermeditasi,
atau berapa tahun menjadi Buddhis.

Ukuran yang lebih konkret adalah:
Apakah ia semakin sedikit merugikan?
Apakah semakin mudah berbagi?
Apakah lebih mampu menghadapi kehilangan?
Apakah lebih cepat mengenali kemarahan?
Apakah lebih sedikit diperbudak keinginan?
Apakah tindakannya semakin bertanggung jawab?
Apakah kebijaksanaan berkembang?
Apakah cinta kasih semakin luas?

Sebab Dhamma bukan sekadar pengetahuan yang disimpan di dalam kepala. Dhamma adalah jalan yang dijalani. Dan tujuan akhirnya bukan untuk mendapatkan satu objek baru untuk dilekati. Tujuannya justru terbebas dari kemelekatan itu sendiri.

Itulah arah menuju Nibbana.

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.
Semoga semua makhluk berbahagia.


Sumber: Ketuhanan dalam Agama Buddha - Bhikkhu Uttamo

  1. Apakah Agama Buddha Mengenal Tuhan?
  2. Tiga Tingkat Kebahagiaan: Hidup Layak, Berbuat Baik, dan Bergerak menuju Nibbana
  3. Empat Kesunyataan Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan
  4. Memahami Ritual Buddhis dan Maknanya
  5. Kamma Bukan Takdir
  6. Mengapa Kehidupan Manusia Sangat Berharga? 
  7. Meditasi bagi Umat Awam
  8. Nibbana Tidak Menunggu Kematian