Namo Buddhaya

Buddha Gautama

"Aku tidak mengajar untuk menjadikanmu sebagai murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk membuatmu menjadi murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk memutuskan hubunganmu dengan gurumu yang lama. Aku bahkan tidak tertarik untuk mengubah tujuanmu,karena setiap orang ingin lepas dari penderitaan.
Cobalah apa yang telah Kutemukan ini,dan nilailah oleh dirimu sendiri. Jika itu baik bagimu,terimalah. Jika tidak, janganlah engkau terima."


(Digha Nikaya 25; Patika Vagga;Udumbarika-Sīhanāda Sutta)

Dhamma Event

https://www.instagram.com/p/DbMqpeeJrl_/

Apakah Buddhisme Sebuah Filsafat?


Salah satu cara modern untuk memahami Buddhisme adalah dengan menyebutnya sebagai filsafat.

Sekilas, penyebutan ini masuk akal.

Buddhisme membahas sifat kehidupan, perubahan, penderitaan, pikiran, identitas, sebab-akibat, moralitas, pengetahuan, dan pembebasan. Semua tema tersebut juga merupakan wilayah yang secara tradisional dibahas dalam filsafat.

Namun, menurut Bhikkhu Narada, menyebut Buddhisme hanya sebagai filsafat terlalu menyederhanakan persoalan.

Dhamma bukan spekulasi intelektual

Berdasarkan penjelasan Bhikkhu Narada, Dhamma digambarkan sebagai sesuatu yang mendalam, sulit dipahami, damai, luhur, halus, dan tidak dapat direduksi semata-mata pada penalaran logis.

Ini bukan berarti Buddhisme menolak logika. Yang ditolak adalah anggapan bahwa realitas tertinggi dapat sepenuhnya dikuasai hanya melalui argumentasi intelektual.

Buddha tidak mendirikan sebuah sistem metafisika untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia tentang segala sesuatu. Ia juga tidak bermaksud mendirikan ilmu fisika baru.

Orientasinya jauh lebih spesifik:

Apa yang perlu diketahui agar manusia dapat terbebas dari penderitaan?

Pertanyaan ini menentukan batas-batas pengajaran Buddha.

Perumpamaan segenggam daun

Bhikkhu Narada mengutip sebuah perumpamaan terkenal.

Dalam sebuah hutan, Buddha mengambil segenggam daun dan membandingkan daun di tangannya dengan seluruh daun yang ada di hutan.

Apa yang beliau ajarkan seperti segenggam daun.
Apa yang beliau ketahui tetapi tidak diajarkan seperti seluruh daun di hutan.

Makna perumpamaan ini sangat penting.

Buddha tidak menyatakan bahwa seorang guru harus mengajarkan semua yang ia ketahui. Ia memilih apa pun yang relevan secara langsung dengan pemurnian batin dan pembebasan. 

Dengan demikian, keheningan Buddha terhadap suatu pertanyaan tidak otomatis berarti beliau tidak mempunyai pengetahuan tentang pertanyaan itu. Sebaliknya, dapat berarti bahwa pertanyaan tersebut tidak dianggap berguna untuk tujuan pembebasan.

Inilah salah satu karakter pragmatis dalam Dhamma.

Pertanyaan utama bukan: “Apakah hal ini menarik untuk diperdebatkan?”, melainkan “Apakah pengetahuan ini membantu mengurangi ketidaktahuan, keserakahan, kebencian, dan penderitaan?”

Buddhisme dan beberapa gagasan dalam filsafat Barat

Bhikkhu Narada kemudian menunjukkan bahwa sejumlah pemikir Barat, pada masa yang jauh lebih kemudian, mengembangkan gagasan yang dalam beberapa aspek memiliki kemiripan dengan pokok-pokok tertentu dalam Buddhisme.

Heraclitus menekankan bahwa segala sesuatu terus mengalir dan berubah. Ungkapan terkenal yang menyatakan bahwa seseorang tidak dapat memasuki sungai yang sama dua kali.

Pythagoras berbicara tentang perpindahan atau kelahiran kembali jiwa dalam kerangka pemikirannya sendiri.

Descartes menekankan perlunya keraguan metodologis dalam mengamati fenomena.

Spinoza membicarakan perbedaan antara sesuatu yang kekal dan bentuk-bentuk eksistensi sementara, serta menghubungkan pembebasan dari penderitaan dengan pencarian pengetahuan yang tidak berubah.

Berkeley mempertanyakan status metafisis atom.

David Hume menganalisis kehidupan mental dan tidak menemukan jiwa permanen di balik arus keadaan mental yang terus berubah.

Hegel memandang fenomena dalam kerangka proses “menjadi”.

Schopenhauer membahas penderitaan dan sumbernya dalam kerangka filsafat Barat.

Henri Bergson menekankan perubahan dan memberi tempat penting kepada intuisi.

William James berbicara mengenai stream of consciousness, arus kesadaran, serta menolak gagasan tentang jiwa yang statis dan tidak berubah.

Bhikkhu Narada menggunakan perbandingan ini untuk menunjukkan bahwa lebih dari dua milenium sebelumnya, Buddhisme telah menempatkan tiga karakteristik penting kehidupan sebagai pokok penyelidikan:

anicca, ketidakkekalan
dukkha, ketidakpuasan atau penderitaan
dan anatta, ketiadaan suatu diri kekal yang independen

Namun, poinnya bukan bahwa Buddha hanyalah “filsuf yang lebih dahulu”. Perbedaannya terletak pada tujuan. Seorang filsuf dapat berhenti setelah memahami suatu teori.

Dhamma menuntut sesuatu yang lebih jauh: realisasi.

Dhamma sebagai rakit

Ajaran Buddha dianalogikan dengan sebuah rakit. Rakit mempunyai fungsi membawa seseorang menyeberangi sungai. Ia bukan sesuatu yang harus dipikul terus setelah seseorang mencapai seberang.

Demikian pula konsep, teori, istilah, dan bahkan ajaran mempunyai fungsi praktis membawa manusia menuju pembebasan.

Karena itu, seseorang tidak mempelajari Dhamma hanya untuk mampu memenangkan perdebatan tentang Dhamma.

Dhamma harus dipelajari, dipraktikkan, dan pada akhirnya direalisasikan melalui kebijaksanaan.

Jika filsafat didefinisikan sebagai kecintaan terhadap kebijaksanaan dan pencarian terhadap hakikat kehidupan, Buddhisme tentu mempunyai karakter filosofis. Namun, jika filsafat hanya berarti konstruksi teoritis untuk menjelaskan realitas, Buddhisme lebih luas daripada itu.

Bhikkhu Narada karena itu mengambil posisi yang bernuansa:

Buddhisme dapat disebut dekat dengan filsafat, tetapi tidak dapat direduksi menjadi filsafat.

Sebab perhatian utama Buddhisme bukan hanya pada “Bagaimana dunia harus dipahami?”, melainkan pada “Bagaimana pemahaman itu mengakhiri penderitaan?”

0 comments: