Setelah membahas filsafat, agama, ritual, moralitas, dan kebijaksanaan, Bhikkhu Narada memberikan sejumlah rumusan dalam konteks negatif untuk menjelaskan apa yang bukan Buddhisme. Cara ini penting karena Buddhisme sering disalahpahami ketika dipaksakan ke dalam kategori yang terlalu sederhana.
Buddhisme bukan sekadar metafisika
Tujuannya bukan untuk menghasilkan spekulasi yang tidak berkaitan dengan penderitaan dan pembebasan.
Buddhisme bukan sekadar ritual.
Upacara dapat mempunyai fungsi. Namun, upacara tidak menggantikan praktik.
Buddhisme bukan skeptisisme total
Buddhisme menghargai penyelidikan. Tetapi tujuan penyelidikan adalah Pandangan Benar, bukan keraguan tanpa akhir.
Buddhisme bukan dogmatisme
Kebenaran tidak diterima hanya karena otoritas berkata demikian.
Buddhisme tidak berdiri pada eternalisme
Buddhisme tidak mengajarkan bahwa ada suatu diri pribadi yang kekal dan tidak berubah yang berlangsung selamanya.
Buddhisme juga tidak berdiri pada nihilisme atau annihilationism
Penolakan terhadap diri kekal tidak berarti memiliki pandangan bahwa “setelah mati, semuanya tidak mempunyai konsekuensi dan tidak ada
apa-apa.” Oleh karenanya, Buddhisme menghindari dua ekstrem:
sassatavāda, pandangan kekekalan,
dan ucchedavāda, pandangan pemusnahan total.
Buddhisme bukan penyiksaan diri
Penderitaan fisik bukan kesucian.
Buddhisme juga bukan pemuasan kenikmatan
Kesenangan indrawi tidak dijadikan tujuan tertinggi. Jalan Buddha berada di antara kedua ekstrem tersebut.
Buddhisme bukan optimisme naif
Buddhisme tidak harus selalu mengatakan: “Semua baik-baik saja.” Kelahiran, penyakit, penuaan, kematian, kehilangan, perubahan, dan keterikatan adalah kenyataan.
Buddhisme juga bukan pesimisme
Ia tidak berhenti pada penderitaan. Ia menunjukkan jalan keluar. Karena itu, kata yang lebih tepat dalam kerangka Bhikkhu Narada adalah realistis dan praktis.
Buddhisme melihat persoalan tanpa
menyangkalnya. Lalu menanyakan:
“Apa sebabnya?”
“Dapatkah sebab itu dihentikan?”
“Bagaimana caranya?”
Inilah logika pembebasan.

0 comments: