Setelah mengikuti rangkaian meditasi dalam One Day Mindfulness, saya mulai menyadari bahwa meditasi Buddhis jauh lebih luas daripada yang saya bayangkan sebelumnya.Saya datang sebagai seorang pemula. Saya belum menjadi umat Buddha, belum memiliki pengalaman panjang dalam bermeditasi, dan bahkan masih mempelajari tata cara puja. Karena itu, pada awalnya saya cenderung memahami meditasi secara sederhana: duduk, memejamkan mata, memperhatikan napas, dan berusaha agar pikiran tidak ke mana-mana.
Dalam rangkaian latihan yang saya ikuti, terdapat perhatian terhadap napas, pengembangan mettā, meditasi berjalan, pengamatan terhadap rasa sakit atau sensasi tubuh, serta perenungan terhadap bagian-bagian tubuh. Bhikkhu juga menjelaskan tujuan dari sesi-sesi meditasi tersebut sehingga latihan tidak berhenti sebagai sekumpulan teknik.
Saya kemudian mulai melihat sebuah pola.
Napas berhubungan dengan tubuh.
Rasa sakit membawa saya berhadapan dengan vedanā.
Mettā menunjukkan bahwa kualitas pikiran dapat dikembangkan.
Pengamatan terhadap keadaan mental membawa perhatian kepada citta.
Perenungan terhadap tubuh mengguncang kemelekatan yang selama ini saya anggap begitu alamiah.
Dan di balik semuanya terdapat suatu kerangka besar yang diajarkan Sang Buddha: empat Satipaṭṭhāna atau empat landasan perhatian, yaitu kāyānupassanā, vedanānupassanā, cittānupassanā, dan dhammānupassanā.
Meditasi yang awalnya saya pahami sebagai usaha menenangkan pikiran mulai terlihat sebagai sesuatu yang jauh lebih mendalam: latihan untuk mengenali pengalaman secara langsung dan dengan semakin jernih.
Meditasi Buddhis Bukan Sekadar Membuat Pikiran Tenang
Salah satu hal pertama yang perlu saya luruskan adalah anggapan bahwa tujuan meditasi adalah membuat pikiran kosong. Ajaran meditasi dalam Buddhisme tidak mengharuskan saya menghapus semua pikiran.
Saya justru belajar mengetahui.
Mengetahui ketika tubuh sedang bernapas.
Mengetahui ketika ada rasa menyenangkan atau tidak menyenangkan.
Mengetahui ketika pikiran dipenuhi keinginan.
Mengetahui ketika muncul kebencian.
Mengetahui ketika pikiran terkonsentrasi maupun tercerai-berai.
Mengetahui ketika fenomena muncul dan ketika fenomena itu lenyap.
Salah satu kerangka paling fundamental mengenai latihan tersebut terdapat dalam Satipaṭṭhāna Sutta (Majjhima Nikāya 10) dan paralelnya yang lebih panjang, Mahāsatipaṭṭhāna Sutta (Dīgha Nikāya 22).
Empat landasan yang diajarkan adalah:
- Kāyānupassanā, kontemplasi terhadap tubuh (kāya).
- Vedanānupassanā, kontemplasi terhadap vedanā, yakni kualitas pengalaman sebagai menyenangkan, tidak menyenangkan, atau netral.
- Cittānupassanā, kontemplasi terhadap keadaan pikiran (citta).
- Dhammānupassanā, kontemplasi terhadap dhamma, yaitu fenomena atau kategori pengalaman sebagaimana disusun dalam kerangka Dhamma.
Satipaṭṭhāna Sutta menggambarkan praktik ini sebagai jalan yang diarahkan kepada pemurnian, mengatasi kesedihan dan ratapan, mengakhiri penderitaan dan dukacita, mencapai jalan yang benar, dan merealisasi Nibbāna.
Bagi saya, empat landasan ini akhirnya menjadi semacam peta untuk memahami apa yang saya lakukan sepanjang hari.
Napas: Pintu Pertama untuk Mengenali Tubuh
Salah satu latihan yang saya lakukan menggunakan napas sebagai objek perhatian.
Landasan tekstual terpenting untuk praktik ini adalah Ānāpānasati Sutta (MN 118), khotbah mengenai perhatian terhadap napas.
Pada tahap awal, instruksinya sangat konkret. Seorang praktisi duduk, menegakkan tubuh, membangkitkan perhatian, lalu memperhatikan napas masuk dan napas keluar. Ketika napas panjang, ia mengetahui bahwa napas itu panjang; ketika pendek, ia mengetahui bahwa napas itu pendek.
Kata kuncinya bagi saya adalah: mengetahui.
Saya tidak harus memaksa napas agar menjadi panjang.
Saya tidak harus sengaja membuatnya pendek.
Saya juga tidak perlu mengejar kondisi napas tertentu untuk membuktikan bahwa meditasi saya berhasil.
Saya belajar mengenali napas sebagaimana ia berlangsung.
Namun Ānāpānasati jauh lebih luas daripada sekadar memperhatikan udara keluar-masuk. MN 118 menyusun latihan dalam 16 langkah yang dikelompokkan ke dalam empat tetrad dan berkaitan dengan tubuh, perasaan, pikiran, serta dhamma. Perkembangannya akhirnya mencakup kontemplasi tentang ketidakkekalan, peluruhan, penghentian, dan pelepasan.
Ini memberi saya perspektif baru. Napas yang kelihatannya sederhana ternyata dapat menjadi pintu menuju latihan yang sangat mendalam.
Meditasi Tidak Berakhir Ketika Saya Berdiri
Saya juga melakukan meditasi berjalan.
Ini membongkar asumsi lain yang sebelumnya mudah muncul: bahwa meditasi berarti duduk bersila sambil memejamkan mata.
Dalam Satipaṭṭhāna Sutta, perhatian terhadap tubuh mencakup empat postur. Ketika berjalan, seseorang mengetahui bahwa ia sedang berjalan; ketika berdiri, mengetahui bahwa ia sedang berdiri; ketika duduk, mengetahui bahwa ia sedang duduk; dan ketika berbaring, mengetahui bahwa ia sedang berbaring.
Latihan bahkan diperluas ke aktivitas sehari-hari melalui sampajañña atau pemahaman yang jernih, bergerak, melihat, mengenakan pakaian, makan, minum, berbicara, diam, dan berbagai kegiatan lainnya.
Maka ketika saya berjalan dengan perhatian, saya sebenarnya sedang belajar sesuatu yang fundamental: sati tidak bergantung pada tubuh yang diam.
Tubuh bergerak, tetapi saya dapat mengetahuinya.
Pikiran mengembara, dan saya dapat mengetahui bahwa ia mengembara.
Perhatian hilang, kemudian saya dapat kembali.
Dengan cara itu, meditasi mulai bergerak dari bantal meditasi menuju kehidupan.
Mettā-Bhāvanā: Bukan Hanya Memperhatikan, tetapi Membentuk Kualitas Batin
Salah satu sesi yang juga saya jalani adalah mettā-bhāvanā.
Mettā sering diterjemahkan sebagai cinta kasih atau loving-kindness. Namun, istilah “cinta” dapat menyesatkan jika dipahami sebagai kasih romantis atau keterikatan emosional.
Mettā lebih dekat kepada niat baik yang bebas dari permusuhan: harapan agar diri sendiri dan makhluk lain berada dalam kesejahteraan serta terbebas dari permusuhan dan penderitaan sejauh mungkin.
Bhāvanā berarti pengembangan atau pembudayaan. Maka mettā-bhāvanā bukan sekadar menunggu perasaan kasih muncul dengan sendirinya. Saya sedang melatih dan membudayakan kualitas batin tertentu.
Ini penting karena pikiran manusia tidak hanya perlu diperhatikan. Pikiran juga perlu dididik. Saya bisa saja menyimpan dendam. Saya bisa saja berharap orang yang saya benci mengalami kesulitan. Saya bisa saja terus mengulang luka yang sama di dalam pikiran. Mettā bergerak berlawanan dengan kecenderungan tersebut.
Karena itu, latihan ini tidak mengharuskan saya menyukai semua orang. Saya bahkan dapat tetap tidak menyetujui perilaku seseorang. Yang dilatih adalah agar pikiran tidak memelihara niat jahat dan keinginan untuk mencelakakan orang lain.
Dalam sutta, pengembangan mettā memperoleh kedudukan yang jelas. Karaṇīyamettā Sutta (Sutta Nipāta 1.8), misalnya, menggambarkan pengembangan batin tanpa batas terhadap semua makhluk, tanpa permusuhan maupun kebencian. Aṅguttara Nikāya juga membahas manfaat pengembangan pembebasan batin melalui mettā (mettācetovimutti).
Bagi saya, ini menunjukkan bahwa meditasi Buddhis tidak hanya bertanya: “Seberapa kuat saya dapat berkonsentrasi?” Tetapi juga “Kualitas batin macam apa yang sedang saya pelihara?”
Ketika Rasa Sakit Menjadi Objek Meditasi
Sesi lain membawa perhatian saya kepada rasa sakit atau ketidaknyamanan tubuh. Pengalaman ini membuat saya berhadapan dengan sesuatu yang sangat konkret. Ketika tubuh terasa sakit, reaksi saya hampir spontan:
“Ini sakit.”
“Saya tidak nyaman.”
“Saya ingin mengubah posisi.”
“Saya ingin ini berhenti.”
Namun, ketika perhatian dipertahankan, saya mulai dapat membedakan beberapa lapisan pengalaman.
Ada sensasi tubuh. Ada kualitas tidak menyenangkan dari pengalaman tersebut. Kemudian ada reaksi mental terhadapnya. Saya tidak menyukainya. Saya ingin menolaknya. Saya menginginkan keadaan lain.
Di sinilah konsep vedanā menjadi sangat relevan.
Vedanā Bukan Sekadar “Perasaan” atau Emosi
Kata vedanā sering diterjemahkan sebagai “perasaan”, tetapi terjemahan tersebut dapat membuat saya mengartikannya sebagai emosi seperti sedih, marah, cinta, atau kecewa.
Itu tidak cukup tepat.
Dalam kerangka Buddhis, vedanā terutama menunjuk pada tonalitas afektif pengalaman: menyenangkan (sukha), tidak menyenangkan atau menyakitkan (dukkha), serta bukan-menyenangkan-bukan-menyakitkan (adukkhamasukha).
Satipaṭṭhāna Sutta mengajarkan agar ketika mengalami vedanā yang menyenangkan, praktisi mengetahuinya sebagai menyenangkan; ketika menyakitkan, mengetahuinya sebagai menyakitkan; dan ketika netral, mengetahuinya sebagai netral.
Mengapa ini begitu penting?
Karena vedanā sangat dekat hubungannya dengan taṇhā. Ketika pengalaman menyenangkan muncul, saya cenderung menginginkannya agar terus berlangsung. Ketika tidak menyenangkan muncul, saya ingin menyingkirkannya. Ketika netral, saya mudah kehilangan perhatian. Di sinilah meditasi mulai memperlihatkan mekanisme yang biasanya berlangsung sangat cepat.
Kontak → vedanā → keinginan atau penolakan.
Saya mulai melihat bahwa masalahnya tidak selalu terletak pada sensasi itu sendiri. Cara saya bereaksi terhadap sensasi tersebut juga sangat menentukan.
Namun, hal ini tidak boleh diubah menjadi ajaran untuk menahan sakit secara membabi buta. Meditasi bukan kompetisi menyiksa tubuh. Jika terdapat tanda cedera atau posisi yang tidak aman, tubuh dapat digerakkan secara sadar.
Yang sedang dilatih adalah kemampuan untuk tidak menjadikan setiap ketidaknyamanan sebagai perintah yang harus segera ditaati.
Tubuh Saya atau Kumpulan Bagian yang Saya Sebut “Tubuh Saya”?
Salah satu penjelasan yang dipaparkan Bhikkhu saat sesi ceramah adalah tentang membawa perhatian kita pada bagian-bagian tubuh.
Dalam tradisi Theravāda dikenal kontemplasi 32 bagian tubuh; daftarnya mencakup rambut kepala, bulu badan, kuku, gigi, kulit, daging, urat, tulang, organ-organ, serta berbagai cairan tubuh.
Satipaṭṭhāna Sutta sendiri mengajarkan kontemplasi terhadap tubuh sebagai penuh dengan berbagai jenis unsur tubuh.
Pada awalnya latihan semacam ini dapat terdengar aneh.
Mengapa saya harus memikirkan rambut, kuku, kulit, daging, tulang, darah, organ, dan cairan tubuh ketika sedang belajar meditasi?
Saya kemudian mulai memahami sasaran latihannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, saya hampir tidak pernah melihat tubuh secara netral. Saya mengatakan:
“Tubuh saya.”
“Wajah saya.”
“Penampilan saya.”
“Saya semakin tua.”
“Saya terlihat baik.”
“Saya tidak menyukai bagian tubuh ini.”
Dari tubuh berkembang identitas, kebanggaan, ketidakpuasan, ketertarikan, dan kemelekatan.
Perenungan tentang bagian-bagian tubuh membongkar konstruksi tersebut. Apa yang dari kejauhan saya sebut sebagai satu kesatuan “tubuh saya”, ketika diperiksa, ternyata terdiri dari banyak komponen dan proses biologis.
Tidak ada kebutuhan untuk membenci semua itu. Tujuannya bukan untuk mengembangkan kebencian terhadap tubuh. Tubuh tetap harus diberi makan, dirawat, dibersihkan, dan dilindungi. Yang sedang ditantang adalah kecenderungan untuk mengidealkan dan melekat pada tubuh seolah-olah tubuh dapat memberikan keindahan, kesehatan, kemudaan, dan kestabilan secara permanen.
Tubuh tidak dapat memenuhi tuntutan tersebut.
Dari “Saya Sakit” menuju Pengamatan atas Proses
Di titik ini, latihan tubuh dan rasa sakit mulai bertemu. Dalam pengalaman sehari-hari saya mengatakan: “Saya sakit.”
Dalam meditasi, pengalaman itu dapat diurai secara perlahan. Ada tubuh. Ada kontak. Ada sensasi. Ada vedanā yang tidak menyenangkan. Ada ketidaksukaan. Ada keinginan agar pengalaman berubah. Ada pikiran mengenai pengalaman tersebut. Semua itu nyata sebagai pengalaman.
Tetapi saya mulai bertanya: apakah semuanya harus langsung dipadatkan menjadi satu identitas bernama “aku yang sedang menderita”?
Pertanyaan semacam ini membawa latihan mendekati tiga karakteristik yang sangat fundamental dalam Buddhisme: anicca, dukkha, dan anattā.
- Anicca: fenomena berkondisi berubah.
- Dukkha: sesuatu yang berubah dan tidak sepenuhnya berada dalam kendali tidak dapat dijadikan landasan kepuasan yang permanen.
- Anattā: fenomena tersebut tidak layak dipandang sebagai diri yang kekal dan sepenuhnya dapat dikuasai sebagai “ini aku, ini milikku, ini diriku”.
Saya perlu berhati-hati di sini. Anattā bukan sekadar slogan bahwa “saya tidak ada”. Itu bentuk penyederhanaan yang serampangan.
Yang sedang diperiksa adalah cara saya mengidentifikasi fenomena berkondisi sebagai diri dan sebagai milik diri.
Penjelasan Bhikkhu Membuka Pertanyaan Baru: Apakah Semua Orang Cocok dengan Meditasi yang Sama?
Dalam sesi penjelasan, Bhikkhu juga membicarakan hubungan antara kecenderungan seseorang dan objek atau landasan meditasi yang sesuai.
Saya menangkap penjelasan mengenai orang yang masih kuat dikuasai nafsu atau keinginan dibandingkan dengan mereka yang kecenderungan pemikirannya lebih dominan, kemudian dibedakan pula berdasarkan ketajaman kemampuan memahami objek latihan.
Penjelasan tersebut disandingkan dengan empat Satipaṭṭhāna: kāyānupassanā, vedanānupassanā, cittānupassanā, dan dhammānupassanā.
Bagian ini, menurut saya, memerlukan kehati-hatian doktrinal.
Pemetaan tersebut bukan formula yang dinyatakan secara eksplisit dalam Satipaṭṭhāna Sutta itu sendiri. Penjelasan itu ditemukan dalam tradisi komentar terhadap Satipaṭṭhāna.
Ini penting karena saya tidak ingin mencampuradukkan tiga hal: apa yang diajarkan secara langsung dalam sutta, apa yang dijelaskan oleh tradisi komentar, dan bagaimana Bhikkhu menerangkannya secara pedagogis kepada para peserta.
Empat Kecenderungan dan Empat Satipaṭṭhāna
Tradisi komentar menggunakan dua pembedaan.
Pertama adalah kecenderungan taṇhā-carita dan diṭṭhi-carita.
Taṇhā-carita menunjuk pada seseorang yang kecenderungannya lebih dominan kepada taṇhā, yaitu dahaga, keinginan, atau kemelekatan. Ini tidak boleh dipersempit menjadi “orang dengan nafsu seksual yang tinggi”. Taṇhā jauh lebih luas: kecenderungan untuk menginginkan, menikmati, mempertahankan, dan melekat.
Diṭṭhi-carita menunjuk pada kecenderungan yang lebih kuat pada diṭṭhi, yaitu pandangan, konstruksi pemikiran, konseptualisasi, dan keterikatan pada cara tertentu dalam memahami pengalaman.
Pembedaan kedua menggunakan istilah manda dan tikkha.
Manda secara kontekstual menunjuk pada kapasitas individu yang relatif lebih lambat atau kurang tajam.
Tikkha berarti lebih tajam.
Di sini saya perlu meninggalkan istilah sehari-hari “pintar” dan “tidak pintar”. Itu terlalu kasar. Manda tidak berarti seseorang bodoh, dan tikkha tidak berarti seseorang memiliki IQ tinggi atau pendidikan yang lebih baik.
Yang dibicarakan adalah ketajaman kapasitas pemahaman dalam konteks latihan.
Dari kombinasi tersebut, tradisi komentar menghasilkan pemetaan:
| Kecenderungan dominan | | Kapasitas | | Landasan yang dipandang sesuai |
|---|
| Taṇhā-carita | Manda | Kāyānupassanā |
| Taṇhā-carita | Tikkha | Vedanānupassanā |
| Diṭṭhi-carita | Manda | Cittānupassanā |
| Diṭṭhi-carita | Tikkha | Dhammānupassanā |
Namun tabel ini tidak boleh saya gunakan seperti tes kepribadian. Saya tidak seharusnya membaca tabel, lalu berkata: “Saya orang pintar, jadi dhammānupassanā.” Atau “Saya masih banyak nafsu, jadi hanya boleh kāyānupassanā.”
Itu salah paham tentang fungsi klasifikasi tersebut.
Keempat Satipaṭṭhāna merupakan sistem latihan yang saling berhubungan. Pemetaan komentar lebih tepat dipahami sebagai penjelasan mengenai kecocokan titik masuk dan penekanan latihan berdasarkan kecenderungan praktisi, bukan sebagai pembagian manusia menjadi empat kasta meditator.
1. Kāyānupassanā: Saya Belajar Melihat Tubuh sebagai Tubuh
Kāyānupassanā berarti kontemplasi tubuh sebagai tubuh. Di bawahnya terdapat latihan yang sangat konkret: perhatian terhadap napas, postur tubuh, aktivitas jasmani dengan pemahaman yang jernih, bagian-bagian tubuh, unsur-unsur, serta kontemplasi terhadap jasad.
Karena objek tubuh relatif konkret, tradisi komentar menghubungkannya dengan taṇhā-carita yang kapasitasnya manda.
Saya dapat memahami logikanya melalui pengalaman saya sendiri.
Tubuh mudah dijadikan objek kemelekatan.
Penampilan.
Kecantikan atau ketampanan.
Kesehatan.
Kenikmatan indrawi.
Kemudaan.
Perenungan tubuh membawa perhatian kembali pada realitas tubuh tanpa kosmetik mental yang biasanya saya tempelkan padanya.Saya harus melihat tubuh sebagai tubuh.
2. Vedanānupassanā: Saya Mengamati Titik Tempat Keinginan Mudah Tumbuh
Untuk taṇhā-carita dengan kapasitas yang lebih tajam, tradisi komentar menghubungkannya dengan vedanānupassanā.
Di sini objeknya lebih subtil. Saya bukan hanya melihat tubuh, tetapi mengenali bagaimana pengalaman terasa. Menyenangkan. Tidak menyenangkan. Netral.
Hubungannya dengan taṇhā menjadi sangat jelas. Saya menginginkan yang menyenangkan. Saya menolak yang tidak menyenangkan. Saya mengabaikan yang netral.
Dengan memperhatikan vedanā sebelum reaksi tersebut berkembang lebih jauh, saya mulai melihat salah satu titik penting tempat kemelekatan memperoleh bahan bakarnya.
3. Cittānupassanā: Saya Belajar Melihat Pikiran sebagai Keadaan, Bukan “Saya”
Untuk diṭṭhi-carita dengan kapasitas manda, tradisi komentar menghubungkannya dengan cittānupassanā.
Satipaṭṭhāna Sutta memberikan contoh konkret. Praktisi mengetahui pikiran yang disertai nafsu sebagai pikiran disertai nafsu, dan pikiran yang tidak disertai nafsu sebagai pikiran tanpa nafsu. Pikiran dengan kebencian diketahui sebagai memiliki kebencian. Pikiran tanpa kebencian diketahui sebagai tanpa kebencian. Demikian pula, pikiran dengan atau tanpa delusi, pikiran terkonsentrasi atau tidak terkonsentrasi, serta berbagai keadaan lainnya.
Perbedaannya subtil tetapi penting. Alih-alih: “Saya adalah orang yang marah,” saya dapat mulai mengetahui “Ada keadaan pikiran yang disertai kemarahan.”
Saya tidak menyangkal bahwa kemarahan ada. Saya justru mengenalinya lebih tepat. Tetapi saya tidak harus segera mengubah keadaan mental yang sementara menjadi identitas permanen tentang siapa diri saya.
4. Dhammānupassanā: Membaca Pengalaman melalui Kerangka Dhamma
Untuk diṭṭhi-carita dengan kapasitas yang lebih tajam, tradisi komentar menghubungkannya dengan dhammānupassanā.
Ini merupakan bagian yang mudah disalahpahami. Dhammānupassanā bukan sekadar duduk lalu memikirkan ajaran Buddha secara intelektual.
Dalam Satipaṭṭhāna Sutta, objeknya disusun dalam kategori-kategori yang sangat spesifik, antara lain:
lima rintangan batin (pañca nīvaraṇa);
lima kelompok kemelekatan (pañcupādānakkhandha);
enam landasan indra;
tujuh faktor pencerahan (bojjhaṅga);
dan Empat Kebenaran Mulia.
Misalnya:
Ketika keinginan indriawi hadir, saya belajar mengetahui bahwa kāmacchanda sedang hadir.
Ketika kebencian muncul, byāpāda hadir.
Ketika muncul kemalasan dan kelambanan, terdapat thīna-middha.
Ketika pikiran gelisah dan diliputi penyesalan, terdapat uddhacca-kukkucca.
Ketika keraguan menguasai pikiran, terdapat vicikicchā.
Namun, praktik tidak berhenti pada memberi label.
Yang juga perlu diperhatikan adalah bagaimana kondisi itu muncul, bagaimana ia dapat ditinggalkan, dan bagaimana kondisi yang telah ditinggalkan dapat dicegah agar tidak kembali menguasai pikiran.
Di sini meditasi mulai terasa seperti mempelajari hukum kerja batin dari dalam pengalaman saya sendiri.
Samatha dan Vipassanā: Apakah Saya Harus Memilih Salah Satunya?
Dalam proses belajar Buddhisme, saya juga berhadapan dengan dua istilah yang hampir selalu muncul ketika meditasi dibicarakan: samatha dan vipassanā.
- Samatha berkaitan dengan penenteraman dan ketenangan batin.
- Vipassanā berkaitan dengan wawasan atau melihat dengan jernih.
Tetapi saya harus berhati-hati agar tidak membayangkannya sebagai dua kubu meditasi yang selalu terpisah.
Sutta menunjukkan hubungan yang lebih dinamis. Yuganaddha Sutta (AN 4.170), misalnya, membicarakan beberapa pola perkembangan samatha dan vipassanā: vipassanā yang didahului samatha, samatha yang didahului vipassanā, keduanya dikembangkan secara berpasangan, serta situasi ketika pikiran mengalami kegelisahan mengenai Dhamma sebelum akhirnya menjadi stabil.
Jadi pertanyaan yang lebih produktif bagi saya bukan: “Saya harus memilih samatha atau vipassanā?” Melainkan , “Kualitas batin apa yang sedang dikembangkan oleh latihan ini, dan latihan tersebut diarahkan menuju apa?”
Napas dapat menenteramkan dan menstabilkan perhatian. Tetapi Ānāpānasati yang dikembangkan penuh juga diarahkan kepada kontemplasi ketidakkekalan dan pelepasan. Keduanya tidak harus ditempatkan sebagai hal yang bertolak belakang.
Apakah Buddhisme Memiliki Banyak Jenis Meditasi?
Ya, tetapi klasifikasinya tergantung pada kerangka yang digunakan.
- Jika menggunakan empat Satipaṭṭhāna, terdapat kontemplasi tubuh, vedanā, pikiran, dan dhamma.
- Jika membicarakan brahmavihāra, terdapat pengembangan mettā, karuṇā, muditā, dan upekkhā.
- Jika menggunakan sistematika meditasi Theravāda yang dikembangkan secara rinci dalam Visuddhimagga, dikenal 40 kammaṭṭhāna atau objek meditasi. Klasifikasi tersebut mencakup sepuluh kasiṇa, sepuluh asubha, sepuluh anussati, empat brahmavihāra, empat keadaan tanpa materi (āruppa), persepsi terhadap kejijikan makanan, serta analisis empat unsur.
Namun di sini kembali diperlukan batas historis yang jelas: daftar sistematis 40 objek tersebut merupakan formulasi klasik dalam tradisi komentar Theravāda, terutama dikenal melalui Visuddhimagga; bukan sebuah daftar 40 meditasi yang disajikan Sang Buddha sebagai satu katalog tunggal dalam satu sutta.
Ini penting bagi saya agar tidak menganggap semua lapisan literatur Buddhis sebagai satu jenis teks yang sama.
Lalu Bagaimana Sebenarnya Tata Cara Meditasi Menurut Sutta?
Saya akhirnya menyadari bahwa pertanyaan “bagaimana tata cara meditasi Buddhis?” tidak mempunyai satu jawaban tunggal. Metodenya bergantung pada objek dan jenis latihan.
Namun untuk ānāpānasati, pola dasarnya sangat jelas.
Dalam bentuk yang saya sederhanakan, berdasarkan MN 118 tanpa mengklaim bahwa ini menggantikan keseluruhan 16 langkahnya, saya dapat memahami permulaan latihan sebagai berikut:
-
memilih tempat yang kondusif;
-
duduk;
-
menegakkan tubuh;
-
membangkitkan perhatian;
-
mengetahui napas masuk;
-
mengetahui napas keluar;
-
mengetahui ketika napas panjang;
-
mengetahui ketika napas pendek;
-
mengembangkan kepekaan terhadap keseluruhan tubuh/proses napas sebagaimana dijelaskan dalam latihan;
-
menenangkan aktivitas jasmani yang berkaitan dengan pernapasan.
Latihan kemudian berkembang ke tetrad berikutnya mengenai perasaan, pikiran, dan dhamma hingga kontemplasi ketidakkekalan, peluruhan, penghentian, dan pelepasan.
Artinya, saya tidak seharusnya memaksakan semua jenis meditasi ke dalam satu formula “duduk, tutup mata, kosongkan pikiran”.
Buddhisme memberikan metode yang jauh lebih presisi.
Apa Sebenarnya yang Dituju Setiap Sesi yang Saya Jalani?
Setelah penjelasan Bhikkhu dan kerangka tekstual tersebut saya tempatkan berdampingan, rangkaian latihan yang sebelumnya terasa terpisah mulai membentuk satu gambaran.
Ketika saya memperhatikan napas, saya belajar menetapkan perhatian pada pengalaman tubuh dan mengembangkan kestabilan perhatian.
Ketika saya melakukan meditasi berjalan, saya belajar mempertahankan kesadaran ketika tubuh bergerak.
Ketika saya melakukan mettā-bhāvanā, saya melatih kualitas batin yang tidak dikuasai permusuhan.
Ketika saya memperhatikan rasa sakit, saya belajar mengenali ketidaknyamanan sekaligus melihat reaksi mental yang muncul terhadapnya.
Ketika saya merenungkan bagian-bagian tubuh, saya belajar melihat tubuh secara lebih realistis dan mengurangi idealisasi serta kemelekatan terhadapnya.
Ketika saya memperhatikan keadaan pikiran, saya belajar melihat bahwa keadaan mental datang dan pergi dan dapat diketahui sebagai keadaan mental.
Ketika pengalaman diamati melalui dhammānupassanā, saya mulai mengenali pola pengalaman dengan menggunakan kategori-kategori Dhamma, termasuk rintangan, kelompok kemelekatan, landasan indra, faktor pencerahan, dan Empat Kebenaran Mulia.
Namun, saya harus tetap mempertahankan disiplin intelektual di sini. Saya tidak akan mengatakan bahwa semua formulasi tersebut merupakan kalimat persis Bhikkhu.
Yang dapat saya katakan adalah: Bhikkhu menjelaskan tujuan dari sesi-sesi meditasi dan memberikan penjelasan mengenai hubungan kecenderungan praktisi dengan empat Satipaṭṭhāna. Penjelasan yang lebih luas dalam tulisan ini dijelaskan dalam kerangka sutta dan tradisi komentar Theravāda agar pengalaman tersebut dapat dipahami secara utuh tanpa mengarang apa yang tidak saya catat.
Bagian yang Belum Saya Jalani dalam ODM: Saṅghadāna
Pada penghujung kegiatan terdapat Saṅghadāna.
Saya tidak mengikutinya.
Alasannya bukan karena saya menolak praktik tersebut. Saya memang belum memahami apa yang harus saya lakukan.
Pada saat itu saya tidak mengetahui tata caranya, apa yang perlu dipersiapkan, bagaimana sikap tubuhnya, apa yang dibacakan, ataupun bagaimana peserta seharusnya mengikuti prosesnya.
Karena itu, saya memilih tidak ikut daripada meniru tanpa memahami.
Setelah mempelajarinya, saya memahami bahwa dāna berarti pemberian atau kemurahan hati, sedangkan Saṅghadāna secara umum merupakan pemberian yang diarahkan kepada Saṅgha. Praktik memberi memiliki posisi penting dalam Buddhisme karena berkaitan dengan kemurahan hati dan pelepasan kecenderungan untuk menggenggam.
Namun, mengetahui maknanya secara doktrinal berbeda dari mengetahui prosedur pelaksanaannya di suatu vihāra.
Bagian terakhir itu masih harus saya pelajari langsung.
Empat Landasan, tetapi Bukan Empat Dunia yang Terpisah
Pada akhirnya, hal terpenting yang saya peroleh bukan kemampuan menghafal istilah Pāli. Justru hubungan antarlatihan yang menjadi semakin jelas.
Kāya bukan dunia yang terpisah dari vedanā. Tubuh mengalami kontak, dan muncul vedanā. Vedanā dapat menjadi kondisi bagi keinginan dan penolakan. Keinginan dan penolakan hadir dalam citta. Keadaan tubuh, vedanā, dan pikiran kemudian dapat diamati melalui pola-pola dhamma.
Empat Satipaṭṭhāna, karena itu bukan empat kotak tempat saya harus memilih satu lalu mengabaikan tiga lainnya.
Bahkan Ānāpānasati Sutta secara eksplisit menunjukkan bagaimana perhatian terhadap napas yang dikembangkan dan dilatih dapat memenuhi empat Satipaṭṭhāna; empat Satipaṭṭhāna yang dikembangkan kemudian memenuhi tujuh faktor pencerahan; dan tujuh faktor pencerahan yang dikembangkan diarahkan pada pengetahuan sejati dan pembebasan.
Di sinilah struktur latihan mulai tampak jauh lebih besar daripada pengalaman satu hari saya.
Saya Datang untuk Bermeditasi, tetapi Mulai Menemukan Cara Kerja Diri Saya Sendiri
Saya datang ke One Day Mindfulness sebagai seseorang yang masih sangat baru dalam praktik Buddhisme.
Saya belum mahir membaca Paritta.
Saya masih belajar tata puja.
Saya masih harus memperhatikan bagaimana umat lain ber-namakkāra.
Saya bahkan belum mengikuti Saṅghadāna karena belum memahami apa yang harus saya lakukan.
Dalam meditasi pun saya masih berada pada permulaan.
Tetapi justru dari posisi itu saya mulai menemukan sesuatu yang tidak saya perkirakan.
Saya semula mengira meditasi akan mengajarkan saya bagaimana menenangkan pikiran. Ternyata saya justru mulai diperkenalkan pada bagaimana tubuh dan pikiran bekerja.
Saya melihat napas.
Saya melihat tubuh bergerak.
Saya mengalami rasa sakit.
Saya menemukan ketidaksukaan terhadap rasa sakit.
Saya menemukan keinginan agar pengalaman menyenangkan bertahan.
Saya melihat pikiran yang berubah.
Saya merenungkan tubuh yang selama ini begitu mudah saya sebut “aku” dan “milikku”.
Sedikit demi sedikit muncul jarak antara pengalaman dan kemelekatan saya terhadap pengalaman.
Di sinilah meditasi Buddhis mulai memiliki arti yang berbeda bagi saya.
Tujuannya bukan untuk membuat saya menjadi seseorang yang tidak lagi merasakan sakit, tidak mempunyai pikiran, atau selalu berada dalam keadaan damai. Latihannya justru meminta saya mengetahui pengalaman dengan semakin tepat:
tubuh sebagai tubuh;
vedanā sebagai vedanā;
pikiran sebagai pikiran;
dan dhamma sebagai dhamma.
Dari sana muncul pertanyaan yang jauh lebih mendasar.
Jika tubuh berubah, vedanā berubah, keadaan pikiran berubah, dan fenomena mental muncul karena kondisi lalu lenyap ketika kondisi berubah; mengapa saya begitu cepat menjadikan semuanya sebagai “aku”, “diriku”, dan “milikku”?
Saya belum memiliki jawaban berdasarkan pengalaman langsung yang saya jalani. Saya juga belum sampai pada titik di mana saya dapat mengatakan bahwa saya telah memahami anicca, dukkha, dan anattā sebagaimana seorang praktisi yang matang memahaminya.
Namun, untuk pertama kalinya, saya mulai melihat apa yang sebenarnya harus diselidiki.
Dan mungkin itulah perubahan terbesar yang saya alami dalam satu hari tersebut.
Saya datang dengan pertanyaan: “Bagaimana cara bermeditasi?”
Saya pulang membawa pertanyaan yang jauh lebih dalam: “Ketika saya mengamati tubuh, perasaan, pikiran, dan dhamma sebagaimana adanya, apa sebenarnya yang selama ini saya genggam begitu kuat sebagai ‘aku’?”
Bagi saya, pertanyaan itulah yang membuat meditasi tidak lagi sekadar sebuah teknik, melainkan mulai menjadi jalan penyelidikan terhadap pengalaman, kemelekatan, penderitaan, dan kemungkinan untuk melepaskannya.
----
Baca pengalaman sebelumnya: ODM Vihāra Jakarta Dhammacakka Jaya: Pengalaman Pertama Memasuki Puja dan Meditasi Buddhis
Follow My Journey
"If you find a wise companion to journey with, walk together." — Buddha
Connect and let’s grow together: