Bhikkhu Narada menjawab dengan mengutip
nasihat Buddha kepada Rahula.
Jika jawabannya ya, tindakan itu membawa
karakter tidak baik dan berpotensi menghasilkan penderitaan.
Sebaliknya:
Jika demikian, tindakan tersebut layak untuk dilakukan dan dikembangkan.
Etika memerlukan refleksi sebelum, selama, dan setelah bertindak
Prinsip ini menuntut kesadaran. Moralitas bukan hanya hafalan larangan. Praktisi harus belajar memeriksa konsekuensi. Pertanyaan moral tidak berhenti pada, “Apakah saya diizinkan melakukan ini?”
Pertanyaan yang lebih matang adalah, “Apa yang dilakukan tindakan ini terhadap batin saya dan kehidupan makhluk lain?”
Diri sendiri dan orang lain sama-sama diperhitungkan
Etika Buddhis tidak mengajarkan bahwa seseorang harus menghancurkan dirinya demi orang lain. Ia juga tidak membenarkan egoisme yang mengabaikan makhluk lain. Kesejahteraan diri dan kesejahteraan orang lain perlu diperhatikan bersama. Dan “orang lain” tidak terbatas pada manusia. Buddhisme secara eksplisit memperluas perhatian moral kepada hewan dan makhluk hidup.
Metta: cinta kasih yang tidak terbatas
Bhikkhu Narada mengutip Karanīya Mettā Sutta. Cinta kasih ideal dibandingkan dengan perhatian seorang ibu kepada anak tunggalnya. Seorang ibu bahkan dapat mempertaruhkan hidup demi melindungi anaknya.
Dengan kualitas hati seperti itu, seorang praktisi diarahkan untuk
mengembangkan cinta kasih tanpa batas bagi semua makhluk.
Ini bukan sentimentalisme.
Metta merupakan latihan sistematis melawan kebencian. Kebencian berkata, “Semoga orang itu menderita.” Metta berkata, “Semoga makhluk terbebas dari penderitaan.”
Mengambil diri sendiri sebagai ukuran
Dhammapada memberikan prinsip lain:
semua takut pada kekerasan;
semua mencintai kehidupan.
Karena kita memahami rasa takut terhadap rasa sakit melalui
pengalaman sendiri, kita dapat menggunakannya sebagai dasar untuk berempati.
Jika saya tidak ingin disakiti, saya memiliki dasar untuk memahami
mengapa makhluk lain juga tidak ingin disakiti.
Ini memberikan landasan etika yang sangat konkret, lihat makhluk lain sebagai makhluk yang juga mengalami kehidupan dari sudut pandangnya sendiri.
Teks-teks etika yang dianjurkan
Bhikkhu Narada menyebut sejumlah
khotbah dan kumpulan ajaran yang dianggap sangat penting untuk memahami
kehidupan moral Buddhis, antara lain:
Dhammapada,
Sigālovāda Sutta,
Vyagghapajja Sutta,
Maṅgala Sutta,
Mettā Sutta,
Parābhava Sutta,
Vasala Sutta,
dan Dhammika Sutta.
Sutta-sutta yang disebutkan ini menegaskan luasnya etika Buddhis. Ia membahas hubungan sosial, kehidupan rumah tangga, kemakmuran, kebajikan, cinta kasih, sebab kemerosotan, martabat manusia, serta kewajiban praktisi.
Namun sekali lagi, Bhikkhu Narada menekankan bahwa moralitas adalah permulaan, bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah pembebasan.

0 comments: