Mengapa seseorang mengulangi sesuatu yang sebenarnya ia tahu berbahaya?
Mengapa orang yang pernah memperoleh keuntungan melalui penipuan terdorong untuk mengulanginya?
Mengapa hubungan yang jelas-jelas merusak tetap sulit dilepaskan?
Mengapa pengalaman yang menyenangkan terus muncul kembali dalam pikiran?
Bhikkhu Sri Paññāvaro membawa pembahasan tentang persoalan
ini ke dalam kilesa, kekotoran atau pengotor batin.
Kilesa membuat batin sulit melihat kenyataan
Kilesa bukan benda, melainkan merupakan nama bagi kualitas-kualitas batin yang mengaburkan penglihatan jernih, misalnya keserakahan, kebencian, delusi, kecemburuan, kesombongan, dan berbagai bentuk kemelekatan.
Ketika kilesa kuat, sesuatu yang secara rasional sangat jelas dapat menjadi sulit untuk diterima. Contohnya:
kita tahu hubungan tertentu berbahaya, tetapi tetap mengejarnya;
tahu suatu kebiasaan merusak kesehatan, tetapi terus mengulanginya;
tahu kemarahan akan memperburuk konflik, tetapi tetap
melampiaskannya.
Masalahnya bukan selalu kurang informasi. Kadang-kadang kita sudah tahu jawabannya. Tetapi keinginan lebih kuat daripada pengetahuan.
Kilesa seperti bola salju
Bhikkhu Sri Paññāvaro menggunakan analogi bola salju.
Sebuah bola kecil menggelinding. Salju lain melekat. Semakin besar bola itu, semakin mudah ia mengumpulkan salju tambahan.
Kilesa bekerja dengan pola yang serupa.
Keinginan dituruti. Muncul kesenangan. Kesenangan meninggalkan kesan. Kesan memancing keinginan berikutnya. Keinginan kembali dituruti. Polanya menguat.
Setelah berlangsung lama, seseorang merasa: “Memang saya seperti ini.”
Padahal sesuatu yang sekarang terasa seperti karakter permanen
mungkin merupakan pola yang dipelihara ribuan kali.
Karena itu, kebiasaan sangat penting dalam Buddhisme.
Kita sedang melatih batin setiap saat, entah sadar atau tidak.
Setiap kali kebencian dilampiaskan, kita berlatih menjadi lebih
mudah untuk membenci.
Setiap kali keinginan langsung dipenuhi, kita melatih batin untuk
semakin sulit menunggu.
Sebaliknya,
setiap kali amarah dikenali sebelum diucapkan,
setiap kali keinginan tidak otomatis diikuti,
setiap kali kemurahan hati dipilih,
kita sedang melatih pola yang berbeda.
Dua unsur penting: saññā dan vedanā
Bhikkhu Sri Paññāvaro memberikan perhatian khusus pada saññā
dan vedanā.
Dalam penjelasan Bhikkhu Sri Paññāvaro, saññā dijelaskan secara sederhana sebagai ingatan atau kesan. Secara teknis, terjemahan yang lebih tepat adalah persepsi/pengenalan, yaitu fungsi batin yang mengenali dan memberi tanda pada pengalaman. Ingatan sangat berkaitan dengannya, sehingga penjelasan beliau tetap mudah dipahami secara pedagogis.
Vedanā berarti perasaan dalam pengertian kualitas rasa pengalaman: menyenangkan, tidak menyenangkan, atau netral.
Keduanya membentuk dinamika yang sangat kuat.
Kita mengalami sesuatu.
Ada rasa menyenangkan.
Pengalaman itu dikenali dan meninggalkan kesan.
Ketika kondisi tertentu muncul kembali, kesan tersebut dapat
memanggil pengalaman lama:
“Dulu enak.”
“Mau lagi.”
Di sinilah masa lalu mulai memengaruhi keputusan saat ini.
Mengapa pengalaman pertama dan pengalaman kesepuluh berbeda?
Bayangkan seseorang yang belum pernah menikmati suatu zat memabukkan. Ia mungkin penasaran, tetapi belum memiliki memori langsung tentang kenikmatannya.
Orang lain sudah menggunakannya berkali-kali dan merasakan sensasi yang menyenangkan. Ketika melihat botol yang sama, dua orang ini tidak hanya melihat benda yang sama.
Bagi orang kedua, objek itu membawa seluruh jaringan ingatan: rasa, sensasi, suasana, asosiasi sosial, dan kenikmatan.
Saññā dan vedanā bekerja bersama.
Karena itulah, pengalaman menyenangkan dapat terasa seperti sedang
“memanggil”.
Bukan botolnya yang berbicara. Batin sendiri menghasilkan dorongan berdasarkan pengalaman sebelumnya.
Prinsip yang sama berlaku pada: makanan, belanja, seksualitas, pujian, media sosial, permainan, status, kekuasaan, bahkan konflik.
Kita dapat menjadi “ketagihan” bukan hanya terhadap benda, tetapi juga terhadap keadaan batin tertentu.
Perasaan tidak menyenangkan juga dapat mengikat
Kemelekatan tidak hanya terjadi pada kesenangan. Pengalaman buruk juga meninggalkan jejak.
Seseorang gagal. Lalu setiap kali memikirkan situasi serupa, rasa takut muncul. Ia menghindar. Semakin menghindar, semakin keyakinannya mengeras: “Saya memang tidak mampu.” Dengan demikian, kenangan kegagalan dapat menciptakan kemelekatan terhadap trauma.
Bhikkhu Sri Paññāvaro membedakan
antara belajar dari kegagalan dan terikat olehnya.
Jika seseorang gagal tetapi melihat: “Dulu kondisinya demikian; sekarang kondisinya sudah berubah,” ia dapat mencoba lagi secara bijaksana. Itu bukan menolak masa lalu. Ia justru tidak menjadikan masa lalu sebagai penjara.
Sebaliknya, jika setiap ingatan secara otomatis memunculkan ketakutan dan
penghindaran, pengalaman lama akan terus menguasai kehidupan saat ini.
Jadi kemelekatan dapat mengambil dua bentuk: “Ini menyenangkan, saya harus mengulanginya” atau “Ini pernah menyakitkan, saya harus selamanya menghindarinya.”
Keduanya dapat menghilangkan kebebasan apabila tidak disertai
kebijaksanaan.
Lima gugusan bukan masalah; kemelekatanlah masalahnya
Dalam pembahasan ini muncul istilah upādānakkhandha, yaitu lima
gugusan yang menjadi sasaran kemelekatan.
Ini perlu dipahami dengan hati-hati.
Masalahnya bukan bahwa kita memiliki tubuh.
Bukan bahwa kita mempunyai perasaan.
Bukan bahwa persepsi atau ingatan muncul.
Bukan bahwa pikiran bekerja.
Bukan bahwa kesadaran ada.
Seorang Arahat pun, selama masih hidup, tetap mengalami jasmani, perasaan, persepsi, bentukan mental, dan kesadaran. Perbedaannya terletak pada kemelekatan.
SN 22.48 (Khandha Sutta) membedakan lima gugusan dari lima gugusan yang menjadi objek pencengkeraman. Artinya, fenomena-fenomena pengalaman dapat hadir tanpa harus dijadikan “aku”, “milikku”, atau sesuatu yang harus terus dipuaskan.
Rasa senang muncul.
Bagi batin yang melekat: “Bagaimana saya mendapatkannya lagi?”
Bagi batin yang jernih: “Perasaan menyenangkan sedang muncul.”
Kemudian ia berlalu.
Rasa tidak menyenangkan muncul.
Batin yang melekat: “Ini tidak boleh ada.”
Batin yang jernih: “Perasaan tidak menyenangkan sedang hadir.”
Lalu ia berubah.
Ini bukan mati rasa. Justru perasaan diketahui lebih jelas karena tidak langsung ditelan oleh cerita tentang “aku”.
Apakah hidup tanpa kilesa akan menjadi hambar?
Ada kekhawatiran umum: “Kalau keinginan dikurangi, bukankah hidup kehilangan gairah?”
Pertanyaan itu mengandung asumsi bahwa hanya hawa nafsu yang dapat menghasilkan kenikmatan. Bhikkhu Sri Paññāvaro menolak asumsi tersebut.
Ada kenikmatan dalam: belajar, menolong orang lain, menciptakan sesuatu yang bermanfaat, bermeditasi, melakukan pekerjaan sosial, menjaga keluarga, mengembangkan keterampilan, berbuat baik.
Kehidupan tidak harus menjadi datar hanya karena keserakahan berkurang. Justru kita mulai menemukan jenis kepuasan yang tidak selalu membutuhkan konsumsi yang terus-menerus.
Dari kenikmatan berbahaya menuju kenikmatan yang mendukung jalan
Bhikkhu Sri Paññāvaro memberikan nasihat yang sangat pragmatis:
jika seseorang masih membutuhkan sesuatu yang menyenangkan,
pilihlah
kesenangan yang tidak merusak.
Bangun memori yang baik.
Kenikmatan belajar.
Kenikmatan berdana.
Kenikmatan menolong.
Kenikmatan bermeditasi.
Kenikmatan menyelesaikan pekerjaan yang bermanfaat.
Apakah kita masih dapat melekat pada kebaikan?
Ya.
Seseorang bahkan dapat merasa bangga: “Aku orang baik.”
Dapat melekat pada meditasi.
Pada identitas spiritual.
Pada reputasi sebagai dermawan.
Namun, dalam tahap latihan, Bhikkhu Sri Paññāvaro menggunakan formulasi yang sangat mudah dipahami: lebih baik “ketagihan” berbuat baik daripada “ketagihan” berbuat jahat.
Mengapa?
Karena kebiasaan baik menjauhkan seseorang dari kebiasaan merusak
dan menciptakan kondisi yang lebih mendukung bagi kebijaksanaan.
Tetapi itu bukan tahap akhir.
Setelah kebajikan kuat, latihan dilanjutkan: berbuat baik tanpa melekat pada identitas, pujian, atau hasil.
Ini perkembangan yang sangat penting.
Tahap awal: hindari yang buruk.
Tahap berikut: biasakan yang baik.
Tahap yang lebih dalam: lepaskan kemelekatan, bahkan terhadap hasil kebaikan.
“Jangan manjakan kilesa” bukan berarti membenci diri sendiri
Bahasa Bhikkhu Sri Paññāvaro cukup keras saat berbicara tentang perlunya “kejam”
terhadap diri sendiri.
Bagi pembaca masa kini, istilah itu mudah disalahpahami. Maksudnya bukan menyiksa diri. Bukan membenci diri. Bukan menghukum tubuh. Yang dimaksud adalah ketegasan terhadap pola batin yang terus-terusan meminta dipuaskan.
Ketika keinginan berkata: “Sekali lagi.”
Kita tidak selalu harus wajib menjawab: “Ya.”
Ketika kemarahan berkata: “Kirim pesan itu sekarang.” Kita dapat menunggu.
Ketika ego berkata: “Kamu harus menang.” Kita dapat memeriksanya.
Ketegasan terhadap kilesa justru merupakan bentuk perlindungan
terhadap diri sendiri.
Kesadaran harus hadir sebelum pola menjadi besar
Jika sebuah pola sudah menjadi
kecanduan berat, mengubahnya akan menjadi lebih sulit.
Karena itu, latihan terbaik dimulai ketika
proses masih kecil.
Ada rasa menyenangkan. Kenali.
Ada keinginan untuk mengulang. Kenali.
Ada rasa takut kehilangan. Kenali.
Ada ketidaksenangan. Kenali.
Ada dorongan untuk menyerang. Kenali.
Buddhisme tidak meminta kita menunggu sampai menjadi sempurna. Yang dilatih adalah kemampuan untuk melihat proses sedini mungkin.
Semakin cepat terlihat, semakin besar ruang bagi pilihan. Dan ketika pilihan itu dilakukan berulang kali, terbentuk kebiasaan baru.
Dari sini kita sampai kepada pertanyaan
yang jauh lebih besar:
Jika kehidupan bekerja melalui sebab dan
kondisi, bagaimana Buddhisme menentukan tindakan yang baik dan yang buruk?
Apakah baik dan buruk hanya masalah
pendapat?
Atau ada struktur etis yang dapat
diperiksa melalui akibat tindakan?
Pembahasan tersebut membawa kita menuju hukum kamma.
0 comments: