Namo Buddhaya

Buddha Gautama

"Aku tidak mengajar untuk menjadikanmu sebagai murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk membuatmu menjadi murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk memutuskan hubunganmu dengan gurumu yang lama. Aku bahkan tidak tertarik untuk mengubah tujuanmu,karena setiap orang ingin lepas dari penderitaan.
Cobalah apa yang telah Kutemukan ini,dan nilailah oleh dirimu sendiri. Jika itu baik bagimu,terimalah. Jika tidak, janganlah engkau terima."


(Digha Nikaya 25; Patika Vagga;Udumbarika-Sīhanāda Sutta)

Dhamma Event

https://www.instagram.com/p/DbMqpeeJrl_/

Pañcasīla: Fondasi Moral Kehidupan Umat Buddha (3)

Menjaga Kesadaran

5. Mengapa Minuman Memabukkan Dipandang Berbahaya?

Latihan kelima adalah: Surāmerayamajjappamādaṭṭhānā veramaṇī, yaitu berlatih menghindari minuman memabukkan yang menjadi dasar bagi munculnya kelengahan.

Jika empat sila sebelumnya berkaitan langsung dengan pembunuhan, pencurian, perilaku seksual, dan kebohongan, sila kelima memiliki karakter yang sedikit berbeda. Persoalan utamanya adalah melemahnya kesadaran dan pengendalian diri.

Kemabukan membuka pintu bagi pelanggaran lain

Ketika seseorang mabuk, kemampuan untuk menilai keadaan dapat menurun. Pengendalian diri menjadi lemah. Keputusan yang dalam keadaan sadar tidak akan diambil dapat dilakukan ketika kesadaran telah terganggu. Inilah yang membuat minuman memabukkan dipandang berbahaya.

Orang yang kehilangan pengendalian diri menjadi lebih rentan melakukan tindakan yang merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Karena itu, latihan sila kelima tidak hanya berkaitan dengan kesehatan pribadi. Ada konsekuensi sosial.

Lingkungan yang dipenuhi kemabukan dapat menjadi lebih rentan terhadap konflik, kekerasan, dan tindakan kriminal.

Kegemaran terhadap minuman keras sebagai jalan menuju kemunduran

Dalam Parābhava Sutta (Sn. 106), kegemaran terhadap minuman memabukkan, surādhutta, disebut sebagai salah satu sebab kemerosotan atau keruntuhan.

Dīgha Nikāya juga menjelaskan bahwa kebiasaan mengonsumsi minuman memabukkan merupakan salah satu jalan keluarnya kekayaan: Surāmerayamajjappamādaṭṭhānānuyogo kho, gahapatiputta, bhogānaṃ apāyamukhaṃ (D. III. 182).

Dengan kata lain, kebiasaan tersebut tidak hanya memengaruhi kondisi batin, tetapi juga dapat memiliki konsekuensi ekonomi yang nyata.

Enam bahaya kebiasaan minum minuman memabukkan

Dalam Dīgha Nikāya (D. III. 183), enam bahaya dikaitkan dengan kebiasaan mengonsumsi minuman keras.

  1. Sandiṭṭhikā dhanajāni, kehilangan kekayaan secara langsung. Kebiasaan minum membutuhkan biaya. Ketika menjadi kebiasaan yang terus-menerus, kekayaan dapat terkuras untuk sesuatu yang tidak memperbaiki kehidupan seseorang.
  2. Kalahappavaḍḍhanī, meningkatnya pertikaian. Kemabukan melemahkan kemampuan untuk mengendalikan ucapan dan perilaku. Akibatnya, perselisihan dapat meningkat.
  3. Rogānaṃ āyatanaṃ, menjadi landasan munculnya penyakit. Kebiasaan mengonsumsi minuman keras dapat membawa dampak buruk terhadap kesehatan.
  4. Akittisañjananī, merusak nama baik. Perilaku dalam keadaan mabuk dapat menciptakan reputasi buruk. Seseorang mungkin melakukan sesuatu yang, setelah sadar, justru disesalinya. Namun, masyarakat telah melihat tindakannya.
  5. Kopīnanidaṃsanī, membuka hal-hal yang memalukan. Ketika pengendalian diri melemah, seseorang dapat menunjukkan atau melakukan sesuatu yang, dalam keadaan sadar, seharusnya dapat ia hindari.
  6. Paññāya dubbalikaraṇī, melemahkan kebijaksanaan atau kecerdasan. Ini merupakan konsekuensi yang sangat penting dalam kerangka Buddhisme. Jalan latihan membutuhkan kejernihan. Seseorang perlu mampu melihat keadaan dengan tepat, mempertimbangkan konsekuensinya, dan mengendalikan tindakannya. Jika kesadaran sengaja dibuat tumpul, kemampuan tersebut justru melemah.

Dengan demikian, sila kelima mempunyai hubungan erat dengan seluruh Pañcasīla. 

Ketika seseorang kehilangan kesadaran akibat kemabukan, empat latihan lainnya juga menjadi lebih mudah dilanggar.

Seri: Pañcasīla - Fondasi Moral Kehidupan Umat Buddha

0 comments: