Namo Buddhaya

Buddha Gautama

"Aku tidak mengajar untuk menjadikanmu sebagai murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk membuatmu menjadi murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk memutuskan hubunganmu dengan gurumu yang lama. Aku bahkan tidak tertarik untuk mengubah tujuanmu,karena setiap orang ingin lepas dari penderitaan.
Cobalah apa yang telah Kutemukan ini,dan nilailah oleh dirimu sendiri. Jika itu baik bagimu,terimalah. Jika tidak, janganlah engkau terima."


(Digha Nikaya 25; Patika Vagga;Udumbarika-Sīhanāda Sutta)

Dhamma Event

https://www.instagram.com/p/DbMqpeeJrl_/

Pandangan yang Kita Pegang Menjadi Kehidupan yang Kita Jalani


Manusia tidak hidup hanya berdasarkan apa yang dilihatnya. Manusia hidup berdasarkan bagaimana ia menafsirkan apa yang dilihatnya.

Dua orang dapat berhadapan dengan peristiwa yang sama, tetapi memberikan makna yang sama sekali berbeda. Perbedaan itu kemudian menghasilkan perasaan, keputusan, ucapan, dan tindakan yang berbeda pula. Karena itu, dalam Buddhisme, persoalan pandangan bukan persoalan abstrak yang hanya layak dibahas dalam diskusi filsafat. Pandangan adalah salah satu kekuatan yang secara langsung membentuk kehidupan.

Istilah Pāli yang sering digunakan untuk pandangan adalah diṭṭhi. Ketika suatu pandangan diterima berulang kali, diyakini, lalu melekat kuat dalam batin, pandangan tersebut dapat menjadi kerangka dasar yang menentukan bagaimana seseorang memahami dunia. Ia kemudian memengaruhi cara berpikir, berbicara, dan bertindak, bahkan menentukan apa yang dianggap benar, salah, menguntungkan, berbahaya, suci, atau tercela.

Karena itulah Jalan Mulia Berunsur Delapan dimulai dengan sammā-diṭṭhi, Pandangan Benar. Bukan karena Buddhisme menganggap pemikiran intelektual lebih penting daripada perilaku, melainkan karena perilaku manusia hampir selalu bergerak mengikuti cara pandangnya.

Ketika sebuah angka dapat menimbulkan ketakutan

Contoh yang sangat sederhana dapat dilihat dari sikap manusia terhadap angka.

Bhikkhu Sri Paññāvaro Mahāthera mencontohkan bahwa dalam konteks kebudayaan tertentu di Thailand, angka empat dapat dipandang tidak menguntungkan karena asosiasi bunyinya dengan kematian. Akibatnya, sebagian orang merasa tidak nyaman dengan kamar, tempat duduk, atau situasi tertentu yang berkaitan dengan angka 4.

Bahkan kunjungan empat orang bhikkhu kepada orang yang sedang sakit dapat menimbulkan kecemasan pada orang yang memegang kepercayaan tertentu, meskipun dari sudut pandang Buddhis tidak ada sifat metafisik pada angka empat yang membuatnya membawa kematian.

Di tempat lain, angka yang ditakuti justru adalah angka 13. Hotel atau pesawat tertentu dapat melewati penomoran tersebut karena kebiasaan budaya masyarakat yang menggunakannya.

Orang Indonesia yang tidak dibesarkan dalam kepercayaan itu mungkin sama sekali tidak merasakan apa-apa saat berhadapan dengan angka 4 atau 13. Angkanya sama. Yang berubah adalah pandangan yang dilekatkan padanya.

Contoh sederhana ini memperlihatkan mekanisme yang jauh lebih besar: manusia sering kali tidak bereaksi terhadap suatu benda atau peristiwa sebagaimana adanya, melainkan bereaksi terhadap makna yang telah dibangun oleh batinnya sendiri.

Jika angka empat memang secara intrinsik membawa kemalangan, ketakutan terhadapnya seharusnya bersifat universal. Kenyataannya tidak demikian. Dalam Buddhisme sendiri terdapat Empat Kebenaran Mulia. Maka jelas bahwa persoalannya bukan pada angka tersebut, melainkan pada pandangan yang dibangun manusia terhadap angka itu.

Bulan yang buruk di satu tempat dapat menjadi bulan yang baik di tempat lain

Hal yang sama terjadi pada kalender dan tradisi.

Di sebagian masyarakat Jawa, bulan Suro secara tradisional dianggap bukan waktu yang ideal untuk melangsungkan pernikahan, pindah rumah, atau mengadakan kegiatan besar. Namun, pada komunitas lain, termasuk dalam tradisi Bali, periode yang berdekatan justru dapat dipenuhi dengan berbagai upacara keagamaan yang dianggap baik.

Bahkan di Jawa sendiri, keyakinan mengenai bulan Suro tidak diikuti secara seragam. Di kota besar atau pada generasi tertentu, pembatasan itu semakin jarang dipertahankan.

Dari sini muncul fakta penting: tradisi bukan hukum alam.

Tradisi dibangun oleh masyarakat, diwariskan, dipelihara, mengalami perubahan, dan terkadang kehilangan pengaruhnya. Sesuatu yang dianggap sangat penting oleh satu kelompok dapat sama sekali tidak relevan bagi kelompok lain.

Buddhisme tidak harus memusuhi kenyataan tersebut. Tetapi umat Buddha perlu mampu membedakan antara:

tradisi yang merupakan kebiasaan sosial,
keyakinan yang diwariskan,
dan prinsip Dhamma yang berhubungan dengan kebajikan, penderitaan, sebab-akibat, serta pembebasan batin.

Ketiga hal itu tidak selalu sama.

Tradisi kematian dan ketakutan yang diwariskan

Kepercayaan yang berkaitan dengan kematian sering kali jauh lebih kuat.

Dalam beberapa komunitas pernah berkembang pandangan bahwa jenazah tidak seharusnya dibawa melewati tempat ibadah tertentu. Ada pula anggapan bahwa upacara bagi orang meninggal sebaiknya tidak dilakukan terlalu dekat dengan altar atau ruang utama karena makhluk-makhluk surgawi dianggap tidak menyukai kematian.

Pandangan seperti ini dapat diwariskan sedemikian kuat sehingga ketika abu jenazah seorang umat Buddha ditempatkan sementara di ruang utama vihara karena tidak tersedia ruangan lain, sebagian orang merasa takut. Timbul kekhawatiran bahwa hal itu tidak pantas atau dapat mengganggu makhluk-makhluk tertentu.

Persoalan yang perlu diajukan bukan hanya, “Apakah ini tradisi?”

Pertanyaan yang lebih Buddhis adalah:

Apa akibat dari pandangan ini terhadap batin dan tindakan manusia?
Apakah ia menghasilkan kebijaksanaan atau ketakutan?
Apakah ia menumbuhkan welas asih atau diskriminasi?
Apakah ia mendorong kebajikan atau justru tindakan yang merugikan makhluk lain?

Di sinilah Buddhisme menempatkan tradisi dalam pemeriksaan etis.

Buddhisme tidak harus menghancurkan tradisi

Salah satu kesalahan yang mudah terjadi adalah menganggap bahwa menjadi Buddhis berarti menolak seluruh tradisi yang tidak secara eksplisit berasal dari Tipiṭaka.

Itu terlalu sederhana.

Bhikkhu Sri Paññāvaro menggunakan Udumbarikā-Sīhanāda Sutta sebagai salah satu dasar untuk menunjukkan sikap Buddha yang tidak berorientasi pada penaklukan identitas orang lain. Dalam percakapan dengan pengembara Nigrodha, Buddha menegaskan bahwa Beliau tidak mengajar untuk memperoleh murid, tidak bermaksud membuat orang meninggalkan gurunya, dan tidak bertujuan merusak tata kehidupan yang mereka jalani. Yang menjadi persoalan adalah kualitas perbuatan: apa yang membawa kerugian dan apa yang membawa manfaat. DN 25 memang menunjukkan dengan jelas bahwa tujuan pengajaran Buddha bukan untuk perekrutan sektarian.

Prinsip yang sama terlihat dalam kisah perumah tangga Upāli.

Upāli sebelumnya merupakan pendukung utama kaum Nigaṇṭha. Setelah berdialog dengan Buddha, ia menyatakan keinginannya untuk menjadi pengikut Buddha. Menariknya, Buddha justru menyuruh Upāli mempertimbangkan keputusannya dengan saksama. Setelah Upāli tetap teguh, Buddha bahkan mengingatkan bahwa keluarganya telah lama mendukung para Nigaṇṭha dan bahwa pemberian dana kepada mereka patut diteruskan ketika mereka datang membutuhkan.

Sikap tersebut sangat berbeda dari logika kemenangan kelompok: “Sekarang engkau menjadi pengikutku; tinggalkan semuanya yang lama.”

Yang ditampilkan justru kehati-hatian, rasa tanggung jawab sosial, dan ketidakmelekatan terhadap identitas kelompok. Karena itu, penerimaan terhadap Dhamma tidak harus menimbulkan permusuhan terhadap budaya, keluarga, atau tradisi seseorang.

Tetapi toleransi bukan berarti menerima semua hal

Di titik ini diperlukan batas yang tegas.

Tidak menolak tradisi secara membabi buta bukan berarti semua tradisi harus dipertahankan.

Bhikkhu Sri Paññāvaro memberikan contoh suatu kebiasaan pemakaman di daerah tertentu: ketika seseorang meninggal, seekor ayam hidup dimasukkan ke dalam tempat pembakaran bersama jenazah, atau dimasukkan hidup-hidup ke dalam liang kubur. Maksud tradisionalnya adalah agar orang yang meninggal memiliki “teman”.

Di sinilah persoalan berubah.

Jika mengikuti tradisi berarti membunuh makhluk hidup secara sengaja, maka masalahnya bukan lagi sekadar selera budaya. Ia telah memasuki wilayah sīla, yaitu moralitas.

Salah satu latihan moral mendasar umat Buddha adalah berusaha menghindari pembunuhan makhluk hidup. Kehidupan tetap memiliki nilai meskipun makhluk itu dianggap kecil atau tidak penting.

Karena itu, jalan keluarnya bukan menghina keluarga yang memegang tradisi tersebut, melainkan mencari cara agar unsur sosialnya tetap dihormati tanpa menimbulkan tindak pembunuhan. Ayam itu, misalnya, dapat dibawa sebagai bagian simbolis dari prosesi, tetapi tidak dibakar atau dikuburkan hidup-hidup.

Inilah kebijaksanaan praktis. Bukan “Semua tradisi salah.” Bukan pula “Karena tradisi, semuanya boleh.”

Pertanyaannya adalah: Apakah pelaksanaannya menghasilkan kusala atau akusala? Apakah ada makhluk yang dirugikan?

Tradisi yang tidak merugikan tidak perlu dijadikan medan perang

Sebaliknya, tidak semua tradisi perlu dilawan.

Jika sebuah keluarga memilih tidak menyelenggarakan pernikahan pada bulan tertentu dan pilihan itu tidak menghasilkan pelanggaran moral, umat Buddha tidak memperoleh manfaat apa pun dengan memaksakan perdebatan.

Demikian juga, dalam budaya tertentu kehadiran empat bhikkhu justru membuat keluarga yang sedang sakit sangat cemas. Selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip penting, penyesuaian sosial dapat dilakukan. Lima bhikkhu dapat datang, misalnya.

Tujuannya bukan untuk mengakui bahwa angka empat memang berbahaya.
Tujuannya adalah untuk menghindari gejolak sosial yang tidak perlu.

Kebijaksanaan Buddhis bukan hanya kemampuan mengetahui mana yang benar secara teoretis, tetapi juga kemampuan mengetahui bagaimana menerapkan yang benar tanpa menciptakan penderitaan yang sebenarnya dapat dihindari.

Karena itu, seseorang dapat menghormati sensitivitas budaya tanpa harus mempercayai seluruh metafisika di balik sensitivitas tersebut.

Tiga kemungkinan sikap terhadap tradisi

Dari seluruh pembahasan ini, terdapat tiga sikap yang perlu dibedakan.

Pertama, mengikuti tradisi secara buta. Seseorang melakukannya hanya karena “dari dulu begitu”, tanpa mempertanyakan akibatnya.

Kedua, menolak tradisi secara buta. Seseorang menganggap semua yang tradisional sebagai kebodohan dan merasa harus menghancurkannya.

Ketiga, memeriksa tradisi dengan kebijaksanaan. Inilah pendekatan yang lebih sesuai dengan Dhamma.

Jika tidak merugikan, tradisi dapat dihormati.
Jika dapat disesuaikan, sesuaikan.
Jika jelas menghasilkan pembunuhan, kekejaman, penipuan, kebencian, atau tindakan tidak bajik lainnya, unsur itulah yang perlu dihentikan.

Dengan demikian, Buddhisme bukan proyek untuk menyeragamkan kebudayaan manusia. Dhamma berfungsi lebih dalam: membantu manusia melihat apakah suatu pandangan menghasilkan pembebasan atau justru memperbesar ketidaktahuan.

Persoalan utama akhirnya bukan “tradisi atau tidak tradisi”. Persoalannya adalah pandangan. Sebab tradisi hanya menjadi kuat ketika sebuah pandangan dipercaya.

Dan begitu pandangan itu dipercaya, ia mulai mengarahkan kehidupan.

0 comments: