Setiap orang hidup, tetapi tidak setiap orang memahami kehidupan yang sedang dijalaninya.
Kita lahir, tumbuh, belajar, bekerja,
membangun hubungan, mengejar sesuatu, mengalami keberhasilan dan kegagalan,
menjadi tua, lalu suatu hari kehidupan ini berakhir. Semua orang lebih atau kurang melewati proses tersebut. Namun, menurut Bhikkhu Sri Paññāvaro,
ada perbedaan besar antara sekadar hidup dan memahami bagaimana
kehidupan bekerja.
Untuk menjelaskan hal ini, beliau
menggunakan analogi yang sangat sederhana: komputer.
Bayangkan seseorang memperoleh komputer yang sangat canggih, tetapi tidak memahami sistem operasinya. Ia mungkin mengenali papan ketik karena bentuknya menyerupai mesin ketik. Namun, jika ia memperlakukan komputer persis seperti mesin ketik manual, sebagian besar kemampuan komputer itu tidak akan pernah dimanfaatkan.
Ketika komputer mengalami masalah,
situasinya justru menjadi semakin buruk. Orang yang tidak memahami sistemnya
mungkin mencoba memperbaikinya dengan cara yang sama sekali tidak relevan.
Bukan karena komputernya jahat atau sengaja menyusahkan, tetapi karena cara
pengguna memperlakukannya tidak sesuai dengan sistem yang membuat alat tersebut
bekerja.
Bhikkhu Sri Paññāvaro mengajak kita
melihat kehidupan dengan cara yang serupa.
Kehidupan jauh lebih kompleks daripada
komputer. Namun, kehidupan juga tidak berjalan secara acak. Fenomena muncul
karena kondisi. Perbuatan membawa konsekuensi. Tubuh mengalami perubahan.
Perasaan berubah. Hubungan berubah. Keadaan ekonomi berubah. Apa yang kita
sukai dapat hilang. Apa yang tidak kita sukai dapat datang.
Masalah manusia sering kali bukan hanya bahwa perubahan terjadi. Masalahnya adalah kita menuntut kehidupan bekerja menurut kehendak pribadi, sementara kehidupan berjalan menurut kondisi-kondisinya sendiri.
Memahami sistem bukan berarti menjadi pasif
Ketika dikatakan bahwa kehidupan memiliki “sistem”, mudah timbul
kesalahpahaman.
Apakah berarti semuanya sudah ditentukan?
Apakah manusia hanya bisa menerima nasib?
Bukan demikian.
Justru karena terdapat keteraturan sebab-akibat, manusia memiliki ruang untuk bertindak dengan lebih cerdas.
Jika kita memahami bagaimana benih tumbuh, kita dapat merawatnya.
Jika memahami kesehatan, kita dapat memperbaiki kebiasaan.
Jika memahami pikiran, kita dapat melatihnya.
Jika memahami akibat perbuatan, kita dapat memilih tindakan.
Karena ada sistem, pilihan menjadi bermakna.
Bhikkhu Sri Paññāvaro memberikan gambaran tentang menanam biji teratai. Kita dapat menanamnya, menyediakan kondisi yang sesuai, dan merawatnya. Tetapi kita tidak dapat memerintahkan “Besok harus berbunga.” Teratai berkembang sesuai dengan kondisi yang memungkinkan pertumbuhannya.
Kita dapat berusaha, tetapi tidak dapat mengganti hukum proses
dengan kemauan pribadi.
Dalam pengertian ini, kebijaksanaan bukan kemampuan untuk mengontrol
segala sesuatu. Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk memahami apa yang dapat
diusahakan, apa yang bergantung pada kondisi, dan apa yang tidak tunduk pada
keinginan kita.
Mengapa manusia perlu memahami Dhamma?
Pertanyaannya kemudian: untuk apa memahami semua ini?
Karena tanpa pemahaman, seseorang dapat menghabiskan seluruh hidup
hanya untuk mempertahankan tubuh dan mengejar kenikmatan.
Bangun.
Makan.
Bekerja.
Mencari hiburan.
Tidur.
Bangun kembali.
Lalu akhirnya meninggal.
Tidak ada yang salah dengan makan dan tidur. Keduanya dibutuhkan. Persoalannya adalah apabila seluruh kemungkinan hidup manusia berhenti di sana.
Bhikkhu Sri Paññāvaro menggunakan humor yang cukup tajam untuk
menggambarkan kehidupan yang hanya berputar antara makan, tidur, buang air,
dan kuburan.
Pesannya tidak dimaksudkan untuk merendahkan kehidupan duniawi. Justru sebaliknya: kehidupan manusia terlalu berharga jika hanya digunakan untuk mempertahankan kehidupan biologis sampai kematian datang.
Kita mempunyai kesempatan untuk belajar.
Membangun kualitas batin.
Menolong orang lain.
Mengembangkan kebijaksanaan.
Memahami penderitaan.
Mengurangi keserakahan dan kebencian.
Dan pada akhirnya membebaskan batin dari pola-pola yang terus-menerus menghasilkan penderitaan.
Kaya dan pintar belum menjawab persoalan kehidupan
Masyarakat modern sangat menghargai dua hal: kepandaian dan kekayaan. Keduanya memang berguna.
Buddhisme tidak mengajarkan bahwa menjadi pintar itu buruk. Kekayaan yang diperoleh dengan benar juga dapat memberikan banyak manfaat. Masalah muncul ketika kepandaian dan kekayaan berubah menjadi ukuran tunggal keberhasilan manusia.
Jika kaya berarti berhasil dan tidak kaya berarti gagal, maka
seluruh kehidupan mulai ditata menurut logika tersebut.
Jika kepandaian akademik dianggap sebagai satu-satunya bentuk perkembangan manusia, pembinaan batin mudah diabaikan. Padahal seseorang dapat memiliki keduanya dan tetap hidup dalam kecemasan.
Seseorang dapat memiliki perusahaan besar, tetapi tidak dapat tidur dengan
tenang.
Mempunyai banyak uang tetapi takut kehilangannya.
Mempunyai status tinggi tetapi tidak tahan dikritik.
Mempunyai pengetahuan luas tetapi tidak mampu mengendalikan
kemarahan.
Bhikkhu Sri Paññāvaro juga menggambarkan: dikisahkan seseorang yang membawa lari uang dalam
jumlah sangat besar setelah menipu banyak orang. Secara materi, ia memperoleh
apa yang dikejarnya. Tetapi konsekuensinya adalah hidup dalam pelarian,
kecemasan, ancaman, dan ketidaktenangan.
Pertanyaannya menjadi sederhana: Siapa yang membangun penderitaan itu?
Dalam kasus tersebut, penyebab langsungnya bukan suatu hukuman
misterius yang tiba-tiba turun dari luar. Perbuatannya sendiri menciptakan
kondisi bagi kegelisahan yang kemudian harus ia jalani.
Ini tidak berarti bahwa semua penderitaan manusia selalu dibuat sendiri
dalam pengertian sederhana. Banyak penderitaan muncul dari kondisi biologis,
sosial, ekonomi, politik, lingkungan, tindakan orang lain, dan berbagai sebab
lainnya.
Namun satu hal tetap penting: cara kita bertindak dapat menambah penderitaan yang sebenarnya tidak perlu kita ciptakan.
Kebahagiaan adalah “sawang-sinawang”
Orang mudah melihat kehidupan orang lain lalu mengambil kesimpulan: “Dia sukses, pasti bahagia.” atau “Hidupnya biasa-biasa saja, pasti tidak bahagia.”
Dalam bahasa Jawa terdapat ungkapan sawang-sinawang: kita
saling melihat dari luar.
Yang terlihat adalah rumahnya. Mobilnya. Pekerjaannya. Jabatannya. Foto keluarganya. Prestasinya.
Yang tidak terlihat adalah keadaan batinnya pada malam hari. Kecemasannya. Konflik keluarganya. Ketidakpuasannya. Ketakutannya.
Begitu pula, orang dengan kehidupan sederhana belum tentu sengsara. Karena itu, menilai kebahagiaan hanya dari kondisi luar sangat tidak memadai.
Dhamma tidak meminta manusia berhenti memperbaiki kehidupan
material. Yang dikoreksi adalah anggapan bahwa kondisi eksternal yang ideal secara otomatis menghasilkan batin yang tenteram.
Tidak demikian.
Ketenteraman memerlukan pendidikan batin.
Lalu untuk apa beragama?
Pertanyaan ini sangat sah.
Ada orang yang rajin beragama tetapi hidupnya tetap kacau.
Ada orang yang tidak tertarik pada agama tetapi secara material
sukses.
Jadi, untuk apa agama?
Jawaban Bhikkhu Sri Paññāvaro sangat menarik karena tidak menjadikan agama sebagai mesin ajaib. Beliau menggunakan perumpamaan tentang kunci.
Bayangkan seseorang terkunci di dalam sel yang sempit. Ia frustrasi. Jenuh. Terdesak. Kemudian seseorang memberikan satu rangkaian kunci dan menjelaskan: “Cobalah kunci ini. Ada yang perlu diputar ke kanan, ada yang ke kiri. Gunakan dengan benar, dan pintu dapat dibuka.”
Tahanan itu sangat gembira. Sekarang ia mempunyai harapan. Namun, ia tidak pernah menggunakan kunci tersebut. Ia menyimpannya. Mengaguminya. Memujinya. Membicarakan kehebatan orang yang memberikannya. Mungkin bahkan berdebat bahwa kuncinya lebih baik daripada kunci milik tahanan di sel lain. Tetapi pintunya tetap tertutup. Setelah bertahun-tahun, ia kecewa: “Kunci ini tidak berguna!”
Masalahnya bukan terletak pada kunci, melainkan karena ia tidak pernah menggunakannya.
Agama sebagai kunci, bukan jimat
Inilah salah satu gagasan paling penting dalam keseluruhan
pembahasan.
Menurut Bhikkhu Sri Paññāvaro, agama harus ditempatkan dalam proporsi yang wajar. Agama adalah seperti petunjuk, resep, peta, atau kunci.
Ia menunjukkan cara. Namun, identitas keagamaan itu sendiri tidak secara otomatis mengubah batin.
Mengatakan “saya Buddhis” tidak secara otomatis menghilangkan kemarahan.
Menghafal anicca tidak secara otomatis membuat kita mampu menerima
kehilangan.
Mengetahui hukum kamma tidak otomatis mencegah kita berbohong.
Membaca tentang mettā tidak secara otomatis membuat kita penuh cinta kasih.
Dhamma baru menunjukkan daya transformasinya ketika digunakan.
Perumpamaan resep sangat tepat. Kita dapat memiliki resep terbaik untuk suatu makanan. Namun, resep tidak dapat memasak dirinya sendiri. Kita harus memperoleh bahan, mempersiapkannya, memasaknya, mencobanya, dan memperbaiki kesalahan.
Demikian pula Dhamma.
Tanpa petunjuk, latihan dapat tersesat.
Tetapi mempunyai petunjuk tanpa berlatih juga tidak membawa kita ke
mana-mana.
Karena itu, keyakinan Buddhis yang matang tidak berhenti pada “Dhamma ini masuk akal.” Akan tetapi, ia harus berlanjut menjadi “Bagaimana Dhamma ini saya gunakan ketika kehidupan nyata menyentuh bagian yang paling sensitif dalam diri saya?”
Buddha mengajarkan yang berguna bagi pembebasan
Bhikkhu Sri
Paññāvaro juga menggunakan perumpamaan terkenal tentang daun di hutan.
Buddha pernah mengambil beberapa helai daun siṁsapā di tangan dan membandingkannya dengan seluruh daun di hutan. Yang diketahui Buddha diibaratkan seperti daun di hutan. Yang diajarkan hanya sebanyak daun dalam genggaman.
Mengapa?
Bukan karena tidak mengetahui yang lain,
tetapi karena yang diajarkan adalah hal-hal yang relevan dengan pembebasan dari
penderitaan. SN 56.31 (Sīsapāvanasutta) memang memuat perumpamaan tersebut: apa yang tidak
diajarkan adalah hal-hal yang tidak membawa pada pelepasan, kedamaian,
pencerahan, dan Nibbāna; yang diajarkan berpusat pada persoalan penderitaan dan
jalan menuju berakhirnya penderitaan.
Dengan demikian, Buddhisme bukan proyek
untuk menjelaskan semua misteri alam semesta.
Ilmu pengetahuan mempunyai wilayah penyelidikannya. Buddha mempunyai tujuan yang lebih spesifik: mengajarkan pengetahuan yang membantu manusia melihat penderitaan, mengetahui sebabnya, mengalami kemungkinan berakhirnya, dan menjalani jalan yang mengarah ke sana.
Salah satu pengetahuan paling mendasar untuk tujuan tersebut adalah sesuatu yang sebenarnya sudah kita lihat setiap hari: segala sesuatu yang terkondisi akan berubah.
Namun, justru kebenaran yang paling jelas
itulah yang paling sulit kita terima ketika perubahan menyentuh sesuatu yang
kita cintai.
Dan di situlah pembahasan berikutnya dimulai.

0 comments: