Namo Buddhaya

Buddha Gautama

"Aku tidak mengajar untuk menjadikanmu sebagai murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk membuatmu menjadi murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk memutuskan hubunganmu dengan gurumu yang lama. Aku bahkan tidak tertarik untuk mengubah tujuanmu,karena setiap orang ingin lepas dari penderitaan.
Cobalah apa yang telah Kutemukan ini,dan nilailah oleh dirimu sendiri. Jika itu baik bagimu,terimalah. Jika tidak, janganlah engkau terima."


(Digha Nikaya 25; Patika Vagga;Udumbarika-Sīhanāda Sutta)

Dhamma Event

https://www.instagram.com/p/DbMqpeeJrl_/

Pañcasīla: Fondasi Moral Kehidupan Umat Buddha


Ketika berbicara tentang kehidupan Buddhis, meditasi sering menjadi hal pertama yang terlintas dalam pikiran. Namun, kehidupan Buddhis tidak hanya dibangun melalui meditasi. Ada fondasi yang harus menopangnya terlebih dahulu, yaitu sīla, latihan moral atau perilaku etis.

Bagi umat Buddha yang menjalani kehidupan sebagai perumah tangga, fondasi moral tersebut dirumuskan terutama dalam Pañcasīla, yang juga disebut pañca sikkhāpadāni, yaitu Lima Latihan Moral.

Kelima latihan itu adalah:

  1. Pāṇātipātā veramaṇī, berlatih menghindari pembunuhan makhluk hidup.
  2. Adinnādānā veramaṇī, berlatih menghindari mengambil sesuatu yang tidak diberikan.
  3. Kāmesumicchācārā veramaṇī, berlatih menghindari perilaku seksual yang salah.
  4. Musāvādā veramaṇī, berlatih menghindari ucapan bohong.
  5. Surāmerayamajjappamādaṭṭhānā veramaṇī, berlatih menghindari minuman memabukkan yang menjadi dasar bagi melemahnya kewaspadaan atau kesadaran.

Lima latihan ini disebut, antara lain, dalam Dīgha Nikāya (D. III. 235).

Pañcasīla memiliki kedudukan penting karena bukan sekadar latihan yang dilakukan sesekali. Bagi seorang perumah tangga Buddhis, ia merupakan pedoman kehidupan sehari-hari. Karena itu Pañcasīla disebut Gahaṭṭhasīla, yaitu moralitas bagi kehidupan perumah tangga.

Ia juga dikenal sebagai Niccasīla, yaitu moralitas yang dilatih secara terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, Pañcasīla dibedakan dari latihan moral yang lebih banyak, seperti delapan sila, yang dapat dijalankan secara khusus pada kesempatan atau hari tertentu.

Dengan demikian, kehidupan moral Buddhis tidak dimulai dari tindakan luar biasa, melainkan dimulai dari lima pertanyaan yang sangat konkret:

Apakah tindakan saya menghancurkan kehidupan?
Apakah saya mengambil apa yang bukan menjadi hak saya?
Apakah perilaku seksual saya merugikan atau mengkhianati orang lain?
Apakah perkataan saya dapat dipercaya?
Apakah saya dengan sengaja melemahkan kesadaran saya melalui zat memabukkan?

Inilah wilayah kehidupan sehari-hari tempat sīla benar-benar diuji.

Umat Buddha yang bermoral

Istilah sīlavā upāsaka dapat dipahami sebagai umat Buddha perumah tangga yang memiliki atau menjalankan moralitas. Dalam kerangka ini, menjadi umat Buddha bukan sekadar persoalan identitas, pengakuan, atau ritual. Moralitas harus mempunyai manifestasi nyata dalam kehidupan.

Pañcasīla menjadi ukuran praktisnya.

Kelima latihan tersebut mengarahkan seseorang agar kehidupannya tidak dibangun dengan menghancurkan makhluk lain, merampas milik orang lain, menyalahgunakan seksualitas, merusak kepercayaan melalui kebohongan, atau kehilangan kendali diri karena mabuk.

Jika diperhatikan lebih jauh, kelima sila memiliki benang merah yang sama, yaitu mengurangi penderitaan dan mencegah kerugian, baik bagi diri sendiri maupun bagi makhluk lain.

Karena itu, sīla dalam kehidupan Buddhis bukan hanya persoalan “menaati aturan”. Sīla membentuk cara seseorang hidup bersama makhluk lain.

---

Pembahasan topik ini dibuat berseri dan ditulis ulang berdasarkan sumber: Pedoman Moral Umat Buddha

  1. Seri 1: Menghargai Kehidupan, Kepemilikan, dan Hubungan
  2. Seri 2: Kekuatan dan Bahaya Ucapan
  3. Seri 3: Menjaga Kesadaran
  4. Seri 4: Pañcasīla Bukan Sekadar Daftar Larangan

0 comments: