Namo Buddhaya

Buddha Gautama

"Aku tidak mengajar untuk menjadikanmu sebagai murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk membuatmu menjadi murid-Ku. Aku tidak tertarik untuk memutuskan hubunganmu dengan gurumu yang lama. Aku bahkan tidak tertarik untuk mengubah tujuanmu,karena setiap orang ingin lepas dari penderitaan.
Cobalah apa yang telah Kutemukan ini,dan nilailah oleh dirimu sendiri. Jika itu baik bagimu,terimalah. Jika tidak, janganlah engkau terima."


(Digha Nikaya 25; Patika Vagga;Udumbarika-Sīhanāda Sutta)

Dhamma Event

https://www.instagram.com/p/DbMqpeeJrl_/

Anicca: Mengetahui bahwa “Segala Sesuatu Berubah” Ternyata Belum Cukup


Semua orang tahu bahwa kehidupan berubah. Anak kecil tumbuh. Orang dewasa menua. Barang baru menjadi usang. Hubungan dapat berubah. Bangunan rusak. Pohon tumbang. Kesehatan menurun. Orang bertemu dan berpisah.

Secara intelektual, hampir tidak ada yang sulit dari pernyataan tersebut. Namun, Buddha tidak sekadar meminta manusia menyetujui bahwa perubahan ada. Persoalannya adalah apakah kita benar-benar mampu hidup sesuai dengan kenyataan tersebut.

Inilah inti anicca.

Anicca bukan teori pesimistis

Anicca berarti ketidakkekalan atau ketidakmenetapan.

Fenomena yang muncul karena kondisi tidak bertahan dalam keadaan yang sama selamanya.

Ia muncul.
Berubah.
Dan pada suatu saat berakhir.

Buddhisme tidak mengatakan ini untuk membuat manusia murung. Justru penderitaan bertambah ketika kita hidup seolah-olah sesuatu yang seharusnya tidak berubah tetap berubah.

Tubuh berubah, tetapi kita menuntut tubuh tetap seperti dahulu.
Anak tumbuh dewasa, tetapi orang tua ingin hubungan tetap sama.
Pasangan berubah, tetapi kita menggenggam citra lama.
Jabatan berakhir, tetapi identitas masih melekat pada kedudukan tersebut.
Kekayaan naik dan turun, tetapi rasa aman sepenuhnya bergantung pada kepemilikan.

Masalahnya bukan hanya perubahan. Masalahnya adalah benturan antara realitas yang berubah dan tuntutan batin agar realitas tetap seperti yang kita inginkan.

“Saya tahu semuanya berubah” belum berarti menerima perubahan

Bhikkhu Sri Paññāvaro membedakan secara praktis antara pengetahuan intelektual dan apa yang beliau sebut sebagai “pengetahuan mental”. Istilah tersebut digunakan secara pedagogis, bukan sebagai kategori teknis yang kanonik.

Maksudnya mudah dipahami.

Pengetahuan intelektual mengatakan: “Saya tahu bahwa hubungan manusia dapat berakhir.” Pengetahuan yang sudah masuk ke dalam latihan terlihat ketika pasangan benar-benar pergi dan kita masih mampu melihat kenyataan dengan cukup jernih.

Pengetahuan intelektual berkata: “Barang dapat rusak.”
Latihan diuji ketika barang kesayangan benar-benar rusak.

Pengetahuan intelektual berkata: “Manusia bisa meninggal.”
Kedalaman pemahaman terlihat ketika orang yang kita cintai meninggal.

Selama perubahan hanya mengenai benda yang tidak kita pedulikan, menerima anicca menjadi lebih mudah. Begitu yang berubah adalah sesuatu yang sangat kita cintai: teori berhadapan dengan realitas. Di situlah kita mengetahui sejauh mana Dhamma sudah benar-benar dipahami.

Kisah sebuah hubungan: fakta versus keinginan

Bhikkhu Sri Paññāvaro memberi contoh seorang perempuan yang menjalin hubungan dengan seorang duda yang mempunyai tiga anak. Kemudian muncul indikasi bahwa pria tersebut tidak setia.

Secara rasional, persoalannya terlihat cukup jelas. Ada fakta. Ada risiko. Ada kemungkinan konsekuensi di masa depan.

Nasihat yang diberikan Bhikkhu Sri Paññāvaro pada dasarnya sederhana: lihat faktanya, lihat risikonya, ukur kemampuan diri, lalu ambil keputusan sendiri.

Jika sanggup menerima konsekuensinya sepenuhnya dan ingin melanjutkan, jalani dengan sadar. Jika tidak sanggup, lepaskan.

Tetapi justru di situlah kesulitan muncul. “Saya masih cinta.” Kalimat itu menunjukkan sesuatu yang sangat manusiawi. Masalah tidak lagi hanya terletak pada fakta eksternal. Ada keterikatan batin terhadap sebuah kemungkinan: hubungan yang diinginkan, masa depan yang dibayangkan, kenangan yang telah terbentuk.

Kenyataan sudah berubah. Namun, batin belum bersedia mengubah gambarnya. Inilah salah satu bentuk ketegangan yang menghasilkan penderitaan.

Dukkha bukan sekadar berarti “perubahan”

Bhikkhu Sri Paññāvaro beberapa kali menghubungkan perubahan dengan dukkha.

Dukkha mempunyai cakupan yang jauh lebih luas daripada “rasa sakit” dan juga tidak tepat jika disamakan begitu saja dengan “perubahan”. Yang lebih akurat adalah: karena sesuatu tidak kekal, ia tidak dapat dijadikan landasan kepuasan yang sepenuhnya stabil apabila kita mencengkeramnya.

Apa yang menyenangkan berubah.
Tubuh yang nyaman berubah.
Hubungan berubah.
Perasaan senang berubah.

Karena itu, ketika kita menuntut yang berubah agar menyediakan kebahagiaan yang tidak berubah, terdapat ketidakselarasan mendasar.

Inilah salah satu dimensi dukkha.

Sementara dukkha-vedanā merujuk lebih khusus pada perasaan yang menyakitkan atau tidak menyenangkan. Pembedaan ini penting.

Ketika sebuah telepon baru jatuh dan rusak, kerusakan itu merupakan perubahan keadaan. Rasa kecewa, sedih, atau sakit yang muncul merupakan pengalaman perasaan.

Pemahaman tentang anicca tidak selalu menghilangkan rasa tidak nyaman secara instan, tetapi dapat mencegah batin menambahkan lapisan penderitaan yang tidak perlu:

“Ini tidak boleh terjadi.”
“Kenapa harus saya?”
“Seharusnya barang ini tidak rusak.”

Dengan demikian, Dhamma tidak membuat manusia kebal terhadap kehilangan. Dhamma mengurangi perlawanan yang tidak realistis terhadap kenyataan kehilangan.

Anattā: bahkan tubuh dan batin tidak sepenuhnya tunduk kepada “aku”

Dari pembahasan perubahan, Bhikkhu Sri Paññāvaro bergerak menuju anattā.

Jika sesuatu benar-benar merupakan “aku” dalam arti penguasa mutlak, seharusnya ia dapat dikendalikan sesuai dengan kehendak. 

Tetapi coba periksa tubuh. Bisakah kita memerintah: “Jangan tua”? “Jangan sakit”? “Jangan lelah”?

Tidak.

Periksa perasaan. Bisakah kita memerintah: “Mulai sekarang saya bahagia tanpa syarat”?

Tidak.

Periksa pikiran. Bisakah kita mengatakan: “Jangan munculkan satu pun pikiran yang tidak saya inginkan selama tujuh hari”?

Tidak.

SN 22.59 (Anattalakkhana Sutta) menggunakan argumentasi yang sangat dekat dengan ini. Buddha menunjukkan bahwa tubuh, perasaan, persepsi, bentukan kehendak, dan kesadaran tidak dapat diperintah sesuka hati; karena itu kelimanya tidak layak diperlakukan sebagai diri yang berdaulat.

Lima kelompok pengalaman tersebut dikenal sebagai pañcakkhandha:
rūpa, jasmani atau bentuk,
vedanā, perasaan,
saññā, persepsi atau pengenalan,
saṅkhāra, bentukan mental/kehendak,
viññāṇa, kesadaran.

Anattā tidak berarti bahwa kehidupan tidak ada.

Yang diperiksa adalah anggapan bahwa dalam proses tubuh-batin ini terdapat inti permanen yang sepenuhnya menguasai semuanya.

Mengerti sistem perubahan justru membuat kita lebih bebas

Ada orang yang mendengar anicca lalu mengira Buddhisme mengajarkan fatalisme: “Kalau semuanya berubah, buat apa berusaha?”

Kesimpulan itu terbalik. Justru karena kondisinya dapat berubah, usaha mempunyai arti.

Orang bodoh dapat belajar.
Orang pemarah dapat melatih kesabaran.
Kemiskinan dapat berubah.
Penyakit tertentu dapat diobati.
Hubungan yang buruk dapat diperbaiki atau diakhiri.
Kebiasaan buruk dapat dilemahkan.
Batin yang tidak terlatih dapat dilatih.

Jika segala sesuatu benar-benar kekal, perubahan ke arah yang lebih baik juga mustahil.

Karena itu, anicca bukan hanya berita tentang kehilangan. Anicca juga merupakan dasar kemungkinan transformasi.

Menghadapi perubahan sesuai dengan sistemnya

Bayangkan sebuah perangkat elektronik mengeluarkan suara keras dan pemiliknya tidak mengetahui cara mematikannya.

Seseorang dapat berkata: “Celupkan saja ke air.” Benar, suaranya akan berhenti. Tetapi alatnya ikut rusak.

Masalah memang selesai dalam satu pengertian, tetapi diselesaikan tanpa memahami sistem.

Kehidupan sering diperlakukan dengan cara yang sama.

Sedih karena konflik: mabuk.
Stres karena pekerjaan: melampiaskan kepada keluarga.
Hubungan bermasalah: mencari hubungan baru tanpa memahami pola lama.
Merasa kosong: terus berbelanja.
Takut kehilangan: semakin mengontrol pasangan.

Masalah pertama mungkin terasa mereda. Tetapi sistem yang melahirkan penderitaan tidak disentuh. Bahkan masalah baru ditambahkan.

Karena itu, ajaran Buddha berusaha membawa manusia dari reaksi menuju pemahaman:

Apa kondisinya?
Apa sebabnya?
Apa yang saya tambahkan melalui pikiran dan tindakan?
Apa yang dapat dihentikan?
Apa yang perlu dikembangkan?

Di sinilah Dhamma mulai berfungsi sebagai alat diagnosis.

Mengapa yang pasti justru sulit diterima?

Bhikkhu Sri Paññāvaro menyampaikan sebuah pengamatan menarik.

Manusia sering tertarik pada sesuatu yang misterius: ramalan, kekuatan gaib, cerita dewa, rahasia nasib, dan hal-hal yang belum pasti.

Tetapi ketika diberitahu: “Segala sesuatu berubah,” reaksinya dapat berupa: “Ya tentu. Semua orang juga tahu.”

Benar. Tetapi pertanyaan Dhamma bukan apakah kita pernah mendengar kalimatnya.

Pertanyaannya adalah: sudahkah kita berhenti bertindak seolah-olah yang kita cintai tidak boleh berubah?

Kita mengetahui kematian, tetapi menjalani kehidupan seolah-olah waktu tidak terbatas.
Kita mengetahui tubuh menua, tetapi menggantungkan identitas pada penampilan.
Kita mengetahui uang dapat hilang, tetapi menjadikannya satu-satunya rasa aman.
Kita mengetahui hubungan dapat berubah, tetapi menuntut kepastian mutlak dari manusia lain.

Kita “tahu”, tetapi hidup seolah-olah tidak tahu. Inilah perbedaan antara informasi tentang Dhamma dan transformasi melalui Dhamma.

Ketenteraman bukan berasal dari memastikan dunia tidak berubah

Jika ketenteraman bergantung pada semua hal yang berjalan sesuai keinginan, kita tidak akan pernah benar-benar tenteram. Selalu ada sesuatu yang dapat berubah: Kesehatan. Ekonomi. Politik. Keluarga. Cuaca. Umur. Pekerjaan. Tubuh. Pikiran orang lain.

Karena itu Dhamma menawarkan strategi yang berbeda: bukan membuat dunia berhenti berubah, melainkan membentuk batin agar semakin mampu berhubungan dengan perubahan tanpa dihancurkan olehnya.

Namun, mengapa hal yang secara logis sangat jelas ini begitu sulit dilakukan?

Menurut Bhikkhu Sri Paññāvaro, jawabannya adalah kilesa.

Kita tidak sekadar melihat dunia. Kita melihat dunia melalui keinginan, ketakutan, ingatan, kesenangan, dan kemelekatan.

Untuk memahami mengapa kita terus melawan sistem kehidupan, kita harus melihat cara kerja mesin batin itu sendiri.

0 comments: