Manusia tidak hidup hanya berdasarkan apa yang dilihatnya. Manusia hidup berdasarkan bagaimana ia menafsirkan apa yang dilihatnya.
Dua orang dapat berhadapan dengan
peristiwa yang sama, tetapi memberikan makna yang sama sekali berbeda.
Perbedaan itu kemudian menghasilkan perasaan, keputusan, ucapan, dan tindakan
yang berbeda pula. Karena itu, dalam Buddhisme, persoalan pandangan
bukan persoalan abstrak yang hanya layak dibahas dalam diskusi filsafat.
Pandangan adalah salah satu kekuatan yang secara langsung membentuk kehidupan.
Istilah Pāli yang sering digunakan untuk
pandangan adalah diṭṭhi. Ketika suatu pandangan diterima berulang kali,
diyakini, lalu melekat kuat dalam batin, pandangan tersebut dapat menjadi
kerangka dasar yang menentukan bagaimana seseorang memahami dunia. Ia kemudian
memengaruhi cara berpikir, berbicara, dan bertindak, bahkan menentukan apa yang
dianggap benar, salah, menguntungkan, berbahaya, suci, atau tercela.
Karena itulah Jalan Mulia Berunsur
Delapan dimulai dengan sammā-diṭṭhi, Pandangan Benar. Bukan karena
Buddhisme menganggap pemikiran intelektual lebih penting daripada perilaku,
melainkan karena perilaku manusia hampir selalu bergerak mengikuti cara
pandangnya.
Ketika sebuah angka dapat menimbulkan ketakutan
Contoh yang sangat sederhana dapat dilihat dari sikap manusia
terhadap angka.
Bhikkhu Sri Paññāvaro Mahāthera mencontohkan bahwa dalam konteks
kebudayaan tertentu di Thailand, angka empat dapat dipandang tidak
menguntungkan karena asosiasi bunyinya dengan kematian. Akibatnya, sebagian
orang merasa tidak nyaman dengan kamar, tempat duduk, atau situasi tertentu
yang berkaitan dengan angka 4.
Bahkan kunjungan empat orang bhikkhu kepada orang yang sedang sakit
dapat menimbulkan kecemasan pada orang yang memegang kepercayaan tertentu,
meskipun dari sudut pandang Buddhis tidak ada sifat metafisik pada angka empat
yang membuatnya membawa kematian.
Di tempat lain, angka yang ditakuti justru adalah angka 13. Hotel atau
pesawat tertentu dapat melewati penomoran tersebut karena kebiasaan budaya
masyarakat yang menggunakannya.
Orang Indonesia yang tidak dibesarkan dalam kepercayaan itu mungkin
sama sekali tidak merasakan apa-apa saat berhadapan dengan angka 4 atau 13. Angkanya sama. Yang berubah adalah pandangan yang dilekatkan
padanya.
Contoh sederhana ini memperlihatkan mekanisme yang jauh lebih besar:
manusia sering kali tidak bereaksi terhadap suatu benda atau peristiwa
sebagaimana adanya, melainkan bereaksi terhadap makna yang telah dibangun oleh batinnya sendiri.
Jika angka empat memang secara intrinsik membawa kemalangan,
ketakutan terhadapnya seharusnya bersifat universal. Kenyataannya tidak
demikian. Dalam Buddhisme sendiri terdapat Empat Kebenaran Mulia. Maka jelas
bahwa persoalannya bukan pada angka tersebut, melainkan pada pandangan yang
dibangun manusia terhadap angka itu.
Bulan yang buruk di satu tempat dapat menjadi bulan yang baik di tempat lain
Hal yang sama terjadi pada kalender dan tradisi.
Di sebagian masyarakat Jawa, bulan Suro secara tradisional dianggap
bukan waktu yang ideal untuk melangsungkan pernikahan, pindah rumah, atau
mengadakan kegiatan besar. Namun, pada komunitas lain, termasuk dalam tradisi Bali, periode yang berdekatan justru dapat dipenuhi dengan berbagai upacara keagamaan
yang dianggap baik.
Bahkan di Jawa sendiri, keyakinan mengenai bulan Suro tidak diikuti
secara seragam. Di kota besar atau pada generasi tertentu, pembatasan itu
semakin jarang dipertahankan.
Dari sini muncul fakta penting: tradisi bukan hukum alam.
Tradisi dibangun oleh masyarakat, diwariskan, dipelihara, mengalami
perubahan, dan terkadang kehilangan pengaruhnya. Sesuatu yang dianggap sangat
penting oleh satu kelompok dapat sama sekali tidak relevan bagi kelompok lain.
Buddhisme tidak harus memusuhi kenyataan tersebut. Tetapi umat
Buddha perlu mampu membedakan antara:
tradisi yang merupakan kebiasaan sosial,
keyakinan yang diwariskan,
dan prinsip Dhamma yang berhubungan dengan kebajikan, penderitaan,
sebab-akibat, serta pembebasan batin.
Ketiga hal itu tidak selalu sama.
Tradisi
kematian dan ketakutan yang diwariskan
Kepercayaan yang berkaitan dengan kematian sering kali jauh lebih
kuat.
Dalam beberapa komunitas pernah berkembang pandangan bahwa jenazah
tidak seharusnya dibawa melewati tempat ibadah tertentu. Ada pula anggapan
bahwa upacara bagi orang meninggal sebaiknya tidak dilakukan terlalu dekat
dengan altar atau ruang utama karena makhluk-makhluk surgawi dianggap tidak
menyukai kematian.
Pandangan seperti ini dapat diwariskan sedemikian kuat sehingga
ketika abu jenazah seorang umat Buddha ditempatkan sementara di ruang utama
vihara karena tidak tersedia ruangan lain, sebagian orang merasa takut. Timbul
kekhawatiran bahwa hal itu tidak pantas atau dapat mengganggu makhluk-makhluk
tertentu.
Persoalan yang perlu diajukan bukan hanya, “Apakah ini tradisi?”
Pertanyaan yang lebih Buddhis adalah:
Apa akibat dari pandangan ini terhadap batin dan tindakan manusia?
Apakah ia menghasilkan kebijaksanaan atau ketakutan?
Apakah ia menumbuhkan welas asih atau diskriminasi?
Apakah ia mendorong kebajikan atau justru tindakan yang merugikan
makhluk lain?
Di sinilah Buddhisme menempatkan tradisi dalam pemeriksaan etis.
Buddhisme tidak harus menghancurkan tradisi
Salah satu kesalahan yang mudah terjadi adalah menganggap bahwa
menjadi Buddhis berarti menolak seluruh tradisi yang tidak secara eksplisit
berasal dari Tipiṭaka.
Itu terlalu sederhana.
Bhikkhu Sri Paññāvaro menggunakan Udumbarikā-Sīhanāda Sutta
sebagai salah satu dasar untuk menunjukkan sikap Buddha yang tidak berorientasi
pada penaklukan identitas orang lain. Dalam percakapan dengan pengembara
Nigrodha, Buddha menegaskan bahwa Beliau tidak mengajar untuk memperoleh murid,
tidak bermaksud membuat orang meninggalkan gurunya, dan tidak bertujuan merusak
tata kehidupan yang mereka jalani. Yang menjadi persoalan adalah kualitas
perbuatan: apa yang membawa kerugian dan apa yang membawa manfaat. DN 25 memang
menunjukkan dengan jelas bahwa tujuan pengajaran Buddha bukan untuk perekrutan
sektarian.
Prinsip yang sama terlihat dalam kisah perumah tangga Upāli.
Upāli sebelumnya merupakan pendukung utama kaum Nigaṇṭha. Setelah
berdialog dengan Buddha, ia menyatakan keinginannya untuk menjadi pengikut Buddha.
Menariknya, Buddha justru menyuruh Upāli mempertimbangkan keputusannya dengan
saksama. Setelah Upāli tetap teguh, Buddha bahkan mengingatkan bahwa
keluarganya telah lama mendukung para Nigaṇṭha dan bahwa pemberian dana kepada
mereka patut diteruskan ketika mereka datang membutuhkan.
Sikap tersebut sangat berbeda dari logika kemenangan kelompok:
“Sekarang engkau menjadi pengikutku; tinggalkan semuanya yang lama.”
Yang ditampilkan justru kehati-hatian, rasa tanggung jawab sosial, dan ketidakmelekatan terhadap identitas kelompok. Karena itu, penerimaan terhadap Dhamma tidak harus menimbulkan permusuhan terhadap budaya, keluarga, atau tradisi seseorang.
Tetapi toleransi bukan berarti menerima semua hal
Di titik ini diperlukan batas yang tegas.
Tidak menolak tradisi secara membabi buta bukan berarti semua
tradisi harus dipertahankan.
Bhikkhu Sri Paññāvaro memberikan contoh suatu kebiasaan pemakaman di
daerah tertentu: ketika seseorang meninggal, seekor ayam hidup dimasukkan ke
dalam tempat pembakaran bersama jenazah, atau dimasukkan hidup-hidup ke dalam liang kubur.
Maksud tradisionalnya adalah agar orang yang meninggal memiliki “teman”.
Di sinilah persoalan berubah.
Jika mengikuti tradisi berarti membunuh makhluk hidup secara sengaja, maka masalahnya bukan lagi sekadar selera budaya. Ia telah memasuki
wilayah sīla, yaitu moralitas.
Salah satu latihan moral mendasar umat Buddha adalah berusaha
menghindari pembunuhan makhluk hidup. Kehidupan tetap memiliki nilai meskipun
makhluk itu dianggap kecil atau tidak penting.
Karena itu, jalan keluarnya bukan menghina keluarga yang memegang
tradisi tersebut, melainkan mencari cara agar unsur sosialnya tetap dihormati tanpa menimbulkan tindak pembunuhan. Ayam itu, misalnya, dapat dibawa
sebagai bagian simbolis dari prosesi, tetapi tidak dibakar atau dikuburkan
hidup-hidup.
Inilah kebijaksanaan praktis. Bukan “Semua tradisi salah.” Bukan pula “Karena tradisi, semuanya boleh.”
Pertanyaannya adalah: Apakah pelaksanaannya menghasilkan kusala atau akusala? Apakah ada makhluk yang dirugikan?
Tradisi yang tidak merugikan tidak perlu dijadikan medan perang
Sebaliknya, tidak semua tradisi perlu dilawan.
Jika sebuah keluarga memilih tidak menyelenggarakan pernikahan pada
bulan tertentu dan pilihan itu tidak menghasilkan pelanggaran moral, umat
Buddha tidak memperoleh manfaat apa pun dengan memaksakan perdebatan.
Demikian juga, dalam budaya tertentu kehadiran empat bhikkhu
justru membuat keluarga yang sedang sakit sangat cemas. Selama tidak
bertentangan dengan prinsip-prinsip penting, penyesuaian sosial dapat dilakukan. Lima
bhikkhu dapat datang, misalnya.
Tujuannya bukan untuk mengakui bahwa angka empat memang berbahaya.
Tujuannya adalah untuk menghindari gejolak sosial yang tidak perlu.
Kebijaksanaan Buddhis bukan hanya kemampuan mengetahui mana yang
benar secara teoretis, tetapi juga kemampuan mengetahui bagaimana menerapkan
yang benar tanpa menciptakan penderitaan yang sebenarnya dapat dihindari.
Karena itu, seseorang dapat menghormati sensitivitas budaya tanpa
harus mempercayai seluruh metafisika di balik sensitivitas tersebut.
Tiga kemungkinan sikap terhadap tradisi
Dari seluruh pembahasan ini, terdapat
tiga sikap yang perlu dibedakan.
Pertama, mengikuti tradisi secara buta. Seseorang melakukannya hanya karena “dari dulu begitu”, tanpa mempertanyakan akibatnya.
Kedua, menolak tradisi secara buta. Seseorang menganggap semua yang tradisional sebagai kebodohan dan merasa harus menghancurkannya.
Ketiga, memeriksa tradisi dengan kebijaksanaan. Inilah pendekatan yang lebih sesuai dengan Dhamma.
Jika tidak merugikan, tradisi dapat
dihormati.
Jika dapat disesuaikan, sesuaikan.
Jika jelas menghasilkan pembunuhan,
kekejaman, penipuan, kebencian, atau tindakan tidak bajik lainnya, unsur itulah
yang perlu dihentikan.
Dengan demikian, Buddhisme bukan proyek
untuk menyeragamkan kebudayaan manusia. Dhamma berfungsi lebih dalam: membantu
manusia melihat apakah suatu pandangan menghasilkan pembebasan atau justru
memperbesar ketidaktahuan.
Persoalan utama akhirnya bukan “tradisi atau tidak tradisi”. Persoalannya adalah pandangan. Sebab tradisi hanya menjadi kuat ketika sebuah pandangan dipercaya.
Dan begitu pandangan itu dipercaya, ia mulai mengarahkan kehidupan.

0 comments: