Meditasi bukan praktik eksklusif bagi bhikkhu.
Dalam kerangka Bhikkhu Uttamo, umat awam
justru dianjurkan melatih meditasi secara rutin.
Latihan sederhana dapat dilakukan:
setelah bangun pada pagi hari,
dan menjelang tidur pada malam hari.
Durasi yang disarankan Bhikkhu Uttamo adalah sekitar 15 sampai 30 menit setiap kali.
Angka tersebut bukan ukuran kesucian. Nilainya terletak pada konsistensi. Meditasi singkat yang dilakukan teratur lebih berguna daripada semangat besar yang hanya muncul sesekali.
Samatha Bhavana
Latihan dasar yang dibahas adalah Samatha Bhavana, yaitu pengembangan ketenangan dan konsentrasi. Salah satu objek yang digunakan adalah napas.
Prinsipnya sangat sederhana.
Tidak perlu mengatur napas.
Tidak perlu memaksa panjang.
Tidak perlu memaksa pendek.
Tidak perlu menciptakan ritme tertentu.
Biarkan pernapasan berlangsung secara alami.
Tugas meditator adalah mengetahui napas masuk dan napas keluar.
Pikiran mengembara bukan berarti meditasi gagal
Ketika perhatian mengikuti napas, pikiran mungkin berpindah. Ke pekerjaan. Masalah keluarga. Rencana. Kenangan. Ketakutan. Khayalan. Keinginan.
Ketika itu terjadi, tugas praktisi bukan untuk marah kepada pikirannya, melainkan mengenali bahwa perhatian telah berpindah. Kemudian kembali kepada napas.
Pikiran pergi lagi. Kembali lagi.
Proses inilah latihan.
Tujuannya adalah membangun kestabilan.
Menuju Vipassana Bhavana
Ketika kemampuan memperhatikan semakin berkembang, objek latihan
dapat diperluas kepada pengalaman badan dan batin.
Sensasi tubuh diketahui.
Perasaan diketahui.
Gerakan pikiran diketahui.
Keinginan diketahui.
Kemarahan diketahui.
Perubahan diketahui.
Bhikkhu Uttamo menyebutkan bahwa pengembangan kesadaran terhadap seluruh gerak badan dan batin tersebut disebut Vipassana Bhavana.
Tujuannya bukan untuk mengejar sensasi meditasi yang menyenangkan. Tujuannya adalah untuk melihat fenomena secara lebih jelas sehingga kemelekatan berkurang.
Dengan demikian, meditasi bukan pelarian dari kenyataan. Justru meditasi merupakan latihan untuk melihat kenyataan dengan lebih sedikit distorsi.
Bagaimana jika muncul “penampakan”?
Sebagian praktisi mungkin mengalami gambaran, suara, sensasi, atau pengalaman yang ditafsirkan sebagai kehadiran makhluk halus.
Bhikkhu Uttamo memberikan prinsip yang praktis: jangan menjadikannya sebagai pusat perhatian.
Jika sedang melatih konsentrasi pada napas, kembalilah pada napas. Jangan mengejar. Jangan tertarik secara berlebihan. Jangan pula langsung takut.
Dalam latihan yang lebih matang, apa pun yang muncul sudah cukup
diketahui.
Ada gambaran, ketahui.
Ada rasa takut, ketahui.
Ada sensasi, ketahui.
Tidak perlu membangun cerita panjang dari pengalaman itu.
Cinta kasih sebagai respons
Bhikkhu Uttamo juga menyarankan kalimat: “Semoga semua makhluk berbahagia.” Ini merupakan pengembangan cinta kasih.
Jika pengalaman tersebut memang berkaitan dengan makhluk lain, responsnya tidak perlu disertai kebencian. Jika ia merupakan fenomena pikiran, cinta kasih tetap membantu mengurangi ketakutan dan konflik batin.
Prinsipnya sama:
jangan memperbesar gangguan.
Kembalilah kepada perhatian.
Kembangkan keseimbangan.
Dan teruskan latihan.

0 comments: